Tag Archives: sawarna

Pantai Goa Langir di Sawarna, Suka Banget!


Dari beberapa pantai di Sawarna, yang paling terkenal adalah Pantai Pasir Putih Ciantir. Selain itu ada Tanjung Layar dan Legon Pari. Buat saya, pantai favorit di sini malah Pantai Goa Langir. Sepi, bagai pantai pribadi.

Panta Goa Langir di Sawarna, biru!
Panta Goa Langir di Sawarna, biru!

Saya penggemar jalan-jalan, dan tidak malu mengakui saya juga suka kok ke tempat yang touristy, yang ramai dan lagi naik daun. Tapi, jujur, biasanya saya melipir ke tempat yang agak sepi, menjauhi keramaian. Saya tidak suka keramaian, makanya tidak pernah pergi ke konser atau nobar sepakbola — mending juga nonton sendiri di rumah kalau nangis nggak ketahuan.

Nah, di Sawarna ini ternyata yang menjadi favorit saya adalah Pantai Goa Langir, berada sekitar 2 km dari pusat keramaian wisatawan. Selepas gerbang retribusi, kami masih harus masuk beberapa ratus meter lagi, melalui hutan dan tebing karang. Tidak ada parkiran, jadi harus pandai-pandai mencaci tempat parkir supaya tida terperosok di pasir dan mudah keluar apabila tiba-tiba ada mobil lain yang datang.

Waktu ke sini hanya ada seorang pria, duduk termenung di atas sebuah batu. Rokok menyala di di tangannya, sementara sebuah kaleng minuman ringan tergeletak di sebelahnya. Pandangannya menerawang jauh. Aduh, jangan-jangan lagi make narkoba, pikir saya. Agak deg-degan mengawasi Oliq yang main-main sendiri di pasir sementara bapaknya entah ke mana ambil foto.

Pantainya luas, sepi, bagai milik pribadi
Pantainya luas, sepi, bagai milik pribadi

Mungkin saya yang berprasangka buruk saja. Mungkin saja masnya ini seorang penyair yang sedang mencari ilham (Ilhaaaaam dicariin tuh!). Atau mungkin lagi sedih karena diputusin pacarnya. Bisa juga lagi bingung karena dikejar-kejar pemilik kontrakan.

Ash, mbuhlah. Kami menyelinap ke balik karang besar. Pemandangan pantai terlihat sangat luas. Berbeda dengan pantai-pantai Ciantir dan Tanjung Layar yang memiliki warung-warung sebagai peneduh, di sini saya malah sangat nyaman berlindung di bawah bayangan tebing karang. Sejuk. Angin semilir berhembus. Pasir pantai terasa lembut di pantat, tidak kalah dengan kasur belasan juta di hotel mewah.

Betah rasanyaberlama-lama di pantai ini, menikmati deburan ombak, putihnya pasir pantai yang bersatu dengan lautan biru. Oliq mulai dari bermain pasir, lari-lari, sampai tiduran di pasir. Saya sempat tinggal beberapa kali karena tergoda untuk ambil foto-foto tebing dari sudut yang lain.

Anaknya udah nganggep kasur aja
Anaknya udah nganggep kasur aja

Sayang, memang, di sana sini terlihat botol-botol minuman berserakan. Saya sering bertanya-tanya, apa segitu beratnya membawa botol kosong hingga menemukan tempat sampah. Popok pesing Oliq saja saya tenteng ke mana-mana.

Wahai kau yang ubah surga ini menjadi neraka, sadarlah!

Tak perlulah selalu menyalahkan pemerintah akan kekurangan ini itu, kalau kau sendiri tidak sadar. Biar disediakan sejuta tong sampah pun kalau kau terlalu malas untuk melangkah satu dua meter, untuk apa?

Goa Langir mungkin tidak banyak dikenal, tapi indahnya nyata. Nyamannya pun terasa.

Begitu mendapatkan sinyal, saya langsung mentweet tentang pantai ini. Dan ada balasan dari om cumilebay.com yang bilang, “Temen gue kesurupan di Goa Langir.”

Gubraks.

 

Sawarna, Mutiara Banten Selatan


Ketika para pejalan sudah cukup lama menggembar-gemborkan tentang tujuan wisata yang satu ini, ternyata masih banyak juga orang yang sama sekali belum pernah mendengarnya. Sawarna berada di Provinsi Banten, pesisir Laut Selatan. Dari Jakarta ada dua pilihan akses; melalui Rangkasbitung dan Sukabumi. Kebanyakan lebih memilih jalur yang kedua karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Saya pun demikian.

Baru minggu lalu saya akhirnya melakukan perjalanan darat melalui Pelabuhan Ratu dengan tujuan akhir Sawarna. Bagi orang yang masih bertanya-tanya apa istimewanya Sawarna, jujur saya akan bingung menjawab. Masalahnya, di sini ada banyak hal yang sangat menarik perhatian saya. Lokasi wisatanya pun tidak hanya satu, dengan beragam keunikan masing-masing.

Mari kita telusuri cantiknya Sawarna satu demi satu.

Pantai Pasir Putih Ciantir, tujuan utama wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Tujuan utama pelancong adalah Pantai Pasir Putih Ciantir, yang memang merupakan objek utama di sini. Untuk mencapai pantai ini, wisatawan harus meninggalkan kendaraan roda empatnya di tepi jalan atau di halaman rumah-rumah penduduk yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat parkir darurat. Saya memilih untuk meninggalkan mobil di penginapan dan berjalan kaki menuju ke pantai ini.

Dari jalan raya, saya melewati jembatan gantung yang menjadi ikon daerah ini. Di depan jembatan tertulis bahwa Desa Sawarna adalah desa ramah lingkungan. Sayangnya saya malah agak bingung membaca hal ini karena kenyataannya sepeda motor lalu lalang melalui jembatan menuju ke desa, baik motor-motor ojek maupun milik wisatawan yang membawa kendaraan roda dua. Bagaimana tidak? Di seberang jembatan ini, terdapat puluhan penginapan yang penuh sesak pengunjung.

Saya harus berjalan sekitar 10 menit, melewati desa, penginapan beraneka rupa, beberapa petak sawah, untuk sampai di pantai. Di Pantai Pasir Putih sendiri warung-warung sudah banyak bermunculan, banyak di antaranya yang menawarkan bale-bale yang bisa diinapi pelancong dengan dana terbatas.

Saya bisa mengerti mengapa pantai ini menjadi tujuan utama pelancong. Pantainya panjang dengan pasir yang luas enak untuk bermain. Ombaknya kencang sehingga ada larangan untuk berenang walaupun banyak yang tak mengindahkannya. Selain lokasi yang dekat dengan pusat akomodasi, keberadaan warung dan toilet umum memudahkan wisatawan. Pengunjung kala itu membludak. Terus terang, Pantai Pasir Putih bukan pantai favorit saya di Sawarna.

Tebing karang Tanjung Layar yang menjadi favorit fotografer. (Olenka Priyadarsani)

Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari Pantai Pasir Putih, terdapat pantai lain yang bisa dikatakan selalu menjadi objek foto untuk mempromosikan Sawarna. Tanjung Layar memilih dua buah karang besar tinggi. Di kanan kirinya terdapat terdapat tebing karang yang selalu jadi incaran para fotografer. Seringkali ombak besar tiba-tiba datang melapisi tebing karang bagaikan tirai putih.

Batu-batu karang menjulang di Tanjung Layar. (Olenka Priyadarsani)

Kita dapat menyeberang dari bibir pantai ke karang-karang besar di tengah. Tentunya harus berbasah-basah, karena tinggi air laut yang diseberangi berkisar antara selutut hingga setinggi dada, tergantung pasang surutnya laut saat itu. Tanjung Layar juga jadi favorit para pemburu matahari terbenam.

Berkebalikan dengan Tanjung Layar untuk melihat matahari terbenam, Legon Pari (Laguna Pari) adalah lokasi untuk melihat matahari terbit. Letaknya sekitar 6 km dari Desa Sawarna, hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang masih berbatu.

Tebing karang membatasi Pantai Gua Langir dengan dunia luar. (Olenka Priyadarsani)

Pantai favorit saya adalah pantai di Gua Langir, berada sekitar 2 km dari Pantai Pasir Putih. Bahkan ketika akhir pekan panjang, pantai ini sepi pengunjung. Ketika itu hanya ada keluarga kecil kami di sana, bagaikan pantai pribadi. Sesuai namanya, kawasan ini memiliki beberapa gua, yaitu Gua Langir, Gua Kanekes, Gua Seribu Candi, dan Gua Harta Karun. Kabarnya, gua-gua di sini dulunya dipakai oleh penjajah Jepang untuk bersembunyi.

Pantai Gua Langir terlihat dari balik hutan. (Olenka Priyadarsani)

Pantai di Gua Langir sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang seolah-olah membatasi area ini dengan dunia luar. Pasirnya lembut, suasananya agak mistis karena selain dikepung tebing, juga dikelilingi hutan yang masih lebat. Ah, mungkin juga suasana terasa mistis karena di pantai itu hanya ada saya, suami, dan anak kami yang masih kecil. Anak saya malah dengan santainya tidur-tiduran di atas pasir yang lembut.

Telusur Gua Lalay menjadi aktivitas alternatif selain pantai. (Olenka Priyadarsani)
Di Sawarna ada juga Gua Lalay yang kini ramai dikunjungi untuk melakukan caving (telusur gua). Berbeda dengan Gua Langir yang kering, pelancong harus mau berbasah-basahan bila masuk ke Gua Lalay. Namun, airnya pun tidak terlalu tinggi, hanya sebatas mata kaki dan betis. Jadi, Gua Lalay tidak berbahaya untuk dimasuki oleh mereka yang mungkin belum berpengalaman melakukan telusur gua.

Perahu-perahu nelayan menghiasi Pantai Pulo Manuk. (Olenka Priyadarsani)

Ada beberapa pantai lain yang berada di sekitar Sawarna. Salah satunya adalah Pantai Pulo Manuk, sebuah nelayan yang berkarang. Di sini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulo Manuk. Saya sangat menikmati perjalanan dari Desa Sawarna menuju ke Gua Langir dan Pulo Manuk karena di kanan kiri jalan adalah hutan lebat hijau yang dikelola Perhutani. “Andai saja semua hutan di Indonesia lestari seperti ini,” kata suami saya saat itu.

Pantai yang lebih jauh lagi berada di Bayah, bernama Karang Teraje. Tampaknya ini adalah lokasi wisata yang tidak baru lagi, sayangnya kurang terawat. Kami melihat banyak pekerja menggunakan overall berwarna oranye di sekitar sini. Ternyata sedang dibangun sebuah pabrik semen besar. Kami hanya bisa berharap pembangunan besar-besaran ini tidak akan merusak alam Sawarna.

Jangan kotori Sawarna
Satu hal yang sangat mengganggu saya ketika berwisata di dalam negeri adalah sampah. Mungkin faktor ini juga yang mengganggu pandangan objektif saya terhadap Pantai Pasir Putih Ciantir. Di Indonesia, semakin banyak orang yang berkunjung sama artinya dengan semakin banyak sampah berserakan. Kenapa yang cantik seperti ini kita kotori?

Yang paling banyak ditemui adalah botol air mineral berserakan. Banyak pula bungkus-bungkus makanan ringan, wadah mi instan, bahkan popok sekali pakai kotor. Padahal, biasanya warung-warung yang hanya beberapa langkah dari bibir pantai menyediakan tempat sampah. Herannya, di Pantai Gua Langir yang sepi pun masih terlihat tumpukan botol air mineral. Apa susahnya sih membawa tas plastik untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah?

Di Pantai Pasir Putih, kami melihat seorang laki-laki bolak-balik memunguti sampah di pasir. Suami saya langsung mengajaknya mengobrol. Namanya Egi, ia adalah salah satu dari tiga penjaga pantai di Ciantir ini. “Saya nggak tega lihat pantainya kotor, Mas!” saya menguping dari tempat saya duduk. Bayangkan saja, ada ratusan pengunjung pantai yang beramai-ramai membuang sampah sembarangan, sementara hanya ada beberapa orang seperti Egi yang memiliki hati besar untuk membersihkannya. Mau jadi apa pariwisata negara kita?

Baca juga cerita perjalanan Olenka di http://backpackology.me

[Terios7Wonders] Jelajah Nusantara, Berpetualang untuk Indonesia


Banyak di antara kita yang saat ini memiliki hobi traveling. Menikmati indahnya alam Indonesia, mencicipi beragam khazanah kuliner nusantara, mengeksplorasi daerah-daerah yang dianggap masih perawan.

Baru-baru ini muncul wacana tentang mass-tourism yang menimbulkan pro dan kontra terhadap promosi wisata negeri ini. Di satu sisi, promosi mampu menjaring wisatawan domestik dan mancanegara yang berimbas pada peningkatan pendapatan daerah serta naiknya taraf hidup masayarakat setempat.

Di lain pihak, lokasi-lokasi wisata Indonesia masih belum mampu untuk menerima pariwisata massal ini. Ditambah, infrastruktur dan pengelolaan pariwisata yang memang belum memadai. Belum lagi kurangnya kesadaran wisatawan terhadap kelestarian, baik alam maupun budaya. Akibatnya, seperti yang kita lihat baru-baru ini: kasus Pulau Sempu di Malang, membludaknya pengunjung tanpa tata krama yang mengganggu upacara Waisyak di Borobudur, serta over capacity pengunjung Gua Pindul di Gunungkidul yang berpotensi merusak habitat kelelawar di dalamnya.

Gua Pindul sebelum menjadi sangat terkenal
Gua Pindul sebelum menjadi sangat terkenal

Lalu apa kita kemudian tidak tidak boleh berkunjung, tidak bisa mempromosikannya? Tanpa promosi bisa jadi Wonderful Indonesia kita kalah dengan Amazing Thailand, Uniquely Singapore, dan Malaysia Truly Asia? Wisatawan asing akan berbondong-bondong berkunjung ke negara tetangga dan melewatkan negara kita. Bukan mustahil pula Indonesia hanya akan dikenal sebagai “Bali” ataupun “negara yang letaknya di dekat Singapura”.

Walaupun tujuan program ini adalah untuk membuktikan ketangguhan mobil Terios di berbagai medan berat, Daihatsu, sebagai salah satu perusahaan terkemuka di Indosia melakukan promosi wisata dengan caranya sendiri. Cara yang pantas ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain: Melakukan promosi pariwisata tidak hanya mengenalkan destinasi-destinasi tersebut pada dunia, melainkan juga memberi bantuan material pada masyarakat setempat.

Sahabat Petualang: Padamu Negeri

Sebenarnya Daihatsu telah memulai program Terios 7 Wonders ini sejak tahun lalu, ketika menggelar 7 Wonders Coffee Paradise. Saat itu, dengan mobil-mobil Terios, peserta dibawa menjelajahi “surga-surga” kopi di Pulau Sumatera. Saat itu peserta hanyalah dari pihak PT Astra Daihatsu dan jurnalis.

Terios 7 Wonders: Hidden Paradise (Photo oleh Puput Aryanto)
Terios 7 Wonders: Hidden Paradise (Photo oleh Puput Aryanto)

Tahun ini program serupa kembali digelar dengan tajuk Terios 7 Wonders Hidden Paradises. Kali ini selain media, peserta juga terdiri dari 7 bloggers yang terpilih melalui lomba blog yang ketat. Dengan 7 mobil Terios, para peserta ini diajak untuk mengunjungi 7 lokasi menakjubkan yang pastinya membuka mata dunia bahwa Indonesia itu luar biasa!

Petualangan dimulai di Pantai Sawarna di Lebak, Banten, yang terkenal dengan karang-karang cantiknya. Mengapa destinasi ini dipilih? Mungkin walaupun sudah banyak yang mengetahui kecantikan pantai-pantai di Sawarna, ternyata masih banyak pula yang yang belum pernah mendengarnya sama sekali.

Tanjung Layar di Sawarna
Tanjung Layar di Sawarna

Salah seorang blogger peserta, Bem, dalam blognya Simply Indonesia, melukiskan kecantikan Sawarna, terutama pantai Tanjung Layar saat mentari tenggelam. Saya sendiri hanya bisa membayangkan betapa cantiknya pantai ini saat senja karena ketika kemari disambut dengan hujan deras.

Di etape ke dua, peserta dibawa untuk mengenang kembali letusan dahsyat Gunung Merapi pada tahun 2010. Di sinilah, ketangguhan mobil-mobil Terios benar-benar teruji. Saat itu 7 mobil Terios dibawa ke jalur lava tour Merapi yang didominasi oleh batu-batu kecil hingga sedang. Masih menurut Bem, awalnya ia sangsi akan kemampuan mobil Terios sanggup menyelesaikan tantangan ini. Ternyata mampu, dan bahkan, “Walau batuan tadi membuat kontur perjalanan terasa bergelombang, guncangan yang saya rasakan di kabin penumpang masih bisa dikatakan nyaman,” dikutip dari blognya.

Daihatsu Terios berjejer di atas lereng jalur lava tour (Foto oleh Puput Aryanto)
Daihatsu Terios berjejer di atas lereng jalur lava tour (Foto oleh Puput Aryanto)

Sesuai dengan niat awal pihak Daihatsu, mereka tidak hanya mengajak Sahabat Petualang “jalan-jalan” melainkan juga memberi kembali kepada komunitas. “Bukan hanya memberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengungkap destinasi-destinasi indah, Ekspedisi Terios 7 Wonders juga dilengkapi dengan kegiatan sosial Daihatsu,” beber Rio Sanggau, Domestic Marketing Division Head PT Astra Daihatsu Motor, dikutip dari Aktual.

Peserta lain dari pihak blogger, Puput, menjelaskan aktivitas corporate social responsibility (CSR) Daihatsu di lereng Gunung Merapi. Dalam blognya Backpackology, Puput memaparkan bagaimana Daihatsu memberi beasiswa kepada 10 anak tidak mampu dan menanam 10.000 pohon di Desa Kinahrejo.

Dari Yogyakarta, mobil-mobil Terios duji ketangguhannya menuju medan pegunungan di lereng Semeru, tepatnya di Ranu Pane. Di sini Daihatsu menyumbangkan tong-tong sampah untuk disebarkan. Menurut berita, sejak ditayangkannya film 5 cm, pendaki Gunung Semeru memang melonjak drastis. Sayangnya, dampak negatif dari hal tersebut adalah menumpuknya sampah karena kurangnya kesadaran. Oleh karena itu, penyediaan tong sampah adalah langkah tepat sebagai salah satu upaya penyelamatan Semeru.

Savana TN Baluran menyerupai Afrika (Foto oleh Puput Aryanto)
Savana TN Baluran menyerupai Afrika (Foto oleh Puput Aryanto)

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke Taman Nasional Baluran yang lekat dengan julukan Africa van Java. Tempat ini memang memiliki topografi dan kontur yang unik, mirip dengan Benua Hitam Afrika. Sayangnya, savana yang dulunya luas pun maskin sempit akibat kemarau dan perubahan iklim. Wira Nurmansyah, seorang peserta Terios 7 Wonders Hidden Paradise, menuturkan, “Baluran adalah miniatur alam Indonesia. Dari gunung, bukit, sabana, hutan hujan, pantai, hingga bawah laut yang masih sangat cantik. Untuk itu, kelestarian harus dipertahankan di kawasan ini.

Saya dan Oliq bertualang sendiri ke Lombok karena ditinggal Puput ber-Terios 7 Wonders
Saya dan Oliq bertualang sendiri ke Lombok karena ditinggal Puput ber-Terios 7 Wonders

Perjalanan dilanjutkan menuju ke Lombok di mana mereka mengunjungi Desa Sade Rambitan, salah satu desa Sasak tertua di Lombok. Di sini, Daihatsu kembali melakukan aktivitas CSR dengan membagikan buku di Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan. Di Lombok, mereka juga menyempatkan mengunjungi beberapa pantai cantik yang sbelum seterkenal Senggigi maupun Gili Trawangan.

Dari Lombok mereka menuju ke Desa Dompu di Sumbawa, dan berkesempatan untuk mencicipi susu kuda liar. Di Sumbawa, mereka terpaksa berpisah dengan 6 mobil Terios yang akan kembali ke Jakarta. Hanya satu Terios yang akan dibawa menuju ke Labuan Baju di Flores.

Dari Flores mereka akan menyeberang menuju ke Pulau Komodo dengan kapal phinisi. Taman Nasional Komodo saat ini menyambut makin banyak pengunjung setelah dinobatkan menjadi salah satu New 7 Wonders.

Momen kemenangan di Komodo (Foto oleh Puput Aryanto)
Momen kemenangan di Komodo (Foto oleh Puput Aryanto)

Tibalah peserta di momen kemenangan. Perjalanan yang ditempuh dari Sawarna ke Komodo dengan total jarak tempuh lebih dari 2000 km telah membuktikan ketangguhan mobil Daihatsu Terios. Di medan pegunungan misalnya, rem cakram di roda depan dipadukan dengan rem tromol di roda belakang sanggup menahan Terios tanpa masalah.

Selain itu, suspensi MacPherson Strut di roda depan dan 5 link rigid axle  di roda belakang terbukti sangat tangguh dalam meredam goncangan tanpa membuat mobil menjadi limbung, cocok untuk medan berat berbatu. Terios ini sangat mumpuni melibas aspal panas melintasi Pulau Jawa.

Dari sini pula kita bisa melihat betapa PT Daihatsu Astra tidak pernah melupakan kegiatan sosial di lokasi yang dikunjungi. Aktivitas yang dilakukan pun sejalan dengan 4 pilar CSR Daihatsu seperti yang saya kutip dari situs resmi Daihatsu Indonesia: Hijau Bersama Daihatsu, Sehat Bersama Daihatsu, Pintar Bersama Daihatsu, dan Sejahtera Bersama Daihatsu.

Menjadi Responsible Traveler

“Leave nothing but footprints, take nothing but pictures, kill nothing but time.” Mungkin kalimat itu sudah sering kita kenal, tapi coba renungkan apa sudah kita laksanakan?

Belajar dari program Daihatsu ini, sebagai traveler, turis, wisatawan, pelancong, pejalan – atau apalah Anda memberi titel pada diri Anda sendiri – ada baiknya kita melihat kembali apakah selama berkunjung ke suatu tempat kita sudah bersikap bertanggungjawab?

Menurut saya, sudah baik bila kita sudah mampu turut menjaga kebersihan, misalnya membawa sampah turun ketika naik gunung. Sikap lain yang dapat kita tunjukkan adalah tidak memegang sembarangan terumbu karang ketika menyelam atau snorkeling. Atau tidak makan ikan hiu, mungkin?

Itu saja sudah baik. Tetapi yang dicontohkan program Terios 7 Wonders Hidden Paradise ini lebih baik lagi, yaitu ‘tidak hanya mengambil, tapi juga memberi’. Tidak hanya kita menikmati kecantikan suatu tempat, tapi alangkah lebih baik lagi bila kita bisa memberikan sesuatu – walaupun sangat kecil – untuk tempat tersebut. Contoh mudahnya, memberikan sumbangan dana pelestarian dalam kotak donasi yang disediakan pengelola. Contoh lain, menulis tentang suatu tempat agar turut membantu promosi pariwisata di tempat tersebut, tentu saja dengan embel-embel – kelestarian alam adalah yang utama!

Seperti yang diungkapkan oleh Puput dalam acara Autozone yang ditayangkan oleh MetroTV:

“Di tiap-tiap objek wisata ada karakteristik tersendiri yang menurut saya mungkin publik belum mengenal. Dengan ekspedisi Terios 7 Wonders ini saya berharap keunikan-keunikan ini terekspose sehingga banyak orang yang mau peduli dengan pariwisata di Indonesia.”

Referensi:

Aktual.co http://www.aktual.co/otomotif/151146ekspedisi-terios-7-wonders-the-hidden-paradise

Simply Indonesia http://simplyindonesia.wordpress.com/2013/10/17/terios-7-wonders-uji-ketangguhan-di-lereng-rumah-mbah-maridjan/

Backpackology http://backpackology.me

Wira Nurmansyah http://www.wiranurmansyah.com/terios-7-wonders-cepat-pulih-baluran

Situs resmi Daihatsu http://www.daihatsu.co.id/corporate/csr

Autozone, disiarkan oleh Metro TV yang diunduh dari YouTube di http://www.youtube.com/watch?v=63EFrHaSz_A

banner_300x250terios

twitter vlog

dai

tweet

(JPG / Journal of Photo on the Go) Karang Cantik Pantai Tanjung Layar, Sawarna Banten


Pada episode JPG kali ini, saya mengajak Anda menikmati karang-karang cantik nan fotogenik di Pantai Tanjung Layar, Desa Sawarna, Banten. Sebenarnya, seperti halnya foto landscape pada umumnya, karang-karang ini paling bagus difoto ketika senja menjelang matahari terbenam atau pagi hari sesaat setelah matahari terbit. Namun karena pagi hari harus menunggu Oliq bangun dulu dan sore harinya malah kehujanan, jadilah saya kesiangan mengambil foto terbaik di sini. Namun tak apalah, meski kesiangan dan dengan peralatan pas-pasan, dibantu sedikit olah digital, foto-foto ini masih layak dihidangkan…

Nah ini karang berbentuk layar yang legendaris...perhatikan karang di belakang batu layar ini, di situ ombak sering menghantam dan menghasilkan pemandangan yang spektakuler
Nah ini karang berbentuk layar yang legendaris…perhatikan tembok karang di belakang batu layar ini, di situ ombak sering menghantam dan menghasilkan pemandangan yang spektakuler

Oya, untuk mendapatkan foto ombak yang “lembut” saat memecah karang, gunakan teknik slow shutter alias menyetting waktu bukaan rana kurang lebih di bawah 1/15 detik (sebenarnya ini tergantung kecepatan ombak dan pencahayaan saat itu, coba-coba saja sampai dapat settingan yang pas) dan lebar bukaan rana sekecil mungkin (biasanya sekitar f22). Tentu saja Anda perlu tripod disini, kalau tidak hampir dipastikan gambarnya akan blur, kecuali tangan Anda setenang dewa hehehe… Kalau cahaya masih redup, mungkin Anda tak perlu filter ND (Neutral Density) yang berfungsi mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke lensa, tapi kalau sudah terlalu terang, Anda perlu filter ND. Nah kalau tak punya filter ND, pilihannya adalah menyetting bukaan rana lebih cepat agar tidak overexposure (dengan resiko ombak menjadi kurang lembut) atau gunakan setting gambar RAW (bukan JPG) dan lakukan olah digital di komputer (tapi tetap jangan terlalu overexposure karena olah digital juga punya keterbatasan).

Hasil slow shutter di tembok karang belakang layar, tentu sudah dengan olah digital terutama untuk mengurangi tingkat keterangan yang sangat kuat
Hasil slow shutter di tembok karang belakang batu layar, tentu sudah dengan olah digital terutama untuk mengurangi tingkat keterangan yang sangat kuat

Untuk mendapatkan foto terbaik, jangan ragu-ragu mendekat ke karang tanjung layarnya, namun tetap jaga jarak dengan karang yang seperti tembok karena ombak bisa tiba-tiba menghantam karang dan cipratan ombaknya sangat dahsyat… idealnya, gunakan lensa lebar, tapi kalau tak ada ya kembali lagi, kamera dan lensa terbaik adalah yang Anda miliki 🙂

Anda harus sedekat ini dengan tembok karang untuk mendapatkan hasil yang fantastis...
Anda harus sedekat ini dengan tembok karang untuk mendapatkan hasil yang fantastis… tanpa slow shutter, percikan ombak terlihat sangat jelas…

Jangan salah, kamera yang dipakai tak harus SLR atau mirrorless, kamera saku juga bisa dipakai, tapi harus yang bisa disetting manual dan sebaiknya yang bisa format RAW seperti Canon S110, Panasonic Lumix LX7, Olympus ZX2, Fujifilm X20, Sony RX100, Ricoh GR, dan Nikon P7800. Sayangnya, kamera ini memang agak mahal, paling murah sekitar 3,3 juta saat ini, paling mahal ada yang diatas 20 juta hehehe….

Tak perlu banyak cakap, langsung saja nikmati foto-foto berikut :

Slow shutter di tembok karang...
Slow shutter di tembok karang…
Masih di tembok karang yang sama, tapi momen yang berbeda…
Masih di tembok karang yang sama, tapi agak bergeser sedikit…

Ini gambaran slow shutter saat ombak kuat menghantam tembok karang...

Ini gambaran slow shutter saat ombak kuat menghantam tembok karang…
Kalau yang ini warna yang diatur agak agak keunguan, masih di karang yang sama
Kalau yang ini warna yang diatur agak agak keunguan, masih di karang yang sama
Kalau ini diambil dari jarak jauh, namun masih di karang yang sama, warna disetting ke sephia
Nah yang ini diambil dari jarak jauh, namun masih di karang yang sama, warna disetting ke sephia. Perhatikan kalau difoto dari jarak jauh, ombak yang menjadi latar depan kurang terlihat sehingga kurang cantik…
Cocok juga untuk foto model, pastinya model kudu siap basah-basahan kena ombak yang kuat...
Cocok juga untuk foto model, pastinya model kudu siap basah-basahan kena ombak yang kuat…
Kalau mau narsis dengan latar ombak yang tinggi, kudu punya nyali ekstra, kalo gak ya terbirit-birit kaya si mbak... perhatikan tinggi ombak saat memecah tembok karang...
Kalau mau narsis dengan latar ombak yang tinggi, kudu punya nyali ekstra, kalo gak ya terbirit-birit kaya si mbak… perhatikan tinggi ombak saat memecah tembok karang…

Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu


Apa sih yang terlintas di benakmu ketika mendengar tentang Pelabuhan Ratu? Mungkin pantai? Nyi Roro Kidul? Atau malah Mak Erot? Saya sih langsung terbayang film-film Suzana. Dan minggu lalu terpaksa kami menginap di Pelabuhan Ratu. One night. Nggak lagi deh.

Pantai Karang Pamulang
Pantai Karang Pamulang

Ceritanya kami sedang dalam perjalanan dari Lembang ke Sawarna, via Cianjur, masuk ke Kab Sukabumi, melalui Pelabuhan Ratu. Hujan deras sore itu hampir-hampir sepanjang Sukabumi. Oliq sebenarnya tidak rewel karena tidur nyenyak terus di mobil. Tapi setelah nyanyi Pok Ame-Ame sampai seratus kali, anaknya mulai bete juga. “Aik mau puyang…aik mau puyang!” Demikian juga dengan simbok dan bapaknya.

Ketika sudah tidak mungkin untuk mencapai Sawarna sebelum Maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di tengah hujan deras kami lirik kanan kini cari penginapan. Penginapan pertama namanya Pondok Dewata atau semacamnya, tampak luar seram. Tapi apa ada penginapan nggak seram di Pelabuhan Ratu? Kalau istilah Puput semuanya “hotel Dono”, alias hotel-hotel cocok jadi setting film-film masa silam Dono-Kasino-Indro. Andai saja hujan tidak sedemikian derasnya, mungkin kami akan ke Karang Aji Beach Villa di Cimaja.

Ada penginapan di sebelah kanan, entah apa namanya, kami masih ragu-ragu. Akhirnya Puput membelok ke kiri, ke sebuah penginapan dengan embel-embel “Seaside Resort”. Namanya Bunga Ayu. Saya sih sudah menduga, ini pasti penginapan masa lampau.

Ya sudahlah, namanya sudah capek, akhirnya kami check in di Bunga Ayu ini. Kamarnya memang menghadap ke pantai dengan view pelabuhan dan kapal-kapal nelayan. Tapi ya itu tadi, hotel Dono. Lampau, silam, prasejarah.

Waktu digendong ke sini, Oliq nangis, “Aik mau kuar, aik ke cana-cana!” Artiya Oliq mau keluar, mau ke sana – sambil menunjuk arah luar. “Ni hotey jaman duyu banget!” Terbiasa melihat gambar pesawat, Oliq sudah bisa membedakan kuno dan modern, misalnya A380 akan dia bilang “wawa jaman cekanang (pesawat jaman sekarang)” dan DC-9 sebagai “wawa jaman duyu (pesawat jaman dulu)”. Dan akan dia tambahi “banget”, misalnya untuk pesawat-pesawat perang jaman Perang Dunia.

Awalnya Oliq sama sekali tidak mau masuk kamar. Maunya di teras. Tapi karena sudah capek, akhirnya mau juga dia main-main di kasur. Ternyata bonus penginapan ini berada di kamar yaitu: nyamuk dua juta ekor!

Laaaah, Oliq itu di mana-mana selalu jadi santapan nyamuk. Pernah semalam di Garut, ada 60 bentol di badannya – 20 di antaranya di muka. Saya langsung panik. “Ayo dimandiin sekarang terus diblonyoh Autan!” Saya dan Puput berjibaku memandikan anak yang meronta-ronta karena walau di pantai ternyata airnya dingin seperti di pegunungan. Ada sih keran air panas tapi saat itu tidak menyala. Anaknya jerit-jerit, saya cuma bisa bilang, “Di hotel jaman dulu banget nggak ada air panasnya, Aik!”

Sukses memandikan, langsung si anak dipakaiin piyama, dan diolesi Autan di seluruh tubuhnya, termasuk muka. Anaknya sudah agak adem ayem ketika AC sudah dinyalakan dan TV pun menyala. Mungkin jadi agak tidak seram. Untungnya, walaupun masa silam, kusam, dan kotor, kamar tidak berbau pengap.

Si mas karyawan hotel datang membawa Baygon semprot. Kami keluar dan Puput menyemprot seluruh kamar. Di kamar kiri kanan kami ada bapak-bapak biker yang ramai. Ada event motocross di Pantai Muara Sawarna.

Cuma agak deg-degan ketika Puput keluar beli air mineral sementara saya dan Oliq di kamar bersama dengan mayat-mayat nyamuk yang bertebaran di seluruh penjuru. Untung, malam berlalu singkat dan tidak ada yang aneh-aneh. Dan luar biasanya, tidak ada gigitan nyamuk sama sekali di Oliq – dengan jumlah yang dua juta itu!

 

Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Ombak di sini cocok untuk surfing
Ombak di sini cocok untuk surfing

 

Kami bangun sebelum matahari terbit dan setelah shalat Subuh jalan-jalan ke Pantai. Pantainya kotor dan berpasir gelap. Isenglah kami foto-foto sementara Oliq mainan tripod. “Ni kaya manana bandaya,” katanya. Maksudnya “Ini kaya menara bandara”.

"Jadi manana!"
“Jadi manana!”

Sarapan berupa nasi goreng dan/atau roti tawar panggang, lumayan lah ada rasanya. Saya buru-buru pengen langsung ke Sawarna aja. Acara mandi kembali jadi prahara. Oliq mandi jerit-jerit karena airnya dingin. Selesai dia mandi, Puput mandi dan airnya jadi hangat – cenderung panas malah. Saya mandi dengan air panas juga. Waktu Puput sikat gigi, air wastafel tiba-tiba berubah jadi coklat kelam. Iiihhhh berasa masuk ke film Suzana beneran nggak sih? Lebay ya, itu kan paling karena pipanya aja yang kotor.

Tapi tetap aja kami buru-buru packing dan check out, untuk menuju ke Sawarna yang lebih “muda” dan menjanjikan. Apa sih kaya slogan kampanye aja.

Dan baru saat mau berangkat itu saya melihat ada tulisan di atas pintu kamar, “1981” tahun pembangunan hotel. Yeeeee, seumur dong sama saya dan Puput!!!

A kiss from Nyi Blorong - hayahh!
A kiss from Nyi Blorong – hayahh!
Narsis sejenak
Narsis sejenak

 

Saat menuju ke Sawarna ini kami melewati Hotel Inna Samudra yang legendaris dengan kamar Nyi Roro Kidul.

Beberapa hari di Sawarna Oliq masih bolak-balik bilang, “Aik enggak mau puyang ke hotey jaman duyu banget. Aik tatuk.”

Simboknya deg-degan, “Takut apa di hotel jaman dulu banget?”

“Aik tatuk cama AC – ada boyongan.” Maksudnya Aik takut sama AC ada bolongan – entah maksudnya apa. “Di hotey jaman cekanang Aik enggak tatuk.” Gitulah, Oliq menyebut pondokan kami di Sawarna hotel jaman sekarang dan dia tidak takut!

Sudah ah, semalam saja di Pelabuhan Ratu!