Tag Archives: s-21

Jalan-Jalan Seram di Kamboja


Wisata sejarah, saya paling suka. Cerita perang, saya juga suka. Tapi baru kali ini dibuat merinding bukan kepalang ketika berjalan-jalan. Tempat paling menakutkan yang pernah saya kunjungi adalah Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja.

Sebelum berangkat, kebetulan saya sama sekali tidak mencari informasi tentang Kamboja. Hanya tahu pasti bahwa saya akan mengunjungi beberapa museum, killing fields dan keliling kota Phnom Penh. Setibanya di Bandara Phnom Penh, saya dan seorang kawan langsung mencari taksi untuk mengantar kami ke sebuah hotel yang direkomendasikan oleh buku panduan wisata.

Hotel tersebut ternyata tepat berada di depan Tuol Sleng. “Ah, enak dekat ke museum, tinggal jalan kaki,” pikir kami. Setelah meletakkan barang-barang, kami pun segera menuju ke gerbang museum. Dari depan, tampaknya biasa saja, seperti sebuah sekolah yang terbengkalai. Tuol Sleng dulunya memang sebuah sekolah yang diubah oleh rezim Khmer Merah menjadi penjara – sering disebut S-21.

Kami memutuskan untuk tidak membayar pemandu wisata dan langsung masuk ke salah satu bangunan. Anehnya, di depan gedung terdapat tanda peringatan dengan gambar orang tertawa yang diberi tanda silang. Maksudnya adalah pengunjung dilarang tertawa atau bercanda.

tuol dpn

Begitu masuk ke dalam bangunan tersebut, saya dan kawan saya langsung terdiam. Bukan karena ada benda mengerikan yang kami lihat, melainkan suasananya langsung berubah mencekam. Bulu kuduk saya langsung merinding. Kebetulan hanya kami berdua yang ada dalam ruangan tersebut.

Ruangan-ruangan yang dulunya merupakan kelas itu digunakan sebagai tempat menyiksa tahanan, diubah menjadi sel, ruang interogasi, dan kantor sipir penjara. Kini, oleh pengelola museum, dipamerkan berbagai benda yang dulunya digunakan untuk menyiksa tahanan. Ada juga ruangan yang dipakai untuk memamerkan foto-foto korban keganasan Pol Pot.

Seorang turis Malaysia menawarkan kami untuk bergabung dengannya, karena ia sendirian dan menggunakan jasa seorang pemandu wisata. Sang pemandu wisata menjelaskan kepada kami situasi Kamboja pada tahun 1970-an tersebut. Ia bercerita bahwa ayah dan kakak laki-lakinya juga dibunuh oleh Khmer Merah.

Pemandu wisata kami juga bercerita bahwa banyak ibu-ibu yang ditangkap dengan alasan tidak jelas. Bayi-bayi yang menangis akan dilemparkan begitu saja dari lantai atas ke pagar kawat yang berduri.

Belum pernah saya merasa seseram itu. Bagi Anda penyuka Harry Potter, mungkin akan mengerti bila saya membandingkan perasaan saya seperti ketika berada di dekat Dementor. Seolah-olah semua perasaan bahagia disedot keluar dari diri kita. Saya tidak mengada-ada.

Di lantai tiga, ruangan kelas telah dibagi menjadi sel-sel kecil, berukuran 1 x 2 meter. Bau anyir masih tercium. Ada bercak-bercak darah yang masih tidak hilang, walaupun sudah lebih dari tiga dasawarsa berlalu. Sang pemandu bercerita bahwa para tahanan ditangkap kemudian ditahan dalam sel-sel kecil tersebut. Setiap pagi dan sore sipir akan menyemprotkan air dengan selang untuk air minum para tahanan.

Di bagian luar, terdapat gentong-gentong yang dulu digunakan untuk mencelupkan kepala para tahanan bila tidak memberikan informasi yang dianggap penting saat diinterogasi.

Foto-foto korban sebelum dibunuh
Foto-foto korban sebelum dibunuh

 Kabarnya ada sekitar 20 ribu orang yang pernah ditawan di sini, termasuk beberapa orang asing. Hanya ada 7 orang yang bisa lolos dari kematian di Tuol Sleng hingga rezim Khmer Merah tumbang. Semua tawanan disiksa hingga mati di Tuol Sleng, ataupun  dibawa dan dibunuh di Killing Fields Cheoung Ek – lokasi wisata seram yang akan kami kunjungi keesokan harinya.

Pulang dari Tuol Sleng ke hotel yang tepat berada di depannya, kami langsung melucuti baju, sandal, ikat pinggang untuk dicuci. Rasanya bau anyir dan perasaan seram terus mengikuti kami.

Advertisements

Tour to the one of the scariest places I’ve visited – Tuol Sleng Museum of Genocide (Cambodia)


(And, darn, I stayed just across its gate!)

Arriving at the Phnom Penh International Airport, my friend Yudit and I jumped on a cab to the one of the Lonely Planet’s top pick hotels for Phnom Penh. We yet to find out what in front of us, and I mean it literally.

Bodhi Tree is a great guesthouse, offering a clean room, minimalist yet with Cambodian traditional touch. The staff spoke English very well. We got the last room available. After a little break and lunch, we headed off to the nearest tourism site, just across our hotel gate.

It was late afternoon but there were still some groups of tourists scattered at this museum. I thought it was merely a museum with the usual stuff I encountered in some other countries. But, I was a hundred percent wrong.

It was the most depressing place I’ve ever visited in my 28 years of life. In front of the buildings there were signs forbidding people to laugh. If I can borrow a little bit of JK Rowling’s imagination, I felt like surrounded by dementors, making me feel like I would never be happy again.

Tuol Sleng was originally a high school complex before Khmer Rouge Regime turned it into S-21 prison in 1975. Around 20,000 people detained in this prison with up to 1,500 prisoners at one time. They include activists from Lon Nol regime, doctors, engineers, teachers, whoever suspected to be against Khmer Rouge, including their family members, children, babies.

Laughing and joking is not allowed in this premise

We were lucky to meet a Malaysian gentleman who hired a guide and invited us to join him. The guide explained how the torture happened. There are some torture devices, such as searing metals and electric shocks. Prisoners were often beaten to death, suffocated using plastic bag, hung, or cut with knives. Female were raped although it was against Khmer Rouge policy, and often time the perpetrators executed for raping. Crying babies were thrown into barb wires.

The guide explained how he lost his father and brother during the Pol Pot tenure. His mother secretly caught the frogs to feed him. The security guards would collect everything owned by the people.

One of the most notable thing in this museum is a skull map, consists of 300 human skulls depicting the map of Cambodia. The S-21 also kept an intensive documentation of all prisoners. After arriving at the prison, the guards took their photographs. The photographs of men, women, old people, children, are now showcased in the museum. It was extremely disheartening to see the faces of the people, who knew that they’d be tortured to death.

Among nearly 20,000 S-21 detainees, only seven known survivors. They were kept alive because they had some skills, such as painting or handy work.

The afternoon wore on, and it was getting even more depressing to witness cells with blood splatters, execution devices, skulls, because the Cambodian government kept it original. I would conclude it as the scariest places I’ve ever visited – I might be able to make a comparison if one day I’d visit KZ Nazi camp concentration.

At the hotel, we simply stripped off our clothes, including my belt and sandals, giving them to the bell boy for laundry.  And only the next day we could smile again….(with all night thought that might be our room was also use to torture and kill innocent people)