Tag Archives: wisata

Giveaway #GAWisataDaerahmu: Makanan Unik dari Daerahmu!


Setelah akhir-akhir ini cuma berbagi curhatan galau (ihiks), Simbok lagi pengen bagi-bagi hadiah yang lumayan keren.

Jadi awalnya bagini, saya dan beberapa orang teman ngobrol ngalor-ngidul dan berkesimpulan bahwa masih banyak potensi wisata Indonesia ini yang masih belum tergali. Kita yang orang Indonesia sendiri saja masih banyak tidak paham, bagaimana kita bisa memperkenalkan ke dunia luar? Masa yang kita kenalkan itu-itu saja, macam Bali, nasi goreng, Bromo, rendang. Laaaah, begini doang masa ngaku duta wisata di luar negeri? *kibas poni*

Sambel khas Suku Tengger yang dahsyat pedasnya... Jangan main-main dengan sambel ini kalau Anda tak ingin akrab dengan toilet
Sambel khas Suku Tengger yang dahsyat pedasnya… Jangan main-main dengan sambel ini kalau Anda tak ingin akrab dengan toilet

Walaupun saya bukan siapa-siapa dibandingkan para pelaku wisata di nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, saya ingin menyumbang sejimpit saja untuk pariwisata Indonesia. Salah satunya nulis blog, salah duanya nulis di media massa maupun sosial. Sedikit-sedikit ikut promosi wisata Indonesia, nggak apa-apa, kan? Kebetulan karena saya tinggal di luar Indonesia, tiap ketemu orang lokal saya bilang, “Iya, pigi bercuti ke Jogja. Very good lah, ada direct flight, hotel pun murah. Ada temple cantik elok, boleh shopping-shopping murah. Cik boleh compare dengan pigi Sabah!” *terus diendorse AirAsia #ngarep

Siapa sih yang nggak bangga dengan negeri sendiri? Apalagi kalau negerinya seperti Indonesia.

Karena potensi wisata yang sangat banyak di Indonesia, saya jadi bingung sendiri menentukan tema. Tapi karena lagi nggembol dan suka makan, akhir-akhir ini makin sering kangen masakan nusantara. Jadilah saya tetapkan temanya wisata kuliner. Variasi kuliner Indonesia pun banyak luar biasa, maka fokus ke yang unik dan sedikit ekstrem.

Adik saya @FadilaAdelin mengumpulkan beberapa contoh makanan unik dan ekstrem yang ada di Jogja sebagai berikut:

  •  Belalang Goreng

Hewan yang dianggap hama oleh petani ini, ternyata dapat dijadikan camilan yang gurih dan nikmat. Berawal dari keluhan para petani daerah Gunung Kidul yang merasakan kebun mereka yang terganggu oleh banyaknya belalang, hewan tersebut kemudian ditangkapi dan dijadikan santapan. Mengolah belalang goreng sangat mudah, cukup dibumbui bawang putih dan garam kemudian digoreng dalam minyak panas hingga garing. Anda dapat menemui penjual belalang goreng di pinggir jalan sekitaran kawasan wisata Gunung Kidul. Biasanya belalang yang dijual sudah dalam bentuk matang yang dikemas dalam plastik maupun toples namun ada juga yang dijual dalam bentuk mentah. Harga belalang goreng berkisar antara Rp 10.000 – Rp 25.000

  •  Kepompong Goreng

Sama halnya dengan belalang, kepompong ulat ini dianggap hama oleh masyarakat Gunung Kidul. Ketika musim hujan dan pohon jati bersemi, kepompong ulat mulai banyak bermunculan, saking banyaknya maka warga Gunung Kidul menjadikannya bahan pangan atau camilan layaknya belalang goreng. Cara pengolahannya juga sama seperti belalang goreng, cukup dibumbui dengan garam dan bawang putih kemudian di goreng garing. Warung terkenal menjual kuliner ini adalah Lesehan Pari Gogo yang terletak di Wonosari.

  •  Sate Kuda

Jika anda jalan-jalan ke Malioboro pasti sering melihat andong alias kereta kuda. Kuda yang terkenal karena salah satu hewan yang kuat ini ternyata dapat diolah menjadi santapan yang dicari-cari oleh banyak orang. Pak Kuntjoro adalah salah satu pemilik warung sate kuda di Yogya, konon katanya warung Pak Kuntjoro ini adalah perintis warung sate kuda di kawasan Yogya dan Jawa Tengah. Dari tekstur dan rasanya daging kuda berbeda dengan sate ayam, kambing, maupun sapi. Daging kuda memiliki tekstur yang lebih empuk dan mudah dicerna oleh lambung serta rendah kolesterol. Daging kuda ini diolah sedemikian rupa dengan bumbu rempah-rempah rahasia sehingga menjadi hidangan yang lezat. Tertarik untuk mencobanya? Silahkan kunjungi warung sate kuda Pak Kuntjoro yang terletak di Jl. Kranggan 64A.

  • Bacem Kepala Kambing

Gulai kambing, sate kambing dan tongseng kambing adalah berbagai macam olahan daging kambing yang sudah sangat umum kita temui di Indonesia. Kepala kambing yang mungkin bagi orang awam terdengar mengerikan ternyata dapat diolah menjadi masakan istimewa oleh H. Sukirman. Ya, beliau adalah pemilik warung bacem kepala kambing yang terkenal di Yogya tepatnya terletak di antara perumahan dekat pasar Kolombo, Jl. Kaliurang km 7. Di warung ini pembeli dapat memilih sendiri organ bagian kepala mana saja yang hendak disantap, seperti otak, lidah, telinga, mata, dan daging pipi. Organ-organ tersebut telah dibacem sehingga menghasilkan paduan rasa antara manis dan gurih yang membuat pembeli ketagihan.

  •  Tongseng Bulus

Bulus adalah hewan sejenis kura-kura yang hidup di darat dan memiliki cangkang lunak. Oleh Ibu rini, bulus ini diolah menjadi masakan yang membuat banyak orang penasaran. Tongseng tersebut terdiri dari daging bulus dan sirip bulus yang telah diolah dengan rempah-rempah. Tekstur daging bulus sendiri mirip dengan daging kambing sedangkan sirip bulus lebih menyerupai kikil sapi. Selain itu dijual pula minyak bulus, hati bulus, dan otak bulus. Warung Ibu Rini ini terletak di Jl. Kranggan. Eh tapi saya ga yakin bulus ini termasuk hewan dilindungi atau bukan. Setahu saya memang ada yg khusus diternakkan. Kalau Anda tahu bahwa bulus teemasuk binatang langka dilindungi ya jgn ikut-ikutan makan.

  • Oseng-oseng Mercon

Dari sekian banyak kuliner ekstrim Yogya mungkin oseng-oseng merconlah yang paling sering kita jumpai. Oseng-oseng mercon ini dapat dengan mudah kita temui di sepanjang Jl. KH Ahmad Dahlan. Oseng-oseng ini berbahan daging sapi dengan campuran tetelan sapi yang dimasak dengan banyak cabai rawit sehingga ketika kita menyantapnya mulut terasa meledak-ledak bagai mercon. Oseng-oseng ini disajikan sederhana saja cukup dengan nasi putih yang hangat. Walaupun rasanya sangat pedas namun tetap membuat pembeli ketagihan untuk mencobanya kembali. Salah satu warung oseng-oseng mercon yang terkenal adalah milik Bu Narti. Konon katanya Bu Narti adalah pelopor warung oseng-oseng mercon di Yogya.

Itu hanya contoh sih, mungkin masih ada yang lainnya. Nah giveaway kali ini akan bertemakan makanan unik/ekstrem seperti itu. Tidak perlu sangat ekstrem, yang unik, menarik, khas pun sudah cukup. Kuliner tradisional favorit pun boleh banget!!! Yang penting jadi makin mengenal kuliner daerah orang lain.

Syarat dan ketentuan:

  1. Peserta adalah manusia (bukan bot hakakakak).
  2. Peserta menjawab pertanyaan: “Sebutkan makanan unik di daerahmu!” disertai penjelasan seperlunya di kolom komentar blog post ini. Makin lengkap makin bagus (kalau ada alamat warungnya pun boleh disertakan beserta ancer-ancer). Boleh menjawab satu jenis makanan, boleh lebih. Sesuka hati saja. Tulis juga nama, akun Twitter (bila ada), atau nama FB, pokoknya alamat yang bisa dihubungi kalau menang.
  3. Bila peserta memiliki foto makanannya, silakan kirim link dalam kolom komentar, nanti akan saya post-kan fotonya.
  4. Bila peserta memiliki akun Twitter, silakan mentwit+twitpickan makanannya dengan mention @backpackologyID dengan hestek #GAWisataDaerahmu. Kalau lanjut follow Twitter saya lebih bagus lagi :)) *fakir followers*
  5. Bila peserta tidak memiliki akun Twitter boleh tag FB saya di Backpackology dengan hestek #GAWisataDaerahmu.
  6. Semua jawaban yang masuk akan saya twitkan dengan mention kepada Anda (bila menyertakan akun twitter). Ini adalah inti dari diadalah #GAWisataDaerahmu, yaitu saling membagikan informasi di jejaring sosial tentang potensi wisata daerah yang belum tergali. The least we can do, right?
  7. Deadline GA ini adalah 14 Februari 2015 tengah malam buta.
  8. Pengumuman dilakukan beberapa hari setelah deadline.

Hadiah:

Pemenang terdiri dari dua orang, masing-masing akan mendapatkan 1 buah tas batik khas Jogja dan 1 buah kaos Dagadu. Penampakannya adalah sebagai berikut:

tas batik

Jangan salah, bukan hanya saya lho yang mengadakan #GAWisataDaerahmu ini, ada beberapa teman lain, dengan tema yang berbeda dan hadiah yang berbeda juga akan segera menyusul dalam beberapa hari ini. Maklumlah ini anak-anak pemalas semua jadi Simboknya harus maju duluan. Kalau mereka sudah posting akan saya bagikan linknya di sini. Total akan ada 18 pemenang. Asyik kan???

Berikut host #Ghttps://backpackology.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=4583&action=editAWisataDaerahmu lainnya:

Ayo tunjukkan kalau daerahmu punya kuliner unik andalan!

 

google-site-verification: google5194a36db9762fd1.html

 

 

Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling


Salah satu hal yang paling saya sukai dari travelling (apalagi tinggal di luar negeri) adalah kesempatan untuk menjadi minoritas. Bayangkan saja, kalau di Indonesia, kurang mayoritas apa saya ini! Sudah perempuan, Jawa, muslim, setelah nikah pakai kerudung, setelah punya anak berhenti bekerja. Kurang mayoritas apa?

Justru saat berkunjung ke negara lain, saya belajar menjadi “lain”, menjadi orang bukan kebanyakan, menjadi alien.

Shalat di Ngong Ping, HK
Shalat di Ngong Ping, HK

Continue reading Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling

How Much You Spend for Holiday?


Belakangan ini saya semakin sering mendapatkan pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana mengatur dana untuk jalan-jalan/liburan/traveling. Sebenarnya sudah ada beberapa artikel dalam blog ini yang membahas masalah itu, antara lain di sini dan situ.

Secara pribadi saya sendiri kesulitan untuk menghitung berapa banyak budget yang saya keluarkan dalam satu tahun, karena saya memang bukan tipe planner, yang merencanakan segalanya jauh-jauh hari. Travelling masih sebatas asal ada tiket promo, libur nasional, maupun ujug2 pantat Puput gatel minta jalan-jalan.

Continue reading How Much You Spend for Holiday?

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

Menginap di Apartemen, Alternatif Selain Hotel


Kebanyakan orang pertama kali mempertimbangkan masalah harga ketika memilih akomodasi saat berlibur di luar negeri. Untuk para pelancong tunggal, tentu saja pilihannya akan jatuh pada penginapan berbentuk asrama (dorm), atau hostel murah meriah. Harga dihitung per orang per malam. Namun, solusi seperti ini tentu tidak berlaku bagi keluarga yang membawa anak.

Di depan bangunan apartemen kami di Amsterdam
Di depan bangunan apartemen kami di Amsterdam

Continue reading Menginap di Apartemen, Alternatif Selain Hotel