Tag Archives: parenting

Stop Nyuruh Orang Lain Tambah Anak!


Bagi saya, jumlah anak adalah hak prerogatif suami istri. Bukan urusan keluarga besar, kerabat atau tetangga. Mau milih nggak punya anak, anak 1, 2, 3 atau 11, ya silakan aja. Insya Allah anak adalah investasi surga (kalau bener ngurusnya XD). Ya harus bener doooong ngurusnya!!!!

Mejeng di stasiun
Mejeng di stasiun

Tapi harus diakui juga bahwa menjadi orangtua itu tugas berat. Orangtua sesekali mengeluh tentang anak itu bukannya kami tidak ikhlas punya anak. Bukannya tidak bersyukur dikaruniai anak. Bukaaaan. Itu ma-nu-si-a-wi. Manusia melepaskan emosi. Daripada dipendem jero njuk edan? Kita kadang mengeluh capek kerja dan pengen cepat-cepat weekend, apa iya kita kerja nggak ikhlas? Nggak to? Kita juga masih sering mengeluh macet padahal bawa mobil pribadi isi sebiji doang? Ngelah-ngeluh sama negara Indonesia tapi nggak mau pindah jadi WNZ. Warga Negara Zimbabwe. #ehkepiye?

So peeps, when we talk about how hard it is to raise a kid, it is humane. Manusiawi. Ya ndak? Hooh to? Yo ra?

Dan berhentilah menyuruh orang lain nambah anak — dengan alasan akan nambah rejeki, investasi akhirat, ada yang ngurus di hari tua, dll — karena seyogyanya demi alasan-alasan mulia tersebut bukankah lebih baik Anda melakukan sendiri? Continue reading Stop Nyuruh Orang Lain Tambah Anak!

Advertisements

The Battle of New Moms


Dunia maya itu hanyalah kiasan. Ibaratnya pepes pindang, dunia maya itu hanya daun pisang dan bitingnya. Dalamnya? Siapa yang tahu itu pindang beneran atau ternyata isinya tempe, jamur. Siapa yang tahu itu pedas atau tidak.

Kata survei yang pernah beredar, salah satu orang paling menyebalkan di Facebook adalah para ibu baru yang tak bosan-bosannya mengunggah foto bayinya. Bayi tidur, bayi ketawa, bayi dimandiin, bayi digendong tiap tamu yang jenguk. Bayiiii wae! #hakjleb *Simbok ngaca*

Kayanya kok bahagia banget ya punya bayi! Ya iyalah, tidak bisa dipungkiri anak adalah anugerah yang luar biasa, tidak terwakili oleh uploadan apapun. Udah meteng 9 bulan bawa gembolan ke mana-mana, mosok lahiran ga seneng?

Don’t you know that the battle behind that is life-threateningly horrifying #halah. Saya tetap tidak bisa membayangkan para ibu yang berjuang melahirkan secara normal, bahkan tanpa epidural. Sakitnya kaya apa, coba! Anu yang sekecil itu buat ngeluarin bayi sebegono!

Siap-siap masuk kamar operasi...
Siap-siap masuk kamar operasi…


Kebetulan saya melahirkan Oliq dan Ola secara cesar. Bukan disengaja, melainkan memang sampai lewat waktu tidak ada kontraksi. Waktu Oliq, blas tidak ada rasa mulas. Kalem aja spa siang hari padahal sorenya udah dijadwalkan c-section. Waktu Ola saya “dianugerahi” kesempatan untuk merasakan kontraksi. Dua hari dua malam pasca ujian SIM di Polres, saya nggak bisa tidur karena kontraksi tiap 10 menit. Nyatanya sudah ditunggu, dirogoh, tetap tidak ada bukaan. Jadinya kembali cesar bersama simbah.

Cesar mah enak, nggak sakit! Gundulmu mencelat! Bayangkan saja harus dikelilingi banyak dokter, disuntik sana-sini, dan sadar selama proses melahirkan. Nggak sakit sih waktu dibeleh. Tapi habis itu….

Saya beruntung langsung bisa melakukan IMD di kamar operasi, kurang sukses. Di kamar pemulihan Ola langsung bisa menyusu. Saya menghabiskan semalaman di rumah sakit. Another battle starts now.

Wahai para manusia yang durhaka pada ibunya, hanya neraka balasannya. Baik yang melahirkan normal, cesar, water birth, hypno birth entah apalagi, semuanya akan merasakan hal yang sama. Ketika jahitan dan obrasan belum sembuh, sudah harus ngopeni bayi yang baru lahir.


Countless of sleepless nights. Mulai dari gantiin popok, nyusuin. Perjuangan lain juga bagi para ibu yang kesulitan mengeluarkan ASI. Perjuangan juga bagi kami yang ASInya berlimpah sehingga tiap 2-3 jam sekali harus memompa. Baju sehari bisa ganti 5-6x karena bocoran susu. Bau ASI sampai bikin mual sendiri.

Belum lagi yang mengalami baby blues. Ah itu cuma ibu-ibu manja! Takuncali munthu kalau bilang gitu! Baby blues bukan mitos, ada beneran walau saya tidak mengalami. Bayangkan saja, kita bawa manusia di perut 9 bulan, terus dikeluarkan. Jelas hormon jungkir jempalik. Belum juga karena kelelahan fisik dan psikis. Duh.
Betapa kejam suami yang tidak mau berjuang bergandengan tangan dengan istrinya.

“Kalau bisa sih kugantiin lahirannya!” Woh mbahmu kiper tenan, sunatan wae semaput, arep lahiran.

Beruntung saya punya support system yang memadai. Sehari setelah Ola lahir, Puput harus kembali ke KL, jadi saya harus berjuang sendiri selama minggu pertama. Untungnya, ada bidan bapak mertua yang menginap tiap malam. Jadi kalau saya capek Ola bisa diurus bidan semalaman dengan bekal ASI Perah.

Mengurus bayi dengan kondisi jahitan masih sakit itu perjuangan. Lha wong miring saja susah, apalagi harus gantiin popok tiap 1-2 jam. Tengah malam, baru saja diganti, lagi nyelehke bokong, wis mak “Prooot prooooot!”. Duh biyung.

Menyusui masalah lain lagi. Hal paling sakit dari punya anak adalah menyusui di hari-hari pertama. Lidah dan langit-langit mulut bayi kasar jadi puting berasa seperti diparut. Nangis-nangis beneran deh. Coba deh tanyakan pada ibu-ibu kalian.

Hari ini saya demam, pompa ASI saya rusak dan karena mengurus servis saya terlambat memompa. Akibatnya payudara kanan membengkak dan disentuh pakai ujung jari saja sakitnya luar biasa. Nah, para suami, di sini peran kalian. Ringankan derita istri dengan memijat secara rutin. Jangan berpikir porno, pijat susu, it is what it is. Masa mau minta dipijat suami orang lain?

Sejak lahiran Oliq, sebenarnya Puput lebih “fasih” memegang bayi baru ceprol dibanding saya. Dia lebih mahir mengganti popok juga. Tapi dulu, tiap malam saya rela begadang mengganti popok semalaman dan malah membiarkan Puput ngorok sepuasnya. Kali ini lain, kalau tahu popok Ola basah saya bangunkan Puput toh saya masih harus menyusui setelah itu. Bagi tugas lebih baik daripada memforsir diri demi titel Super Mom? Yang ada malah tumbang.

Kehidupan ibu baru tidak secerah apa yang terlihat di Facebook. Punya dedek-dedek unyu yang bikin gemetz! Behind that there is a prolonged battle.

Setelah melahirkan anak pertama itu perjuangan karena sebagian besar dari kita sama sekali belum tahu apa-apa. Boleh deh Anda sampai menelan berbagai buku parenting, ikut berbagai komunitas, join forum-forum di FB. Prakteknya? Nggak segampang itu masdab!

Melahirkan anak ke 2, ke 3, dan seterusnya juga tetap perjuangan karena sambil mengurus bayi, ada “beban” tambahan, yaitu tetap ngopeni kakaknya, juga memastikan dia nggak cemburu sama adiknya.



Bisa diperhatikan kalau saya hanya mengunggah foto Ola, Oliq, dan Puput (kecualo foto melet euforia pasca operasi itu!) karena muka ibu baru nggak layak tampil. Yah, kecuali Anda Kate Middleton. Muka zombie saya mending tetap berada di belakang layar, bergelut bersama pompa ASI, popok, dan minyak telon. Takutnya nanti kalau saya unggah foto malah kalian beramai-ramai gilo dan meng-unfriend saya.

Sudahkah kalian berkabar dengan ibu kalian hari ini?

Ya, gitu aja deh.
Tertanda,
Simbok yang lagi ngrangkaki

Baca kisah kelahiran Ola di sini

*Update terbaru: susu sudah tidak ngrangkaki setelah rutin pijat susu oleh suami

How To Travel With Kids Without Disturbing Others


A while back, there was a survey conducted saying that screaming kids and their parent are among the worst plane etiquette violators. These children are even considered to be more annoying that those foul-smelled passenger.

For travelling mommies – including myself – this may not be a shocking surprise. I can’t speak on behalf of others, but for me, when I read about the survey I turned into my defensive mode. No, my kid is never annoying.

Oliq on Air France
Oliq on Air France

Continue reading How To Travel With Kids Without Disturbing Others

Anak Itu Berbeda-Beda (Kisah Keluarga Multi Bahasa)


Jarang sekali saya bikin tulisan tentang parenting (dan agama), biasanya yang enak-enak saja, kan? Terinspirasi oleh seorang ibu yang curhat karena putrinya (3 tahun) belum bisa membedakan warna dan besar-kecil, saya juga jadi memikirkan Oliq. Saya sampai saat ini masih berjuang untuk tidak membandingkan Oliq dengan anak lain. Saya berusaha untuk fokus di sisi positifnya.goa langir aik Continue reading Anak Itu Berbeda-Beda (Kisah Keluarga Multi Bahasa)

Parenting by Traveling


Rasanya kini banyak tulisan tentang parenting yang populer di kalangan orang tua muda seperti saya dan simbok cempluk, tapi rasanya masih sedikit yang menggabungkan parenting dengan traveling. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kami traveling dengan anak-anak bersama Oliq, kini hampir 3 tahun, berkelana ke 9 negara secara backpacking sejak usia 6 bulan.

Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok
Backpacking pertama Oliq ke Australia, saat itu masih 6 bulan dan pastinya masih nyusu ke simbok

Sebelum menikah, saya memang suka jalan-jalan secara backpacking. Hobi asli naik gunung dan bertualang sejak jaman SMA membuat saya sangat familiar dengan gaya backpacking, jauh sebelum tren ini merebak di kalangan anak muda. Demikian juga dengan Olen, meskipun jarang naik gunung, tapi juga penggemar berat jalan-jalan. Dan yang pastinya, hobi ini lah yang akhirnya menyatukan kami hingga lahirnya Oliq di tahun 2011.

Oya, kami memilih untuk mengurus anak sendiri tanpa baby sitter dan bala bantuan orang tua, karena kebetulan kami ada di Jakarta dan orang tua kami di Jogja. Pastinya harus ada pengorbanan, simbok cempluk yang sudah bergelar master akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja. Dan buat saya sendiri, harus banyak meluangkan waktu di rumah berbagi dengan Olen.

Setelah Oliq lahir, tentunya kami tak ingin hobi kami terhenti hanya gara-gara sibuk mengurus anak. Justru buat kami, lahirnya Oliq membawa suatu dimensi petualangan baru yang lebih menantang. Kalau sebelumnya solo backpacker atau berdua rasanya mudah saja, mau blusukan atau ngemper juga ayo aja, kini setelah adanya si kecil yang mulai bandel, perhitungannya harus lebih matang walaupun tidak mengorbankan semangat backpacking dan petualangan.

Sampai saat ini kami tetap berpegang teguh pada prinsip backpacking, merencanakan sendiri jalan-jalan, tidak tergantung pada travel agent, dan tetap tidak mengandalkan baby sitter, orang tua, atau sodara untuk mengurus Oliq selama bepergian. Sampai saat ini baru sekali kami menggunakan jasa travel agent pada saat umrah saja hehehe… saat itu jelas, pertimbangannya ini lebih kepada perjalanan ibadah, bukan sekedar jalan-jalan biasa. Meskipun demikian, tetap saja ada keinginan untuk benar-benar umrah backpacking, rasanya lebih menantang dan puas kalau berhasil 🙂

Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa...
Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa…

Pertanyaan paling sering diajukan ketika kami hendak bepergian, apalagi jauh, dengan Oliq adalah, “Apa gak repot, jalan-jalan sambil bawa anak kecil?”

Rasanya ini pertanyaan retorik, pasti lebih repot daripada tanpa membawa anak kecil. Tapi kenapa kami nekat melakukannya, tentunya ada pelajaran berharga bagi kami si orang tua, maupun bagi si kecil dibalik kerepotan yang mesti dihadapi. Pelajaran, hikmah, dan tips-tips ini yang ingin saya bagi untuk ayah-bunda, papa-mama, bapak-simbok muda yang juga ingin berjalan-jalan dengan sang buah hati, namun masih ragu dan bingung.

Bagi saya dan Olen, banyak hal yang bisa kami ajarkan pada Oliq dalam setiap kesempatan traveling. Tak hanya bagi Oliq, bagi kami sendiri, setiap petualangan juga selalu memberi pelajaran yang baru karena parenting sendiri adalah proses pembelajaran yang tiada pernah terhenti. Berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik dalam backpacking, tentunya berdasarkan pengalaman pribadi kami.

 

Dari Condongcatur ke Paris
Dari Condongcatur ke Paris, bersama stroler dan jarik kebanggan simbok Cempluk

1. Mandiri

Dengan traveling secara backpacking, pastinya Anda dan pasangan harus merencanakan sendiri perjalanan, mulai dari tiket, hotel, obyek wisata, transportasi, hingga rute perjalanan. Dengan adanya anak kecil, tentu hal tersebut menjadi lebih rumit lagi. Namun disinilah sebenarnya seninya, disatu sisi Anda tetap ingin memanjakan anak selama perjalanan tapi si anak juga dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan gaya backpacking orang tuanya. Pada waktu bepergian pertama kali keluar negeri bersama Oliq ke Australia saat dia masih berumur 6 bulan, terasa sekali ribetnya. Mulai dari tiket yang sudah dipesan sebelum dia lahir, jadi kudu mengubah nama bayi setelah lahir, persiapan bawa gendongan, stroler, perlengkapan bayi, hingga Olen yang harus selalu siap sedia menyusui Oliq setiap saat. Repot memang, namun rasanya lebih puas.

2. Melatih kekompakan orang tua

Jalan-jalan melibatkan papa, mama, dan anak kecil secara mandiri tentunya memerlukan kekompakan yang menurut saya tidak bisa diajarkan namun harus dipraktekkan langsung. Mulai dari merencakanan perjalanan, memilih rute, hingga saat-saat ketika anak rewel memerlukan pengertian yang baik dari bapak maupun ibu. Komunikasi yang intens disertai kemauan kuat untuk memahami anak tanpa harus terlalu memanjakan adalah kunci utama agar acara backpacking menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi semua keluarga. Salah paham itu biasa, tapi jangan sampai berlarut-larut apalagi saat di perjalanan. Hati-hati, anak kecil memiliki kepekaan yang tinggi, dia bisa merasakan kalau ada suasana tak nyaman dari ayah maupun bundanya.

Three is better than alone
Three is better than alone.. butuh kekompakan untuk menghasilkan foto seperti ini

3. Mengendalikan Ego Jalan-jalan

Seperti halnya backpacker lainya, umumnya saya dan Olen ingin memaksimalkan kunjungan ke berbagai obyek wisata di suatu tempat, apalagi kalo bepergian jauh. Dengan adanya Oliq, saya dan Olen mau tak mau harus mengalah dan menyesuaikan dengan jam biologis Oliq. Kini, kami lebih santai dalam merencakan perjalanan. Harus ada istirahat untuk menyusui dan menidurkan Oliq. Kadang kami baru bisa jalan-jalan setelah menjelang siang karena menunggu Oliq bangun. Demikian juga kami tidak bisa pulang larut malam, karena pastinya Oliq sudah mengantuk dan bakalan rewel kalau dipaksa jalan-jalan. Tak jarang juga kami bergantian menggendong Oliq yang sudah tertidur.

4. Keluar dari Comfort Zone

Backpacking adalah salah satu cara keluar dari zona nyaman, apalagi kalau dengan anak-anak. Ini pun berlaku bagi bayi dan anak-anak, semakin cepat mereka dikenalkan dengan backpacking, semakin mudah bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sesungguhnya yang seringkali tidak ramah. Mulai dari menunggu di bandara, berpindah-pindah tempat tidur, makanan yang tidak cocok, dan banyak hal lain yang sering membuat stress selama acara backpacking. Pada awalnya memang terasa berat bagi anak-anak, tapi dari pengalaman kami, semakin cepat anak dikenalkan, sebenarnya semakin mudah bagi dia untuk bisa menikmati kegiatan itu di kemudian hari. Kini, Oliq bisa dibilang sudah sangat enjoy kalau diajak jalan-jalan, entah itu hanya sekedar keliling kota tanpa menginap di hotel ataupun keluar negeri beberapa hari yang sangat berbeda dengan lingkungan sekitar kami.

5. Mengenal dunia dan keanekaragaman

Dengan jalan-jalan, anak pastinya akan banyak melihat hal baru yang mungkin tak ada di sekeliling rumahnya. Mulai dari alat transportasi, fasilitas umum, obyek wisata, hingga yang paling penting adalah mengenal berbagai manusia dengan segala macam karakternya. Karena seringnya Oliq naik pesawat, di umur sekitar 2 tahun dia bisa menghafal berbagai logo pesawat. Kini dia pun cukup akrab dengan berbagai alat-alat konstruksi seperti crane, excavator, dan tracktor karena seringnya dia melihat di sekeliling KL. Oliq pun mudah akrab dengan berbagai suku bangsa, entah itu orang Indonesia, Malaysia, Jepang, Arab, Afrika, dan Eropa, walau komunikasinya kadang hanya sebatas senyuman dan cekikikan khas Oliq. Pastinya kami berharap nantinya Oliq juga bisa menghargai perbedaan tanpa menganggap satu suku lebih baik dari suku atau bangsa lainnya.

Oliq dan teman baru
Oliq dan teman baru

6. Belajar disiplin

Jangan salah lho, backpacking dengan anak-anak juga bisa melatih kedisiplinan mereka. Jadwal pesawat yang tepat misalnya, melatih anak-anak untuk disiplin dalam mengatur waktu. Berbagai aturan dan kebudayaan yang berbeda-beda juga bisa dijadikan sarana untuk melatih kedisiplinan anak. Misalnya di negara yang transportasi umum dengan kereta (LRT atau MRT) sudah maju, ada aturan tak tertulis kalau melewati eskalator harus berjalan bila berada di sisi kanan. Kita bisa melatih anak untuk mengikuti aturan ini. Juga aturan kalau di dalam kereta tidak boleh makan dan minum.

7. Belajar budaya lain yang lebih baik

Salah satu tantangan backpacking adalah kita akan terpapar langsung dengan budaya lokal, yang kadang tidak selalu cocok dengan budaya kita. Di sini sebagai orang tua tantangannya adalah bagaimana mengajarkan yang baik sekaligus membentengi dari budaya yang buruk. Contoh yang sederhana, budaya membuang sampah pada tempatnya akan lebih mudah diajarkan bila kita berada di lingkungan yang masyarakatnya sudah terbiasa hidup bersih, misalnya di Jepang. Budaya antri pun terlihat jelas di negara-negara yang sudah terbiasa dengan angkutan umum berbasis kereta, misal di Singapura dan Malaysia khususnya KL. Namun sebenarnya yang terberat adalah menyaring budaya yang buruk yang banyak terdapat di tempat wisata, misalnya dugem dan mabuk-mabukkan. Sekarang Oliq memang masih terlalu kecil, namun sebisa mungkin kami menghindari paparan langsung dengan budaya seperti itu. Untungnya saya dan Olen sendiri bukan tipe yang suka hiburan malam, jadi semoga saja ke depannya Oliq juga bisa terjaga.

De Bijnkorf mall penyelamat kami di Amsterdam
disini “sampah” yang terlihat hanyalah kotoran burung

8. Ibadah kapan pun dimana pun

Bagi kami yang muslim, tentunya sholat tak boleh ditinggalkan termasuk saat berjalan-jalan. Saat di pesawat, tak jarang kami lebih memilih tayamum dengan pertimbangan keterbatasan air di toilet pesawat, untuk kemudian sholat sambil duduk di kursi. Ini adalah pelajaran langsung bagi Oliq, tak heran seringkali dia menirukan gerakan tayamum dan sholat kalau sedang duduk di pesawat. Di tempat-tempat yang tak ada mushola, kerap kali kami sholat di lapangan terbuka dengan hanya beralaskan jarik yang dipakai buat menggendong Oliq. Harapan kami jelas, Oliq akan mengerti bahwa sholat memang tak boleh ditinggalkan apapun kondisinya. Tantangan lain adalah mencari makanan halal di tempat yang muslim adalah minoritas. Yang pasti, babi dan binatang yang jelas diharamkan harus selalu dihindari. Nah kalau untuk sapi atau ayam yang kadang kita ragu apakah disembelih dengan nama Allah, saya biasanya mengirisnya dan memakannya dengan mengucap basmallah. Tapi kalau masih ragu, lebih baik makan sayur dan seafood saja yang jelas halal. Dengan membawa anak-anak, kita harus benar-benar menjaga asupan makanan agar tak ada makanan haram yang dimakan oleh anak-anak kita.

9. Berani mengambil pilihan dan resikonya.

Buat saya, dalam backpacking terkandung pelajaran berharga dalam keberanian mengambil pilihan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang terlalu nyaman, dari kecil diberi fasilitas enak, sekolah tinggal masuk SD favorit, tak perlu banyak berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, biasanya akan kesulitan ketika dihadapkan pada situasi dia harus mengambil pilihan. Dari pengalaman saya pribadi, banyak orang-orang pintar lulusan perguruan tinggi ternama, seringkali tak mampu mengambil pilihan sulit dan pada akhirnya hanya berputar-putar saja alias mbulet sambil mengandalkan bawahannya atau orang lain. Giliran pilihannya salah, dia sibuk mencari-cari pembenaran atau menyalahkan orang lain. Backpacking adalah salah satu sarana melatih keberanian anak mengambil pilihan. Dalam kasus yang lebih ekstrim, misalnya ekspedisi naik gunung yang mengambil waktu berhari-hari, kesalahan mengambil keputusan bisa berakibat fatal. Namun, kalau sekedar jalan-jalan backpakcing, setidaknya resiko salah mengambil keputusan tidak terlalu fatal, jadi ini akan melatih insting anak dalam memperbaiki situasi. Contoh paling gampang adalah ketika kesasar entah karena salah membaca peta atau salah mengambil jurusan bus. Backpacker dituntut untuk tidak panik sambil tetap mencari jalan yang benar, atau terpaksanya kembali ke tempat semula. Mental tidak mudah panik ini tidak mudah dibangun dan akan lebih mudah dibentuk dengan pengalaman pribadinya dibimbing orang tuanya.

Bagi saya dan Olen, menjadi orang tua yang gemar jalan-jalan adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah terhenti. Kami masih belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk Oliq. Tulisan ini pun bukan berarti kami sudah pakar karena faktanya kami pun masih sering kesulitan menghadapi Oliq yang sudah mulai besar dan bandel, namun masih manja. Apa yang saya sampaikan hanyalah sekedar keinginan untuk berbagi khususnya pada orang tua muda, agar mereka tidak takut dan ragu dalam mengajak anak-anaknya menyaksikan dunia luar dengan segala keindahannya. Awalnya memang terasa repot, namun yakinlah bahwa itu adalah investasi berharga yang hasilnya akan Anda rasakan di masa datang. Selamat backpacking untuk para ayah – bunda dan si kecil.