Tag Archives: traveling dengan anak-anak

Ransel Mini Keliling Dunia


Lima orang ibu tinggal di kota berbeda. Ada yang merupakan ibu bekerja, ada yang bekerja dari rumah sambil melanjutkan kuliah dan berkarir sebagai Emak Idola Nusantara, ada juga yang hanya glundang-glundung kaya semangka. Awalnya tidak saling mengenal, ada yang hanya kenal di dunia maya namun tidak pernah bersua.

Lima orang ibu dengan kesibukan masing-masing. Lima orang ibu dengan renjana yang sama: TRAVELING (dengan anak-anak).

ranselminiKL

Kami dipertemukan oleh takdir. Kami saling bercerita tentang kisah-kisah perjalanan bersama kaki-kaki mungil anak-anak kami. Menjejak dunia. Continue reading Ransel Mini Keliling Dunia

Advertisements

Jejak Secarik Jarik Batik


You can’t go wrong with jarik batik -Backpackology

Hari itu suhu Melbourne mencapai 40 derajat Celcius. Terik membakar kulit yang sebenarnya sudah terlalu familiar dengan panas. Saya dan suami terpaksa mengibarkan bendera putih melawan panasnya Melbourne di bulan Januari. Kami menyerah, kalah, bersimbah peluh menuju oase terdekat, yaitu keran air di Shrine of Remembrance — sebuah monumen bersejarah di pusat kota. Lantas, kami menggelar jarik batik yang biasanya untuk menggendong Oliq (saat itu usia 6 bulan), di atas rumput. Jarik batik menjadi alas duduk.

Penyelamat dari panasnya Melbourne
Penyelamat dari panasnya Melbourne

Continue reading Jejak Secarik Jarik Batik

Parenting by Traveling


Rasanya kini banyak tulisan tentang parenting yang populer di kalangan orang tua muda seperti saya dan simbok cempluk, tapi rasanya masih sedikit yang menggabungkan parenting dengan traveling. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kami traveling dengan anak-anak bersama Oliq, kini hampir 3 tahun, berkelana ke 9 negara secara backpacking sejak usia 6 bulan.

Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok
Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok

Sebelum menikah, saya memang suka jalan-jalan secara backpacking. Hobi asli naik gunung dan bertualang sejak jaman SMA membuat saya sangat familiar dengan gaya backpacking, jauh sebelum tren ini merebak di kalangan anak muda. Demikian juga dengan Olen, meskipun jarang naik gunung, tapi juga penggemar berat jalan-jalan. Dan yang pastinya, hobi ini lah yang akhirnya menyatukan kami hingga lahirnya Oliq di tahun 2011.

Oya, kami memilih untuk mengurus anak sendiri tanpa baby sitter dan bala bantuan orang tua, karena kebetulan kami ada di Jakarta dan orang tua kami di Jogja. Pastinya harus ada pengorbanan, simbok cempluk yang sudah bergelar master akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja. Dan buat saya sendiri, harus banyak meluangkan waktu di rumah berbagi dengan Olen.

Setelah Oliq lahir, tentunya kami tak ingin hobi kami terhenti hanya gara-gara sibuk mengurus anak. Justru buat kami, lahirnya Oliq membawa suatu dimensi petualangan baru yang lebih menantang. Kalau sebelumnya solo backpacker atau berdua rasanya mudah saja, mau blusukan atau ngemper juga ayo aja, kini setelah adanya si kecil yang mulai bandel, perhitungannya harus lebih matang walaupun tidak mengorbankan semangat backpacking dan petualangan.

Sampai saat ini kami tetap berpegang teguh pada prinsip backpacking, merencanakan sendiri jalan-jalan, tidak tergantung pada travel agent, dan tetap tidak mengandalkan baby sitter, orang tua, atau sodara untuk mengurus Oliq selama bepergian. Sampai saat ini baru sekali kami menggunakan jasa travel agent pada saat umrah saja hehehe… saat itu jelas, pertimbangannya ini lebih kepada perjalanan ibadah, bukan sekedar jalan-jalan biasa. Meskipun demikian, tetap saja ada keinginan untuk benar-benar umrah backpacking, rasanya lebih menantang dan puas kalau berhasil 🙂

Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa...
Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa…

Pertanyaan paling sering diajukan ketika kami hendak bepergian, apalagi jauh, dengan Oliq adalah, “Apa gak repot, jalan-jalan sambil bawa anak kecil?”

Rasanya ini pertanyaan retorik, pasti lebih repot daripada tanpa membawa anak kecil. Tapi kenapa kami nekat melakukannya, tentunya ada pelajaran berharga bagi kami si orang tua, maupun bagi si kecil dibalik kerepotan yang mesti dihadapi. Pelajaran, hikmah, dan tips-tips ini yang ingin saya bagi untuk ayah-bunda, papa-mama, bapak-simbok muda yang juga ingin berjalan-jalan dengan sang buah hati, namun masih ragu dan bingung.

Bagi saya dan Olen, banyak hal yang bisa kami ajarkan pada Oliq dalam setiap kesempatan traveling. Tak hanya bagi Oliq, bagi kami sendiri, setiap petualangan juga selalu memberi pelajaran yang baru karena parenting sendiri adalah proses pembelajaran yang tiada pernah terhenti. Berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik dalam backpacking, tentunya berdasarkan pengalaman pribadi kami.

 

Dari Condongcatur ke Paris
Dari Condongcatur ke Paris, bersama stroler dan jarik kebanggan simbok Cempluk

1. Mandiri

Dengan traveling secara backpacking, pastinya Anda dan pasangan harus merencanakan sendiri perjalanan, mulai dari tiket, hotel, obyek wisata, transportasi, hingga rute perjalanan. Dengan adanya anak kecil, tentu hal tersebut menjadi lebih rumit lagi. Namun disinilah sebenarnya seninya, disatu sisi Anda tetap ingin memanjakan anak selama perjalanan tapi si anak juga dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan gaya backpacking orang tuanya. Pada waktu bepergian pertama kali keluar negeri bersama Oliq ke Australia saat dia masih berumur 6 bulan, terasa sekali ribetnya. Mulai dari tiket yang sudah dipesan sebelum dia lahir, jadi kudu mengubah nama bayi setelah lahir, persiapan bawa gendongan, stroler, perlengkapan bayi, hingga Olen yang harus selalu siap sedia menyusui Oliq setiap saat. Repot memang, namun rasanya lebih puas.

2. Melatih kekompakan orang tua

Jalan-jalan melibatkan papa, mama, dan anak kecil secara mandiri tentunya memerlukan kekompakan yang menurut saya tidak bisa diajarkan namun harus dipraktekkan langsung. Mulai dari merencakanan perjalanan, memilih rute, hingga saat-saat ketika anak rewel memerlukan pengertian yang baik dari bapak maupun ibu. Komunikasi yang intens disertai kemauan kuat untuk memahami anak tanpa harus terlalu memanjakan adalah kunci utama agar acara backpacking menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi semua keluarga. Salah paham itu biasa, tapi jangan sampai berlarut-larut apalagi saat di perjalanan. Hati-hati, anak kecil memiliki kepekaan yang tinggi, dia bisa merasakan kalau ada suasana tak nyaman dari ayah maupun bundanya.

Three is better than alone
Three is better than alone.. butuh kekompakan untuk menghasilkan foto seperti ini

3. Mengendalikan Ego Jalan-jalan

Seperti halnya backpacker lainya, umumnya saya dan Olen ingin memaksimalkan kunjungan ke berbagai obyek wisata di suatu tempat, apalagi kalo bepergian jauh. Dengan adanya Oliq, saya dan Olen mau tak mau harus mengalah dan menyesuaikan dengan jam biologis Oliq. Kini, kami lebih santai dalam merencakan perjalanan. Harus ada istirahat untuk menyusui dan menidurkan Oliq. Kadang kami baru bisa jalan-jalan setelah menjelang siang karena menunggu Oliq bangun. Demikian juga kami tidak bisa pulang larut malam, karena pastinya Oliq sudah mengantuk dan bakalan rewel kalau dipaksa jalan-jalan. Tak jarang juga kami bergantian menggendong Oliq yang sudah tertidur.

4. Keluar dari Comfort Zone

Backpacking adalah salah satu cara keluar dari zona nyaman, apalagi kalau dengan anak-anak. Ini pun berlaku bagi bayi dan anak-anak, semakin cepat mereka dikenalkan dengan backpacking, semakin mudah bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sesungguhnya yang seringkali tidak ramah. Mulai dari menunggu di bandara, berpindah-pindah tempat tidur, makanan yang tidak cocok, dan banyak hal lain yang sering membuat stress selama acara backpacking. Pada awalnya memang terasa berat bagi anak-anak, tapi dari pengalaman kami, semakin cepat anak dikenalkan, sebenarnya semakin mudah bagi dia untuk bisa menikmati kegiatan itu di kemudian hari. Kini, Oliq bisa dibilang sudah sangat enjoy kalau diajak jalan-jalan, entah itu hanya sekedar keliling kota tanpa menginap di hotel ataupun keluar negeri beberapa hari yang sangat berbeda dengan lingkungan sekitar kami.

5. Mengenal dunia dan keanekaragaman

Dengan jalan-jalan, anak pastinya akan banyak melihat hal baru yang mungkin tak ada di sekeliling rumahnya. Mulai dari alat transportasi, fasilitas umum, obyek wisata, hingga yang paling penting adalah mengenal berbagai manusia dengan segala macam karakternya. Karena seringnya Oliq naik pesawat, di umur sekitar 2 tahun dia bisa menghafal berbagai logo pesawat. Kini dia pun cukup akrab dengan berbagai alat-alat konstruksi seperti crane, excavator, dan tracktor karena seringnya dia melihat di sekeliling KL. Oliq pun mudah akrab dengan berbagai suku bangsa, entah itu orang Indonesia, Malaysia, Jepang, Arab, Afrika, dan Eropa, walau komunikasinya kadang hanya sebatas senyuman dan cekikikan khas Oliq. Pastinya kami berharap nantinya Oliq juga bisa menghargai perbedaan tanpa menganggap satu suku lebih baik dari suku atau bangsa lainnya.

Oliq dan teman baru
Oliq dan teman baru

6. Belajar disiplin

Jangan salah lho, backpacking dengan anak-anak juga bisa melatih kedisiplinan mereka. Jadwal pesawat yang tepat misalnya, melatih anak-anak untuk disiplin dalam mengatur waktu. Berbagai aturan dan kebudayaan yang berbeda-beda juga bisa dijadikan sarana untuk melatih kedisiplinan anak. Misalnya di negara yang transportasi umum dengan kereta (LRT atau MRT) sudah maju, ada aturan tak tertulis kalau melewati eskalator harus berjalan bila berada di sisi kanan. Kita bisa melatih anak untuk mengikuti aturan ini. Juga aturan kalau di dalam kereta tidak boleh makan dan minum.

7. Belajar budaya lain yang lebih baik

Salah satu tantangan backpacking adalah kita akan terpapar langsung dengan budaya lokal, yang kadang tidak selalu cocok dengan budaya kita. Di sini sebagai orang tua tantangannya adalah bagaimana mengajarkan yang baik sekaligus membentengi dari budaya yang buruk. Contoh yang sederhana, budaya membuang sampah pada tempatnya akan lebih mudah diajarkan bila kita berada di lingkungan yang masyarakatnya sudah terbiasa hidup bersih, misalnya di Jepang. Budaya antri pun terlihat jelas di negara-negara yang sudah terbiasa dengan angkutan umum berbasis kereta, misal di Singapura dan Malaysia khususnya KL. Namun sebenarnya yang terberat adalah menyaring budaya yang buruk yang banyak terdapat di tempat wisata, misalnya dugem dan mabuk-mabukkan. Sekarang Oliq memang masih terlalu kecil, namun sebisa mungkin kami menghindari paparan langsung dengan budaya seperti itu. Untungnya saya dan Olen sendiri bukan tipe yang suka hiburan malam, jadi semoga saja ke depannya Oliq juga bisa terjaga.

De Bijnkorf mall penyelamat kami di Amsterdam
disini “sampah” yang terlihat hanyalah kotoran burung

8. Ibadah kapan pun dimana pun

Bagi kami yang muslim, tentunya sholat tak boleh ditinggalkan termasuk saat berjalan-jalan. Saat di pesawat, tak jarang kami lebih memilih tayamum dengan pertimbangan keterbatasan air di toilet pesawat, untuk kemudian sholat sambil duduk di kursi. Ini adalah pelajaran langsung bagi Oliq, tak heran seringkali dia menirukan gerakan tayamum dan sholat kalau sedang duduk di pesawat. Di tempat-tempat yang tak ada mushola, kerap kali kami sholat di lapangan terbuka dengan hanya beralaskan jarik yang dipakai buat menggendong Oliq. Harapan kami jelas, Oliq akan mengerti bahwa sholat memang tak boleh ditinggalkan apapun kondisinya. Tantangan lain adalah mencari makanan halal di tempat yang muslim adalah minoritas. Yang pasti, babi dan binatang yang jelas diharamkan harus selalu dihindari. Nah kalau untuk sapi atau ayam yang kadang kita ragu apakah disembelih dengan nama Allah, saya biasanya mengirisnya dan memakannya dengan mengucap basmallah. Tapi kalau masih ragu, lebih baik makan sayur dan seafood saja yang jelas halal. Dengan membawa anak-anak, kita harus benar-benar menjaga asupan makanan agar tak ada makanan haram yang dimakan oleh anak-anak kita.

9. Berani mengambil pilihan dan resikonya.

Buat saya, dalam backpacking terkandung pelajaran berharga dalam keberanian mengambil pilihan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang terlalu nyaman, dari kecil diberi fasilitas enak, sekolah tinggal masuk SD favorit, tak perlu banyak berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, biasanya akan kesulitan ketika dihadapkan pada situasi dia harus mengambil pilihan. Dari pengalaman saya pribadi, banyak orang-orang pintar lulusan perguruan tinggi ternama, seringkali tak mampu mengambil pilihan sulit dan pada akhirnya hanya berputar-putar saja alias mbulet sambil mengandalkan bawahannya atau orang lain. Giliran pilihannya salah, dia sibuk mencari-cari pembenaran atau menyalahkan orang lain. Backpacking adalah salah satu sarana melatih keberanian anak mengambil pilihan. Dalam kasus yang lebih ekstrim, misalnya ekspedisi naik gunung yang mengambil waktu berhari-hari, kesalahan mengambil keputusan bisa berakibat fatal. Namun, kalau sekedar jalan-jalan backpakcing, setidaknya resiko salah mengambil keputusan tidak terlalu fatal, jadi ini akan melatih insting anak dalam memperbaiki situasi. Contoh paling gampang adalah ketika kesasar entah karena salah membaca peta atau salah mengambil jurusan bus. Backpacker dituntut untuk tidak panik sambil tetap mencari jalan yang benar, atau terpaksanya kembali ke tempat semula. Mental tidak mudah panik ini tidak mudah dibangun dan akan lebih mudah dibentuk dengan pengalaman pribadinya dibimbing orang tuanya.

Bagi saya dan Olen, menjadi orang tua yang gemar jalan-jalan adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah terhenti. Kami masih belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk Oliq. Tulisan ini pun bukan berarti kami sudah pakar karena faktanya kami pun masih sering kesulitan menghadapi Oliq yang sudah mulai besar dan bandel, namun masih manja. Apa yang saya sampaikan hanyalah sekedar keinginan untuk berbagi khususnya pada orang tua muda, agar mereka tidak takut dan ragu dalam mengajak anak-anaknya menyaksikan dunia luar dengan segala keindahannya. Awalnya memang terasa repot, namun yakinlah bahwa itu adalah investasi berharga yang hasilnya akan Anda rasakan di masa datang. Selamat backpacking untuk para ayah – bunda dan si kecil.

Traveling dengan Anak Picky Eater


Punya anak yang sulit makan sampai pada taraf selalu pengen nangis – atau malah sudah menangis – tiap acara makan? Yuk, tos dulu sama saya!

A happy happy lalala family (Sydney 2012)
A happy happy lalala family (Sydney 2012)

Versi anak sulit makan ini berbeda-beda. Ada anak yang menutup mulutnya sehingga sulit sekali menyuapkan makanan. Ada yang sudah berhasil masuk mulut kemudian dilepeh. Ada juga anak yang makannya diemut sampai yang menyuapi stres menunggu, bisa sampai satu jam pun belum selesai. Balita yang lebih besar mungkin problemnya adalah hanya mau makanan yang itu-itu saja – yang sebagian besar kurang sehat seperti makanan olahan dan cepat saji. Tenang, Anda punya banyak teman kok!

Dalam kehidupan Oliq yang 2,5 tahun ini, hampir semua sudah saya alami – kecuali diemut. Oliq mengalami sulit makan bahkan sejak awal MPASI, padahal katanya kalau anak ASI eksklusif transisinya lebih mudah. Buat kami tidak sama sekali. Jangankan baby-led-weaning (BLW), wong disuapin dengan segala cara aja susah. Anak saya memang seperti tidak tertarik dengan makanan.

Kalau ada yang bilang, “Aaah itu bundanya aja kurang kreatif, harusnya menunya variasi, sajiannya yang bagus!” oooh bakal saya tantang berantem beneran! Semua cara sudah dicoba, saya ulangi lagi, SEMUA. Ternyata permasalahan Oliq adalah alergi makanan tertentu. Setelah dipantang beberapa jenis makanan (yang semakin lama pantangannya semakin sedikit), anaknya sudah lumayan mau makan walau saya tetap harus telaten menyuapinya. Acara makan berkisar antara 20 hingga 60 menit dan hampir selalu habis.

Makanya jangan terlalu stres kalau anak Anda tidak seperti anak-anak lain, mungkin sistem pencernaannya memang berbeda. Ini self-reminder juga sih bagi saya yang masih sering menganggap acara makan anak seperti warzone. Seperti medan perang. Kadang menang, kadang kalah. Lebih sering babak belur hihihi.

Oh, kok jadi curcol.

Simbok lagi opo sih?
Simbok lagi opo sih?

Saya bukan pakar parenting, dan saya juga jauh sekali dari kategori ibu yang baik nan lembut dan penyabar.

Beberapa hari yang lalu seorang ibu berkata dia akan mulai mengajak anaknya jalan-jalan jauh kalau sudah agak besar, ketika kebiasaan picky eatingnya sudah berkurang. Saya jadi menengok ke belakang. Kasus picky eating Oliq saya yakin termasuk yang cukup parah karena dimulai sejak awal MPASI dan hampir selalu konstan. Bukan hanya sekali-sekali tidak mau makan seperti anak lainnya (yang kemungkinan besar karena bosan, tumbuh gigi, atau sariawan). For me, everyday is a battle.

Tapi lha kok ya dalam keadaan demikian, kami termasuk keluarga nekat jalan-jalan terus. Apa tidak susah? Apa nggak repot? Apa anaknya nggak sakit?

Sejak umur 3 bulan Oliq sudah biasa diajak jalan, perjalanan darat dengan mobil maupun dengan pesawat Jakarta-Jogja cukup sering. Perjalanan jauh pertamanya adalah ke Australia, pada usia 6 bulan, beberapa hari sejak dia mulai MPASI. Waktu itu, makan belum terlalu susah karena baru satu kali sehari, berupa buah pisang atau bubur beras merah. ASI masih lancar dan belum diberi tambahan susu lainnya.

Untuk berlibur di Indonesia, tidak terlalu susah sebenarnya. Misalnya ketika kami ke Bogor, Bandung, Balikpapan, Manado, dan kota-kota lain. Di hotel hampir selalu disediakan bubur. Kalau tidak tinggal di hotel, penjual bubur pun banyak kok di luar.

Usia 1 tahun, andalan saya ketika traveling adalah membawa abon sapi (bisa diganti abon ayam, abon lele untuk variasi). Nasi bisa dicari di mana saja. Halangannya saat umur sekian adalah kadang nasi dimasak terlalu keras, kurang pulen untuk Oliq. Ya sudah, kembali ke bubur kalau ada.

Untungnya setelah umur 1 tahun ini Oliq doyan sayur sop, soto, rawon yang sangat mudah dicari di Indonesia. Dia juga suka nasi uduk karena gurih. Bila nasinya keras saya sering pencet-pencet lebih dulu sebelum disuapkan.

Permasalahannya timbul ketika ke luar negeri. Kebetulan Oliq ini kurang suka roti dan pasta. Staple foodnya tetap nasi. Pokoke wong Jowo banget. Kentang goreng dia doyan juga, tapi entah kenapa justru simboknya yang kadang tidak puas.

Ketika ke luar negeri, kami terpaksa melupakan sejenak prinsip backpacking – kembali ke kopering. Bagaimana bisa bawa ransel doang, kalau harus bawa rice cooker dan kompor listrik. Nggak apa-apalah yang penting traveling jalan terus.

Saat umur Oliq 11 bulan, kami menjalankan ibadah umrah. Walaupun saya tahu di sana akan ada makanan Indonesia, saya tetap bawa rice cooker untuk membuat bubur. Andalan lain adalah kaldu bubuk sebagai teman bubur tersebut.

Ketika pergi ke Singapura dan Malaysia bawaan tidak serepot itu karena di sana juga banyak ditemukan bubur dan nasi.

Umur 15 bulan kami membawa Oliq menikmati tiket promo ke Tokyo dan Kyoto di Jepang. Melihat perjalanan yang silam, kami sadar bahwa lebih nyaman untuk menginap di apartemen daripada di hotel. Tarif semalamnya sama, kok. Asal jangan dibandingkan dengan tarif hostel maupun hotel kapsul ya! Keuntungan tinggal di apartemen adalah bisa masak sendiri. Selain menghemat biaya makan, menu makanan juga dapat disesuaikan dengan selera si anak picky eater. Sebelum berangkat saya menghubungi manager dan bertanya peralatan masak apa saja yang tersedia, ternyata ada rice cooker. Aman deh tidak perlu membawa!

Di sana, kami sempat beli ikan yang diobral. Untuk sayur juga pilih yang paling murah, biasanya wortel, kol, brokoli. Standar saja, sayur yang cocok untuk anak-anak.

The penniless travellers
The penniless travellers

Perjalanan nan repot berikutnya adalah ke Paris dan Amsterdam selama 8 hari. Hebatnya (ih muji diri sendiri) kami hanya bawa satu koper, itu sudah termasuk rice cooker, padahal saat itu musim dingin. Kebayang dong  bawaan wintercoat dan tetek bengeknya. Walau menyewa apartemen juga, kami bawa rice cooker karena di Eropa tidak mungkin mereka menyediakannya. Saya bawa bumbu-bumbu instan seperti rawon, soto, sop daging, opor, dan sebagainya. Biasanya saya juga bawa sedikit beras. Sayuran dan daging tinggal beli di supermarket di sana. Abon, mie instan, dan bawang goreng tidak ketinggalan. Saya juga bawa beberapa liter susu UHT.

Tidak terbayang sebelumnya kami bisa makan bekal nasi, telur dadar, dan cah brokoli di sebuah bangku di Champs Elysees dengan pemandangan Arc de Triomphe. Oliq disuapin sambil lari tersandung-sandung baju rangkap tiganya.

Mungkin sop sederhana ini jadi sop terlezat yang kami nikmati. Setelah berhujan-hujan salju, pulang ke apartemen dan makan sop hangat nasi pulen. Lauknya bakso goreng halal yang kebetulan nemu di Albert Heijn di Amsterdam. Oliq pun tampaknya sangat menikmati sop yang sayurnya saya potong kecil-kecil ini. Ketika hendak pulang pun kami bawa bekal nasi dan udang goreng tepung untuk makan di Bandara Schiphol.

Perjalanan ribet berikutnya sebulan kemudian ke Stavanger di Norwegia selama hampir 3 minggu untuk mendampingi perjalanan dinas Puput. Istri solehah memang seyogyanya mendampingi suami bertugas J.

Ribetnya, sebelum berangkat, Puput ada acara di Bali. Karena ini nebeng business trip (taksi ditanggung dong ya), dan juga lama, kami bawa dua koper. Karena beberapa hari pertama tinggal di hotel, dibawa dong perkakas memasaknya seperti rice cooker, kompor listrik, panci, irus (eh apa sih Bahasa Indonesianya?), pisau, piring, mangkok, dan juga bahan-bahan mentah serta bumbu-bumbu. Kalau di Perancis dan Belanda masih bisa nemu makanan Indonesia, ini di Norwegia?

Akhirnya kami harus terbang Denpasar – Jakarta – Abu Dhabi – Amsterdam – Stavanger. Tiba di Stavanger kami masih pakai baju tipis dan sandal gunung. Di bandara, kami bongkar-bongkar koper untuk cari wintercoat sambil diperhatikan para petugas sambil nyengir.

Kamar-kamar hotel di Norwegia kecil-kecil sekali, padahal itu sudah hotel paling top. Ibu petualang harus memanfaatkan alat seadanya. Misalnya menggunakan meja kaca untuk talenan, plastik sebagai pengganti busa untuk mencuci piring.

Bahagia sekali setelah akhirnya kami pindahan ke apartemen – yang juga lebih dekat ke kota. Andalan saya untuk makanan Oliq di sana jelas ikan salmon. Selain murah, gampang juga ngolahnya. Ketika persediaan sudah menipis akhirnya kami menemukan semacam daerah Asia bernama Pedersgata. Di jalan ini ada sekitar selusin toko Asia. Akhirnya bisa beli cabe (yang gendut-gendut, kesan pertamanya “ah nggak pedes ini”, ternyata puedessss tenan), terong (sekitar Rp 20 ribu satu), rebung kalengan. Senang banget ketika nemu Indomi*berbagai rasa, dan sambal AB*. Hari itu saya masak sayur lodeh!

Nah, tidak mustahil kan jalan-jalan dengan anak picky eater?

Tips:

  1. Bawa peralatan memasak bila perlu
  2. Bawa bahan mentah dan lauk favorit (abon, rendang tidak pedas, bawang goreng, tuna kaleng dsb)
  3. Bawa mie instan sebagai selingan. Saya biasa memasak dengan bumbu sendiri, dicampur kaldu dan sayuran. Tapi kalau dalam perjalanan ya dimasak gitu aja ß bad mom jangan ditiru!
  4. Kalau sedang dalam perjalanan, biasa saya belikan kentang goreng atau biskuit. Jadi kalau makan besar agak sulit, perut masih terisi cukup. Susu bisa diperbanyak.
  5. Kalau di restoran bisa pilih menu yang sesuai. Saya sering pesan, misalnya mie atau capcay, minta dimasak agak lebih lama jadi sayurannya lebih empuk.

Tiga Malam, Satu Ransel, Satu Balita: A Husbandless Travelogue


Rencana yang sudah diwacanakan berulang-ulang itu hancur berantakan, ketika saya melihat tweet dari seorang kawan blogger Om Cumi, yang mengatakan bahwa Puput jadi salah satu pemenang lomba blog Terios 7 Wonders. Ikut senang sih suami bakal road trip gratis mulai dari Sawarna, Kinahrejo, Bromo, TN Baluran, via Bali, Lombok, Sumbawa, hingga sampai ke Komodo.

Daihatsu Terios berjejer di atas lereng jalur lava tour, siap berpose untuk para fotografer
Penyebab kegagalan family backpacking kali ini

Tapi pedih, Jenderal! Saya sudah bikin itinerary untuk melakukan overland road trip di Flores, dengan Kelimutu sebagai bintangnya. Selain itu kami juga akan menjelajahi Ende, Kupang, serta kemungkinan sampai di Timor Leste, atau ke Alor. Itinerary sudah siap, budget sudah dihitung, sudah punya juga jadwal pesawat yang akan dibooking. Sudah repot cari kombinasi yang paling murah, yang melibatkan Lion Air, Wings Air, Merpati, dan Sky Aviation.

JEDERRRR!!! Batal semua. Selain itu saya juga jadi harus di rumah berdua aja sama Oliq selama 14 hari. Kalau ada apa-apa gimana? (Dan di kemudian hari ternyata ada insiden Oliq terkunci di kamar mandi, sampai saya harus memukul gagang pintu dengan palu sekitar 10 menit – udah gemeteran semua deh. Nyaris manggil satpam apartemen).

Akhirnya pada malam sebelum pergi – dengan memanfaatkan rasa bersalah Puput 😀 – saya berhasil membuat dia sepakat akan membayar lunas tagihan kartu kredit saya untuk bulan Oktober. Kesepakatannya pakai salaman. Jadi sudah sah!

Kuta Lombok
Kuta Lombok

Continue reading Tiga Malam, Satu Ransel, Satu Balita: A Husbandless Travelogue