Tag Archives: penyu

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

Advertisements

Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng


Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).

Continue reading Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng

Mengenal dive spot di Indonesia (bagian 3 – habis)


Melanjutkan tulisan bagian pertama dan kedua, berikut ini adalah dive spot yang pernah saya kunjungi.

11. Ternate, Maluku Utara

blue ribbon eel 2
Blue ribbon eel alias belut laut biru, salah satu hewan laut lucu yang bisa ditemukan di perairan tropis, termasuk Ternate

Dive spot ini relatif belum banyak dikenal banyak penggemar olahraga selam, padahal sebenarnya memiliki potensi tersendiri. Banyak dive spot yang letaknya tak jauh dari ibukota Maluku Utara, Ternate, termasuk di pelabuhan rakyat yang terletak persis di tepi kota. Ketika saya menyelam pada malam hari (night dive) di salah pelabuhan tersebut, banyak hewan-hewan lucu yang berkeliaran seperti anemone crab (binatang ini sebenarnya adalah anemon yang menempel di punggung kepiting laut sehingga seolah-olah seperti kepiting dengan tentakel di punggungnya). Dive spot lain bisa dijangkau antara setengah jam hingga satu jam dari kota Ternate. Lokasi selam sekitar Ternate menawarkan pemandangan yang cukup bagus meskipun menurut saya masih lebih bagus di Sulawesi seperti Bunaken, Wakatobi, ataupun Donggala. Mungkin karena daerah ini belum terlalu dieksplor, jadi titik-titik yang sebenarnya indah masih belum diketahui.

Continue reading Mengenal dive spot di Indonesia (bagian 3 – habis)

Mengenal dive spot di Indonesia (bagian 2)


Tulisan berikut adalah sambungan dari tulisan pertama mengenai lokasi penyelaman (dive spot) yang pernah saya kunjungi.

6. Nusa Penida, Bali

Lokasi ini juga relatif mudah dikunjungi, kira-kira satu jam perjalanan dengan kapal cepat dari Pantai Sanur, Bali. Laut di sekitar Pulau Nusa Penida terkenal dengan ikan pari (sting ray) dan manta (manta ray).  Namun yang paling terkenal adalah ikan mola-mola yang fenomenal. Ikan mola-mola adalah ikan bertulang belakang yang berbentuk bulat dengan sirip di atas dan bawah, bisa mencapai berat 1000 kg alias 1 ton. Ikan ini adalah obyek favorit para penyelam di Nusa Penida, umumnya muncul di bulan Mei sampai September, namun tidak bisa dipastikan. Nusa Penida juga terkenal arusnya yang cukup kuat, jadi lokasi ini tidak disarankan bagi penyelam pemula.

Penyelam bersiap-siap turun dari kapal di Nusa Penida, Bali
Penyelam bersiap-siap turun dari kapal di Nusa Penida, Bali

Continue reading Mengenal dive spot di Indonesia (bagian 2)

Traveling dengan Anak-Anak Part 15: Skippintroupe ke Ujung Genteng


Liburan murah meriah, pantai pasir putih, ada unsur edukasi untuk anak dan anak-anak penyu yang lucu dimana hayoo?

Aceh? Bali? Lombok? Benar semuaaaa. Tapi ada lagi yang tempatnya lebih dekat ke Jakarta lho.Yaitu di Ujung Genteng! Dan wiken 4 hari di bulan Oktober 2012 lalu, kami sekeluarga menghabiskannya disana.

Senja di Ujung Genteng
Senja di Ujung Genteng

Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 15: Skippintroupe ke Ujung Genteng