Tag Archives: sukabumi

Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso


Setelah perjalanan tak berujung ke Ujung Genteng, melewati bukit dan lembah, hutan dan desa, keindahan alam ciptaan Tuhan dan kerusakan jalan ciptaan manusia, saatnya untuk pulang.

Karena sadar bahwa perjalanan pulang yang akan berliku nan panjang, bagi kami sulit untuk tiba di Jakarta sebelum malam. Prinsip road trip kami jelas, Magrib sudah hampir sampai tujuan, atau cari penginapan. Alasannya adalah karena Puput ngantukan demi keselamatan bersama.

Ini dia Si Amanda Ratu
Ini dia Si Amanda Ratu

Jadi, kami tidak kesusu untuk balik ke Jakarta. Agar terasa sah ampai di Ujung Genteng, mampirlah kami di Amanda Ratu. Apa sih Amanda Ratu ini? TANAH LOT SUKABUMI! Or so they say. Continue reading Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso

Advertisements

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu


Apa sih yang terlintas di benakmu ketika mendengar tentang Pelabuhan Ratu? Mungkin pantai? Nyi Roro Kidul? Atau malah Mak Erot? Saya sih langsung terbayang film-film Suzana. Dan minggu lalu terpaksa kami menginap di Pelabuhan Ratu. One night. Nggak lagi deh.

Pantai Karang Pamulang
Pantai Karang Pamulang

Ceritanya kami sedang dalam perjalanan dari Lembang ke Sawarna, via Cianjur, masuk ke Kab Sukabumi, melalui Pelabuhan Ratu. Hujan deras sore itu hampir-hampir sepanjang Sukabumi. Oliq sebenarnya tidak rewel karena tidur nyenyak terus di mobil. Tapi setelah nyanyi Pok Ame-Ame sampai seratus kali, anaknya mulai bete juga. “Aik mau puyang…aik mau puyang!” Demikian juga dengan simbok dan bapaknya.

Ketika sudah tidak mungkin untuk mencapai Sawarna sebelum Maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di tengah hujan deras kami lirik kanan kini cari penginapan. Penginapan pertama namanya Pondok Dewata atau semacamnya, tampak luar seram. Tapi apa ada penginapan nggak seram di Pelabuhan Ratu? Kalau istilah Puput semuanya “hotel Dono”, alias hotel-hotel cocok jadi setting film-film masa silam Dono-Kasino-Indro. Andai saja hujan tidak sedemikian derasnya, mungkin kami akan ke Karang Aji Beach Villa di Cimaja.

Ada penginapan di sebelah kanan, entah apa namanya, kami masih ragu-ragu. Akhirnya Puput membelok ke kiri, ke sebuah penginapan dengan embel-embel “Seaside Resort”. Namanya Bunga Ayu. Saya sih sudah menduga, ini pasti penginapan masa lampau.

Ya sudahlah, namanya sudah capek, akhirnya kami check in di Bunga Ayu ini. Kamarnya memang menghadap ke pantai dengan view pelabuhan dan kapal-kapal nelayan. Tapi ya itu tadi, hotel Dono. Lampau, silam, prasejarah.

Waktu digendong ke sini, Oliq nangis, “Aik mau kuar, aik ke cana-cana!” Artiya Oliq mau keluar, mau ke sana – sambil menunjuk arah luar. “Ni hotey jaman duyu banget!” Terbiasa melihat gambar pesawat, Oliq sudah bisa membedakan kuno dan modern, misalnya A380 akan dia bilang “wawa jaman cekanang (pesawat jaman sekarang)” dan DC-9 sebagai “wawa jaman duyu (pesawat jaman dulu)”. Dan akan dia tambahi “banget”, misalnya untuk pesawat-pesawat perang jaman Perang Dunia.

Awalnya Oliq sama sekali tidak mau masuk kamar. Maunya di teras. Tapi karena sudah capek, akhirnya mau juga dia main-main di kasur. Ternyata bonus penginapan ini berada di kamar yaitu: nyamuk dua juta ekor!

Laaaah, Oliq itu di mana-mana selalu jadi santapan nyamuk. Pernah semalam di Garut, ada 60 bentol di badannya – 20 di antaranya di muka. Saya langsung panik. “Ayo dimandiin sekarang terus diblonyoh Autan!” Saya dan Puput berjibaku memandikan anak yang meronta-ronta karena walau di pantai ternyata airnya dingin seperti di pegunungan. Ada sih keran air panas tapi saat itu tidak menyala. Anaknya jerit-jerit, saya cuma bisa bilang, “Di hotel jaman dulu banget nggak ada air panasnya, Aik!”

Sukses memandikan, langsung si anak dipakaiin piyama, dan diolesi Autan di seluruh tubuhnya, termasuk muka. Anaknya sudah agak adem ayem ketika AC sudah dinyalakan dan TV pun menyala. Mungkin jadi agak tidak seram. Untungnya, walaupun masa silam, kusam, dan kotor, kamar tidak berbau pengap.

Si mas karyawan hotel datang membawa Baygon semprot. Kami keluar dan Puput menyemprot seluruh kamar. Di kamar kiri kanan kami ada bapak-bapak biker yang ramai. Ada event motocross di Pantai Muara Sawarna.

Cuma agak deg-degan ketika Puput keluar beli air mineral sementara saya dan Oliq di kamar bersama dengan mayat-mayat nyamuk yang bertebaran di seluruh penjuru. Untung, malam berlalu singkat dan tidak ada yang aneh-aneh. Dan luar biasanya, tidak ada gigitan nyamuk sama sekali di Oliq – dengan jumlah yang dua juta itu!

 

Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Ombak di sini cocok untuk surfing
Ombak di sini cocok untuk surfing

 

Kami bangun sebelum matahari terbit dan setelah shalat Subuh jalan-jalan ke Pantai. Pantainya kotor dan berpasir gelap. Isenglah kami foto-foto sementara Oliq mainan tripod. “Ni kaya manana bandaya,” katanya. Maksudnya “Ini kaya menara bandara”.

"Jadi manana!"
“Jadi manana!”

Sarapan berupa nasi goreng dan/atau roti tawar panggang, lumayan lah ada rasanya. Saya buru-buru pengen langsung ke Sawarna aja. Acara mandi kembali jadi prahara. Oliq mandi jerit-jerit karena airnya dingin. Selesai dia mandi, Puput mandi dan airnya jadi hangat – cenderung panas malah. Saya mandi dengan air panas juga. Waktu Puput sikat gigi, air wastafel tiba-tiba berubah jadi coklat kelam. Iiihhhh berasa masuk ke film Suzana beneran nggak sih? Lebay ya, itu kan paling karena pipanya aja yang kotor.

Tapi tetap aja kami buru-buru packing dan check out, untuk menuju ke Sawarna yang lebih “muda” dan menjanjikan. Apa sih kaya slogan kampanye aja.

Dan baru saat mau berangkat itu saya melihat ada tulisan di atas pintu kamar, “1981” tahun pembangunan hotel. Yeeeee, seumur dong sama saya dan Puput!!!

A kiss from Nyi Blorong - hayahh!
A kiss from Nyi Blorong – hayahh!
Narsis sejenak
Narsis sejenak

 

Saat menuju ke Sawarna ini kami melewati Hotel Inna Samudra yang legendaris dengan kamar Nyi Roro Kidul.

Beberapa hari di Sawarna Oliq masih bolak-balik bilang, “Aik enggak mau puyang ke hotey jaman duyu banget. Aik tatuk.”

Simboknya deg-degan, “Takut apa di hotel jaman dulu banget?”

“Aik tatuk cama AC – ada boyongan.” Maksudnya Aik takut sama AC ada bolongan – entah maksudnya apa. “Di hotey jaman cekanang Aik enggak tatuk.” Gitulah, Oliq menyebut pondokan kami di Sawarna hotel jaman sekarang dan dia tidak takut!

Sudah ah, semalam saja di Pelabuhan Ratu!

Terios 7 Wonders : Menyibak Pesona Sawarna yang Tersembunyi


Tujuan pertama perjalan panjang Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise adalah Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebenarnya pantai ini tidak terlalu tersembunyi dan sudah mulai dikenal warga Jakarta dan Jawa Barat. Namun, tetap saja pantai ini masih tak sepopuler pantai di laut selatan seperti Pangandaran atau Pelabuhan Ratu, padahal pantai ini sebenarnya menyimpan banyak pesona unik yang layak dijelajahi. Tak heran, dalam ekspedisi ini, Pantai Sawarna menjadi tujuan pertama 7 Wonders versi Daihatsu Indonesia, setelah sebelumnya Konvoi Terios ini dilepas secara resmi di VLC Daihatsu Sunter.

Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna
Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna

Untuk menjangkau pantai ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari Jakarta, Anda cukup melalui Tol Jagorawi, lalu keluar di Ciawi dan mengambil arah menuju Sukabumi. Hanya saja, selepas Ciawi biasanya jalan agak macet karena pasar tumpah dan banyaknya truk-truk aqua di sepanjang jalan raya tersebut. Alternatifnya, Anda bisa keluar di Bogor dan melalui Lido, hanya saja jalur ini memang agak kecil, berkelok-kelok, dan agak membingungkan karena tak ada petunjuk arah. Pada ekspedisi Terios 7 Wonders ini kami diajak melalui jalur ini, namun kalau Anda ragu saya sarankan tetap melalui jalur utama. Setelah memasuki jalan raya Sukabumi, teruskan arah menuju kota Sukabumi hingga menemukan pertigaan menuju lokasi Arung Jeram Sungai Citarik. Ada beberapa operator di sana, yang paling besar adalah Arus Liar dan papan petunjuknya terpampang jelas di pertigaan ini. Anda tinggal belok kanan dan ikuti jalan aspal hingga menemukan jembatan baja lokasi titik awal pengarungan Sungai Citarik. Ikuti saja jalur ini, Anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok naik turun dan akhirnya akan sampai di pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dari pintu masuk tol di Kuningan sampai Pelaburan Ratu bisa ditempuh kira-kira 4-5 jam dengan kondisi lalu lintas normal, tidak terlalu macet. Dari Pelabuhan Ratu, Anda terus menyusuri jalan aspal ke arah barat. Anda akan melewati hotel paling legendaris di sini, yaitu Samudera Beach Hotel yang memiliki kamar horor yang di dalamnya ada lukisan Nyi Roro Kidul. Tak sembarang orang bisa melihat isi kamarnya, apalagi menginap di dalamnya. Anda juga akan menemukan papan nama Mak Erot yang legendaris. Kalau Anda tak tahu siapa itu Mak Erot, googling saja J , saya tak akan membahasnya disini. Anda bisa terus berjalan sampai menemukan pertigaan dengan gerbang Desa Sawarna di belokan ke kiri. Ambil jalan ini dan Anda akan tiba di Desa Sawarna. Dari Pelabuhan Ratu ke Desa Sawarna bisa ditempuh selama 2 jam, hanya saja kondisi jalan berlika-liku naik turun dan beberapa tempat sedang dalam perbaikan, jadi hati-hari saja.

Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna
Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna

Ada beberapa obyek wisata di Sawarna, tapi yang paling ikonik adalah Pantai Tanjung Layar. Sebelum sampai di pantainya, Sahabat Petualang harus berjalan melewati Desa Ramah Lingkungan. Dari pakir mobil ke desa ini, Anda harus melewati jembatan gantung kecil yang ikonik. Lebarnya hanya sekitar semeter dan sering dilalui motor, jadi Anda harus ekstra hati-hati. Oya, jembatan ini menawarkan sensasi gotik alias goyang itik (pinjem istilah neng Zaskia Gotik, mumpung lagi heboh gara-gara statusisasi kemakmurannya). Gimana rasanya, coba saja sendiri 🙂

Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya
Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya

Pertama melihat spanduk ”Selamat Datang di Kawasan Wista Ramah Lingkungan Desa Sawarna”, saya langsung bertanya-tanya, kenapa desa ini disebut ramah lingkungan? Dari banyak tulisan di internet, sepertinya motor tidak diperkenankan memasuki kawasan desa, persis seperti konsep desa di Gili Trawangan, Lombok. Rasanya cukup masuk akal kalau melihat kondisi jembatan gantung yang memang hanya pas untuk pejalan kaki saja. Namun, ketika kami sampai di sana, ternyata motor lalu lalang keluar masuk desa dan lewat di jembatan dengan santainya meskipun ada orang yang sedang lewat di atasnya. Bahkan jasa ojek juga sudah tersedia buat pengunjung malas yang ingin ke Pantai Tanjung Layar tanpa berjalan kaki. Rasanya, predikat ramah lingkungan tak lagi layak disandang desa ini.

Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan
Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan

Tapi lupakan saja predikat itu, kami terus berjalan menyusuri desa menuju pantai terdekat. Desa Sawarna kini sudah sangat komersial, dimana-mana rumah penduduk sudah menjadi penginapan dan resor dengan papan nama yang mencolok. Menurut saya wajar saja, seiring pesona Sawarna yang makin terkenal, pasti kawasan ini makin ramai dan membutuhkan banyak penginapan. Kami juga melintasi persawahan dan perkebunan kelapa.

Setelah berjalan kira-kira 20 menit dari jembatan gantung, kami tiba di Pantai Ciantir. Pantai ini berupa hamparan pasir putih yang panjang, cocok untuk Anda yang gemar bermain ombak dan pasir pantai. Tapi Anda harus tetap hati-hari jika bermain ombak di sini karena ombaknya masih cukup kuat, tipikal ombak pantai selatan. Di pinggiran pantai sudah banyak saung-saung yang menawarkan makanan dan minuman. Saya juga melihat beberapa bule, sepertinya surfer, yang asyik bercengkrama dengan penduduk dan surfer lokal. Saya jadi penasaran ingin melihat aksi mereka.

Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna
Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna

Puas melihat Pantai Ciantir, saya melanjutkan langkah ke arah timur menuju bagian yang berkarang. Di sini menjadi spot favorit bagi surfer lokal. Ombaknya masih cukup kuat untuk ditunggangi, namun tidak terlalu besar sehingga cocok untuk sarana berlatih selancar bagi pemula. Saya langsung mencari posisi strategis dan rupanya seorang awak media sudah ada di sana dengan membawa kamera SLR Canon dipadu dengan lensa 35-350 mm L series. Wah, perpaduan sempurna untuk memotret surfer kata saya dalam hati. Saat itu saya sendiri hanya memakai Canon 400D dengan lensa kit 18-55 mm, meskipun saya juga membawa lensa 70-200 mm f4L. Rupanya, kawan saya lagi berbaik hati, dia menawarkan untuk meminjamkan lensa ini begitu melihat saya juga memakai Canon SLR. Jadilah saya berkesempatan menjajal lensa 35-350 mm yang mungkin harga barunya lebih dari 30 juta. Beberapa aksi peselancar lokal mengarungi ombak berhasil saya abadikan dengan lensa bata ini. Ya, lensa ini benar-benar seberat batu bata, jadi umumnya fotografer selalu memakai monopod untuk menopang lensa ini.

Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna
Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna

Puas memoto surfer lokal, saya beralih ke titik lain untuk menyaksikan surfer bule mengarungi ombak yang lebih kuat. Lensa saya kembalikan, karena saya juga tak kuat lama-lama memegang kamera dan lensa sembari menunggu momen. Kini saatnya saya gunakan lensa 70-200 mm untuk membidik surfer bule. Sayangnya, saat itu hanya ada 2 orang di spot ombak kuat, dan ternyata salah satunya hanya boarding, bukan surfing. Tak banyak foto yang bisa didapat disini.

Begitu saya hendak beralih dari spot ini, tiba-tiba saya melihat seekor burung camar sendirian seperti sedang menunggu ombak. Rupanya banyak ikan-ikan kecil yang terbawa ombak dan menjadi santapan lezat si burung camar. Burung ini tampak sabar menanti ikan-ikan yang terbawa, dan begitu ombak agak besar datang menghampiri, dia langsung mengepakkan sayapnya dan berpaling ke lokasi lain. Benar-benar pemandangan langka yang menyenangkan.

Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna
Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna

Setelah burung camar hilang dari hadapan saya, saatnya menuju Pantai Tanjung Layar yang menjadi simbol Sawarna. Sesuai namanya, pantai ini memiliki dua buah batu besar yang berbentuk seperti layar kapal yang terkembang. Dua batu raksasa yang dikelilingi karang-karang yang berserakan ini menjadikan pantai ini obyek fotografi favorit. Hempasan ombak di sekeliling karang menjadi obyek andalan bagi fotografer yang mahir menggunakan teknik slow speed. Oya, jangan lupa untuk membawa tripod, karena tanpa tripod hasilnya dijamin akan blur semuanya. Saya sendiri agak sial kali ini, tripod tidak terbawa ketika saya menuju pantai ini, jadilah tidak ada foto slow speed yang cantik di sini. Mungkin ini pertanda saya harus ke sini lagi hehehe… Jadilah saya hanya menunggu matahari terbenam alias sunset yang sayangnya kurang cantik karena tertutup awan. Memang butuh banyak keberuntungan untuk bisa memotret sunset yang benar-benar menggoda.

Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna
Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna

Sebenarnya masih banyak obyek wisata lain di Sawarna, seperti Pantai Lagoon Pari, Goa Lalay, Pantai Karang Bokor, Pulau Manuk, dan Goa Cangir. Karena waktu yang sangat terbatas, kali ini saya dan tim Terios 7 Wonders belum sempat menjelajahi setiap sudut Sawarna. Memang ini semakin mengukuhkan bahwa Sawarna adalah surga tersembunyi yang layak untuk dijelajahi. Puas di Sawarna, Sahabat Petualang bersiap-siap menempuh perjalanan panjang ke Desa Kinahrejo, Sleman, DIY.

Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng


Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).

Continue reading Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng