Tag Archives: tanjung pandan

Tanjung Kelayang, Indahnya Asli Indonesia


Orang bilang Pantai Tanjung Tinggi adalah primadona di Pulau Belitung, saya bilang Tanjung Kelayang lebih mengesankan. Suasananya yang sepi, pasirnya yang lembut bak beledu pernah saya jejak dua kali. Dalam dua masa.

belitung Continue reading Tanjung Kelayang, Indahnya Asli Indonesia

Advertisements

Belitung Timur: Pantai dan Vihara Dewi Kwan Im


Wisatawan yang datang ke Belitung biasanya memiliki untuk pergi ke Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Pandan, dengan tur ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau kecil lainnya. Namun, di sini timur terbentang potensi wisata yang belum dikembangkan.

Pantai Tambak Belitung Timur
Pantai Tambak Belitung Timur

Bulan lalu kami ke Belitung – pertama kali bagi Puput dan Oliq. Sehari kami menghabiskan waktu dengan menjelajah pantai-pantai di bagian barat dan pulau-pulau sekitarnya. Sebuah agenda yang mainstream.

Baru keesokan harinya kami memantapkan diri untuk pergi ke Belitung Timur. Manggar, ibukota Kab Belitung Timur terletak sekitar 90 km dari Tanjung Pandan. Perjalanannya menyenangkan karena bebas macet. Kanan kiri jalan masih berupa pedesaan, hutan lindung yang masih lestari, dan beberapa perkebunan kelapa sawit. Yang terakhir ini menurut saya adalah pemandangan paling membosankan dari sebuah perjalanan.

Hari Minggu tersebut kota Manggar yang dikenal dengan kota 1001 warung kopi terlihat senyap. Kebanyakan warung kopi dan toko tutup. Di sini hanya ada dua buah SPBU dan saat itu menjelang sore hari pun tutup. Tapi banyak penjual bensin eceran di sepanjang jalan.

Kami datang memang tanpa persiapan yang matang, tanpa riset lokasi wisata mana yang akan dikunjungi. Sakparan-paran wae, pikir kami, artinya semacam sesampai-sampainya.  Pantai pertama yang kami kunjungi bernama Tambak. Letaknya masih di luar pusat kota. Waktu itu hanya melihat plang ke arah kiri, jadilah kami membelok.

Pantai Tambak ini sangat panjang dengan pasir yang sangat putih. Sama sekali tidak dikembangkan. Ada beberapa warung di seberang jalan, namun kebanyakan tutup. Tidak ada wisatawan sama sekali. Sepi.

Padahal pantai ini bagus terutama karena pasirnya yang putih bersih. Memang pemandangannya tidak sedramatis di bagian barat dengan bebatuan besar.

Pantai Nyiur Melambai tak jauh dari pusat kota Manggar
Pantai Nyiur Melambai tak jauh dari pusat kota Manggar

Ketika sampai pusat kota, kami melihat plang menuju ke Pantai Nyiur Melambai. Namanya agak lebay ya, saya jadi kebayang pohon-pohon kelapa melambai-lambai, sepasang muda-mudi pijetan di bawahnya diiringi lagu “Sway”.

Setelah bertanya dua kali karena petunjuk yang tidak jelas akhirnya kami sampai juga di Pantai Nyiur Melambai. Pantainya ternyata mepet pemukiman penduduk. Tampaknya pantai ini adalah salah satu lokasi wisata keluarga setempat, terlihat ada beberapa keluarga dengan anak-anak mereka. Pantai ini cukup hidup karena ada banyak warung yang beberapa di antaranya menyediakan ikan bakar.

Di sini kami sempat mampir untuk makan ikan terisi bakar dengan sambal dan lalap. Nyammm, nyammm.

 

Menjelang pulang, Puput niat banget mampir ke pelabuhan biar Oliq bisa lihat wawu, katanya. Baru beberapa langkah ujug-ujug mak bressss, hujan deras. Kami bertiga pun berlarian kembali ke mobil. Batal sudah foto-foto dengan kapal di pelabuhan Manggar.

Perahu nelayan di Pantai Burung Mandi
Perahu nelayan di Pantai Burung Mandi

Menjelang pulang kami pun nekat ke satu pantai lagi, yaitu Pantai Burong Mandi (burung mandi). Entah mengapa dinamakan demikian karena sama sekali kami tidak lihat ada burung mandi di sana. Pantai ini sangat hidup dengan jajaran perahu-perahu nelayan berwarna-warni. Di seberang jalan pun berderet warung-warung makan yang menjual ikan bakar. Tampak mobil-mobil berjajar di bawah pohon sementara para penumpangnya sedang asyik makan.

Menjelang pulang, kami mampir ke Vihara Dewi Kwan Im yang memang terletak di Burong Mandi. Vihara ini dibangun oleh kaum Kong Hu Chu pada tahun 1474, letaknya berada di atas bukit langsung menghadap Selat Karimata.

Warna merah sangat dominan sehingga membuat kompleks ini sangat menonjol. Vihara Dewi Kwan Im terdiri dari 3 bangunan tempat berdoa kepada Buddha, Dewi Kwan Im, dan Toapekong atau Dewa Laut.

Vihara Dewi Kwan Im
Vihara Dewi Kwan Im

Ternyata di sini kami menemukan tulisan “KKN UGM 2013” yaaaaa enak banget yang KKN sampai Belitung. Saya dulu cuma di Desa Sembukan, Wonogiri, desa paling ujuuuuuung. Tidur di rumah pak Kades tapi sering harus nebeng mandi di rumahnya mbah-mbah tetangganya. Nah kamar mandinya ini ga punya pintu. Horor kan! #curcol #abaikan

Vihara Sun Go Kong
Vihara Sun Go Kong

Di jalan pulang ada sebuah vihara yang lebih kecil bertuliskan Vihara Sun Go Kong. Pasti langsung teringat film Kera Sakti – film favorit adikku yang sampai nonton berulang-ulang. Delin ini tiap kali mendapat masalah langsung bilang, “Ah, ini nggak seberat perjalanan Tong Sam Cong ke barat untuk mencari kitab suci.”

Aduh mbladrah meneh.

Intinya, Belitung Timur ini layak untuk dieksplorasi. Walaupun pantai-pantai Belitung jadi primadona, masih banyak objek lain yang tidak kalah menarik.

Baca juga Belitung Revisited: Pulau, Kopi, dan Sepi.

Belitung Revisited: Pulau, Kopi, dan Sepi


Pantai dengan pasir halus, air biru jernih, ditambah keunikan berupa batu-batu raksasa menjadikan Belitung sebagai salah satu primadona dari Sumatera. Namanya terangkat begitu tinggi lewat novel karya Andrea Hirata. Tak dapat disangkal memang, kecantikannya tak lekang oleh zaman.

Pertama kali berkunjung ke Belitung sekitar tahun 2009, jauh sebelum menikah. Saya ingat itu adalah liburan tersantai. Hanya berbekal satu ransel dan beberapa novel pembunuhan, berangkat seorang diri. Ketika itu menginap di Kelayang Cottages, hanya Rp 150 ribu semalam. Pantai hanya dengan jarak beberapa langkah dari pintu pondok.

Tapi, ternyata banyak sisi lain dari Belitung yang masih saya lewatkan.

Setelah beberapa kali tertunda (banyak di antaranya karena alasan aneh Puput semacam….emmm…nggak jadi ah), akhirnya kejadian juga berangjat ke Belitung akhir pekan lalu. Tiket pesawat dibooking beberapa hari sebelumnya supaya tidak batal lagi.

Sabtu Subuh kami pun berangkat ke bandara, pesawat berangkat tepat pukul 05.55. Mendarat di Tanjung Pandan satu jam kemudian. Langit mendung agak mengecilkan hati kami yang sudah memesan mobil dan perahu untuk pergi ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lain.

Warung Kopi Kong Djie, Tanjung Pandan
Warung Kopi Kong Djie, Tanjung Pandan

Kami pun sarapan di sebuah kedai kopi di Tanjung Pandan, tampaknya salah satu tempat hangout favorit bapak-bapak di sini karena sangat ramai. Beberapa bapak duduk menyesap kopi, mengepulkan asap rokoknya ke udara, kaki dengan santai diangkat di atas kursi. Semuanya berbaur seru membicarakan topik-topik politik yang sedang hangat. Ada pak ustad dengan dahi membekas gelap, ada juga Koko tua bercelana pendek. Campur baur. Harmonis.  (Tulisan panjang tentang warung kopi akan saya tulis terpisah)

Puput sibuk ambil foto sana sin, sampai ketika akan pulang seorang bapak berujar,”Sudah selesai dokumentasinya, Pak?” Hahaha. Sabar, Pak, nanti fotonya dimuat di Backpackology J.

Agak ragu kami beranjak menuju ke Tanjung Kelayang tempat di mana perahu akan bergerak menuju pulau. Tanjung Kelayang yang sekarang berbeda jauh dengan beberapa tahun yang lalu. Kini sudah ada sebuah bangunan besar dengan tulisan Welcome to Belitong, walau belum beroperasi. Mobil-mobil pun jauh lebih banyak daripada dulu.

Ayo ke Lengkuas!
Ayo ke Lengkuas!

Walau gerimis, kami akhirnya tetap naik ke perahu berbekal jaket pelampung. Satu perahu untuk kami saja, Rp 400.000. Di tengah laut ombak makin besar dan hujan angin makin deras. Saya sudah deg-degan saja, berusaha melindungi Oliq dari cipratan ombak. Saya dan Puput basah kuyup. Sementara tiap kali perahu terhantam gelombang besar dan air menciprat masuk, Oliq malah nyengir lebar sambil bilang, “Haaaa!”

Ketika mercusuar Pulau Lengkuas mulai tampak hujan makin deras anginpun makin megombang-ambingkan kami. Akhirnya bapak perahu membelokkan perahu menuju ke Pulau Kepayang, untuk menunggu hujan agak mereda.

Kepayang ini memiliki sebuah Dive Center dan pusat pemijahan penyu laut. Lucu-lucu deh penyunya.

Setelah sekitar 40 menit, perahu-perahu berani berangkat ke Pulau Lengkuas. Walaupun masih gerimis, angin sudah tidak terlalu kencang. Di Pulau Lengkuas, langsung deh naik ke mercusuar. Alas kaki harus dilepas dan pengunjung naik ke puncak dengan kaki telanjang.

Oliq hanya mau jalan kaki satu tingkat sudah kecapekan. Terpaksa deh digendong. Sampai atas dia senang sekali. “Aik naik manana tinggi tinggi, ada wawu!”

Mercusuar Pulau Lengkuas
Mercusuar Pulau Lengkuas

Dengan gagah saya menggendong turun Oliq sendirian tanpa gantian dengan Puput – yang berakibat kaki gemetaran ketika sampai di bawah.  Demi mengencangkan paha-paha yang mulai kendur.

Pantai di Pulau Lengkuas ini enak untuk bermain, di sebagian tempat pasirnya sangat lembut. Jelas fotogenik dengan batu-batu besar. Sementara saya dan Puput sibuk makan popmie, Oliq malah bermain-main dengan rombongan ibu-ibu pengajian gaul.

Dari Pulau Lengkuas kami menuju Pulau Burung dan Pulau Babi. Mungkin karena kecapekan bermain, Oliq pulas di sepanjang perjalanan pulang kembali ke Kelayang. Padahal, suara mesin perahu menderu-deru.

Bermain di Tanjung Kelayang
Bermain di Tanjung Kelayang

Seperti simboknya, pantai favorit Oliq di Belitung adalah Tanjung Kelayang. Saat itu memang sepi sekali. Pasirnya sangat halus, hampir seperti semen. Formasi batu-batunya sangat cantik. Perahu-perahu nelayan ditambatkan, bergoyang mengikuti irama ombak yang mengalun.

Papa Krewel berpose
Papa Krewel berpose

Tanjung Tinggi bisa dijadikan pilihan bagi yang suka bermain air.  Pantainya memang bagus karena dibatasi batu-batu besar di kanan kirinya, jadi seperti sebuah teluk. Bagi saya sih terlalu ramai karena di tepi pantai juga penuh dengan warung-warung makan.

Tanjung Tinggi
Tanjung Tinggi

Yang ingin menginap di daerah sini ada Lor In, tidak jauh dari Tanjung Tinggi. Di sekitar Tanjung Kelayang ada Kelayang Cottages yang sederhana dengan pondok kayu, dan mulai banyak rumah-rumah yang disewakan untuk wisatawan.

Hari berikutnya kami menembus Belitung menuju ke Manggar, ibukota Kab. Belitung Timur. Manggar ini dikenal sebagai Kota 1001 Warung Kopi, sekitar 90 km dari Tanjung Pandan. Pantainya tidak seunik pantai di bagian barat, tapi kami nggak mau melewatkan juga dong. Kami sempat ke Pantai Nyiur Melambai, Pantai Tambak, dan Pantai Burung Mandi.

Pantai Burung Mandi ini tampaknya lokasi favorit masyarakat Belitung Timur karena termasuk yang paling berkembang. Mungkin juga karena merupakan desa nelayan yang besar. Kami sempatkan juga mampir ke Vihara Dewi Kwan Im dan Vihara Sun Go Kong yang ada di sekitar sini. Waktu sedang menikmati warna merah menyala klentheng ini, ternyata ada tulisan, “KKN UGM 2013.”

“Yaaaaaah beruntung banget KKN di Belitung, saya dulu cuma di Wonogiri,” kata saya.

Pas mau pulang Puput bilang, ”Kita besok kalau pensiun tinggal di sini aja aku mau.”

Yang tidak boleh dilewatkan di Belitung:

  1. Naik mercusuar di Pulau Lengkuas.
  2. Beach-hopping karena pantai-pantainya bagus banget dan pasirnya putiiiiiiih buanget. Putihnya beda dengan pasir putih di Gunungkidul ya.
  3. Nongkrong di warung kopi, berbaur dengan masyarakat lokal. Yang paling terkenal Warkop Ake di Pasar Tanjung Pandan atau seperti kami cari saja warkop yang rame dan menawarkan nuansa lokal.
  4. Makan Mie Belitung dengan kuah udang dan Gangan Kepala Ketarap.  Olen nih pikirannya makan melulu
Three is better than alone
Three is better than alone

Belitung Revisited. Better than before.

Hidden treasure just around the corner. It’s Belitung….


How to get there

Sriwijaya Air (www.sriwijayaair-online.com) and Batavia air (www.batavia-air.co.id) offer one flight daily from Jakarta to Tanjung Pandan, the main city in Belitung Island. The flight takes approximately one hour.

It is highly recommended that you pre-book your transportation to your hotel since public transport is scarce in this island. Don’t worry, it’s only a small hassle compare to its beauty.

For you who prefer organized trips, please contact: www.belitungisland.com. For those who love a bit more adventure, keep reading…

Tanjung Pandan

There are some nice accommodations in Tanjung Pandan, around one hour from the airport. Martni Hotel (0719 21432) and Wisma Martani (0719) 21156) are among those preferred. Room rate are around $20 to $40 a night. Hotel Martani has basic but nice rooms, good value for money.

Tanjung Pandan is located in the center of the island, so it takes 45 minutes to one hour to get to the beach. The town is famous for its traditional food: Mie Belitung and Gangan.

Mie Belitung is traditional Belitungese noodle with bean sprout and potato. Gangan is a red curry fish with pineapple. The taste is sour and spicy, perfect with hot steam rice. Durian is another attraction for you who like it, just wander around the town and you can get it with relatively cheap price.

Tanjung Tinggi

Tanjung Tinggi is the most popular beach in the western part of Belitung. It has stretched granite rocks and blue sea. Belitung beaches are friendly to families with small children because the wave is not very strong and in some areas the water is contained by the rocks.

Avoid busy crowd and you can easily take photos with picturesque background. The beach is only very busy on Sunday and holidays. Most tourists are local, students, with few travelers from Jakarta. Westerners are very few.

Small shops and food stalls selling Indonesian traditional food, soft drink, coffee and tea, coconut are available on the beach.

The only accommodation you can find in Tanjung Tinggi is Lor In Resort. Owned by Tommy Soeharto, the son of Indonesian former dictator, the resorts offer a beautiful view. Named as the most expensive hotel in the island with around $60 a night, it is expensive compared to the facilities. Lor In consists of 6 executive and 14 superior cottages.

Although having a beautiful sea view, it is located not on the beach, because you need to cross a road. Hence, mind your children. The main advantage of the resort is it is the only one that can offer a luxurious service such as massage and spa. Please check their website for further information:  http://www.lor-in.com/belitung/index.php

Tanjung Kelayang

Tanjung Kelayang is a fishermen beach around 4 kilometres from Tanjung Tinggi. It has undisputable marvelous panorama. You can enjoy the clear blue sea that stretches for one kilometer. In the afternoon you can see the fishermen unloading their boats and selling fishes on the beach.  One great thing about this place is, although serving as fishermen village, it doesn’t stink at all. And although you can see many fishing boats, the beach is still very clean and blue. It is perfect for families with small children who enjoy swimming, also you who like to snorkel.

Belitung beaches are famous and unique for their granites and Tanjung Kelayang is no exception. In the corner of the beach, you can see a big stack of huge granite rocks. The place is well-known for dating teenagers. Try to climb the rocks and you will find maybe the bluest sea you have ever seen. On the rocks you, you can see some other islands such as Pulau Lengkuas and Pulau Tikus.

The only accommodation in Tanjung Kelayang is Kelayang Cottages (www.kelayangcottages.com). Owned by a British gentleman, it consists of 6 wooden cottages with attached bathroom. The rooms are spacious and clean, although they are basic.  For rooms with air-con you need to pay $25 a night, room with fan $15 a night, and one backpacker style with only $10. Please book in advance at: (+6281929798420).

The accommodation provides a restaurant with reasonable price. They also provide airport pick-up and drop-off for $15 one way (it takes one hour traffic-free trip from the airport to Tanjung Kelayang). You can also book one-day islands hopping for $30 one boat – it can fit more than 10 people.

Pulau Lengkuas


 

 

It takes around 30-50 minutes boat ride to Lengkuas Island or Pulau Lengkuas which is famous for its lighthouse. Built during the Dutch colonial era, the lighthouse is still working properly to keep boats safe. From the top, on 18th floor, you will enjoy the most magnificent blue sea. Take a lot of pictures or you will be sorry.

You can swim or snorkel in the sea around Pulau Lengkuas. The water is very clear. The guardians of the lighthouse have prepared some benches and hammocks. They also have facilities to rinse after swimming. Please note that it is a tiny and isolated island, so bring your food and enough water. Do a picnic while enjoying one of the best scenic views in Indonesia.