Tag Archives: pindahan

Kuala Lumpur, Our New Home


Setelah kehebohan yang nggak pakai kira-kira, akhirnya kami secara resmi pindahan ke Kuala Lumpur Sabtu kemarin. Puput resmi jadi Tenaga Kerja Indonesia, dan saya – seperti biasa – instri solehah yang setia mendampingi suami bertugas.

Belum bikin foto baru
Belum bikin foto baru

Gimana hebohnya pakai kira-kira wong ibarat kata pindah dua kali. Setelah harus bolak balik ke Kedubes Malaysia (yang untungnya cuma di seberang kontrakan), akhirnya visa kerja jadi juga. Dilanjut dengan beres-beres barang di rumah yang sudah kami tempatin 3 tahun. Bayangkan aja, dulu pindahan ke Rasuna belum punya Oliq, sekarang anaknya udah punya koleksi lebih dari 60 pesawat, belum mobil, kereta, dan susuh-susuh Puput yang nggak jelas. Harap maklum ya kalau kemarin-kemarin jadi jarang update blog.

Jadilah saya mulai beres-beres. Cari mover untuk mindahin barang dari Jakarta ke Jogja, selain juga packing pepancian koleksi saya yang cuma seuprit itu. Bilang sama pak pemilik kontrakan bahwa sewa tidak akan diperpanjang. Cari agen property buat ngurusin dua pagupon kami di Kalibata. Cari agen properti di KL untuk sewa condo.

Barang dipilah-pilah untuk dibuang, diberikan orang, dijual, disimpan, dan dibawa. Mutusin langganan TV kabel dan internet, mutusin data connection Kartu Halo dsb dsb, listnya nggak bakal habis.

Jadilah Hari-H, tanggal 26 Desember 2013 barang-barang diangkut ke Jogja, sementara kami nyusul berangkat naik mobil tanggal 27. Ketika barang sudah sampai di Jogja, kami baru en route to Semarang. Dulu belagak mau backpacking ke mana gitu sebelum pindah, lah karena waktu yang super mepet, akhirnya hanya bisa mampir ke Semarang. Cerita Semarang-nya disambung nanti ya.

Beberapa hari di Jogja juga cuma bisa beres-beres mana barang yang akan dibawa, dtinggal, dikirim, dan dititip sama siapa aja yang mau ke KL.

Berbekal sambel pecel dan abon, tanggal 4 Januari kami berangkat ke KL dari Jogja via Jakarta. Sialnya, waktu di Jogja bandara mati listrik dan ruang tunggu udah kaya oven. Semua orang kipasan alias kepet-kepet. Pesawat Garuda delay 45 menit. Sampai di Jakarta, udah kesusu check in, nyatanya GA kembali telat 1 jam, disusul antre 1 jam untuk terbang. Kami yang seharusnya sampai KL pukul  20.00 jadi 22.30.

Untunglah kami disambut manis. Petugas imigrasi ramah, senyum, nggak jutek blas. “Oh, kerja di sini ya, Pak?” tanyanya. Dia minta offer letter dari kantor Puput yang baru untuk dilihat saja. Beruntung nyaris tengah malam Oliq juga nggak rewel dan sudah ada sopir yang menunggu kami.

Akhirnya sampai juga di hotel – lebih tepatnya serviced apartement dink – yang sudah diatur kantor Puput. Mata Simbok langsung berbinar-binar dong liat kompor dan panci yang tersedia.

Perjuangan dilanjutkan dengan bikin janji sama agen-agen perumahan. Doain ya biar cepet dapet pagupon baru biar bisa menampung temen-temen huahahahaha.

Kenapa Kuala Lumpur?

“Orangnya reseh-reseh,” kata seorang teman.

“Hati-hati lho nanti di-bully!” kata teman lainnya.

“Awas nanti dikira TKI!” kata yang lain lagi. “Eeerrrr, lha memang kan?” jawab saya waktu itu.

First, above all, ga semua orang Malaysia brengsek kok, banyak juga yang baik. Kalo ada yang reseh, yo wis ben sing waras ngalah. Cuek dan kalem aja.

Alasan kami pindah ke KL ya jujur demi kehidupan yang lebih baik dong. Karena Puput dapat kerjanya di sini, enggak d Eropa (padahal saya berharapnya ke Eropa lho huahahaha). Gaji jelas lebih baik daripada di Jakarta, kalau nggak jelas nggak mau pindah dong.

Ke dua, KL itu deket sama Jogja, sak plinthengan aja lho naik AirAsia – ga perlu lewat CGK dan kudu antre terbang. Kalau mbah-mbahnya Oliq kangen juga gampang datang, murah lagi.

Ke tiga, KL itu biaya hidupnya ga jauh beda sama Jakarta. Transportasi jauh lebih baik.

Ke empat, yang paling penting, KL itu punya buanyaaaaakkkkk rute ke mana-mana. Ada ke Kathmandu, Seoul, Nagoya, berbagai negara di Eropa (kalau MH pas promo). Bayangkan! Mau jalan-jalan ke mana-mana gampang. Oh my God, oh my God *BRB cari tanggal merah* *browsing tiket*

Advertisements