Tag Archives: monorel

Berburu Wisata Kuliner Jalanan Paling Meriah di Jalan Alor, Kuala Lumpur


Jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Malaysia, rasanya kurang nikmat tanpa berkunjung ke Jalan Alor. Apa sih yang istimewa di Jalan Alor? Ya, disinilah pusat wisata kuliner jalanan alias street food yang paling meriah dan happening di seantero KL. Sebenarnya kuliner jalanan di sini sedikit berbeda dari kebanyakan kuliner jalanan lainnya karena sebenarnya makanan yang dijajakan mayoritas berasal dari restoran permanen di pinggir jalan, bukan kaki lima seperti biasanya. Namun, kursi dan mejanya digelar hingga memenuhi separuh badan jalan sehingga terkesan sangat ramai. Ditambah lagi lampion-lampion yang digantung sepanjang jalan menambah semarak suasana yang sudah ramai.

 Jalan Alor, pusat wisata kuliner jalanan paling happening di seantero KLJalan Alor, pusat wisata kuliner jalanan paling happening di seantero KL

Jalan Alor sangat mudah dijangkau dengan transportasi kereta monorel. Anda bisa turun di Stasiun Imbi maupun Bukit Bintang. Kalau dari Stasiun (Stesen dalam Bahasa Melayu) Imbi, Anda tinggal berjalan menyusuri Lorong Pudu atau Jalan Bulan menuju Jalan Bukit Bintang, lalu arahkan langkah ke Jalan Changkat Bukit Bintang, maka Jalan Alor akan terlihat jelas di kiri Anda. Jika dari Stesen Bukit Bintang, tinggal langkahkan kaki ke Jalan Bukit Bintang seperti halnya petunjuk di atas. Dari Plaza Low Yat, pusat penjualan IT dan telekomunikasi terlengkap di KL, Jalan Alor bisa dijangkau kira-kira 10 menit jalan kaki.

 

Suasana jalan yang ramai dan meriah di kawasan Jalan Alor, KL
Suasana jalan yang ramai dan meriah di kawasan Jalan Alor, KL

Suasana Jalan Alor akan mulai semarak menjelang malam. Jalan ini sebenarnya hanyalah sebuah jalan aspal lurus biasa dengan restoran-restoran di sepanjang jalan. Yang membuat berbeda adalah semua restoran memasang kursi dan meja makan hingga jalan nyaris tertutup. Namun demikian, mobil masih bisa lewat meski dengan perlahan-lahan. Tak cukup sampai di situ, lampion-lampion merah khas tradisi Cina dan lampu-lampu jalan bergelantungan sepanjang jalan, membuat suasana begitu meriah.

 

Lampion merah khas budaya Cina turut menyemarakkan malam yang ceria di Jalan Alor
Lampion merah khas budaya Cina turut menyemarakkan malam yang ceria di Jalan Alor

Olen, Oliq, dan saya berjalan perlahan-lahan menyusuri Jalan Alor sembari melihat-lihat menu yang ditawarkan. Sebagian besar restoran di sini menawarkan Masakan Cina, karena memang pemiliknya adalah warga Malaysia etnis Tionghoa. Nah, pastinya buat umat muslim harus hati-hati karena kebanyakan restoran ini menjual babi sebagai salah satu menu andalan. Tapi jangan kuatir, ada juga yang hanya menjual seafood yang dimasak khas Cina, pastinya dengan tampilan yang sangat menggoda selera.

Oya, yang khas dari Jalan Alor adalah para sales restoran berlomba-lomba menawarkan menu kepada setiap pejalan kaki yang lewat. Tidak perlu merasa terganggu, meski lumayan intens mendekati Anda, mereka cukup sopan. Kalau Anda tidak mau cukup geleng-geleng atau diam saja, mereka pun tidak masalah apalagi sampai marah-marah.

Kami terus menyusuri Jalan Alor hingga pertengahan jalan. Lepas pertengahan, ternyata deretan restoran berubah dari masakan Cina menjadi masakan Thailand. Rupanya seperti ada zona di Jalan Alor ini, ada Zona Masakan Cina dan Masakan Thailand. Ada pula masakan unik seperti Frog Porridge alias bubur kodok khas Thailand.

 

Salah satu kedai makanan unik di Jalan Alor, Thai Frog Porridge
Salah satu kedai makanan unik di Jalan Alor, Thai Frog Porridge

Berhubung dari kemaren Simbok memang ngidam sate ayam, kami mencoba peruntungan mencari sate disini. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sukses menemukan bakul sate yang hanya menjual sate ayam, sapi, dan kambing. Di sini olahan sate agak berbeda dengan di Indonesia karena bumbu satenya cenderung gurih dan diberi wijen, bukan bumbu kacang dan kecap seperti umumnya di Indonesia. Dagingnya cukup empuk dan tidak prengus, sepertinya dia memang direbus terlebih dahulu. Bumbunya juga cukup enak, meskipun terasa aneh karena persepsi otak Jawa yang mengharuskan sate dibumbui kacang dan kecap hehehe….

 

Kudapan kami malam itu, Alor Satay, yang bercitarasa berbeda namun tetap lezat
Kudapan kami malam itu, Alor Satay, yang bercitarasa berbeda namun tetap lezat

Tiba saat membayar, harga satu porsi sate isi 10 tusuk adalah RM 12, tapi tidak termasuk nasi. Kami juga memesan satu bakul nasi untuk bertiga seharga RM 3 saja. Lalu minuman es jeruk dan es sirup harganya hanya RM 2 per gelas. Jadi total seorang kira-kira hanya menghabiskan RM 15. Cukup murah untuk ukuran makan-makan di tempat wisata kuliner yang paling populer di KL ini. Sekedar perbandingan saja, sekali makan di KLCC paling murah sekitar RM 8 termasuk minum, tapi itu biasanya hanya nasi lemak bungkus dan es the. Kalau sate pasti di atas RM 10. Oya, RM 1 kira-kira Rp 3700 untuk kurs saat ini.

Ada pula pemandangan unik di Jalan Alor ini. Saat kami sedang makan, ada 2 orang pengamen yang lewat sambil menyanyikan lagu Cina. Rupanya pengamen ini adalah ibu tua yang buta dan dituntun seorang ibu yang lebih muda. Mereka hanya menyanyi sambil berjalan, tapi tidak menodong ke pengunjung seperti kebanyakan pengamen lainnya. Jadi kalau Anda ingin sedikit berbagi, tinggal datangi mereka dan memasukkan uang ke dalam kotak donasi. Saran saya, sumbanglah sedikit rejeki Anda untuk mereka yang tetap mau berusaha di tengah keterbatasan fisik tanpa menggangu orang lain.

 

Seorang wanita buta dan kawannya yang membantu membawa kotak donasi, salah satu pengamen Jalan Alor yang turut mencari rezeki di Jalan Alor
Seorang wanita buta dan kawannya yang membantu membawa kotak donasi, salah satu pengamen Jalan Alor yang turut mencari rezeki di Jalan Alor

Selain restoran-restoran, sebenarnya ada pula warung kaki lima yang menjual masakan melayu, aneka minuman, hingga lapak CD. Pokoknya, jangan pergi ke KL Malaysia tanpa mengudap di Jalan Alor. Bon Apetite….

Memahami Transportasi Umum di Tokyo dan Jepang (bag. 2, Mengenal rute kereta Tokyo)


Setelah mengenal jenis-jenis kereta pada tulisan pertama, selanjutnya Anda perlu mengetahui penyedia layanan kereta, rute-rute kereta tersebut, dan bagaimana memanfaatkan jalur yang ada untuk menuju lokasi tujuan Anda.

JR East Nishi Ogikubo station dengan kereta Chuo Line-Sobu Line

Kereta jalur biasa (saya sebut demikian untuk membedakan dengan kereta bawah tanah, shinkansen, maupun monorel) dioperasikan oleh Japan Rail East Company atau disingkat JR East. Perusahaan ini tergabung dalam JR Group yang juga mengoperasikan shinkansen. Rute yang dilalui kereta ini disebut JR East lines. Jalur ini terdiri dari satu jalur yang melingkar dan 35 jalur biasa (tidak melingkar) yang tersebar dari pusat kota hingga luar kota Tokyo. Total ada 36 jalur JR East. Anda bisa memperoleh peta JR East lines di sini. Jalur utama JR East adalah jalur yang melingkari pusat kota Tokyo, dikenal dengan nama Yamanote line (jalur no.9 warna hijau muda). Bisa dibilang bahwa jalur ini melingkari pusat bisnis, komersial, pemerintahan, dan kawasan elit kota Tokyo sehingga jalur ini menjadi jalur paling vital. Semua rute kereta di Tokyo, baik yang dioperasikan JR East maupun perusahaan lain, akan melewati atau bahkan berbagi jalur dengan Yamanote line. Continue reading Memahami Transportasi Umum di Tokyo dan Jepang (bag. 2, Mengenal rute kereta Tokyo)

Memahami Transportasi Umum di Tokyo dan Jepang (bag. 1, Macam-macam kereta)


Tokyo merupakan kota dengan sistem transportasi umum paling komprehensif sekaligus paling rumit. Kota ini memiliki jaringan transportasi berbasis rel alias kereta yang  memiliki jangkauan sangat luas dengan reputasi sangat bagus. Kereta di Tokyo terkenal sangat tepat waktu, nyaman, dan aman. Tak heran jika kereta merupakan moda transportasi utama di kota Tokyo maupun Jepang  secara keseluruhan. Namun, sistem transportasi ini juga cukup rumit karena ada beberapa penyedia layanan yang memiliki rute masing-masing, tidak seperti di Indonesia yang hanya dimonopoli satu penyedia yaitu PT KAI. Rute-rute kereta tersebut kadang-kadang melewati rel maupun stasiun yang sama, namun seringkali rute dan stasiunnya berbeda walaupun dalam wilayah yang sama.

Kereta bawah tanah (Subway) di Tokyo, serupa dengan KRL

Continue reading Memahami Transportasi Umum di Tokyo dan Jepang (bag. 1, Macam-macam kereta)