Tag Archives: traveling

Jadi Traveler Nggak Perlu Resign


Rasanya sering sekali saya mendengar kalimat “Quit your job and travel the world”. Tampaknya asyik banget ya tidak terikat jam kerja dan bisa menjelajah dunia (apalagi sama partner tercinta ehemmm).

pl ratu board Continue reading Jadi Traveler Nggak Perlu Resign

Advertisements

A 3-Year-Old, 10 Countries, 12 Airlines


Kids are never too young to travel. Travelling is not about ticking off countries. Yet, the more I take my son somewhere new, the happier we are. We are convinced that introducing cultures, languages, food, and others as early as possible is crucial to one’s next stage of life. Respect differences, as God create human in many forms. Oliq has just over 3 years old. We don’t celebrate his birthdays by organizing a party. Instead, we took him places. Last year we took him to a definite adventure to winding roads, beautiful beaches, turtles of  Ujung Genteng. This year we took him to the everlasting beauty of old charms in Penang. Oh, how we treasure our trips. Airplanes is a mere vehicle to take us places. But for Oliq, it holds deeper meaning. He can recognizes over 30 airlines logos before reaching 2 year old. He flew Fokker 70 to A330, from Boeing 737 to Boeing 777. From A320 to the giant A380. Continue your journey, son, the world is your playground.

Australia
Australia

malaysia
Malaysia

Continue reading A 3-Year-Old, 10 Countries, 12 Airlines

Menjadi orang biasa dan travel blogger


Mungkin ketika membaca judul di atas, Anda akan heran, memangnya ada blogger perjalanan yang bukan orang biasa? Bagi kami, definisi orang biasa alias orang kebanyakan ya mungkin seperti kami sendiri. Saya bekerja di Jakarta sebagai karyawan swasta dengan jam kerja 8 – 5, tentu dengan aturan-aturan ketat seperti jumlah cuti yang terbatas, yang tiap hari bergelut dengan kemacetan Jakarta dan berhadapan langsung dengan transportasi publik yang sangat buruk. Hampir setiap hari saya naik Kopaja reguler yang nyaris semua mirip kaleng rombeng berjalan. Ada sih yang lumayan mendingan, kursinya empuk dan full music, cuma mungkin hanya ada satu dari sekian banyak bis. Sementara istri saya, simboknya Oliq, sudah tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Anak saya, Oliq, masih 2,5 tahun dan belum bersekolah. Jadi keluarga kecil kami bisa dibilang keluarga pada umumnya di Jakarta.

Bermesraan di punggung kuda
Naik kuda di kebun teh puncak, wisata standar bagi “orang biasa” di Jakarta

Continue reading Menjadi orang biasa dan travel blogger

Traveling dengan Anak-Anak Part 11: Menikmati Waktu Menunggu


Pernahkah mendengar ada orang yang punya hobi menunggu? Saya belum pernah dan sepertinya menikmati itu suatu hal yang sulit. Padahal saat traveling pasti seringkali dipaksa menunggu. Menunggu boarding minimal 2 jam setelah check-in untuk penerbangan internasional. Menunggu saat jadwal penerbangan atau keberangkatan kereta terlambat. Atau menunggu saat transit

ditengah rute penerbangan. Hal-hal berikut yang biasa saya lakukan saat harus menunggu ketika sedang traveling:

1. Executive lounge

Ini rahasia saya: saya banci executive lounge. Walau saat travelling saya harus berburu tiket termurah, tapi saat di airport saya rela mengeluarkan uang untuk bisa masuk executive lounge. Syukur-syukur bisa masuk gratis karena fasilitas dari kartu kredit atau frequent flyer airlines dimana saya menjadi anggota. Banyak yang mengira akses masuk ke executive lounge itu mahal, padahal harganya sangat terjangkau apalagi bila memperhitungkan layanan yang tersedia. Rata-rata harga masuk ke executive lounge kebanyakan airport di kota besar di Indonesia berkisar antara Rp. 60,000 – 80,000. Setelah membayara, tamu dapat menikmati duduk di sofa nyaman dalam ruangan ber-ac, free wifi, TV, dan tersedia hidangan buffet all you can eat and drink untuk dinikmati. Memang biasanya rasa dari makanannya standar banget, tapi sampai saat ini saya belum menemukan restoran bandara yang menyediakan makanan enak. Harga makanan di restoran bandara pun bersaing dengan harga masuk executive lounge, padahal area duduknya kurang nyaman. Keuntungan masuk ke executive lounge juga adalah area menunggunya yang tentunya lebih bersih dan lebih sepi daripada di koridor terminal, sehingga lebih leluasa buat anak-anak bermain dan lebih nyaman untuk ibu-ibu yang masih menyusui.

2. Memperpanjang waktu transit

8 jam jalan-jalan di Dubai

Beberapa maskapai penerbangan akan “memaksa” penumpangnya untuk mampir dan transit di home airport mereka. Misalnya: Emirates Airlines di Dubai, Etihad Airways di Abu Dhabi, atau Qatar Airways di Doha. Biasanya minimal waktu stopover sekitar 4 jam. Kalau memang itinerary menuntut untuk melakukan transit tersebut, bila tidak dikejar waktu maka saya memilih untuk mengambil waktu mampir terlama, misalnya 10 jam. Dengan demikian saat mampir saya dan keluarga punya waktu untuk jalan-jalan keluar airport.

Sebelum berangkat, cari informasi atau tanya kepada petugas airlines apakah ada fasilitas yang disediakan untuk traveler saat sedang transit. Sebagai contoh, bandara Changi menyediakan 2-jam Free Singapore City Tour untuk traveler dengan waktu transit minimal 5 jam.

3. Menunggu jam check-in hotel

Sebagai traveler dengan budget pas-pas an, saya sangat hitung-hitungan soal hotel. Sebisa mungkin saya masuk tepat diawal boleh mulai check-in dan paling ogah kalau check-in tengah malam, kecuali hotelnya dibayarin atau harganya amat sangat murah. Sayangnya, karena harus memilih tiket dengan harga termurah maka waktu ketibaan bisa tengah malam sedangkan jam check-in hotel biasanya jam 12 siang. Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 11: Menikmati Waktu Menunggu

Traveling dengan Anak-Anak Part 6: Menyusui di Tempat Umum


Masih seputar wisata dengan anak-anak bersama Olen dan Lala di sini. Untuk memperingati pekan ASI internasional yang baru saja lewat, kali ini kami akan berbagi tentang pengalaman menyusui anak-anak di tempat umum ketika kami sedang berlibur baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu ada bebreapa kiat yang semoga dapat mendorong para orangtua untuk tidak perlu “malu-malu” menyusui di tempat umum.

Satu hal yang kami yakini adalah: mendapatkan ASI adalah hak asasi anak. Di rumah ataupun sedang bepergian itu adalah hak asasi anak.

Inilah sekelumit cerita emak-emak keren dalam memenuhi hak anaknya ketika berwisata.

Olen dan Oliq

Saya mungkin menjadi salah satu ibu yang tidak sungkan menyusui di mana saja. Saya punya prinsip, I don’t mind flashing a boob if it means my son’s thirst (and rights) fulfilled. Sehubungan dengan Oliq yang memang menolak minum dari dot sejak umur 3 bulan, saya memang mau tak mau menyusuinya langsung dari payudara.  A mom gotta do what a mom gotta do.

In a perfect world, semua ibu dapat menyusui anaknya di nursery room yang bersih, nyaman, dan lengkap. But there’s no such thing as a perfect world.  Tidak semua tempat umum memiliki ruang menyusui, walaupun hal ini semakin digalakkan. Kalaupun ada, kadang saya sendiri yang malas apabila tiap kali mau menyusui harus mondar-mandir ke ruang menyusui.

Menyusui dengan latar belakang seperti ini semua ibu pasti suka!

Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 6: Menyusui di Tempat Umum