Tag Archives: umrah

Karena Waktumu Cuma Sebentar, Berangkatlah Umrah Kawan


Harapan hidup orang Indonesia menurut data tahun 2014 hanya 68,89 tahun. Jauh lebih rendah daripada harapan hidup orang Jepang, Singapura, dan Australia yang mencapai di atas 80 tahun. Kira-kira hingga usia 22 tahun hanya akan fokus pada pendidikan. Sebagian besar masih menopangkan hidup pada orang tua, hanya punya “uang saku” — kebanyakan tidak seberapa, kecuali para pemuda-pemudi dengan trust fund miliaran rupiah. Masih ngedot tabungannya sudah ratusan juta. 90 persen pemuda Indonesia jelas tidak demikian beruntungnya.

Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa…

Setelah itu kalian akan bekerja, punya uang sendiri, tabungan mulai membumbung. Mulai mencicil masa depan, mencicil impian. Selain tentunya , bagi kebanyakan orang, mencicil rumah. Dan menyusun rumah tangga. Zaman sekarang, usia pernikahan berkisar di atas 25 tahun bagi kaum urban. Anggap saja 30 tahun usia menikah. Dari titik itu hanya ada 38,89 tahun waktu untuk menunaikan ibadah sunnah umrah. Continue reading Karena Waktumu Cuma Sebentar, Berangkatlah Umrah Kawan

Advertisements

Parenting by Traveling


Rasanya kini banyak tulisan tentang parenting yang populer di kalangan orang tua muda seperti saya dan simbok cempluk, tapi rasanya masih sedikit yang menggabungkan parenting dengan traveling. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kami traveling dengan anak-anak bersama Oliq, kini hampir 3 tahun, berkelana ke 9 negara secara backpacking sejak usia 6 bulan.

Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok
Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok

Sebelum menikah, saya memang suka jalan-jalan secara backpacking. Hobi asli naik gunung dan bertualang sejak jaman SMA membuat saya sangat familiar dengan gaya backpacking, jauh sebelum tren ini merebak di kalangan anak muda. Demikian juga dengan Olen, meskipun jarang naik gunung, tapi juga penggemar berat jalan-jalan. Dan yang pastinya, hobi ini lah yang akhirnya menyatukan kami hingga lahirnya Oliq di tahun 2011.

Oya, kami memilih untuk mengurus anak sendiri tanpa baby sitter dan bala bantuan orang tua, karena kebetulan kami ada di Jakarta dan orang tua kami di Jogja. Pastinya harus ada pengorbanan, simbok cempluk yang sudah bergelar master akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja. Dan buat saya sendiri, harus banyak meluangkan waktu di rumah berbagi dengan Olen.

Setelah Oliq lahir, tentunya kami tak ingin hobi kami terhenti hanya gara-gara sibuk mengurus anak. Justru buat kami, lahirnya Oliq membawa suatu dimensi petualangan baru yang lebih menantang. Kalau sebelumnya solo backpacker atau berdua rasanya mudah saja, mau blusukan atau ngemper juga ayo aja, kini setelah adanya si kecil yang mulai bandel, perhitungannya harus lebih matang walaupun tidak mengorbankan semangat backpacking dan petualangan.

Sampai saat ini kami tetap berpegang teguh pada prinsip backpacking, merencanakan sendiri jalan-jalan, tidak tergantung pada travel agent, dan tetap tidak mengandalkan baby sitter, orang tua, atau sodara untuk mengurus Oliq selama bepergian. Sampai saat ini baru sekali kami menggunakan jasa travel agent pada saat umrah saja hehehe… saat itu jelas, pertimbangannya ini lebih kepada perjalanan ibadah, bukan sekedar jalan-jalan biasa. Meskipun demikian, tetap saja ada keinginan untuk benar-benar umrah backpacking, rasanya lebih menantang dan puas kalau berhasil 🙂

Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa...
Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa…

Pertanyaan paling sering diajukan ketika kami hendak bepergian, apalagi jauh, dengan Oliq adalah, “Apa gak repot, jalan-jalan sambil bawa anak kecil?”

Rasanya ini pertanyaan retorik, pasti lebih repot daripada tanpa membawa anak kecil. Tapi kenapa kami nekat melakukannya, tentunya ada pelajaran berharga bagi kami si orang tua, maupun bagi si kecil dibalik kerepotan yang mesti dihadapi. Pelajaran, hikmah, dan tips-tips ini yang ingin saya bagi untuk ayah-bunda, papa-mama, bapak-simbok muda yang juga ingin berjalan-jalan dengan sang buah hati, namun masih ragu dan bingung.

Bagi saya dan Olen, banyak hal yang bisa kami ajarkan pada Oliq dalam setiap kesempatan traveling. Tak hanya bagi Oliq, bagi kami sendiri, setiap petualangan juga selalu memberi pelajaran yang baru karena parenting sendiri adalah proses pembelajaran yang tiada pernah terhenti. Berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik dalam backpacking, tentunya berdasarkan pengalaman pribadi kami.

 

Dari Condongcatur ke Paris
Dari Condongcatur ke Paris, bersama stroler dan jarik kebanggan simbok Cempluk

1. Mandiri

Dengan traveling secara backpacking, pastinya Anda dan pasangan harus merencanakan sendiri perjalanan, mulai dari tiket, hotel, obyek wisata, transportasi, hingga rute perjalanan. Dengan adanya anak kecil, tentu hal tersebut menjadi lebih rumit lagi. Namun disinilah sebenarnya seninya, disatu sisi Anda tetap ingin memanjakan anak selama perjalanan tapi si anak juga dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan gaya backpacking orang tuanya. Pada waktu bepergian pertama kali keluar negeri bersama Oliq ke Australia saat dia masih berumur 6 bulan, terasa sekali ribetnya. Mulai dari tiket yang sudah dipesan sebelum dia lahir, jadi kudu mengubah nama bayi setelah lahir, persiapan bawa gendongan, stroler, perlengkapan bayi, hingga Olen yang harus selalu siap sedia menyusui Oliq setiap saat. Repot memang, namun rasanya lebih puas.

2. Melatih kekompakan orang tua

Jalan-jalan melibatkan papa, mama, dan anak kecil secara mandiri tentunya memerlukan kekompakan yang menurut saya tidak bisa diajarkan namun harus dipraktekkan langsung. Mulai dari merencakanan perjalanan, memilih rute, hingga saat-saat ketika anak rewel memerlukan pengertian yang baik dari bapak maupun ibu. Komunikasi yang intens disertai kemauan kuat untuk memahami anak tanpa harus terlalu memanjakan adalah kunci utama agar acara backpacking menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi semua keluarga. Salah paham itu biasa, tapi jangan sampai berlarut-larut apalagi saat di perjalanan. Hati-hati, anak kecil memiliki kepekaan yang tinggi, dia bisa merasakan kalau ada suasana tak nyaman dari ayah maupun bundanya.

Three is better than alone
Three is better than alone.. butuh kekompakan untuk menghasilkan foto seperti ini

3. Mengendalikan Ego Jalan-jalan

Seperti halnya backpacker lainya, umumnya saya dan Olen ingin memaksimalkan kunjungan ke berbagai obyek wisata di suatu tempat, apalagi kalo bepergian jauh. Dengan adanya Oliq, saya dan Olen mau tak mau harus mengalah dan menyesuaikan dengan jam biologis Oliq. Kini, kami lebih santai dalam merencakan perjalanan. Harus ada istirahat untuk menyusui dan menidurkan Oliq. Kadang kami baru bisa jalan-jalan setelah menjelang siang karena menunggu Oliq bangun. Demikian juga kami tidak bisa pulang larut malam, karena pastinya Oliq sudah mengantuk dan bakalan rewel kalau dipaksa jalan-jalan. Tak jarang juga kami bergantian menggendong Oliq yang sudah tertidur.

4. Keluar dari Comfort Zone

Backpacking adalah salah satu cara keluar dari zona nyaman, apalagi kalau dengan anak-anak. Ini pun berlaku bagi bayi dan anak-anak, semakin cepat mereka dikenalkan dengan backpacking, semakin mudah bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sesungguhnya yang seringkali tidak ramah. Mulai dari menunggu di bandara, berpindah-pindah tempat tidur, makanan yang tidak cocok, dan banyak hal lain yang sering membuat stress selama acara backpacking. Pada awalnya memang terasa berat bagi anak-anak, tapi dari pengalaman kami, semakin cepat anak dikenalkan, sebenarnya semakin mudah bagi dia untuk bisa menikmati kegiatan itu di kemudian hari. Kini, Oliq bisa dibilang sudah sangat enjoy kalau diajak jalan-jalan, entah itu hanya sekedar keliling kota tanpa menginap di hotel ataupun keluar negeri beberapa hari yang sangat berbeda dengan lingkungan sekitar kami.

5. Mengenal dunia dan keanekaragaman

Dengan jalan-jalan, anak pastinya akan banyak melihat hal baru yang mungkin tak ada di sekeliling rumahnya. Mulai dari alat transportasi, fasilitas umum, obyek wisata, hingga yang paling penting adalah mengenal berbagai manusia dengan segala macam karakternya. Karena seringnya Oliq naik pesawat, di umur sekitar 2 tahun dia bisa menghafal berbagai logo pesawat. Kini dia pun cukup akrab dengan berbagai alat-alat konstruksi seperti crane, excavator, dan tracktor karena seringnya dia melihat di sekeliling KL. Oliq pun mudah akrab dengan berbagai suku bangsa, entah itu orang Indonesia, Malaysia, Jepang, Arab, Afrika, dan Eropa, walau komunikasinya kadang hanya sebatas senyuman dan cekikikan khas Oliq. Pastinya kami berharap nantinya Oliq juga bisa menghargai perbedaan tanpa menganggap satu suku lebih baik dari suku atau bangsa lainnya.

Oliq dan teman baru
Oliq dan teman baru

6. Belajar disiplin

Jangan salah lho, backpacking dengan anak-anak juga bisa melatih kedisiplinan mereka. Jadwal pesawat yang tepat misalnya, melatih anak-anak untuk disiplin dalam mengatur waktu. Berbagai aturan dan kebudayaan yang berbeda-beda juga bisa dijadikan sarana untuk melatih kedisiplinan anak. Misalnya di negara yang transportasi umum dengan kereta (LRT atau MRT) sudah maju, ada aturan tak tertulis kalau melewati eskalator harus berjalan bila berada di sisi kanan. Kita bisa melatih anak untuk mengikuti aturan ini. Juga aturan kalau di dalam kereta tidak boleh makan dan minum.

7. Belajar budaya lain yang lebih baik

Salah satu tantangan backpacking adalah kita akan terpapar langsung dengan budaya lokal, yang kadang tidak selalu cocok dengan budaya kita. Di sini sebagai orang tua tantangannya adalah bagaimana mengajarkan yang baik sekaligus membentengi dari budaya yang buruk. Contoh yang sederhana, budaya membuang sampah pada tempatnya akan lebih mudah diajarkan bila kita berada di lingkungan yang masyarakatnya sudah terbiasa hidup bersih, misalnya di Jepang. Budaya antri pun terlihat jelas di negara-negara yang sudah terbiasa dengan angkutan umum berbasis kereta, misal di Singapura dan Malaysia khususnya KL. Namun sebenarnya yang terberat adalah menyaring budaya yang buruk yang banyak terdapat di tempat wisata, misalnya dugem dan mabuk-mabukkan. Sekarang Oliq memang masih terlalu kecil, namun sebisa mungkin kami menghindari paparan langsung dengan budaya seperti itu. Untungnya saya dan Olen sendiri bukan tipe yang suka hiburan malam, jadi semoga saja ke depannya Oliq juga bisa terjaga.

De Bijnkorf mall penyelamat kami di Amsterdam
disini “sampah” yang terlihat hanyalah kotoran burung

8. Ibadah kapan pun dimana pun

Bagi kami yang muslim, tentunya sholat tak boleh ditinggalkan termasuk saat berjalan-jalan. Saat di pesawat, tak jarang kami lebih memilih tayamum dengan pertimbangan keterbatasan air di toilet pesawat, untuk kemudian sholat sambil duduk di kursi. Ini adalah pelajaran langsung bagi Oliq, tak heran seringkali dia menirukan gerakan tayamum dan sholat kalau sedang duduk di pesawat. Di tempat-tempat yang tak ada mushola, kerap kali kami sholat di lapangan terbuka dengan hanya beralaskan jarik yang dipakai buat menggendong Oliq. Harapan kami jelas, Oliq akan mengerti bahwa sholat memang tak boleh ditinggalkan apapun kondisinya. Tantangan lain adalah mencari makanan halal di tempat yang muslim adalah minoritas. Yang pasti, babi dan binatang yang jelas diharamkan harus selalu dihindari. Nah kalau untuk sapi atau ayam yang kadang kita ragu apakah disembelih dengan nama Allah, saya biasanya mengirisnya dan memakannya dengan mengucap basmallah. Tapi kalau masih ragu, lebih baik makan sayur dan seafood saja yang jelas halal. Dengan membawa anak-anak, kita harus benar-benar menjaga asupan makanan agar tak ada makanan haram yang dimakan oleh anak-anak kita.

9. Berani mengambil pilihan dan resikonya.

Buat saya, dalam backpacking terkandung pelajaran berharga dalam keberanian mengambil pilihan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang terlalu nyaman, dari kecil diberi fasilitas enak, sekolah tinggal masuk SD favorit, tak perlu banyak berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, biasanya akan kesulitan ketika dihadapkan pada situasi dia harus mengambil pilihan. Dari pengalaman saya pribadi, banyak orang-orang pintar lulusan perguruan tinggi ternama, seringkali tak mampu mengambil pilihan sulit dan pada akhirnya hanya berputar-putar saja alias mbulet sambil mengandalkan bawahannya atau orang lain. Giliran pilihannya salah, dia sibuk mencari-cari pembenaran atau menyalahkan orang lain. Backpacking adalah salah satu sarana melatih keberanian anak mengambil pilihan. Dalam kasus yang lebih ekstrim, misalnya ekspedisi naik gunung yang mengambil waktu berhari-hari, kesalahan mengambil keputusan bisa berakibat fatal. Namun, kalau sekedar jalan-jalan backpakcing, setidaknya resiko salah mengambil keputusan tidak terlalu fatal, jadi ini akan melatih insting anak dalam memperbaiki situasi. Contoh paling gampang adalah ketika kesasar entah karena salah membaca peta atau salah mengambil jurusan bus. Backpacker dituntut untuk tidak panik sambil tetap mencari jalan yang benar, atau terpaksanya kembali ke tempat semula. Mental tidak mudah panik ini tidak mudah dibangun dan akan lebih mudah dibentuk dengan pengalaman pribadinya dibimbing orang tuanya.

Bagi saya dan Olen, menjadi orang tua yang gemar jalan-jalan adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah terhenti. Kami masih belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk Oliq. Tulisan ini pun bukan berarti kami sudah pakar karena faktanya kami pun masih sering kesulitan menghadapi Oliq yang sudah mulai besar dan bandel, namun masih manja. Apa yang saya sampaikan hanyalah sekedar keinginan untuk berbagi khususnya pada orang tua muda, agar mereka tidak takut dan ragu dalam mengajak anak-anaknya menyaksikan dunia luar dengan segala keindahannya. Awalnya memang terasa repot, namun yakinlah bahwa itu adalah investasi berharga yang hasilnya akan Anda rasakan di masa datang. Selamat backpacking untuk para ayah – bunda dan si kecil.

Kembalikan Ka’bah Kami, Ya Allah


Sekitar dua tahun yang silam, muncul sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh media Inggris The Independent berjudul Mecca for the rich: Islam’s holiest site ‘turning into Vegas’. Tulisan tersebut mungkin bukan yang pertama, namun cukup mencengangkan sekaligus menusuk ulu hati kaum muslim. Mungkin. Yang jelas saya pun jujur merasakannya.

Mekkah memang tidak punya kasino seperti di Las Vegas. Apalagi bar yang yang menyediakan free-flow beer #apasih. Tetapi dalam tulisan tersebut, dikupas betapa Mekkah – dan Madinah – mengalami overdevelopment. Pembangunan besar-besaran yang banyak didominasi oleh hotel berbintang 4 dan 5.

kabah-blog

Wajar memang apabila Pemerintah Saudi melalukan pembangunan hotel dan infrastruktur di kedua kota suci ini. Bagaimana tidak, tiap tahun jutaan jamaah berbondong-bondong datang untuk beribadah haji. Belum lagi saat ini ibadah umrah adalah sesuatu yang sangat umum. Dulu mungkin hanya bulan-bulan tertentu Arab ramai dengan jamaah umrah. Kini tidak lagi. All year round, kalau kata orang Amerika.

Masalahnya adalah pembangunan tersebut mengancam berbagai situs sejarah yang seharusnya dilestarikan.

Mari kita tinggalkan tulisan di The Independent dan kembali ke pengalaman saya.

Tahun 2012 saya berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama Puput dan Oliq. Waktu itu usia Oliq 11 bulan dan cerita lengkapnya ada di sini.

Bagi saya, Madinah itu bersih, rapi, dan indah. Well, bersih di sini mohon jangan bandingkan dengan kota-kota di Jepang atau di negara Skandinavia, ya! Lumayan bersih, lah. Maklum saja, namanya kota yang didatangi oleh berbagai bangsa dari berbagai latar belakang dan kebiasaan, mau bersih banget juga tidak bakalan.

Mekkah lain sekali. Berantakan. Semrawut dengan pembangunan di mana-mana. Oke lah, Pemerintah Saudi memang sengan memperluas Masjidil Haram agar dapat menampung jamaah lebih banyak lagi. Banyak bangunan dihancurkan demi perluasan tersebut. Kata pemandu umrah kami, “Pemerintah mengganti kerugian pemilik bangunan luar biasa banyaknya, bisa dibilang harga tanah termahal sedunia ada di sini.”

Yang sungguh membuat saya terhenyak adalah begitu banyaknya bangunan pencakar langit yang berada di dekat Masjidil Haram. Bukan masalah banyaknya – wong banyak juga penuh terus kok! Tapi apa pihak yang berwenang itu tidak memikirkan perimeternya?!!!  Bangunan-bangunan tinggi besar itu berdiri sangat dekat dengan tempat tersuci bagi umat islam ini.

Saya malah merasa kehilangan momentum di sini. Kekhusyukan pun berkurang. Mungkin sebagian juga karena saya harus melaksanakan ibadah sembari menggendong bayi. Kadang harus nyambi nyusuin juga.

Tapi sebagian lagi jelas salah Pemerintah Saudi. Lha mosok di hadapan Ka’bah, begitu mendongakkan kepala ke atas sedikit saja, yang terlihat adalah jajaran chain hotels bintang 5. Ada Makkah Clock Royal Tower milik Fairmont dengan jam raksasanya, ada Movenpick, ada Pullman. Bagi saya yang paling ngeselin itu – tepat di hadapan Ka’bah dan sedang mau khusyuk-khusyuknya ini – melihat Hilton Hotel. Langsung kebayang Paris Hilton dan video seksnya yang nggak terlalu menarik itu.

Astagfirullah.

Saya bukan orang alim. Saya hanya menulis apa adanya.

Tanpa mengurangi arti Mekkah dan Madinah sebagai dua kota terpenting umat Islam, sebelum tiba di sana ekspektasi saya lebih tinggi. Bayangan saya, Mekkah lebih suci dengan suasana yang lebih khusyuk. Lebih Islami. Nyatanya tidak demikian.

Gerai-gerai brand internasional pun bertebaran di mall-mall – dikunjungi oleh para jamaah mulai dari yang pakai burqa hingga yang masih memakai mukena sepulang menunaikan shalat di Al Haram.

Ada beberapa gerai ayam goreng yang bahkan tidak menyediakan tempat duduk bagi pelanggannya. Ya, makannya harus sambil berdiri. Padahal katanya sesuai hadits Nabi SAW, kalau makan harus sambil duduk. Terlihat banyak yang berdiri santai sambil makan. Kalau saya mungkin sudah ndeprok karena kalau berdiri bisa dijewer Puput. Ah sudahlah, malah menjalar ke tema lain “Arab Saudi Tidak Islami”.

Karena tanggung topiknya udah nyerempet, sekalian saja saya ceritakan pengalaman terakhir di imigrasi Jeddah.

Saya akan bilang terus terang Bandara King Abdul Aziz di Jeddah itu bandara dengan proses imigrasi dan custom paling brengsek se-dunia. Untuk melalui proses ini jamaah harus antri berdasarkan jenis kelamin. Loket hanya dua yang dibuka, sementara antrian sangat panjang, padahal banyak di antara jamaah yang merupakan orang berusia lanjut.

Setelah antri hampir tidak bergerak selama 30 menit, Oliq rewel minta menyusu. Saya cuek saja duduk ndeprok di lantai untuk menyusui, dan beringsut maju ketika antrian juga maju. Mungkin karena melihat inilah, seorang petugas akhirnya menyuruh saya dan beberapa jamaah berusia sangat lanjut untuk diprioritaskan.

Bahkan setelah pemeriksaan dengan metal detector, kami masih harus masuk ke dalam sebuah bilik untuk digeledah manual oleh petugas perempuan. Masya Allah, galaknya minta ampun. Ia memarahi seorang jamaah Indonesia berusia lanjut, karena tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh si petugas. Bagaimana bisa paham, ia berbicara dalam Bahasa Arab dengan nada yang membentak-bentak? Sambil digeledah saya semprot dia pakai bahasa Inggris, jadi kami berdua seperti dua orang gila berteriak-teriak dalam dua bahasa yang berbeda. Biarlah, mungkin pekerjaannya membosankan tapi tidak seharusnya dia memperlakukan orang-orang tua sedemikian kasarnya.

Karena calon penumpang yang banyak sementara pintu hanya sedikit, lebih dari satu jam saya dan Oliq menunggu sampai akhirnya Puput muncul. Bahkan keberangkatan pesawat Garuda yang membawa kami ke Jakarta pun harus terlambat karena calon penumpang yang tak kunjung siap masuk pesawat.

Seharusnya saya beri judul Kembalikan Ka’bah Kami ya Pemerintah Saudi. Perbaiki layananmu kepada orang-orang yang datang ke Baitullah. Kau sudah sangat beruntung diberi amanah menjaga tempat yang begitu suci. Tempat yang menjadi tujuan bagi ratusan juta hamba-Nya.

Pokoknya saya ingin lain kali ke sana, semuanya sudah harus diperbaiki, hai Raja Abdullah!

*kowe sopo to nduk, bengi-bengi ngomyang*

Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah


Alhamdulillah. Kata itu terucap dalam hati ketika saya tiba di hadapan Ka’bah di Masjidil Haram. Alhamdulillah tidak hanya saya dan suami dapat berkunjung ke Baitullah, melainkan dengan bayi kami yang pada saat itu berusia 11 bulan. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melancarkan perjalanan keluarga kecil kami ini untuk pergi beribadah umrah.

Sebenarnya niat untuk menjalankan ibadah umrah ini sudah ada pada tahun lalu. Namun, karena pada waktu yang sudah ditetapkan saya mengandung tujuh bulan, rencana terpaksa tertunda satu tahun. Ternyata penundaan tersebut justru membawa berkah karena kami dapat membawa serta si Kecil ke Baitullah. Thariq Naveed Risanto (Oliq), usia 11 bulan, akan berkunjung ke rumah Allah!

Apa tidak repot? Pertanyaan tersebut datang dari teman di tanah air maupun beberrapa kenalan yang kami temui di Arab Saudi. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tentunya bersifat retoris. Tentu saja repot, namanya juga membawa bayi! Tetapi tentu saja hal tersebut tidak akan mengurangi kekhusyukan beribadah dan kebahagiaan karena telah diberi kesempatan berumrah sekeluarga.

Continue reading Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah