Tag Archives: ujung genteng

Indonesia Darurat Plesir


Lampu di atas layar telpon pintar saya berkedip. Saya sedang menidurkan Ola, di luar kabut asap kiriman masih pekat menyelimuti Kuala Lumpur. Di dunia maya hestek #TerimakasihIndonesia masih trending.

“Aku ning wisata anyar, lagi buka 2 bulan!” kiriman Whatsapp dari adik saya, Delin, di Jogja. Pesan tersebut disertai foto narsis sok unyu-unyu dirinya dengan latar belakang sungai dan hehijauan. Persis macam jenis foto yang diledek Barbie Hipster di Instagram dengan hestek #liveauthentic. Jaman sekarang pesan memang layaknya disertai foto karena No Picture = Hoax.

image
Sungai Oyo dan dua orang narsis

Karena ini adalah blog perjalanan, Simbok kembali banting setir ke urusan travel. Maklum, ga terlalu ngejar trafik dengan memasukkan segala jenis keyword yang laku di Google Search.

Continue reading Indonesia Darurat Plesir

Advertisements

Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso


Setelah perjalanan tak berujung ke Ujung Genteng, melewati bukit dan lembah, hutan dan desa, keindahan alam ciptaan Tuhan dan kerusakan jalan ciptaan manusia, saatnya untuk pulang.

Karena sadar bahwa perjalanan pulang yang akan berliku nan panjang, bagi kami sulit untuk tiba di Jakarta sebelum malam. Prinsip road trip kami jelas, Magrib sudah hampir sampai tujuan, atau cari penginapan. Alasannya adalah karena Puput ngantukan demi keselamatan bersama.

Ini dia Si Amanda Ratu
Ini dia Si Amanda Ratu

Jadi, kami tidak kesusu untuk balik ke Jakarta. Agar terasa sah ampai di Ujung Genteng, mampirlah kami di Amanda Ratu. Apa sih Amanda Ratu ini? TANAH LOT SUKABUMI! Or so they say. Continue reading Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng


Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).

Continue reading Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng

Mengejar Senja di Ujung Genteng (Republika Online, 15 Juni 2013)


Sebenarnya sudah lama saya berniat pergi ke Ujung Genteng, namun baru terwujud akhir pekan lalu. Wilayah di ujung selatan Kabupaten Sukabumi ini memang terkenal akan keindahan pantainya.

Selain itu, Ujung Genteng juga menjadi kawasan konservasi penyu yang sangat terkenal. Kali ini niat utama saya adalah mengejar pemandangan matahari tenggelam. Read more

Senja di Ujung Genteng