Tag Archives: pembantu part time di malaysia

Tentang Punya Asisten Rumah Tangga


“Pia Alonzo, tolong kamu ke pasar beliin gori, tempe, daun so, lombok rawit dipilihin jangan yang bosok.”

“Adriana Maria, kalau ngosek WC yang bersih ya! Harpic-nya didiemin dulu 10 menit baru disiram!”

“Nguyen Van Dienh, kalau anggrek disiramnya pakai air beras. Coba kamu minta sama Pia kalau dia pas mususi beras mau ngliwet.”

No more Mbak Yem, Mbok Si, Yu Nah. Apalagi Nursiti.

Beberapa hari belakangan ini di linimasa saya wira-wiri berita tentang kemungkinan akan adanya pembantu asal Filipina dan Vietnam di Indonesia. Yang ternyata walau diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tetap dilarang, sumber dari Katadata di sini.

Jadi fragmen di atas cuma khayalan belaka wakakaka…

***
Saya dibesarkan oleh ibu bekerja, terbiasa punya pembantu sejak masih bayi. Okelah, biar kekinian dan terdengar manusiawi dan wanitawi saya sebut asisten rumah tangga (ART).

Ketika awal bekerja di Jakarta saya sempat mencuci setrika sendiri (waktu itu laundry masih barang langka dan mewah) namun akhirnya menyerah dan rela membayar tukang cuci ibu kos. Di Australia semua tentu harus dilakukan sendiri, mesin cuci tersedia, setrika tidak perlu. Musim dingin baju akan tertutup jaket, di musim panas pakai kaos kiwir-kiwir saja. Tidak perlu tampil perlente seperti para fashionista yang beredar di mal-mal Jakarta.

Setelah menikah dengan Puput dan tinggal di apartemen, laundry sudah ting trecek di mana-mana, biaya terjangkau. Urusan bebersih rumah, cuci piring sih bisa dikerjakan berdua. Toh isinya cuma dua manusia dewasa, keduanya bekerja, bakal sekotor apa?

Sebelum melahirkan Oliq, kami sepakat akan mempekerjakan ART. Waktu itu, saya pun belum kepikiran untuk berhenti bekerja. Jadi, ya harus ada ART atau babysitter untuk urus anak. Tapi tepat sebelum melahirkan saya memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga bahagia.

Saya melahirkan Oliq di Jogja, waktu mau boyongan ke Jakarta, Bapak Mertua tanya, “Menko duwe inang to?” Nanti punya pembantu kan?

Bayangan saya, walau saya tidak bekerja, kalau ada bayi ya lantai harus dipel minimal 2 kali sehari. Lantai dan sofa divacuum. Dan sebagainya sebagainya. Jadi saya punya in-house maid selama 1 tahunan. Waktu dia pulang dan nggak kembali lagi, ada ART part time yang datang setiap sore untuk bebersih rumah, cuci piring, cuci baju dan setrika baju Oliq dan bawa Oliq main ke taman sementara Simbok ngetik. Baju saya dan Puput tetap dilaundry.

Ketika pindah ke Malaysia, jadi dilematis. Bawa pembantu? Cari pembantu di sana? Nggak pake pembantu nggak mungkin kan punya anak kecil ini tangan bisa kapalan kapan saya bisa nerbitin buku lagi kalau demikian?

Petronas Twin Tower alias Menara Berkembar Petronas, ikon utama kota KL
Petronas Twin Tower alias Menara Berkembar Petronas, ikon utama kota KL

DAN TERJADILAH TRAGEDI NST.

Continue reading Tentang Punya Asisten Rumah Tangga

Balada Pembantu selepas Hari Raya


Hari pertama masuk kerja, saya langsung dicurhati seorang kawan Melayu yang tengah kebingungan, sebut saja namanya Puan (Ibu) Rosi.

Puan Rosi (R) : “Puput, apa sekarang Kerajaan (Orang Malaysia menyebut pemerintah sebagai kerajaan, meskipun kepala negaranya Presiden atau Perdana Menteri) Indonesia menerapkan aturan yang lebih ketat pada warga negara yang bekerja di Malaysia?”

Saya (S) : “Saya rasa justru Kerajaan Malaysia yang lebih ketat membatasi warga negara asing masuk, tak heran banyak projek-projek yang delay karena kekurangan tenaga kerja, terutama construction workers. Ada apa memangnya?”

R : “Saya punya pembantu daripada Indo belum balik-balik juga… Saya tanya kawan-kawan lain yang punya pembantu Indo pun sama, banyak yang belum balik.”

S: “Ah, itu masalah klasik puan… jangankan di Malaysia, di Jakarta pun tiap selepas Raya pasti ada saja pembantu yang tak balik, biasanya karena nak kahwin, tapi kadang juga alasan keluarga nak jaga ibu bapa, atau kadang malah dah dapat majikan baru. Dah kontak dia kah?”

Continue reading Balada Pembantu selepas Hari Raya