Tag Archives: tuol sleng

Ketemu orang Kamboja yang fasih Bahasa Indonesia di Phnom Penh!


Saya sama simbok Olen itu punya kesukaan yang hampir sama. Kami sama-sama suka bola (kami bukan cuma seneng tapi bener-bener ngerti bola), sama-sama suka sejarah (tapi sejarah asmara kami gampang lupa), West TV series favorit juga sama, kami juga sesama lulusan HI. Walau jarak usia kami jauh, saya 17 dan dia 38 (kemudian diuncali kumkuman cawet) kami jarang berantem. Kecuali kasus semangka, Zanetti dan walkman. Ah itu cerita masa lalu, jaman Olen masih doyan ngemut es gabus. Ya pokoknya Olen itu manusia favorit dalam hidup saya. Eh ini ngapa jadi kayak acara tali kasih deh!

Intinya Olen itu panutan dalam hidup saya selain Nabi Muhammad. Termasuk soal traveling. Saat dia baru pulang dari Kamboja dan cerita soal Tuol Sleng, sejak itu saya bercita-cita harus ke sana dan akhirnya kesampaian.

3
Ini riverside tempat saya ketemu si Naim

Continue reading Ketemu orang Kamboja yang fasih Bahasa Indonesia di Phnom Penh!

Advertisements

Bertemu Bou Meng yang Selamat dari Penjara S-21 Kamboja


Pernah merasa bangga ketika menjadi salah satu pemenang dari — katakanlah — lomba blog yang diikuti 200 peserta? Pernah merasa bangga dan bahagia ketika lulus UMPTN menjadi satu dari 50 yang terpilih untuk jurusan tertentu yang passing grade-nya tinggi dan pendaftarnya di angka 4000-an? Pernah merasa bangga diajak ikut famtrip padahal Alexa nggak ramping-ramping amat dan trafik selengang jalanan depan kuburan waktu malam hari di Ploso, Jombang sana? Wekeke, jangan baper ah.

Bersama Bou Meng
Bersama Bou Meng

Bou Meng tidak pernah bangga dan bahagia walaupun menjadi salah satu dari 12 orang (banyak literatur lain yang mengatakan 7 orang) yang lolos hidup-hidup dari penjara S-21 dari total sekitar 27.000 orang yang pernah ditahan di sana (data lain antara 17 ribu hingga 33 ribu). Dua puluh tujuh ribu laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi yang disiksa hingga mati di S-21 ataupun dibawa ke Cheoung Ek khusus untuk dibunuh. Dua puluh tujuh ribu manusia dari total dua juta nyawa yang dihabisi rezim Khmer Merah selama empat tahun berkuasa (1975-1979). Continue reading Bertemu Bou Meng yang Selamat dari Penjara S-21 Kamboja

Jalan-Jalan Seram di Kamboja


Wisata sejarah, saya paling suka. Cerita perang, saya juga suka. Tapi baru kali ini dibuat merinding bukan kepalang ketika berjalan-jalan. Tempat paling menakutkan yang pernah saya kunjungi adalah Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja.

Sebelum berangkat, kebetulan saya sama sekali tidak mencari informasi tentang Kamboja. Hanya tahu pasti bahwa saya akan mengunjungi beberapa museum, killing fields dan keliling kota Phnom Penh. Setibanya di Bandara Phnom Penh, saya dan seorang kawan langsung mencari taksi untuk mengantar kami ke sebuah hotel yang direkomendasikan oleh buku panduan wisata.

Hotel tersebut ternyata tepat berada di depan Tuol Sleng. “Ah, enak dekat ke museum, tinggal jalan kaki,” pikir kami. Setelah meletakkan barang-barang, kami pun segera menuju ke gerbang museum. Dari depan, tampaknya biasa saja, seperti sebuah sekolah yang terbengkalai. Tuol Sleng dulunya memang sebuah sekolah yang diubah oleh rezim Khmer Merah menjadi penjara – sering disebut S-21.

Kami memutuskan untuk tidak membayar pemandu wisata dan langsung masuk ke salah satu bangunan. Anehnya, di depan gedung terdapat tanda peringatan dengan gambar orang tertawa yang diberi tanda silang. Maksudnya adalah pengunjung dilarang tertawa atau bercanda.

tuol dpn

Begitu masuk ke dalam bangunan tersebut, saya dan kawan saya langsung terdiam. Bukan karena ada benda mengerikan yang kami lihat, melainkan suasananya langsung berubah mencekam. Bulu kuduk saya langsung merinding. Kebetulan hanya kami berdua yang ada dalam ruangan tersebut.

Ruangan-ruangan yang dulunya merupakan kelas itu digunakan sebagai tempat menyiksa tahanan, diubah menjadi sel, ruang interogasi, dan kantor sipir penjara. Kini, oleh pengelola museum, dipamerkan berbagai benda yang dulunya digunakan untuk menyiksa tahanan. Ada juga ruangan yang dipakai untuk memamerkan foto-foto korban keganasan Pol Pot.

Seorang turis Malaysia menawarkan kami untuk bergabung dengannya, karena ia sendirian dan menggunakan jasa seorang pemandu wisata. Sang pemandu wisata menjelaskan kepada kami situasi Kamboja pada tahun 1970-an tersebut. Ia bercerita bahwa ayah dan kakak laki-lakinya juga dibunuh oleh Khmer Merah.

Pemandu wisata kami juga bercerita bahwa banyak ibu-ibu yang ditangkap dengan alasan tidak jelas. Bayi-bayi yang menangis akan dilemparkan begitu saja dari lantai atas ke pagar kawat yang berduri.

Belum pernah saya merasa seseram itu. Bagi Anda penyuka Harry Potter, mungkin akan mengerti bila saya membandingkan perasaan saya seperti ketika berada di dekat Dementor. Seolah-olah semua perasaan bahagia disedot keluar dari diri kita. Saya tidak mengada-ada.

Di lantai tiga, ruangan kelas telah dibagi menjadi sel-sel kecil, berukuran 1 x 2 meter. Bau anyir masih tercium. Ada bercak-bercak darah yang masih tidak hilang, walaupun sudah lebih dari tiga dasawarsa berlalu. Sang pemandu bercerita bahwa para tahanan ditangkap kemudian ditahan dalam sel-sel kecil tersebut. Setiap pagi dan sore sipir akan menyemprotkan air dengan selang untuk air minum para tahanan.

Di bagian luar, terdapat gentong-gentong yang dulu digunakan untuk mencelupkan kepala para tahanan bila tidak memberikan informasi yang dianggap penting saat diinterogasi.

Foto-foto korban sebelum dibunuh
Foto-foto korban sebelum dibunuh

 Kabarnya ada sekitar 20 ribu orang yang pernah ditawan di sini, termasuk beberapa orang asing. Hanya ada 7 orang yang bisa lolos dari kematian di Tuol Sleng hingga rezim Khmer Merah tumbang. Semua tawanan disiksa hingga mati di Tuol Sleng, ataupun  dibawa dan dibunuh di Killing Fields Cheoung Ek – lokasi wisata seram yang akan kami kunjungi keesokan harinya.

Pulang dari Tuol Sleng ke hotel yang tepat berada di depannya, kami langsung melucuti baju, sandal, ikat pinggang untuk dicuci. Rasanya bau anyir dan perasaan seram terus mengikuti kami.

Mengapa Harus Jalan-Jalan ke Luar Negeri?


Setiap kali artikel jalan-jalan ke luar negeri dimuat di media, hampir selalu ada pembaca yang berkomentar, “Ah, yang seperti itu di Indonesia juga banyak!” atau “Pantai-pantai di Indonesia lebih bagus dari itu!” atau “Buat apa mahal-mahal ke luar negeri, wisata Indonesia jauh lebih bagus”, dan semacamnya.

Tentu masing-masing individu berhak menyuarakan pendapatnya, tetapi saya menjadi tergelitik untuk juga menyuarakan pendapat saya dalam hal ini.

Ketika diundang menjadi pembicara baik langsung maupun di radio, saya selalu berpesan bahwa Indonesia itu sangat luar biasa amat indah! Tetapi, walaupun saya tinggal di negara yang sangat indah, bukan berarti saya kemudian enggan berjalan-jalan ke luar negeri. Read more

cropped-champselysees.jpg

Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (1)


Obyek wisata di Kamboja tidak semata terbatas pada Angkor Wat, sebuah candi Buddha yang megah, tetapi juga obyek wisata dengan sejarah kelam yang terletak di sebelah timur negara itu.

Kekejaman kelompok Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada 1970-an meninggalkan luka mendalam bagi warga Kamboja hingga hari ini. Tetapi peninggalannya justru menjadi objek wisata, terutama bagi mereka yang menyukai sejarah.

Museum Genosida Tuol Sleng

Saya mengawali perjalanan saya dengan berkunjung ke museum ini, yang berjarak kira-kira satu jam perjalanan dari Bandara Internasional Phnom Penh. Saya tiba di tempat tujuan sekitar pukul tiga, sehingga masih memiliki sekitar dua jam untuk mengeksplorasi tempat tersebut.

Awalnya saya mengira Tuol Seng hanya sebuah museum biasa, yang banyak juga dijumpai di negara lain, tetapi ternyata tidak. Tempat ini menyajikan sesuatu yang sangat berbeda.

Continue reading Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (1)