Tag Archives: travelling

Memangnya Kenapa Kalau Saya Turis?


*Ngomongnya sambil methentheng (kacak pinggang)* Heheee itu cuma segmen bayangan saya sendiri sih, andaikata ada yang (sekali lagi) ngumbar perbedaan antara istilah traveler dengan turis, dan merendahkan yang belakangan.

Kelakuan turis nih!
Kelakuan turis nih!

Pepatah yang sering diumbar-umbar itu: “Be a traveller, not a tourist” Continue reading Memangnya Kenapa Kalau Saya Turis?

Giveaway #Backpackology: TRAVELMATE (TUTUP)


Kalian suka travelling dengan siapa sih?

Banyak traveller yang menikmati perjalanan sendiri alasannya karena lebih bebas. Ada juga yang paling emoh solo travelling dengan alasan ga ada yg motion (eh kan ada tongsis ya?). Ada yang suka travelling bareng rombongan – sering-sering sama strangers – kan lumayan siapa tau dapat jodoh sekalian #eh.

Saya sudah ngalamin semuanya, alhamdulillah. Dulu sering solo travelling ke dalam dan luar negeri, alasannya ribet kalau ngajakin temen. Repot. Beberapa kali travel bareng temen-temen juga, tapi hati saja lebih seneng bilang, “Enakan sendiri aja deh, Len!”

The Queen is at Mt Taal
The Queen is at Mt Taal

Continue reading Giveaway #Backpackology: TRAVELMATE (TUTUP)

A 3-Year-Old, 10 Countries, 12 Airlines


Kids are never too young to travel. Travelling is not about ticking off countries. Yet, the more I take my son somewhere new, the happier we are. We are convinced that introducing cultures, languages, food, and others as early as possible is crucial to one’s next stage of life. Respect differences, as God create human in many forms. Oliq has just over 3 years old. We don’t celebrate his birthdays by organizing a party. Instead, we took him places. Last year we took him to a definite adventure to winding roads, beautiful beaches, turtles of  Ujung Genteng. This year we took him to the everlasting beauty of old charms in Penang. Oh, how we treasure our trips. Airplanes is a mere vehicle to take us places. But for Oliq, it holds deeper meaning. He can recognizes over 30 airlines logos before reaching 2 year old. He flew Fokker 70 to A330, from Boeing 737 to Boeing 777. From A320 to the giant A380. Continue your journey, son, the world is your playground.

Australia
Australia

malaysia
Malaysia

Continue reading A 3-Year-Old, 10 Countries, 12 Airlines

In Travel I Surrender


Apa sih yang kalian cari dari traveling? Mungkin ada yang akan menjawab melepaskan diri sejenak dari rutinitas, pencarian jati diri, mengenal budaya negara/daerah lain, sampai juga usaha cari jodoh (duh, yang terakhir kok kesannya desperate banget ya). Kalaupun ditanya, saya juga akan bingung menjawab. I travel for the shake of travelling itself.

IMG_4795

Buat saya, sulit untuk menjabarkan kenapa saya rela menghabiskan uang berjuta-juta dari jerih payah sendiri – sekarang jerih payah Puput hehehe – untuk selembar dua lembar tiket. Belum lagi sibuk membanding-bandingkan akomodasi murah lewat internet, mau pesan pakai Agoda, masih harus lihat review di TripAdvisor, udah gitu dicari harga termurahnya lewat Hotelscombined.com, repot banget gitu kesannya?

Mungkin alasan yang paling pas bagi saya adalah karena saya memang suka traveling. Bukan untuk pencarian jati diri – aduh saya terlalu shallow untuk itu. I enjoy everything when it comes to travelling, although I enjoy less when it comes to packing and when post-travelling syndrome hits me.

Ketika masih perawan ting-ting yang tidak kunjung disunting-sunting, memang lebih bebas untuk travel. Setiap ada promo, langsung booking saja, tidak peduli mau ke mana, dengan siapa, ada uang atau tidak. Tidak perlu minta cuti dulu. Baru setelah tiket di tangan, bolehlah mengajukan cuti pada bos, sambil bilang, “Udah booking tiket, Mas, tiket promo ga bisa dicancel.” Ampuh alasannya. Lha wong bule-bule selevel wakil direktur saja pakai alasan serupa juga.

Nah, masa itu adalah saat di mana kebahagiaan adalah melihat beberapa tiket liburan cemranthol sekaligus di kubikel. Senang itu ketika melihat kalendar dan tanggal yang ditandai sudah semakin dekat.

Hampir-hampir tidak pernah tidak punya tiket sama sekali. Sampai rekan kerja akhirnya menantang taruhan. Dia bilang, bisa nggak sampai bulan sekian kamu nggak booking tiket lagi. Saya jawab, bisa. Nyatanya saya kalah.

In travel I surrender.

Menikah bukan jadi penghalang untuk melanjutkan passion, justru semakin gila. Tentu saja menjadi agak rumit karena harus menyatukan dua jadwal yang berbeda. Tapi nyatanya, tetap bisa dan sering. Bahkan ketika hamil pun rela menggendong ransel ke India semata-mata karena tidak bisa lagi menolak gairah bepergian.

Karena punya bayi/balita lantas duduk di rumah saja, paling liburan akhir pekan, ke mall, atau main ke playground saja? It’s so last decade. Sudah bukan masanya lagi males repot. Singsingkan lengan baju and throw you baby to see the world. Emmm, lebay ya perumpamaannya….

Kenapa mau repot-repot seperti itu?

Saya menemukan kesenangan ketika melihat layar komputer dan di situ tertera “your booking is confirmed”. Hati langsung ser-seran ketika melihat iklan promo tiket sebuah maskapai, ibaratnya ditegur cowok idola waktu SMP.

Repotnya mencari penginapan pun jadi kesenangan sendiri, membandingkan yang ini dan yang itu. Walaupun sangat easy going untuk masalah transportasi, sejak punya anak saya cukup picky dalam hal memilih penginapan. Prinsip saya, kita boleh-boleh saja bercapek ria seharian, jalan-jalan ke sana ke mari, tapi pulang harus dapat tidur nyenyak dan nyaman. Alasannya? Ya supaya besoknya fit untuk jalan-jalan seru lagi, dong!

Menyusun itinerary pun jadi kesenangan tersendiri, walau biasanya juga tidak ditepati. Going where the wind blows, follow where the crowd goes.

Kadang bukan destinasinya yang paling penting melainkan kenyataan bahwa saya akan traveling.

Yang paling menyenangkan adalah membayangkan wah mau jalan-jalan, wah besok di sana mau ngapain aja ya, wah apa aja makanan yang kudu dicicipi. Udah kaya Oliq aja ngomongnya pake wah ini wah itu.

Semakin dekat semakin senang, merencanakan ini dan itu. Tetapi buat saya biasanya pada malam sebelum keberangkatan (terutama untuk acara liburan jarak jauh dan agak lama) akan ada semacam pre- travel jitters – rasa keengganan untuk pergi dari kasur yang tercinta.

Jitters ini mungkin terjadi karena saya sebenarnya adalah anak rumahan J.

Dulu acara menunggu di bandara pun jadi menyenangkan. Sekarang sih tidak lagi karena itu artinya harus entertain Oliq lebih lama. Nggak apa-apa sih anaknya cukup senang kalau bisa lihat pesawat-pesawat dan punya persediaan KitKat yang cukup.

Saya tidak mengesampingkan bahwa dalam travelling saya senang bertemu dengan banyak orang yang tidak saya kenal. Saya menikmati makanan yang tidak biasa saya makan di rumah. Saya melihat kebiasaan dan adat budaya asing. Saya mengenalkan anak saya dengan hal-hal di luar zona kenyamanannya.

Tapi tetap saja, alasan utama saya travelling adalah karena saya menikmatinya. Saya menikmati prosesnya dari awal hingga akhir.

Kalaupun saya kenalan dengan orang saat traveling itu bonus. Kalau saya dapat uang dari nulis cerita travel itu juga bonus. Kalau itu membuat anak saya jadi terbiasa travel dan akan berakhir jadi travel addict, itu adalah bonus dan sekalian tujuan – siapa tahu besok gede gantian dia yang ngajak simboknya jalan-jalan. Bapaknya tunggu rumah aja :b.

aiksulpice
Anak yang akan dipaksa ngajak simboknya jalan2 di masa depan

 

Saat ini sudah bukan masanya hanya mereka yang berduit saja yang bisa traveling. Tiket pesawat kadang bisa lebih murah dari tiket kereta api. Tentu saja ada banyak biaya lain selain tiket, tetapi kalau memang benar-benar niat, prinsip klise seperti menabung pun bisa dilakukan. Masa kalah dengan tukang becak yang menabung puluhan tahun untuk berhaji? Memang traveling ke Thailand atau Singapura misalnya, tidak bisa dibandingkan dengan niatan berhaji, but…you get my point, right?

Sudah cukup lama kami tidak traveling dan pantat ini sudah gatal saja. Baru tadi siang dapat approval dari si penyandang dana untuk booking tiket. Akhirnya excitement pra-traveling muncul lagi. Kembali ingat rasanya cari tiket murah. Rasanya membandingkan penginapan satu dengan yang lainnya. Menyusun itinerary. Mencari angle untuk tulisan berikutnya.

It’s not the destination that appealing to me the most, it’s the fact that I am travelling.

In travel I surrender.

Finding Love Through Traveling


Some say one will show their true colour when they are travelling. I can’t help but  to agree. To me, travelling is the best way to see the good and bad in people. Their characters. Their unmasked personalities. Their potential to be The One.

Together we are stronger
Together we are stronger

On a date, you got to see the best in him. He picks you up wearing the best clothes he has. You can smell his aftershave across the driveway. His face is smooth like a baby’s buttock, you can not even see a single stubble.

On a date, you pick her up. She wears her new flowery dress bought in a midnight sale. Her hair scented like lavender. Her nails manicured.  She wears her widest smile.

When travelling, you see everything in him. You see how ugly he is waking up in the morning, hair so messy and, oh, that puppy eyes. Breath smells like dragon because he cannot find his toothbrush.

When travelling, she changes her tight fitting leggings with a pair of torn jeans or an oversized cargo pants.  Hair all messed up she wears a simple ponytail. Using rubber band she found on the grass.

On a date, you eat in a fancy restaurant, served and put the bill on your credit card. You don’t have to worry about the charges until later the month. You have sugar-coating conversation until you almost suffocated by the spiking blood sugar.

When travelling he counts every cent you have to make sure you survive in this no man’s land. She is happily living in a hostel far below her standard of bedding. You eat street food, taking cramped public transportation. You learn to live the difficult way.

When travelling, she would not hesitate to walk miles to save the money you have left. He offers to carry her backpack watching her sweating all over. You learn to walk hand-in-hand.

When travelling, she makes an itinerary, strategic yet flexible.  He calculates the timing so you won’t miss a site.  You learn efficiency, but you learn to compromise.

She lost her camera, he says, “It’s okay, I’ll buy you another one.” He lost his camera, she says, “It’s okay, I’ll buy you a new one. You learn compassion.

You are arrested by the police over something. He negotiates, she negotiates. The police let you go. You learn to work together. You do problem-solving.

You are a team. A good one with no coach needed.

Little that people know, Puput and I were travel mates before a couple. Adventurous before romantic. Storm before calm.

Being married does not stop us from learning. Through travelling we learn a lot more. We deepen the love. It teaches us to share responsibilities. We learn how to raise a kid outside the comfort of our home, away from our comfort zone.

We find love through travelling. How about you?

*Opinions here are my own. Feel free to disagree.