Tag Archives: madinah

Perjalanan Mencari Kota-Kota yang Nyaman bagi Seorang Muslim (bag 1 ASEAN)


Sebenarnya, sudah lama saya ingin membuat tulisan untuk menanggapi penelitian yang berjudul “How Islamic are Islamic Countries.” Eh, rupanya ada pula tulisan dari Mbak Jihan dengan judul yang sama, tautannya bisa dilihat di sini. Ulasan Mbak Jihan ini sangat menarik, saya jadi tergelitik untuk menuangkan pemikiran dan pengamatan saya sendiri terkait masalah ini.

Masjid Raya Aceh, masjid kebanggaan serambi Makkah, salah satu bangunan yang selamat dari terjangan tsunami
Masjid Raya Aceh, masjid kebanggaan serambi Makkah, salah satu bangunan yang selamat dari terjangan tsunami

Untuk lebih menghangatkan suasana, berikut kutipan dari kompas, yang juga dikutip dalam tulisan Mbak Jihan.

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Lalu bagaimana dengan negara-negara lain? Masih dari blog Mbak Jihan, ternyata negara dengan mayoritas penduduk muslim yang menempati peringkat tertinggi adalah Malaysia di urutan 39. Sementara Arab Saudi sebagai pemilik dua kota suci Makkah dan Madinah berada di peringkat 131. Sebagai perbandingan, Jerman berada di urutan 17, Amerika Serikat ada di 25, sementara Jepang menduduki peringkat ke-29.

Masjid Nabawi di Madinah, kota suci umat Islam yang tenang dan damai
Masjid Nabawi di Madinah, kota suci umat Islam yang tenang dan damai

Sebenarnya, buat saya pribadi judul “How Islamic are Islamic Countries” alias “Seberapa Islami Negara Islam” sebenarnya terasa sangat bombastis. Coba kalau dipersempit menjadi “Sebarapa Islami Seorang Muslim,” rasanya jawabannya pun sangat sulit. Apakah dinilai dari seberapa rajin dia shalat, sebarapa banyak zakatnya, sebarapa banyak hafalan Quran-nya, seberapa dalam pengetahuan Quran dan Haditsnya, dll yang sangat sulit diukur. Menurut saya, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh Allah SWT selaku Tuhan Semesta Alam. Kalau individu saja tidak bisa diukur, apalagi skala yang lebih luas seperti negara.

Pasti Anda akan kembali bertanya, apa iya tidak ada parameter untuk mengukur tingkat keislaman suatu negara?

Kalau saya sendiri sih, lebih suka menilai dalam skala kota daripada negara. Lihat saja negara kita Indonesia, kalau Jakarta dibandingkan dengan Yogyakarta saja sudah jelas sekali bedanya, apalagi dengan Banda Aceh misalnya. Dan ingat, meskipun Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, Islam bukanlah agama mayoritas di semua kota. Akibatnya, warna Islam pastinya akan berbeda antara kota Bandung yang mayoritas Islam dengan kota Denpasar yang mayoritas bukan Islam.

Anda pasti masih ingin berdebat, apa dong indikator tingkat keislaman yang saya pakai. Saya sendiri tidak suka menggunakan istilah “tingkat keislaman” alias “how Islamic” dengan alasan yang sudah saya kemukakan di atas. Namun, saya lebih suka menilai tingkat kenyamanan suatu kota dan bagaimana kemudahan pelaksanaan ibadah bagi kaum muslimin di kota tersebut. Terus, tolok ukurnya apa kalau begitu?

Kalau menurut saya, sekali lagi menurut saya, seorang pekerja kantoran biasa yang gemar jalan-jalan dan tentunya beragama Islam, indikatornya adalah fasilitas publik seperti trotoar, taman, kemudian transportasi umum (penting banget nih buat traveler kere), lalu lintas, kebersihan, ketertiban, keramahan, keamanan, dan …… yang paling penting adalah kenyamanan dan kemudahan beribadah, utamanya shalat di masjid, termasuk menemukan makanan halal.

Sekali lagi, indikator di atas adalah murni pendapat saya pribadi, boleh setuju boleh tidak. Tidak ada penelitian ilmiah dan sebagainya, hanya pengamatan dan pengalaman pribada saja. Jadi kalau Anda punya pendapat berbeda, monggo-monggo mawon, wong yang Anda lihat pastinya akan berbeda dengan yang saya lihat. Kalaupun sama, intepretasinya pun belum tentu sama. Saya tidak menyinggung masalah yang berat-berat seperti politik, ekonomi, HAM, dll…Kalau masalah ini biar Simbok Oliq saja yang bergelar Master of International Relation. Kalau saya hanya bisa nggelar kloso alias tikar.

Lalu kota-kota mana saja yang dinilai, apakah kota-kota besar seluruh dunia? Wah, kalo itu sampai tua pun bisa-bisa belum semua bisa dikunjungi. Di sini saya hanya menilai dari kota-kota yang pernah saya kunjungi saja. Alhamdulillah, saat ini sudah ada beberapa kota dari beberapa negara yang setidaknya bisa memberi gambaran luas bagi Anda.

Dimulai dari Indonesia, saya lahir dan besar di Yogyakarta, kemudian kuliah di Bandung, lanjut kerja di Jakarta, kemudian hijrah ke Balikpapan (walaupun bukan di kotanya), balik lagi ke Jakarta, hingga akhirnya awal tahun ini keluar dari Indonesia. Meluas ke negeri tetangga, kota-kota di negara ASEAN yang pernah saya kunjungi adalah Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Kota Kinabalu (Malaysia), Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), dan Ho Chi Minh (Vietnam). Lanjut ke Asia, saya pernah plesiran ke Tokyo (Jepang), Kyoto (Jepang), New Delhi (India), dan umroh ke Makkah dan Madinah (Arab Saudi). Kemudian saya juga pernah diajak Simbok Oliq kilas balik ke Meulborne dan Sydney (Australia). Lalu yang agak jauh adalah kunjungan ke benua Eropa yang meliputi Paris (Prancis), Amsterdam (Belanda), dan Stavanger (Norwegia). Yang paling jauh adalah perjalanan ke Amerika Serikat, dimana saya berkesempatan menyambangi kota San Diego, San Fransisco, Los Angeles (ketiganya di negara bagian California), dan Dallas (Texas). Alhamdulillah….

Kota San Diego dilihat dari laut, salah satu kota di Amerika Serikat yang berdekatan dengan perbatasan Meksiko
Kota San Diego dilihat dari laut, salah satu kota di Amerika Serikat yang berdekatan dengan perbatasan Meksiko

Saya mulai dari Yogyakarta. Rasanya ini kota ternyaman di Indonesia versi saya. Di sini fasilitas publik lumayan bagus dibanding kota lain di Indonesia. Transportasi umum yang berupa bis kota sudah banyak yang uzur dan ditinggalkan pelanggannya yang kebanyakan beralih ke motor (seperti kota-kota besar lainnya), namun untungnya sekarang bis Trans Jogja sudah mulai digemari warganya. Kondisinya masih lumayan bagus, sayangnya jangkauannya masih terbatas. Kotanya cukup bersih, bisa dibilang tak ada pemukiman kumuh disini. Penduduknya juga ramah. Sayangnya kini lalu lintasnya mulai semrawut dan macet karena saking banyaknya motor, sementara jalan hanya bertambah sangat sedikit. Tapi bisa dibilang ini masalah semua kota besar di Indonesia. Sementara dari segi kemudahan menjalankan ibadah, Yogyakarta juga sangat nyaman. Masjid mudah ditemukan di mana-mana, demikian juga dengan makanan halal. Sayangnya, di sini saya tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang saya, jadilah saya harus hijrah dulu dari kota tercinta ini.

Takbir keliling dengan nyaman di Yogyakarta, tapi cukup di jalan kompleks, tak perlu ke jalan besar yang bisa mengganggu pengguna jalan lain
Takbir keliling dengan nyaman di Yogyakarta, cukup di jalan kompleks, tak perlu ke jalan besar yang bisa mengganggu pengguna jalan lain

Lanjut ke Jakarta, rasanya tak perlu panjang lebar lagi. Masalah klasik banjir dan macet masih belum teratasi hingga kini. Belum lagi kebiasaan buang sampah sembarangan yang parah. Fasilitas publik pun rata-rata kondisinya memprihatinkan walaupun sekarang sudah banyak perbaikan. Meskipun tranportasi umum masih sulit diandalkan, tapi bagusnya sekarang sudah terlihat perbaikan yang nyata. Untuk urusan beribadah, secara umum sudah nyaman. Masjid dan mushola tersebar di seluruh penjuru, bahkan kadang-kadang berdekatan. Sayangnya, saya banyak menemui masjid yang berlebihan dalam mengumandangkan pengajian dan wirid. Sebelum subuh banyak masjid yang sudah mengumandangkan pengajian dari rekaman entah dari jaman kapan, kadang bahkan sampai sejam sebelum waktu subuh. Bagi saya, ini sangat berlebihan, apalagi tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW. Nabi hanya menyuruh sahabat Bilal untuk mengumandangkan adzan secara lantang sebagai tanda shalat lima waktu, itu saja. Kalau Anda datang ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, Anda hanya akan mendengar adzan dan iqomat saja yang dikumandangkan lantang dari masjid, lain itu tidak. Selain menyelisihi sunnah, pastinya sangat mengganggu warga yang sedang beristirahat, apalagi bayi dan anak kecil. Jangan salah sangka lho, saya sendiri selalu berusaha shalat subuh tepat pada waktunya dan pergi ke masjid, tapi saya sangat tidak setuju kalau suatu masjid berlebihan dalam mengumandangkan pengajian dan wirid diluar adzan dan iqomat, karena memang tidak ada tuntunan dari Nabi SAW dan sangat menggangu. Kalau hal ini, Simbok Oliq yang sensitif karena Oliq suka tiba-tiba bangun dan menangis waktu masih bayi.

Masjid kubah emas di Depok... mungkin inilah masjid paling mewah di Indonesia
Masjid kubah emas di Depok… mungkin inilah masjid paling mewah di Indonesia

Mari kita beranjak ke negeri tetangga. Dimulai dari Singapura, sepertinya negeri ini contoh yang nyaris sempurna sebuah negara maju. Fasilitas publik yang bagus dan terawat, transportasi publik berbasis rel yang menjangkau hampir semua wilayah, serta kebersihan yang sangat terjaga di setiap sudut kota merupakan idaman setiap warga kota. Namun karena Islam bukan agama mayoritas disini, mencari masjid tidak semudah seperti di kota-kota di Indonesia ataupun Malaysia, walaupun masih lebih mudah dibanding kota-kota di negara-negara Eropa. Makanan halal juga demikian, meskipun tidak semua tempat ada, namun dengan sedikit usaha pasti kita bisa menemukannya. Tapi berhubung negara ini sangat kecil, suasana disini terasa sangat padat. Dimana-mana gedung pencakar langit, entah perkantoran atau apartemen. Seperti terkurung dan cenderung membosankan bagi saya. Belum lagi harga-harga yang sangat mahal dibanding harga-harga di Indonesia atau Malaysia. Untuk tinggal sementara waktu memang nyaman, tapi untuk tinggal dalam waktu lama, saya sendiri kurang suka.

Kali ini saya akan melewati Kuala Lumpur karena akan saya ulas di bagian terakhir. Beralih ke Bangkok, secara umum fasilitas publik dan lalu lintas di sini mirip dengan Jakarta. Dulu saya datang ke sini sekitar tahun 2005 sebelum transportasi massal dibangun, jadi rasanya mirip dengan di Jakarta. Mungkin sekarang sudah lebih mendingan daripada ibukota Indonesia itu. Sisi baiknya, disini sungai masih dimanfaatkan sebagai jalur transportasi sehingga bisa mengurangi kepadatan di jalan raya. Kalau soal kebersihan dan ketertiban, menurut saya mirip-mirip dengan Jakarta, tapi entah kalau sekarang. Nah, kalau bicara masalah Islam, disini jelas minoritas, jadi mencari masjid dan makanan halal agak sulit. Biasanya masjid hanya ada di pemukiman-pemukiman Islam yang umumnya orang India – Pakistan muslim atau pemukiman Melayu. Tapi kalau makanan halal masih bisa dicari dengan sedikit usaha karena wilayah ini masih berdekatan dengan Malaysia. Jadi buat seorang muslim, kehidupan di Bangkok memang agak sulit dibandingkan di Kuala Lumpur atau Jakarta, bahkan Singapura yang juga bukan mayoritas Islam.

Menuju ke utara lagi, secara umum Ho Chi Minh City terlihat lebih tertinggal dibanding ibukota-ibukota lain di negara ASEAN. Tak heran, perang Vietnam yang baru berakhir tahun 1976 membuat kota ini terlambat melakukan pembangunan. Namun, dibalik fakta itu, saya cukup kagum dengan kemajuan yang sudah dicapai kota ini. Meskipun secara umum fasilitas publik tidak terlalu bagus, di beberapa tempat terasa sangat nyaman untuk sekedar berjalan-jalan santai. Transportasi umum masih jauh tertinggal disini, bahkan taksi pun mayoritas berupa sedan butut tanpa argo. Lalu lintasnya juga sangat padat dengan motor, namun saya merasa lebih tertib dibanding Jakarta. Yang membuat saya kagum, terasa sekali penduduknya memiliki semangat kerja yang kuat setelah masa peperangan berakhir. Yang menyenangkan salah satunya adalah harga-harga makanan yang murah disini. Oya, sekedar info saja, mata uang vietnam, dong, nilainya lebih kecil dari rupiah, satu rupiah sama dengan 2 dong. Kalau untuk kaum muslim, mencari masjid dan makanan halal lebih sulit lagi. Seperti halnya di Bangkok, masjid umumnya ada di kantong-kantong kaum India-Pakistan muslim atau Melayu. Jadi kehidupan umat Islam di sini memang agak sulit, mirip dengan di Bangkok. Namun demikian, dalam pengamatan saya kaum muslim di sini cukup bebas dalam menjalankan ibadah, tidak ada tekanan.

bersambung ke bagian Asia…

 

Kembalikan Ka’bah Kami, Ya Allah


Sekitar dua tahun yang silam, muncul sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh media Inggris The Independent berjudul Mecca for the rich: Islam’s holiest site ‘turning into Vegas’. Tulisan tersebut mungkin bukan yang pertama, namun cukup mencengangkan sekaligus menusuk ulu hati kaum muslim. Mungkin. Yang jelas saya pun jujur merasakannya.

Mekkah memang tidak punya kasino seperti di Las Vegas. Apalagi bar yang yang menyediakan free-flow beer #apasih. Tetapi dalam tulisan tersebut, dikupas betapa Mekkah – dan Madinah – mengalami overdevelopment. Pembangunan besar-besaran yang banyak didominasi oleh hotel berbintang 4 dan 5.

kabah-blog

Wajar memang apabila Pemerintah Saudi melalukan pembangunan hotel dan infrastruktur di kedua kota suci ini. Bagaimana tidak, tiap tahun jutaan jamaah berbondong-bondong datang untuk beribadah haji. Belum lagi saat ini ibadah umrah adalah sesuatu yang sangat umum. Dulu mungkin hanya bulan-bulan tertentu Arab ramai dengan jamaah umrah. Kini tidak lagi. All year round, kalau kata orang Amerika.

Masalahnya adalah pembangunan tersebut mengancam berbagai situs sejarah yang seharusnya dilestarikan.

Mari kita tinggalkan tulisan di The Independent dan kembali ke pengalaman saya.

Tahun 2012 saya berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama Puput dan Oliq. Waktu itu usia Oliq 11 bulan dan cerita lengkapnya ada di sini.

Bagi saya, Madinah itu bersih, rapi, dan indah. Well, bersih di sini mohon jangan bandingkan dengan kota-kota di Jepang atau di negara Skandinavia, ya! Lumayan bersih, lah. Maklum saja, namanya kota yang didatangi oleh berbagai bangsa dari berbagai latar belakang dan kebiasaan, mau bersih banget juga tidak bakalan.

Mekkah lain sekali. Berantakan. Semrawut dengan pembangunan di mana-mana. Oke lah, Pemerintah Saudi memang sengan memperluas Masjidil Haram agar dapat menampung jamaah lebih banyak lagi. Banyak bangunan dihancurkan demi perluasan tersebut. Kata pemandu umrah kami, “Pemerintah mengganti kerugian pemilik bangunan luar biasa banyaknya, bisa dibilang harga tanah termahal sedunia ada di sini.”

Yang sungguh membuat saya terhenyak adalah begitu banyaknya bangunan pencakar langit yang berada di dekat Masjidil Haram. Bukan masalah banyaknya – wong banyak juga penuh terus kok! Tapi apa pihak yang berwenang itu tidak memikirkan perimeternya?!!!  Bangunan-bangunan tinggi besar itu berdiri sangat dekat dengan tempat tersuci bagi umat islam ini.

Saya malah merasa kehilangan momentum di sini. Kekhusyukan pun berkurang. Mungkin sebagian juga karena saya harus melaksanakan ibadah sembari menggendong bayi. Kadang harus nyambi nyusuin juga.

Tapi sebagian lagi jelas salah Pemerintah Saudi. Lha mosok di hadapan Ka’bah, begitu mendongakkan kepala ke atas sedikit saja, yang terlihat adalah jajaran chain hotels bintang 5. Ada Makkah Clock Royal Tower milik Fairmont dengan jam raksasanya, ada Movenpick, ada Pullman. Bagi saya yang paling ngeselin itu – tepat di hadapan Ka’bah dan sedang mau khusyuk-khusyuknya ini – melihat Hilton Hotel. Langsung kebayang Paris Hilton dan video seksnya yang nggak terlalu menarik itu.

Astagfirullah.

Saya bukan orang alim. Saya hanya menulis apa adanya.

Tanpa mengurangi arti Mekkah dan Madinah sebagai dua kota terpenting umat Islam, sebelum tiba di sana ekspektasi saya lebih tinggi. Bayangan saya, Mekkah lebih suci dengan suasana yang lebih khusyuk. Lebih Islami. Nyatanya tidak demikian.

Gerai-gerai brand internasional pun bertebaran di mall-mall – dikunjungi oleh para jamaah mulai dari yang pakai burqa hingga yang masih memakai mukena sepulang menunaikan shalat di Al Haram.

Ada beberapa gerai ayam goreng yang bahkan tidak menyediakan tempat duduk bagi pelanggannya. Ya, makannya harus sambil berdiri. Padahal katanya sesuai hadits Nabi SAW, kalau makan harus sambil duduk. Terlihat banyak yang berdiri santai sambil makan. Kalau saya mungkin sudah ndeprok karena kalau berdiri bisa dijewer Puput. Ah sudahlah, malah menjalar ke tema lain “Arab Saudi Tidak Islami”.

Karena tanggung topiknya udah nyerempet, sekalian saja saya ceritakan pengalaman terakhir di imigrasi Jeddah.

Saya akan bilang terus terang Bandara King Abdul Aziz di Jeddah itu bandara dengan proses imigrasi dan custom paling brengsek se-dunia. Untuk melalui proses ini jamaah harus antri berdasarkan jenis kelamin. Loket hanya dua yang dibuka, sementara antrian sangat panjang, padahal banyak di antara jamaah yang merupakan orang berusia lanjut.

Setelah antri hampir tidak bergerak selama 30 menit, Oliq rewel minta menyusu. Saya cuek saja duduk ndeprok di lantai untuk menyusui, dan beringsut maju ketika antrian juga maju. Mungkin karena melihat inilah, seorang petugas akhirnya menyuruh saya dan beberapa jamaah berusia sangat lanjut untuk diprioritaskan.

Bahkan setelah pemeriksaan dengan metal detector, kami masih harus masuk ke dalam sebuah bilik untuk digeledah manual oleh petugas perempuan. Masya Allah, galaknya minta ampun. Ia memarahi seorang jamaah Indonesia berusia lanjut, karena tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh si petugas. Bagaimana bisa paham, ia berbicara dalam Bahasa Arab dengan nada yang membentak-bentak? Sambil digeledah saya semprot dia pakai bahasa Inggris, jadi kami berdua seperti dua orang gila berteriak-teriak dalam dua bahasa yang berbeda. Biarlah, mungkin pekerjaannya membosankan tapi tidak seharusnya dia memperlakukan orang-orang tua sedemikian kasarnya.

Karena calon penumpang yang banyak sementara pintu hanya sedikit, lebih dari satu jam saya dan Oliq menunggu sampai akhirnya Puput muncul. Bahkan keberangkatan pesawat Garuda yang membawa kami ke Jakarta pun harus terlambat karena calon penumpang yang tak kunjung siap masuk pesawat.

Seharusnya saya beri judul Kembalikan Ka’bah Kami ya Pemerintah Saudi. Perbaiki layananmu kepada orang-orang yang datang ke Baitullah. Kau sudah sangat beruntung diberi amanah menjaga tempat yang begitu suci. Tempat yang menjadi tujuan bagi ratusan juta hamba-Nya.

Pokoknya saya ingin lain kali ke sana, semuanya sudah harus diperbaiki, hai Raja Abdullah!

*kowe sopo to nduk, bengi-bengi ngomyang*

Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah


Alhamdulillah. Kata itu terucap dalam hati ketika saya tiba di hadapan Ka’bah di Masjidil Haram. Alhamdulillah tidak hanya saya dan suami dapat berkunjung ke Baitullah, melainkan dengan bayi kami yang pada saat itu berusia 11 bulan. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melancarkan perjalanan keluarga kecil kami ini untuk pergi beribadah umrah.

Sebenarnya niat untuk menjalankan ibadah umrah ini sudah ada pada tahun lalu. Namun, karena pada waktu yang sudah ditetapkan saya mengandung tujuh bulan, rencana terpaksa tertunda satu tahun. Ternyata penundaan tersebut justru membawa berkah karena kami dapat membawa serta si Kecil ke Baitullah. Thariq Naveed Risanto (Oliq), usia 11 bulan, akan berkunjung ke rumah Allah!

Apa tidak repot? Pertanyaan tersebut datang dari teman di tanah air maupun beberrapa kenalan yang kami temui di Arab Saudi. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tentunya bersifat retoris. Tentu saja repot, namanya juga membawa bayi! Tetapi tentu saja hal tersebut tidak akan mengurangi kekhusyukan beribadah dan kebahagiaan karena telah diberi kesempatan berumrah sekeluarga.

Continue reading Beribadah Umrah Membawa Bayi, Sedikit Repot Banyak Barokah

Oliq’s Third Country


Oliq (now 11 mo) went overseas for the first time when he was 6 month old. It was Malaysia en route to Australia.

A short visit in Malaysia as we stayed only a few hours at the airport. And because we passed the immigration (with the stamps) — it was officially Oliq’s first international exposure.

Australia was the big one. 12 day trip, Melbourne and Sydney. 6-mo Oliq experienced the 40 centigrade heat and a low chilly superwindy St Kilda at maybe 12 degree Celcius.

The third country is Saudi Arabia for umra. 9 hour flight is a longhaul. I myself don’t hate flying but taking a baby for such a long airtime is frankly exhausting. Turned out everything was alright.

Jeddah, continued with 5hours busride to Madinah. Oliq is finally at Masjed Nabawi!!! Yeeaaaaa lucky baby!

In Madinah, we visited Masjid Quba, Kebun Kurma, Quran Complex while passing some other significant mosques.

In the holy city of Makkah al Mukarrama, Oliq got his chance to see Ka’bah, circled it 7 times (for 3 times) carried by papa and mama. Did his Sa’I until midnite and continued with Tahalul. Oliq is now gundul!

An extremely exhausting process at King Abdulaziz Airport followed by 9 straight hour flight. Oliq is finally home again.

He is looking forward to the next country to step on.