Tag Archives: pantai

8 Tempat Wisata Gratis di Melbourne


Majalah The Economist menobatkan kota Melbourne di Australia sebagai kota ternyaman di dunia tahun 2011. Bisa dibayangkan, kota ternyaman pasti juga menuntut standar hidup yang tinggi. Imbasnya bagi wisatawan dari Indonesia adalah anggaran yang membengkak — baik untuk akomodasi, makan, maupun transportasi.

Namun, jangan sampai keinginan kita berkunjung ke sana sampai surut. Di bawah ini 8 objek wisata gratis di Melbourne yang dapat dikunjungi.


Trem City Circle. Foto: Olenka Priyadarsani

1. Trem City Circle

Trem adalah salah satu transportasi andalan kota ini, terutama di sekitar pusat kota. Untuk melayani wisatawan, pemerintah negara bagian Victoria telah menyediakan trem melingkari kota (city circle) gratis yang mengelilingi pusat bisnis dan pusat kota.

Rute trem ini adalah Flinders Street > Harbour Esplanade > Docklands Drive > La Trobe Street > Victoria Street > Nicholson Street > Spring Street > Flinders Street dan arah kebalikannya. Di dalam trem diberikan informasi objek-objek wisata yang dilewati. Saya merekomendasikan Anda yang baru pertama kali ke Melbourne untuk naik trem gratisan ini. Anda dapat menaiki trem di tempat-tempat yang bertanda “city circle”. Sangat mudah.

2. Shrine of Remembrance

Monumen ini didirikan untuk menghormati prajurit yang bertempur di Perang Dunia I. Monumen ini dikelilingi oleh taman berumput dan pohon-pohon rindang. Letaknya tidak jauh dari pusat kota dan mudah dicapai dengan trem. Lokasinya yang bagai taman terbuka membuat pengunjung dengan bebas keluar-masuk tempat ini.

3. Royal Botanic Gardens

Kebun Raya Melbourne ini terletak bersebelahan dengan Shrine of Remembrance dengan luas 36 hektare. Di sini ada lebih dari 50 ribu tanaman, dan banyak yang merupakan tanaman khas Australia. Di sini ada juga Children’s Garden yang dibuat secara khusus agar anak-anak dapat bebas bermain dan belajar.

4. Parliament House

Gedung parlemen secara resmi digunakan oleh Dewan Negara Bagian Victoria. Terletak di pusat kota, tepatnya di Spring Street, sangat mudah untuk mencapainya dengan trem atau kereta api. Selama anggota dewan tidak sedang bersidang, Anda dapat mengikuti tur ke dalam gedung yang menjadi cagar budaya ini.

5. Southbank

Tidak mungkin Anda pergi ke Melbourne tanpa berjalan-jalan menyusuri Sungai Yarra. Seperti namanya, Southbank terletak di tepi sebelah selatan sungai, di mana kafe-kafe berjajar di sepanjang trotoar. Kalau Anda merasa harga makanan dan minuman di kafe-kafe tersebut terlalu mahal, jangan berkecil hati! Anda dapat membeli kopi dari kedai-kedai yang lebih murah dan menikmatinya di kursi-kursi taman yang banyak tersedia di sini.

6. Queen Victoria Market

Tidak ada tempat lain di Melbourne yang dapat menandingi Queen Victoria Market atau sering disebut VicMart untuk urusan berbelanja. Kalau Anda sedang tidak ingin berbelanja, jalan-jalan di pasar ini juga cukup menyenangkan, kok. VicMart menjual cenderamata, baju, sayur, buah-buahan dan sebagainya. Jangan heran kalau Anda bertemu penjual dari Indonesia, sebab mahasiswa yang bekerja paruh-waktu di pasar. Pasar ini tutup pada hari Senin dan Rabu.

7. Flinders Street Station

Stasiun kereta api ini adalah salah satu ikon budaya kota Melbourne. Stasiun yang dibangun pada tahun 1854 ini adalah stasiun yang paling banyak digunakan di kota ini. Terletak di sudut Flinders Street dan Swanston Street, stasiun ini melayani para komuter yang tinggal di pinggir kota yang bekerja di pusat kota.

8. Pantai St Kilda

Pantai ini juga salah satu ikon kota ternyaman di dunia ini. Pantai St Kilda hanya terletak sekitar 6 km dari pusat kota. Salah satu keunggulan dari pantai ini adalah taman-taman berumput dan pohon-pohon palem di sekitar pantai, jadi bila matahari terlalu terik Anda tinggal berteduh di bawah pohon sambil duduk di rerumputan.

Advertisements

Sawarna, Mutiara Banten Selatan


Ketika para pejalan sudah cukup lama menggembar-gemborkan tentang tujuan wisata yang satu ini, ternyata masih banyak juga orang yang sama sekali belum pernah mendengarnya. Sawarna berada di Provinsi Banten, pesisir Laut Selatan. Dari Jakarta ada dua pilihan akses; melalui Rangkasbitung dan Sukabumi. Kebanyakan lebih memilih jalur yang kedua karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Saya pun demikian.

Baru minggu lalu saya akhirnya melakukan perjalanan darat melalui Pelabuhan Ratu dengan tujuan akhir Sawarna. Bagi orang yang masih bertanya-tanya apa istimewanya Sawarna, jujur saya akan bingung menjawab. Masalahnya, di sini ada banyak hal yang sangat menarik perhatian saya. Lokasi wisatanya pun tidak hanya satu, dengan beragam keunikan masing-masing.

Mari kita telusuri cantiknya Sawarna satu demi satu.

Pantai Pasir Putih Ciantir, tujuan utama wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Tujuan utama pelancong adalah Pantai Pasir Putih Ciantir, yang memang merupakan objek utama di sini. Untuk mencapai pantai ini, wisatawan harus meninggalkan kendaraan roda empatnya di tepi jalan atau di halaman rumah-rumah penduduk yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat parkir darurat. Saya memilih untuk meninggalkan mobil di penginapan dan berjalan kaki menuju ke pantai ini.

Dari jalan raya, saya melewati jembatan gantung yang menjadi ikon daerah ini. Di depan jembatan tertulis bahwa Desa Sawarna adalah desa ramah lingkungan. Sayangnya saya malah agak bingung membaca hal ini karena kenyataannya sepeda motor lalu lalang melalui jembatan menuju ke desa, baik motor-motor ojek maupun milik wisatawan yang membawa kendaraan roda dua. Bagaimana tidak? Di seberang jembatan ini, terdapat puluhan penginapan yang penuh sesak pengunjung.

Saya harus berjalan sekitar 10 menit, melewati desa, penginapan beraneka rupa, beberapa petak sawah, untuk sampai di pantai. Di Pantai Pasir Putih sendiri warung-warung sudah banyak bermunculan, banyak di antaranya yang menawarkan bale-bale yang bisa diinapi pelancong dengan dana terbatas.

Saya bisa mengerti mengapa pantai ini menjadi tujuan utama pelancong. Pantainya panjang dengan pasir yang luas enak untuk bermain. Ombaknya kencang sehingga ada larangan untuk berenang walaupun banyak yang tak mengindahkannya. Selain lokasi yang dekat dengan pusat akomodasi, keberadaan warung dan toilet umum memudahkan wisatawan. Pengunjung kala itu membludak. Terus terang, Pantai Pasir Putih bukan pantai favorit saya di Sawarna.

Tebing karang Tanjung Layar yang menjadi favorit fotografer. (Olenka Priyadarsani)

Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari Pantai Pasir Putih, terdapat pantai lain yang bisa dikatakan selalu menjadi objek foto untuk mempromosikan Sawarna. Tanjung Layar memilih dua buah karang besar tinggi. Di kanan kirinya terdapat terdapat tebing karang yang selalu jadi incaran para fotografer. Seringkali ombak besar tiba-tiba datang melapisi tebing karang bagaikan tirai putih.

Batu-batu karang menjulang di Tanjung Layar. (Olenka Priyadarsani)

Kita dapat menyeberang dari bibir pantai ke karang-karang besar di tengah. Tentunya harus berbasah-basah, karena tinggi air laut yang diseberangi berkisar antara selutut hingga setinggi dada, tergantung pasang surutnya laut saat itu. Tanjung Layar juga jadi favorit para pemburu matahari terbenam.

Berkebalikan dengan Tanjung Layar untuk melihat matahari terbenam, Legon Pari (Laguna Pari) adalah lokasi untuk melihat matahari terbit. Letaknya sekitar 6 km dari Desa Sawarna, hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang masih berbatu.

Tebing karang membatasi Pantai Gua Langir dengan dunia luar. (Olenka Priyadarsani)

Pantai favorit saya adalah pantai di Gua Langir, berada sekitar 2 km dari Pantai Pasir Putih. Bahkan ketika akhir pekan panjang, pantai ini sepi pengunjung. Ketika itu hanya ada keluarga kecil kami di sana, bagaikan pantai pribadi. Sesuai namanya, kawasan ini memiliki beberapa gua, yaitu Gua Langir, Gua Kanekes, Gua Seribu Candi, dan Gua Harta Karun. Kabarnya, gua-gua di sini dulunya dipakai oleh penjajah Jepang untuk bersembunyi.

Pantai Gua Langir terlihat dari balik hutan. (Olenka Priyadarsani)

Pantai di Gua Langir sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang seolah-olah membatasi area ini dengan dunia luar. Pasirnya lembut, suasananya agak mistis karena selain dikepung tebing, juga dikelilingi hutan yang masih lebat. Ah, mungkin juga suasana terasa mistis karena di pantai itu hanya ada saya, suami, dan anak kami yang masih kecil. Anak saya malah dengan santainya tidur-tiduran di atas pasir yang lembut.

Telusur Gua Lalay menjadi aktivitas alternatif selain pantai. (Olenka Priyadarsani)
Di Sawarna ada juga Gua Lalay yang kini ramai dikunjungi untuk melakukan caving (telusur gua). Berbeda dengan Gua Langir yang kering, pelancong harus mau berbasah-basahan bila masuk ke Gua Lalay. Namun, airnya pun tidak terlalu tinggi, hanya sebatas mata kaki dan betis. Jadi, Gua Lalay tidak berbahaya untuk dimasuki oleh mereka yang mungkin belum berpengalaman melakukan telusur gua.

Perahu-perahu nelayan menghiasi Pantai Pulo Manuk. (Olenka Priyadarsani)

Ada beberapa pantai lain yang berada di sekitar Sawarna. Salah satunya adalah Pantai Pulo Manuk, sebuah nelayan yang berkarang. Di sini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulo Manuk. Saya sangat menikmati perjalanan dari Desa Sawarna menuju ke Gua Langir dan Pulo Manuk karena di kanan kiri jalan adalah hutan lebat hijau yang dikelola Perhutani. “Andai saja semua hutan di Indonesia lestari seperti ini,” kata suami saya saat itu.

Pantai yang lebih jauh lagi berada di Bayah, bernama Karang Teraje. Tampaknya ini adalah lokasi wisata yang tidak baru lagi, sayangnya kurang terawat. Kami melihat banyak pekerja menggunakan overall berwarna oranye di sekitar sini. Ternyata sedang dibangun sebuah pabrik semen besar. Kami hanya bisa berharap pembangunan besar-besaran ini tidak akan merusak alam Sawarna.

Jangan kotori Sawarna
Satu hal yang sangat mengganggu saya ketika berwisata di dalam negeri adalah sampah. Mungkin faktor ini juga yang mengganggu pandangan objektif saya terhadap Pantai Pasir Putih Ciantir. Di Indonesia, semakin banyak orang yang berkunjung sama artinya dengan semakin banyak sampah berserakan. Kenapa yang cantik seperti ini kita kotori?

Yang paling banyak ditemui adalah botol air mineral berserakan. Banyak pula bungkus-bungkus makanan ringan, wadah mi instan, bahkan popok sekali pakai kotor. Padahal, biasanya warung-warung yang hanya beberapa langkah dari bibir pantai menyediakan tempat sampah. Herannya, di Pantai Gua Langir yang sepi pun masih terlihat tumpukan botol air mineral. Apa susahnya sih membawa tas plastik untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah?

Di Pantai Pasir Putih, kami melihat seorang laki-laki bolak-balik memunguti sampah di pasir. Suami saya langsung mengajaknya mengobrol. Namanya Egi, ia adalah salah satu dari tiga penjaga pantai di Ciantir ini. “Saya nggak tega lihat pantainya kotor, Mas!” saya menguping dari tempat saya duduk. Bayangkan saja, ada ratusan pengunjung pantai yang beramai-ramai membuang sampah sembarangan, sementara hanya ada beberapa orang seperti Egi yang memiliki hati besar untuk membersihkannya. Mau jadi apa pariwisata negara kita?

Baca juga cerita perjalanan Olenka di http://backpackology.me

Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu


Apa sih yang terlintas di benakmu ketika mendengar tentang Pelabuhan Ratu? Mungkin pantai? Nyi Roro Kidul? Atau malah Mak Erot? Saya sih langsung terbayang film-film Suzana. Dan minggu lalu terpaksa kami menginap di Pelabuhan Ratu. One night. Nggak lagi deh.

Pantai Karang Pamulang
Pantai Karang Pamulang

Ceritanya kami sedang dalam perjalanan dari Lembang ke Sawarna, via Cianjur, masuk ke Kab Sukabumi, melalui Pelabuhan Ratu. Hujan deras sore itu hampir-hampir sepanjang Sukabumi. Oliq sebenarnya tidak rewel karena tidur nyenyak terus di mobil. Tapi setelah nyanyi Pok Ame-Ame sampai seratus kali, anaknya mulai bete juga. “Aik mau puyang…aik mau puyang!” Demikian juga dengan simbok dan bapaknya.

Ketika sudah tidak mungkin untuk mencapai Sawarna sebelum Maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di tengah hujan deras kami lirik kanan kini cari penginapan. Penginapan pertama namanya Pondok Dewata atau semacamnya, tampak luar seram. Tapi apa ada penginapan nggak seram di Pelabuhan Ratu? Kalau istilah Puput semuanya “hotel Dono”, alias hotel-hotel cocok jadi setting film-film masa silam Dono-Kasino-Indro. Andai saja hujan tidak sedemikian derasnya, mungkin kami akan ke Karang Aji Beach Villa di Cimaja.

Ada penginapan di sebelah kanan, entah apa namanya, kami masih ragu-ragu. Akhirnya Puput membelok ke kiri, ke sebuah penginapan dengan embel-embel “Seaside Resort”. Namanya Bunga Ayu. Saya sih sudah menduga, ini pasti penginapan masa lampau.

Ya sudahlah, namanya sudah capek, akhirnya kami check in di Bunga Ayu ini. Kamarnya memang menghadap ke pantai dengan view pelabuhan dan kapal-kapal nelayan. Tapi ya itu tadi, hotel Dono. Lampau, silam, prasejarah.

Waktu digendong ke sini, Oliq nangis, “Aik mau kuar, aik ke cana-cana!” Artiya Oliq mau keluar, mau ke sana – sambil menunjuk arah luar. “Ni hotey jaman duyu banget!” Terbiasa melihat gambar pesawat, Oliq sudah bisa membedakan kuno dan modern, misalnya A380 akan dia bilang “wawa jaman cekanang (pesawat jaman sekarang)” dan DC-9 sebagai “wawa jaman duyu (pesawat jaman dulu)”. Dan akan dia tambahi “banget”, misalnya untuk pesawat-pesawat perang jaman Perang Dunia.

Awalnya Oliq sama sekali tidak mau masuk kamar. Maunya di teras. Tapi karena sudah capek, akhirnya mau juga dia main-main di kasur. Ternyata bonus penginapan ini berada di kamar yaitu: nyamuk dua juta ekor!

Laaaah, Oliq itu di mana-mana selalu jadi santapan nyamuk. Pernah semalam di Garut, ada 60 bentol di badannya – 20 di antaranya di muka. Saya langsung panik. “Ayo dimandiin sekarang terus diblonyoh Autan!” Saya dan Puput berjibaku memandikan anak yang meronta-ronta karena walau di pantai ternyata airnya dingin seperti di pegunungan. Ada sih keran air panas tapi saat itu tidak menyala. Anaknya jerit-jerit, saya cuma bisa bilang, “Di hotel jaman dulu banget nggak ada air panasnya, Aik!”

Sukses memandikan, langsung si anak dipakaiin piyama, dan diolesi Autan di seluruh tubuhnya, termasuk muka. Anaknya sudah agak adem ayem ketika AC sudah dinyalakan dan TV pun menyala. Mungkin jadi agak tidak seram. Untungnya, walaupun masa silam, kusam, dan kotor, kamar tidak berbau pengap.

Si mas karyawan hotel datang membawa Baygon semprot. Kami keluar dan Puput menyemprot seluruh kamar. Di kamar kiri kanan kami ada bapak-bapak biker yang ramai. Ada event motocross di Pantai Muara Sawarna.

Cuma agak deg-degan ketika Puput keluar beli air mineral sementara saya dan Oliq di kamar bersama dengan mayat-mayat nyamuk yang bertebaran di seluruh penjuru. Untung, malam berlalu singkat dan tidak ada yang aneh-aneh. Dan luar biasanya, tidak ada gigitan nyamuk sama sekali di Oliq – dengan jumlah yang dua juta itu!

 

Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Ombak di sini cocok untuk surfing
Ombak di sini cocok untuk surfing

 

Kami bangun sebelum matahari terbit dan setelah shalat Subuh jalan-jalan ke Pantai. Pantainya kotor dan berpasir gelap. Isenglah kami foto-foto sementara Oliq mainan tripod. “Ni kaya manana bandaya,” katanya. Maksudnya “Ini kaya menara bandara”.

"Jadi manana!"
“Jadi manana!”

Sarapan berupa nasi goreng dan/atau roti tawar panggang, lumayan lah ada rasanya. Saya buru-buru pengen langsung ke Sawarna aja. Acara mandi kembali jadi prahara. Oliq mandi jerit-jerit karena airnya dingin. Selesai dia mandi, Puput mandi dan airnya jadi hangat – cenderung panas malah. Saya mandi dengan air panas juga. Waktu Puput sikat gigi, air wastafel tiba-tiba berubah jadi coklat kelam. Iiihhhh berasa masuk ke film Suzana beneran nggak sih? Lebay ya, itu kan paling karena pipanya aja yang kotor.

Tapi tetap aja kami buru-buru packing dan check out, untuk menuju ke Sawarna yang lebih “muda” dan menjanjikan. Apa sih kaya slogan kampanye aja.

Dan baru saat mau berangkat itu saya melihat ada tulisan di atas pintu kamar, “1981” tahun pembangunan hotel. Yeeeee, seumur dong sama saya dan Puput!!!

A kiss from Nyi Blorong - hayahh!
A kiss from Nyi Blorong – hayahh!
Narsis sejenak
Narsis sejenak

 

Saat menuju ke Sawarna ini kami melewati Hotel Inna Samudra yang legendaris dengan kamar Nyi Roro Kidul.

Beberapa hari di Sawarna Oliq masih bolak-balik bilang, “Aik enggak mau puyang ke hotey jaman duyu banget. Aik tatuk.”

Simboknya deg-degan, “Takut apa di hotel jaman dulu banget?”

“Aik tatuk cama AC – ada boyongan.” Maksudnya Aik takut sama AC ada bolongan – entah maksudnya apa. “Di hotey jaman cekanang Aik enggak tatuk.” Gitulah, Oliq menyebut pondokan kami di Sawarna hotel jaman sekarang dan dia tidak takut!

Sudah ah, semalam saja di Pelabuhan Ratu!

Indahnya Pantai-Pantai Gunungkidul


Siapa menyangka kabupaten di wilayah selatan DIY yang dulunya sering dikabarkan kekurangan air kini ijo royo-royo, ramai, dan sangat berkembang. Perkembangan utama yang kasat mata adalah dalam bidang pariwisata. Jaman saya kecil dulu, pantai di Gunungkidul ya tahunya cuma Baron, Krakal, Kukup, lha sekarang kok buanyaaak banget yang baru. Kabarnya ada sekitar 48 pantai (and counting!), saya baru ke 13 pantai. Di bawah ini ringkasannya sesuai abjad:

Pantai Baron– Pantai lama yang menjadi gerbang masuk ke pantai-pantai di wilayah Gunungkidul.

Pantai Indrayanti – Nama resminya Pantai Pulang Syawal. Merupakan pantai paling populer saat ini. Pantainya bersih, indah, namun bibir pantai sempit. Selalu overcrowded saat liburan. Di sini banyak kafe-kafe dan payung-payung yang disewakan, meniru seperti di Bali atau Phuket. Pantai ini tepat di seberang jalan, saat pasang air bisa sampai ke jalan raya. Hindari Pantai Indrayanti saat libur sekolah, macet total.

Pantai Krakal, berbatu
Pantai Krakal, berbatu

Continue reading Indahnya Pantai-Pantai Gunungkidul

Mengejar Senja di Ujung Genteng (Republika Online, 15 Juni 2013)


Sebenarnya sudah lama saya berniat pergi ke Ujung Genteng, namun baru terwujud akhir pekan lalu. Wilayah di ujung selatan Kabupaten Sukabumi ini memang terkenal akan keindahan pantainya.

Selain itu, Ujung Genteng juga menjadi kawasan konservasi penyu yang sangat terkenal. Kali ini niat utama saya adalah mengejar pemandangan matahari tenggelam. Read more

Senja di Ujung Genteng