Tag Archives: melbourne

Jejak Secarik Jarik Batik


You can’t go wrong with jarik batik -Backpackology

Hari itu suhu Melbourne mencapai 40 derajat Celcius. Terik membakar kulit yang sebenarnya sudah terlalu familiar dengan panas. Saya dan suami terpaksa mengibarkan bendera putih melawan panasnya Melbourne di bulan Januari. Kami menyerah, kalah, bersimbah peluh menuju oase terdekat, yaitu keran air di Shrine of Remembrance — sebuah monumen bersejarah di pusat kota. Lantas, kami menggelar jarik batik yang biasanya untuk menggendong Oliq (saat itu usia 6 bulan), di atas rumput. Jarik batik menjadi alas duduk.

Penyelamat dari panasnya Melbourne
Penyelamat dari panasnya Melbourne

Continue reading Jejak Secarik Jarik Batik

Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini


Dalam postingan sebelumnya saya sempat sekilas menceritakan tentang teman yang mendadak buka baju di tengah acara kuliah. Well, sebenarnya masih banyak cerita absurd tentang perkuliahan di Australia.

monash
Ini waktu Oliq napak tilas perjalanan Simbok 5 tahun sesudahnya

Ingat, sistem perkuliahan di luar negeri tidak selalu serupa, tergantung universitas, jurusan, dan dosennya.

Continue reading Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini

Pengalaman Kerja Part Time di Australia


Kandidat PhD jadi sopir taksi, dosen universitas terkemuka di Indonesia rela bangun tengah malam buat jadi cleaning service di kampus, calon diplomat jadi pengantar junk mail naik sepeda? Biasa banget di Australia.

IMG_0435 Continue reading Pengalaman Kerja Part Time di Australia

8 Tempat Wisata Gratis di Melbourne


Majalah The Economist menobatkan kota Melbourne di Australia sebagai kota ternyaman di dunia tahun 2011. Bisa dibayangkan, kota ternyaman pasti juga menuntut standar hidup yang tinggi. Imbasnya bagi wisatawan dari Indonesia adalah anggaran yang membengkak — baik untuk akomodasi, makan, maupun transportasi.

Namun, jangan sampai keinginan kita berkunjung ke sana sampai surut. Di bawah ini 8 objek wisata gratis di Melbourne yang dapat dikunjungi.


Trem City Circle. Foto: Olenka Priyadarsani

1. Trem City Circle

Trem adalah salah satu transportasi andalan kota ini, terutama di sekitar pusat kota. Untuk melayani wisatawan, pemerintah negara bagian Victoria telah menyediakan trem melingkari kota (city circle) gratis yang mengelilingi pusat bisnis dan pusat kota.

Rute trem ini adalah Flinders Street > Harbour Esplanade > Docklands Drive > La Trobe Street > Victoria Street > Nicholson Street > Spring Street > Flinders Street dan arah kebalikannya. Di dalam trem diberikan informasi objek-objek wisata yang dilewati. Saya merekomendasikan Anda yang baru pertama kali ke Melbourne untuk naik trem gratisan ini. Anda dapat menaiki trem di tempat-tempat yang bertanda “city circle”. Sangat mudah.

2. Shrine of Remembrance

Monumen ini didirikan untuk menghormati prajurit yang bertempur di Perang Dunia I. Monumen ini dikelilingi oleh taman berumput dan pohon-pohon rindang. Letaknya tidak jauh dari pusat kota dan mudah dicapai dengan trem. Lokasinya yang bagai taman terbuka membuat pengunjung dengan bebas keluar-masuk tempat ini.

3. Royal Botanic Gardens

Kebun Raya Melbourne ini terletak bersebelahan dengan Shrine of Remembrance dengan luas 36 hektare. Di sini ada lebih dari 50 ribu tanaman, dan banyak yang merupakan tanaman khas Australia. Di sini ada juga Children’s Garden yang dibuat secara khusus agar anak-anak dapat bebas bermain dan belajar.

4. Parliament House

Gedung parlemen secara resmi digunakan oleh Dewan Negara Bagian Victoria. Terletak di pusat kota, tepatnya di Spring Street, sangat mudah untuk mencapainya dengan trem atau kereta api. Selama anggota dewan tidak sedang bersidang, Anda dapat mengikuti tur ke dalam gedung yang menjadi cagar budaya ini.

5. Southbank

Tidak mungkin Anda pergi ke Melbourne tanpa berjalan-jalan menyusuri Sungai Yarra. Seperti namanya, Southbank terletak di tepi sebelah selatan sungai, di mana kafe-kafe berjajar di sepanjang trotoar. Kalau Anda merasa harga makanan dan minuman di kafe-kafe tersebut terlalu mahal, jangan berkecil hati! Anda dapat membeli kopi dari kedai-kedai yang lebih murah dan menikmatinya di kursi-kursi taman yang banyak tersedia di sini.

6. Queen Victoria Market

Tidak ada tempat lain di Melbourne yang dapat menandingi Queen Victoria Market atau sering disebut VicMart untuk urusan berbelanja. Kalau Anda sedang tidak ingin berbelanja, jalan-jalan di pasar ini juga cukup menyenangkan, kok. VicMart menjual cenderamata, baju, sayur, buah-buahan dan sebagainya. Jangan heran kalau Anda bertemu penjual dari Indonesia, sebab mahasiswa yang bekerja paruh-waktu di pasar. Pasar ini tutup pada hari Senin dan Rabu.

7. Flinders Street Station

Stasiun kereta api ini adalah salah satu ikon budaya kota Melbourne. Stasiun yang dibangun pada tahun 1854 ini adalah stasiun yang paling banyak digunakan di kota ini. Terletak di sudut Flinders Street dan Swanston Street, stasiun ini melayani para komuter yang tinggal di pinggir kota yang bekerja di pusat kota.

8. Pantai St Kilda

Pantai ini juga salah satu ikon kota ternyaman di dunia ini. Pantai St Kilda hanya terletak sekitar 6 km dari pusat kota. Salah satu keunggulan dari pantai ini adalah taman-taman berumput dan pohon-pohon palem di sekitar pantai, jadi bila matahari terlalu terik Anda tinggal berteduh di bawah pohon sambil duduk di rerumputan.

Review: Pieces of Melbourne (Free E-Book)


Melbourne selalu dekat dengan hati saya, kebetulan dulu pernah tinggal di kota cantik nan nyaman ini selama 1,5 tahun. Ketika Tesya dari Tesyasblog mengatakan akan melaunching e-book tentang Melbourne, saya jadi ikut-ikutan excited!

tesyasblog pieces of melbourne cover

Walaupun pernah tinggal di Melbourne, saya sempat kembali ke sana pada Tahun Baru 2012 bersama Puput dan Oliq. Kalau dulu merasa sebagai orang yang tinggal di sana, kali itu kami adalah wisatawan.

Nah, kenapa memilih Melbourne? Australia adalah negara yang sangat menarik untuk dikunjungi dengan berbagai landmarknya. Selain itu jarak yang tidak terlalu jauh dari Indonesia pun membuat akses ke sana tidak terlalu sulit, minimal tiketnya tidak akan semahal ke Eropa atau ke Amerika Serikat. Dan selain Sydney, Melbourne adalah kota ‘wajib kunjung’.

Tesya dalam e-book ini fasih menjelaskan perjalanan yang ia lakoni bersama Rene, suaminya. Bertolak dari bandara Tullamarine, mereka pun menjelajah kota Melbourne dan sekitarnya. Perasaan saya sampai haru biru melihat foto-foto yang ditampilkan dalam e-book ini. Saya akrab betul dengan lorong-lorong Flinders Station (yang kadang-kadang pesing), sisi-sisi Yarra River, gang-gang kecil di CBD.

E-book ini juga mengilustrasikan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata yang berada di negara bagian Victoria, seperti Great Ocean Road dan Phillip Island. Selain ada penjelasan tentang cara paling mudah ke sana (Anda tidak perlu browsing, Tesya sudah melakukannya untuk Anda!), ada juga rincian biaya. Hebat sekali, saya saja tidak pernah ingat harga-harga tiket yang dibayarkan.

Penggambaran tentang kota Melbourne (City) sendiri juga mendetail, membuat kita seolah-olah dibawa ke sana. Ada banyak rekomendasi tempat wisata yang bisa dikunjungi.

Tesya juga memberikan reviewnya tentang Greenhouse Backpacker, sebuah hostel yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan bagi wisatawan dengan anggaran yang mepet. Maklum saja Australia sangat mahal, terutama kini ketika AUD mampu melebihi USD. Mewek deh kalau ingat uang kerja keras saya jadi pelayan waktu itu ditukar dengan kurs 1AUD = 7000 rupiah.

Lebih kerennya lagi, e-book ini juga memberikan ilustrasi tentang biaya tiket pesawat dari Indonesia ke Australia – dan itu penting karena ada banyak jalan menuju ke Oz. Ada pula proses dan tata cara pengajuan visa Australia.

Intinya, kalau punya rencana ke Melbourne, silakan download dan baca e-book Tesyasblog ini. GRATIS. Nah, bagi yang belum punya rencana ke sana, silakan baca juga, karena seperti kata Tesya “awalnya kami hanya mimpi mengunjungi Melbourne”.

Kunjungi Tesyasblog atau kontak Tesya di @tesyasblog