Tag Archives: traveling dengan anak

Sehari di Ayutthaya


Sementara Bangkok adalah ibukota modern Thailand, Ayutthaya adalah ibukota Kerajaan Siam yang berjaya antara tahn 1350 hingga 1700an sebelum dihancurkan oleh pasukan Kerajaan Burma. Ibukota kuno ini kini tinggal puing-puing, walau sebagian pagodanya masih berdiri tegak. Kota  Ayutthaya terletak 80km sebelah utara Bangkok. Minggu lalu kami mengunjunginya.

Wajah Buddha di Wat Maha That

Sebelum berangkat ke Thailand pun saya sudah membaca banyak review dengan kesimpulan bahwa cara terbaik menuju ke Ayutthaya adalah menggunakan kereta api. Syukur-syukur bisa dapat paling murah, selain hemat juga lebih seru. Continue reading Sehari di Ayutthaya

Advertisements

Jalan-jalan dengan Anak Kecil?? Siapa Takut….


Kami sering mendapat pertanyaan, “Jalan-jalan bawa anak-anak apa gak repot?” Ya jelas repot, wong jalan-jalan sendiri aja ribet apalagi bawa anak-anak, lebih-lebih kalau lebih dari satu dan masih kecil. Atau bisa juga dilihat dari sisi lain, punya anak aja repot apalagi diajak jalan-jalan, pasti lebih repot lagi. Repot, ribet, rebyek. Opo maneh jal…

Yang jelas punya anak adalah suatu anugerah yang siap tidak siap, mau tidak mau, harus dijaga sebaik-baiknya. Dulu memang rasanya gak kebayang jadi orang tua, tapi setelah dijalani selama hampir 5 tahun rasanya kami masih baik-baik saja, tetap enjoy sambil terus jalan-jalan.

the backpackologiest siap-siap ke kamboja di pagi dini hari... semua udah siap kecuali si Ola yg masih ngleker.. malam terakhir kami sebagai perantau di negeri jiran...
the backpackologiest siap-siap ke kamboja di pagi dini hari… semua udah siap kecuali si Ola yg masih ngleker.. malam terakhir kami sebagai perantau di negeri jiran…

Continue reading Jalan-jalan dengan Anak Kecil?? Siapa Takut….

Ketika Anak Sakit Saat Liburan


Dalam kehidupan yang sempurna, anak-anak selalu sehat, ceria sepanjang liburan. Walaupun kita sudah berupaya sebisa mungkin menjaga kesehatan mereka sebelum berangkat berlibur, shit happens. Yup, shit happens beyond our control.

Drugstore penyelamat kami
Drugstore penyelamat kami

Apa saja jenis penyakit yang biasa menyerang anak saat travelling? Continue reading Ketika Anak Sakit Saat Liburan

Pengalaman dan Tips Traveling Bersama Dua Balita


Tadinya saya kira traveling dengan dua balita itu repotnya dua kali lipat. Bawaannya dua kali lipat. Rewelnya dua kali lipat.

Makanya waktu tahu Puput booking tiket ke Boracay Filipina, saya enggan banget. Perjalanan ke sana jauh, harus terbang 4 jam disambung naik van 2 jam lanjut nyeberang pulau naik perahu. Habis itu masih harus naik becak sampai penginapan.

Becanda di pesawat
Becanda di pesawat

Dengan bayi dan balita.

Ngebayanginnya aja udah capek. Continue reading Pengalaman dan Tips Traveling Bersama Dua Balita

Kisah Perjalanan Arem-Arem ke Benua Biru


Punya perut khas Indonesia ini ada suka dukanya. Sukanya, kalau sedang melakukan jelajah kuliner di berbagai sudut nusantara, tidak bakalan tidak puas. Makanan tradisional mulai dari yang sudah sangat umum hingga makanan-makanan langka yang tidak terlalu dikenal.

Dukanya? Walaupun saya dan suami termasuk pemakan segala, Oliq (3,5 tahun) adalah pecinta nasi sejati. Anak kami ini pun lebih suka masakan yang sangat Indonesia sebagai lauknya, misalnya rawon, brongkos, lodeh, tahu tempe, dan sebagainya. Tidak masalah sih bila sedang di rumah karena saya juga termasuk simbok yang suka memasak, dan selera Indonesia memang yang paling pas. Tapi, karena kami termasuk keluarga yang sering travelling ke luar negeri,harus ada strategi tertentu supaya liburan tetap senang dan perut tetap kenyang!

Walaupun tiap traveling selalu berusaha melakukan #JelajahRasa makanan setempat, tetap saja lama-lama lidah dan perut nggak bisa bohong!SAMSUNG CAMERA PICTURES

Salah satu cara paling efisien bagi kami ketika melakukan liburan keluarga ke luar negeri adalah dengan menginap di apartemen yang menyediakan dapur atau kitchenette (dapur kecil). Ini hanya berlaku bila liburan kami ke negara yang dirasa sulit untuk menemukan makanan yang cocok di lidah dan perut. Kalau untuk negara-negara Asia Tenggara di mana nasi mudah didapat, tidak masalah jajan di warung. Beda ceritanya bila kami harus ke Eropa, pasti peralatan perang seperti rice cooker, bumbu instan, abon, sambal botol masuk ke koper pertama kali.

“Mama, Aik lapel, mau maem naci,” bayangkan kalau lagi di negeri antah berantah dan tidak bawa rice cooker. Continue reading Kisah Perjalanan Arem-Arem ke Benua Biru