Tag Archives: tripod

Ketika isu tongsis dilarang masuk kabin menyeruak.. *jantung berdesir* 


“Kisah kita berakhir di Januari…” Potongan lagu milik Mz Glenn Fredly itulah yang tiap hari dijadikan temen-temen kantor buat ngeledekin saya, gadis solehah (huahahaha) yang baru aja diputusin kemarin Januari.. 

Mbuh gara-gara jomblo atau apa tiba2 saya merasa amat sangat kurang piknik. Dan setelah topo bareng coro di pawon, saya memutuskan buat ke Bali. Ya kali bisa ala2 eat pray love gitu. 

Lewat traveloka saya akhirnya buking AirAsia, berangkat tanggal 27 pagi dan pulang tanggal 30 sore. Urusan hostel semua juga udah beres. Tinggal mak wer, mangkat! 

 

ini dia postingan yang bikin jantung rasanya jatoh ke sendal jepit
 
Udah adem ayem tiba-tiba, Simbok Olen yang lagi nyusoni Ola melontarkan kalimat yang bikin bumi gonjang ganjing terutama bagi kami pelaku selfie *salim sama ustad felix siauw* 

TONGSIS DILARANG MASUK KABIN! (As…….. Taghfirullah.. Nggak misuh lho) ciloko songolikur iki! 

Simbok Olen baca dari grup sebelah katanya ada yang bilang bahwa tongsisnya disita dan nggak boleh masuk kabin! Alasannya juga nggak tahu kenapa, takut buat mukulin orang? Takut buat main bilyar di pesawat? Mbuhlah saya nggak paham. 

Padahal menurut saya, tongsis adalah salah satu benda yg sangat hebat ide penciptaannya. Saya suka rada gimana gituu kalau denger orang yang too much anti-tongsisnya. Asalkan kita makai tongsisnya dengan beradab.. (((BERADAB)) menurut saya nggak masalah.

Kalau jalan-jalan ada temennya sih nggak masalah, nah kalau yang sendirian kayak saya gimana? Masa dikit-dikit minta potoin orang kan ngerepotin. Wis jomblo raiso narsis sisan.. Apalagi saya punya action cam yang butuh pakai tongsis. Bukannya saya sok kekinian tapi saya emang nggak kuat beli DSLR, nggak bisa makenya dan nggak mau tambah pendek gara-gara kalungan kamera berat itu terus.

sama Mz Mario, saya juga kecewa

Bukan itu aja, bulan Mei saya rencana juga ada solo trip ke Phnom Penh dan Siem Reap. Gimana dong kalau nggak boleh bawa tongsis, masa demi tongsis harus beli bagasi *mimbik-mimbik minta naik gaji* 

Kalau tongsis saya sebenarnya nggak terbuat dari logam sih dan bisa ditekuk jadi pendek banget. Makanya yang jadi pertanyaan itu apa karena logamnya atau karena bisa dipanjangin dan bisa buat gebuk orang? 

Buat ke Bali besok saya sih udah merelakan nggak usah bawa tripod jadi kalau disita nggak rugi bandar! 

bukannya sok kekinian, tapi emang nggak kuat beli DSLR

Jadi intinya apa saya nulis panjang lebar gini? Saya cuma minta doa aja biar tongsis saya lolos tanggal 27 besok. 

Soalnya minta saran Simbok Olen dia jawabnya nggak ada empatinya blas “Yo koe mengko le foto koyo aku jaman mbiyen, kamerane di deleh njuk timer!” Katanya sambil main candy crush di HP yg touchscreennya udah bodol itu. 

Perlu diketahui ‘jaman mbiyen’ versi simbok itu udah mbiyeeeeeeeeeeen banget. Jaman dia masih ngumbar aurot di khalayak ramai.. Huahahaha 

Anyway kalau nggak lolos, mungkin lain kali saya mau nyewa kapal selem aja. 

(JPG / Journal of Photo on the Go) Karang Cantik Pantai Tanjung Layar, Sawarna Banten


Pada episode JPG kali ini, saya mengajak Anda menikmati karang-karang cantik nan fotogenik di Pantai Tanjung Layar, Desa Sawarna, Banten. Sebenarnya, seperti halnya foto landscape pada umumnya, karang-karang ini paling bagus difoto ketika senja menjelang matahari terbenam atau pagi hari sesaat setelah matahari terbit. Namun karena pagi hari harus menunggu Oliq bangun dulu dan sore harinya malah kehujanan, jadilah saya kesiangan mengambil foto terbaik di sini. Namun tak apalah, meski kesiangan dan dengan peralatan pas-pasan, dibantu sedikit olah digital, foto-foto ini masih layak dihidangkan…

Nah ini karang berbentuk layar yang legendaris...perhatikan karang di belakang batu layar ini, di situ ombak sering menghantam dan menghasilkan pemandangan yang spektakuler
Nah ini karang berbentuk layar yang legendaris…perhatikan tembok karang di belakang batu layar ini, di situ ombak sering menghantam dan menghasilkan pemandangan yang spektakuler

Oya, untuk mendapatkan foto ombak yang “lembut” saat memecah karang, gunakan teknik slow shutter alias menyetting waktu bukaan rana kurang lebih di bawah 1/15 detik (sebenarnya ini tergantung kecepatan ombak dan pencahayaan saat itu, coba-coba saja sampai dapat settingan yang pas) dan lebar bukaan rana sekecil mungkin (biasanya sekitar f22). Tentu saja Anda perlu tripod disini, kalau tidak hampir dipastikan gambarnya akan blur, kecuali tangan Anda setenang dewa hehehe… Kalau cahaya masih redup, mungkin Anda tak perlu filter ND (Neutral Density) yang berfungsi mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke lensa, tapi kalau sudah terlalu terang, Anda perlu filter ND. Nah kalau tak punya filter ND, pilihannya adalah menyetting bukaan rana lebih cepat agar tidak overexposure (dengan resiko ombak menjadi kurang lembut) atau gunakan setting gambar RAW (bukan JPG) dan lakukan olah digital di komputer (tapi tetap jangan terlalu overexposure karena olah digital juga punya keterbatasan).

Hasil slow shutter di tembok karang belakang layar, tentu sudah dengan olah digital terutama untuk mengurangi tingkat keterangan yang sangat kuat
Hasil slow shutter di tembok karang belakang batu layar, tentu sudah dengan olah digital terutama untuk mengurangi tingkat keterangan yang sangat kuat

Untuk mendapatkan foto terbaik, jangan ragu-ragu mendekat ke karang tanjung layarnya, namun tetap jaga jarak dengan karang yang seperti tembok karena ombak bisa tiba-tiba menghantam karang dan cipratan ombaknya sangat dahsyat… idealnya, gunakan lensa lebar, tapi kalau tak ada ya kembali lagi, kamera dan lensa terbaik adalah yang Anda miliki 🙂

Anda harus sedekat ini dengan tembok karang untuk mendapatkan hasil yang fantastis...
Anda harus sedekat ini dengan tembok karang untuk mendapatkan hasil yang fantastis… tanpa slow shutter, percikan ombak terlihat sangat jelas…

Jangan salah, kamera yang dipakai tak harus SLR atau mirrorless, kamera saku juga bisa dipakai, tapi harus yang bisa disetting manual dan sebaiknya yang bisa format RAW seperti Canon S110, Panasonic Lumix LX7, Olympus ZX2, Fujifilm X20, Sony RX100, Ricoh GR, dan Nikon P7800. Sayangnya, kamera ini memang agak mahal, paling murah sekitar 3,3 juta saat ini, paling mahal ada yang diatas 20 juta hehehe….

Tak perlu banyak cakap, langsung saja nikmati foto-foto berikut :

Slow shutter di tembok karang...
Slow shutter di tembok karang…
Masih di tembok karang yang sama, tapi momen yang berbeda…
Masih di tembok karang yang sama, tapi agak bergeser sedikit…

Ini gambaran slow shutter saat ombak kuat menghantam tembok karang...

Ini gambaran slow shutter saat ombak kuat menghantam tembok karang…
Kalau yang ini warna yang diatur agak agak keunguan, masih di karang yang sama
Kalau yang ini warna yang diatur agak agak keunguan, masih di karang yang sama
Kalau ini diambil dari jarak jauh, namun masih di karang yang sama, warna disetting ke sephia
Nah yang ini diambil dari jarak jauh, namun masih di karang yang sama, warna disetting ke sephia. Perhatikan kalau difoto dari jarak jauh, ombak yang menjadi latar depan kurang terlihat sehingga kurang cantik…
Cocok juga untuk foto model, pastinya model kudu siap basah-basahan kena ombak yang kuat...
Cocok juga untuk foto model, pastinya model kudu siap basah-basahan kena ombak yang kuat…
Kalau mau narsis dengan latar ombak yang tinggi, kudu punya nyali ekstra, kalo gak ya terbirit-birit kaya si mbak... perhatikan tinggi ombak saat memecah tembok karang...
Kalau mau narsis dengan latar ombak yang tinggi, kudu punya nyali ekstra, kalo gak ya terbirit-birit kaya si mbak… perhatikan tinggi ombak saat memecah tembok karang…

Terios 7 Wonders : Menyibak Pesona Sawarna yang Tersembunyi


Tujuan pertama perjalan panjang Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise adalah Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebenarnya pantai ini tidak terlalu tersembunyi dan sudah mulai dikenal warga Jakarta dan Jawa Barat. Namun, tetap saja pantai ini masih tak sepopuler pantai di laut selatan seperti Pangandaran atau Pelabuhan Ratu, padahal pantai ini sebenarnya menyimpan banyak pesona unik yang layak dijelajahi. Tak heran, dalam ekspedisi ini, Pantai Sawarna menjadi tujuan pertama 7 Wonders versi Daihatsu Indonesia, setelah sebelumnya Konvoi Terios ini dilepas secara resmi di VLC Daihatsu Sunter.

Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna
Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna

Untuk menjangkau pantai ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari Jakarta, Anda cukup melalui Tol Jagorawi, lalu keluar di Ciawi dan mengambil arah menuju Sukabumi. Hanya saja, selepas Ciawi biasanya jalan agak macet karena pasar tumpah dan banyaknya truk-truk aqua di sepanjang jalan raya tersebut. Alternatifnya, Anda bisa keluar di Bogor dan melalui Lido, hanya saja jalur ini memang agak kecil, berkelok-kelok, dan agak membingungkan karena tak ada petunjuk arah. Pada ekspedisi Terios 7 Wonders ini kami diajak melalui jalur ini, namun kalau Anda ragu saya sarankan tetap melalui jalur utama. Setelah memasuki jalan raya Sukabumi, teruskan arah menuju kota Sukabumi hingga menemukan pertigaan menuju lokasi Arung Jeram Sungai Citarik. Ada beberapa operator di sana, yang paling besar adalah Arus Liar dan papan petunjuknya terpampang jelas di pertigaan ini. Anda tinggal belok kanan dan ikuti jalan aspal hingga menemukan jembatan baja lokasi titik awal pengarungan Sungai Citarik. Ikuti saja jalur ini, Anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok naik turun dan akhirnya akan sampai di pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dari pintu masuk tol di Kuningan sampai Pelaburan Ratu bisa ditempuh kira-kira 4-5 jam dengan kondisi lalu lintas normal, tidak terlalu macet. Dari Pelabuhan Ratu, Anda terus menyusuri jalan aspal ke arah barat. Anda akan melewati hotel paling legendaris di sini, yaitu Samudera Beach Hotel yang memiliki kamar horor yang di dalamnya ada lukisan Nyi Roro Kidul. Tak sembarang orang bisa melihat isi kamarnya, apalagi menginap di dalamnya. Anda juga akan menemukan papan nama Mak Erot yang legendaris. Kalau Anda tak tahu siapa itu Mak Erot, googling saja J , saya tak akan membahasnya disini. Anda bisa terus berjalan sampai menemukan pertigaan dengan gerbang Desa Sawarna di belokan ke kiri. Ambil jalan ini dan Anda akan tiba di Desa Sawarna. Dari Pelabuhan Ratu ke Desa Sawarna bisa ditempuh selama 2 jam, hanya saja kondisi jalan berlika-liku naik turun dan beberapa tempat sedang dalam perbaikan, jadi hati-hari saja.

Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna
Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna

Ada beberapa obyek wisata di Sawarna, tapi yang paling ikonik adalah Pantai Tanjung Layar. Sebelum sampai di pantainya, Sahabat Petualang harus berjalan melewati Desa Ramah Lingkungan. Dari pakir mobil ke desa ini, Anda harus melewati jembatan gantung kecil yang ikonik. Lebarnya hanya sekitar semeter dan sering dilalui motor, jadi Anda harus ekstra hati-hati. Oya, jembatan ini menawarkan sensasi gotik alias goyang itik (pinjem istilah neng Zaskia Gotik, mumpung lagi heboh gara-gara statusisasi kemakmurannya). Gimana rasanya, coba saja sendiri 🙂

Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya
Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya

Pertama melihat spanduk ”Selamat Datang di Kawasan Wista Ramah Lingkungan Desa Sawarna”, saya langsung bertanya-tanya, kenapa desa ini disebut ramah lingkungan? Dari banyak tulisan di internet, sepertinya motor tidak diperkenankan memasuki kawasan desa, persis seperti konsep desa di Gili Trawangan, Lombok. Rasanya cukup masuk akal kalau melihat kondisi jembatan gantung yang memang hanya pas untuk pejalan kaki saja. Namun, ketika kami sampai di sana, ternyata motor lalu lalang keluar masuk desa dan lewat di jembatan dengan santainya meskipun ada orang yang sedang lewat di atasnya. Bahkan jasa ojek juga sudah tersedia buat pengunjung malas yang ingin ke Pantai Tanjung Layar tanpa berjalan kaki. Rasanya, predikat ramah lingkungan tak lagi layak disandang desa ini.

Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan
Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan

Tapi lupakan saja predikat itu, kami terus berjalan menyusuri desa menuju pantai terdekat. Desa Sawarna kini sudah sangat komersial, dimana-mana rumah penduduk sudah menjadi penginapan dan resor dengan papan nama yang mencolok. Menurut saya wajar saja, seiring pesona Sawarna yang makin terkenal, pasti kawasan ini makin ramai dan membutuhkan banyak penginapan. Kami juga melintasi persawahan dan perkebunan kelapa.

Setelah berjalan kira-kira 20 menit dari jembatan gantung, kami tiba di Pantai Ciantir. Pantai ini berupa hamparan pasir putih yang panjang, cocok untuk Anda yang gemar bermain ombak dan pasir pantai. Tapi Anda harus tetap hati-hari jika bermain ombak di sini karena ombaknya masih cukup kuat, tipikal ombak pantai selatan. Di pinggiran pantai sudah banyak saung-saung yang menawarkan makanan dan minuman. Saya juga melihat beberapa bule, sepertinya surfer, yang asyik bercengkrama dengan penduduk dan surfer lokal. Saya jadi penasaran ingin melihat aksi mereka.

Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna
Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna

Puas melihat Pantai Ciantir, saya melanjutkan langkah ke arah timur menuju bagian yang berkarang. Di sini menjadi spot favorit bagi surfer lokal. Ombaknya masih cukup kuat untuk ditunggangi, namun tidak terlalu besar sehingga cocok untuk sarana berlatih selancar bagi pemula. Saya langsung mencari posisi strategis dan rupanya seorang awak media sudah ada di sana dengan membawa kamera SLR Canon dipadu dengan lensa 35-350 mm L series. Wah, perpaduan sempurna untuk memotret surfer kata saya dalam hati. Saat itu saya sendiri hanya memakai Canon 400D dengan lensa kit 18-55 mm, meskipun saya juga membawa lensa 70-200 mm f4L. Rupanya, kawan saya lagi berbaik hati, dia menawarkan untuk meminjamkan lensa ini begitu melihat saya juga memakai Canon SLR. Jadilah saya berkesempatan menjajal lensa 35-350 mm yang mungkin harga barunya lebih dari 30 juta. Beberapa aksi peselancar lokal mengarungi ombak berhasil saya abadikan dengan lensa bata ini. Ya, lensa ini benar-benar seberat batu bata, jadi umumnya fotografer selalu memakai monopod untuk menopang lensa ini.

Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna
Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna

Puas memoto surfer lokal, saya beralih ke titik lain untuk menyaksikan surfer bule mengarungi ombak yang lebih kuat. Lensa saya kembalikan, karena saya juga tak kuat lama-lama memegang kamera dan lensa sembari menunggu momen. Kini saatnya saya gunakan lensa 70-200 mm untuk membidik surfer bule. Sayangnya, saat itu hanya ada 2 orang di spot ombak kuat, dan ternyata salah satunya hanya boarding, bukan surfing. Tak banyak foto yang bisa didapat disini.

Begitu saya hendak beralih dari spot ini, tiba-tiba saya melihat seekor burung camar sendirian seperti sedang menunggu ombak. Rupanya banyak ikan-ikan kecil yang terbawa ombak dan menjadi santapan lezat si burung camar. Burung ini tampak sabar menanti ikan-ikan yang terbawa, dan begitu ombak agak besar datang menghampiri, dia langsung mengepakkan sayapnya dan berpaling ke lokasi lain. Benar-benar pemandangan langka yang menyenangkan.

Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna
Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna

Setelah burung camar hilang dari hadapan saya, saatnya menuju Pantai Tanjung Layar yang menjadi simbol Sawarna. Sesuai namanya, pantai ini memiliki dua buah batu besar yang berbentuk seperti layar kapal yang terkembang. Dua batu raksasa yang dikelilingi karang-karang yang berserakan ini menjadikan pantai ini obyek fotografi favorit. Hempasan ombak di sekeliling karang menjadi obyek andalan bagi fotografer yang mahir menggunakan teknik slow speed. Oya, jangan lupa untuk membawa tripod, karena tanpa tripod hasilnya dijamin akan blur semuanya. Saya sendiri agak sial kali ini, tripod tidak terbawa ketika saya menuju pantai ini, jadilah tidak ada foto slow speed yang cantik di sini. Mungkin ini pertanda saya harus ke sini lagi hehehe… Jadilah saya hanya menunggu matahari terbenam alias sunset yang sayangnya kurang cantik karena tertutup awan. Memang butuh banyak keberuntungan untuk bisa memotret sunset yang benar-benar menggoda.

Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna
Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna

Sebenarnya masih banyak obyek wisata lain di Sawarna, seperti Pantai Lagoon Pari, Goa Lalay, Pantai Karang Bokor, Pulau Manuk, dan Goa Cangir. Karena waktu yang sangat terbatas, kali ini saya dan tim Terios 7 Wonders belum sempat menjelajahi setiap sudut Sawarna. Memang ini semakin mengukuhkan bahwa Sawarna adalah surga tersembunyi yang layak untuk dijelajahi. Puas di Sawarna, Sahabat Petualang bersiap-siap menempuh perjalanan panjang ke Desa Kinahrejo, Sleman, DIY.

Tips Solo Traveling bagi Jiwa-Jiwa Narsis


Saya tidak akan bicara yang seram-seram seperti gang-rape, penculikan, penjualan organ tubuh yang sering membuat orang takut untuk traveling sendirian. Saya bicara yang ringan saja, sesuai pengalaman pribadi.

Bahaya solo traveling bagi jiwa narsis kita.

Beberapa tips ini mungkin bisa membantu para solo traveler pemula yang hobi upload foto-foto diri di sosial media.

Bawa tripod

Kalau ada yang tanya apa yang paling penting dibawa ketika solo traveling? Saya jawab, ya jelas tripod, kan nggak ada temen buat motoin. Selain untuk memastikan foto-foto kita tidak goyang dan kabur, tripod akan membantu kita memotret diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain.

Beli tripod yang kecil saja, muat untuk masuk ransel (Rp 100 -200 ribu), nggak kebanting kalaupun kita hanya pakai kamera saku yang kecil. Masih mampu juga untuk menopang DSLR dengan lensa yang tidak heboh-heboh amat.

Kalau lupa tidak bawa tripod, terpaksa harus memanfaatkan apa aja yang ada, misalnya pagar, bangku, bahkan pohon. Pengalaman saya di Tat Kuang Xi,Laos, ke sana pagi-pagi dan belum ada orang lain. Saya tidak bawa tripod dan nggak ada penopang kecuali pohon. Akhirnya kamera ditaruh di atas batang pohon yang agak horizontal, diganjel kerikil supaya kamera lurus, disetting 10 detik, lalu saya lari-lari, kepleset-kepleset untuk berpose.

Hasil hit and run dengan bantuan batang pohon di Laos
Hasil hit and run dengan bantuan batang pohon di Laos

Continue reading Tips Solo Traveling bagi Jiwa-Jiwa Narsis

Things must not left behind when I travel


Aside from basic necessities, these are things I always tell myself not to forget to bring. Yet, I still forget sometimes

1. Tripod. Especially for those solo travelers. I had bad experience trying to take picture of myself in Kuang Xi waterfalls in Laos. Be reminded that in India you are not allowed to use tripod in many places.

2. Sarung or kain pantai. This thing is super important as it has multifunctions. I once use it as blanket, scarf, dress, skirt, and sajadah. And despite I got the best according to Landofthetraveler travel blanket eventually, that one still travels with me always.

3. Sunscreen. You may not go to the beach, but you still need to apply sunscreen. I got my worst sunburnt in Toba. I simply turned grey.

4. Extra battery, extra memory card.

5. A little piece of home. It may be your fave brand of saos sambal, dry chili, kecap manis, or bawang goreng. In a foreign land those small things become significant.