Tag Archives: transit

LCCT In Memoriam


“Selamat tinggal, semoga kita tidak berjumpa lagi!” kata saya ketika bus LCCT Transit bergerak meninggalkan bandara yang telah beroperasi untuk maskapai budget selama 12 tahun ini. Kini, operasional seluruh maskapai berbiaya murah sudah dipindahkan ke KLIA2.

Lebay ya, sok melankolis kok sama bandara. Bandara punya negara lain pula.

Pertama kali Oliq di LCCT, masih innocent
Pertama kali Oliq di LCCT, masih innocent

Continue reading LCCT In Memoriam

Transit di Abu Dhabi International Airport


Saat ini kami (saya si Simbok Galau, Papa Krewel, dan Si Bocah Ngglidik) sedang dengan terpaksa cengoh 6 jam di Bandara Internasional Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penerbangan lanjutan kami dari Amsterdam ke Jakarta memang memiliki jeda yang sangat panjang.

Ini sebenarnya kali ke dua kami transit di bandara ini. Namun yang pertama sangat pendek jadi belum sempat mendapat kesan yang lengkap. Bandara ini terbagi menjadi 3 terminal, dengan Terminal 3 adalah terminalnya Etihad Airways. Di sinilah kami sekarang berada.

Bandara Abu Dhabi kecil, sebenarnya modern, tapi entah kenapa saya kurang menyukainya.Mungkin karena terlalu padat jadi tidak nyaman. Selain itu, saat kami tiba kesanna sangat kotor, alias kemproh. Saya yakin ini bukan karena pengelolaannya melainkan tabiat para calon penumpang. Bungkus plastik, gelas kopi bertebaran di mana-mana, sampai mas-mas yang membersihkan geleng-geleng kepala.

Petugas bandara kebanyakan orang Filipina, begitu juga dengan penjaga kios. Mungkin karena tenaga kerja Filipina lebih piawai dalam bahasa Inggris dibanding TKI. Antrian untuk masuk terminal maupun gate cenderung panjang dan kurang teratur.

Bila Anda membawa anak jangan kuatir ada stroller yang disediakan pihak bandara. Warnanya oranye ngejreng. Sayangnya kok ga nemu yang jualan susu ya di terminal 3. Aduh saya jadi ga konsentrasi nulis gara-gara ada rombongan TKW ramai pakai bahasa Sunda. Saya kan jadi kebayang nasi tutug oncom.

Continue reading Transit di Abu Dhabi International Airport

Traveling dengan Anak-Anak Part 11: Menikmati Waktu Menunggu


Pernahkah mendengar ada orang yang punya hobi menunggu? Saya belum pernah dan sepertinya menikmati itu suatu hal yang sulit. Padahal saat traveling pasti seringkali dipaksa menunggu. Menunggu boarding minimal 2 jam setelah check-in untuk penerbangan internasional. Menunggu saat jadwal penerbangan atau keberangkatan kereta terlambat. Atau menunggu saat transit

ditengah rute penerbangan. Hal-hal berikut yang biasa saya lakukan saat harus menunggu ketika sedang traveling:

1. Executive lounge

Ini rahasia saya: saya banci executive lounge. Walau saat travelling saya harus berburu tiket termurah, tapi saat di airport saya rela mengeluarkan uang untuk bisa masuk executive lounge. Syukur-syukur bisa masuk gratis karena fasilitas dari kartu kredit atau frequent flyer airlines dimana saya menjadi anggota. Banyak yang mengira akses masuk ke executive lounge itu mahal, padahal harganya sangat terjangkau apalagi bila memperhitungkan layanan yang tersedia. Rata-rata harga masuk ke executive lounge kebanyakan airport di kota besar di Indonesia berkisar antara Rp. 60,000 – 80,000. Setelah membayara, tamu dapat menikmati duduk di sofa nyaman dalam ruangan ber-ac, free wifi, TV, dan tersedia hidangan buffet all you can eat and drink untuk dinikmati. Memang biasanya rasa dari makanannya standar banget, tapi sampai saat ini saya belum menemukan restoran bandara yang menyediakan makanan enak. Harga makanan di restoran bandara pun bersaing dengan harga masuk executive lounge, padahal area duduknya kurang nyaman. Keuntungan masuk ke executive lounge juga adalah area menunggunya yang tentunya lebih bersih dan lebih sepi daripada di koridor terminal, sehingga lebih leluasa buat anak-anak bermain dan lebih nyaman untuk ibu-ibu yang masih menyusui.

2. Memperpanjang waktu transit

8 jam jalan-jalan di Dubai

Beberapa maskapai penerbangan akan “memaksa” penumpangnya untuk mampir dan transit di home airport mereka. Misalnya: Emirates Airlines di Dubai, Etihad Airways di Abu Dhabi, atau Qatar Airways di Doha. Biasanya minimal waktu stopover sekitar 4 jam. Kalau memang itinerary menuntut untuk melakukan transit tersebut, bila tidak dikejar waktu maka saya memilih untuk mengambil waktu mampir terlama, misalnya 10 jam. Dengan demikian saat mampir saya dan keluarga punya waktu untuk jalan-jalan keluar airport.

Sebelum berangkat, cari informasi atau tanya kepada petugas airlines apakah ada fasilitas yang disediakan untuk traveler saat sedang transit. Sebagai contoh, bandara Changi menyediakan 2-jam Free Singapore City Tour untuk traveler dengan waktu transit minimal 5 jam.

3. Menunggu jam check-in hotel

Sebagai traveler dengan budget pas-pas an, saya sangat hitung-hitungan soal hotel. Sebisa mungkin saya masuk tepat diawal boleh mulai check-in dan paling ogah kalau check-in tengah malam, kecuali hotelnya dibayarin atau harganya amat sangat murah. Sayangnya, karena harus memilih tiket dengan harga termurah maka waktu ketibaan bisa tengah malam sedangkan jam check-in hotel biasanya jam 12 siang. Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 11: Menikmati Waktu Menunggu