Tag Archives: lomba blog

Liburan Keluarga Sukses dan Ceria dengan 7 Tips Ini


“Ada temenku kapok, Mbok, liburan bawa anak. Repot banget katanya, padahal cuma ke Singapura,” ujar kawan saya suatu hari.

Liburan dengan anak, bagi keluarga yang sama sekali belum pernah bepergian, bagaikan tantangan besar. Ngurus anak di rumah aja repot, apalagi traveling?! Gila kali ya bule-bule itu bawa anak ke mana-mana. Mungkin itu pikiran semua orang.

Kekhawatiran terhadap anak itulah yang banyak membuat keluarga memutuskan untuk menunda liburan (jauh) hingga anak-anak mereka ‘sudah agak besar’. Sudah agak besar itu relatif, tergantung keluarga masing-masing. Ada yang artinya umur satu tahun, karena sudah bisa makan table food sehingga tidak terlalu repot mempersiapkan makanan pendamping ASI. Ada pula yang memilih usia sekitar 2 tahun karena anak sudah lebih lancar berkomunikasi dengan orangtuanya, dapat menyampaikan keinginannya. Atau, ada juga yang lebih suka menunda hingga anak usia SD sehingga bisa gendong ransel sendiri hahaha.

Nggemblok bayi dan nggandeng balita
Nggemblok bayi dan nggandeng balita

Kenapa sebagian orang cemas ketika akan liburan dengan anak? Biasanya takut anak rewel di jalan (terutama di pesawat), yang lain adalah khawatir anak sakit. Continue reading Liburan Keluarga Sukses dan Ceria dengan 7 Tips Ini

Tetap Keren Keliling Dunia dengan Utees.me


Gaya travelling orang itu berbeda-beda, ada yang harus syantieek-syantieek seperti Syahrini, ada pula yang mengedepankan kenyamanan dan kepraktisan. Bisa ditebak dong saya masuk kategori mana?

Dilihat dari foto-foto travelling saja sudah jelas: selalu pakai kaos. Ada sih waktu musim dingin pakainya jaket. Eits, tapi dalamnya pun kaos. Memang, nggak ada yang lebih nyaman dikenakan saat jalan-jalan lebih dari kaos berbahan halus seperti print t-shirt produksi Utees.me. Untuk negara-negara beriklim panas dan lembab seperti Indonesia dan sebagian besar negara Asia Tenggara, kaos lebih cepat menyerap keringat daripada kemeja sehingga tubuh jadi lebih cepat menyesaikan diri dengan cuaca. Untuk perjalanan jauh pun kaos nyaman dipakai dan tidak makan banyak tempat di ransel atau koper.

Kampanye Anti Kurang Piknik lewat kaos
Kampanye Anti Kurang Piknik lewat kaos

Continue reading Tetap Keren Keliling Dunia dengan Utees.me

Siapa Bilang Ibu Hamil Pantang Makan Mie Instan?


Ibu hamil tu nggak boleh makan sate! Nggak boleh minum kopi! Nggak boleh makan pedes-pedes! Nggak boleh makan mie instan! And bla…bla…bla… aduh pantangannya banyak betul. Ribet banget, deh, kalau mau nurutin kata semua orang. Ternyata setelah saya cek dengan dokter kandungan, nggak segitu-gitunya juga!

“Ibu hamil boleh makan apa saja, asal nutrisi seimbang, dan porsi jangan berlebihan!” begitu kata dokter saya. *Lalu Simbok disuruh makan durian seglundung*

Eh tapi benar, seperti pengalaman saya waktu hamil anak pertama, tidak pernah ada pantangan. Bukan berarti lantas kita makan sembarangan, tentu masih harus memilih yang terbaik. Tidak dapat ditampik, bahwa dalam kondisi hamil, tubuh jadi lebih rentan terhadap penyakit.AiA8wwqkQ-LpTHt8pJBuBQjyqWnkNfY4m8NYvPG_AIRY

Gimana dong kalau saya yang suka makan mie ini harus puasa mie instan selama sembilan bulan penuh? Apalagi kami ini kan dari keluarga traveler, hobi jalan-jalan, dan seringkali mie instan jadi andalan di luar negeri ketika kita butuh makanan halal, cepat, nan murah.

Biarpun tidak dipantang tapi kalau keseringan makan mie instan yang tidak sehat kan bahaya juga buat ibu hamil! Duh! Continue reading Siapa Bilang Ibu Hamil Pantang Makan Mie Instan?

Tanjung Kelayang, Indahnya Asli Indonesia


Orang bilang Pantai Tanjung Tinggi adalah primadona di Pulau Belitung, saya bilang Tanjung Kelayang lebih mengesankan. Suasananya yang sepi, pasirnya yang lembut bak beledu pernah saya jejak dua kali. Dalam dua masa.

belitung Continue reading Tanjung Kelayang, Indahnya Asli Indonesia

Semarak Lomba Blog, Siapa yang Untung?


Jika kita cermati beberapa tahun belakangan ini lomba blog semakin hari makin banyak. Dalam satu bulan ada beberapa lomba yang digelar dengan hadiah yang beraneka rupa, mulai dari hanya voucher taman bermain hingga liburan keluar negeri.

Jurnalisme warga memang kian semarak, ditandai dengan adanya rubrik ini di dalam media-media mainstream. Agaknya, jurnalisme warga kini menjadi salah satu sumber utama informasi bagi pembaca selain media konvensional.

Salah satu lomba blog yang diadakan
Salah satu lomba blog yang diadakan

Yang tidak lepas dari maraknya jurnalisme warga adalah perkembangan jejaring sosial. Hanya dengan satu tulisan/foto/video yang kontroversial, akan langsung tersebar di mana-mana. Bahkan dari sini pun media cetak dan elektronik pun ikut memberitakannya.

Tak pelak lagi, media blog menjadi semacam media baru yang sangat potensial untuk menyebarkan isu tertentu, maupun untuk melakukan promosi. Karena itu, tidak salah bila banyak sekali diadakan lomba blog dengan peserta yang banyak pula, walaupun seringkali hadiahnya tidak terlalu besar.

Lalu siapa yang untung?

Keuntungan Bagi Para “Banci Kontes”

Bukan bermaksud buruk terhadap kaum transeksual, namun belakangan ini muncul istilah “banci kontes”. Istilah baru ini dimaksudkan pada mereka yang sering mengikuti lomba-lomba. Para blogger memang menjadi satu pihak yang sangat diuntungkan oleh semaraknya lomba blog.

Bagaimana tidak? Bila biasanya hanya menulis hanya karena ingin curhat, sharing, dan “sudah senang bila ada yang membaca” kini ada tambahan bonus hadiah. Iming-iming hadiah smartphone, tiket pesawat gratis, dan lain sebagainya menjadi pemicu mereka untuk menulis. Selain itu tak segan-segan para blogger juga menyebarkan melalui akun-akun jejaring sosial mereka karena kadang salah satu kriteria penjurian adalah frekuensi tulisan tersebut dibaca dan disebar melalui jejaring sosial.

Ada beragam “banci kontes” ini, ada yang memang konsisten hanya menulis dan mengikuti lomba tentang bidang yang ia geluti, misalnya khusus cerita perjalanan ataupun foto perjalanan atau khusus review tentang produk teknologi. Namun banyak pula yang kemudian rela banting setir dari satu tema ke tema yang lain, sesuai dengan tema blog apa yang sedang dilombakan.

Semuanya halal! Kalau memang bisa menulis berbagai tema kenapa tidak dimanfaatkan?

Selain hadiah, ada beberapa keuntungan lain bagi mereka yang rajin mengikuti – dan menang – kontes blog. Pertama, untuk blogger yang mengunggah tulisan di blog pribadi pasti akan mengalami peningkatan traffic. Tidak hanya juri yang membaca tulisan tersebut, mungkin juga para peserta lain yang sekadar ingin mengintip saingan mereka.

Kentungan lainnya adalah semakin sering mengikuti lomba-lomba semacam ini, nama Anda akan semakin dikenal. Apalagi kalau menang, wah dijamin popularitas Anda di dunia jurnalisme warga makin berkibar.

Untuk yang belum menang pun ada keuntungannya, yaitu ketrampilan menulis yang semakin terasah. Bukan hanya itu, peserta lomba biasanya juga makin mengerti kriteria apa saja yang membuat sebuah tulisan menang. Jadi, ada semacam lessons learned untuk lomba-lomba berikutnya. Apalagi kalau sudah pernah menang, makin tahu komponen apa saja yang membuat tulisan bisa jadi juara.

Branding Murah Meriah

Bagi brand atau merk, maraknya jurnalisme warga dan media sosial pun mereka manfaatkan untuk kampanye, branding, promosi di luar marketing konvensional mereka dengan memasang iklan. Salah satunya adalah menggelar lomba blog.

Apanya yang murah? Coba bayangkan, dengan menggelar lomba blog mereka akan mendapatkan promosi gratisan oleh tulisan-tulisan para pesertanya yang ditampilkan di blog dan disebarkan melalui jejaring sosial. Modalnya hanya hadiah untuk pemenang. Memang ada lomba yang hadiahnya besar seperti paket wisata ke luar negeri, namun kebanyakan hadiah tidaklah terlalu besar. Bisa dibilang banyak perusahaan menggelar lomba blog hanya dengan modal 10 juta rupiah ( 5 juta untuk juara 1, 3 juta juara 2, 2 juta juara 3), plus merchandise kecil-kecilan yang juga dimanfaatkan untuk branding.

Perusahaan produsen teknologi pasti akan menyediakan hadiah berupa produk buatan mereka sendiri. Misalnya: Juara 1 ponsel seri tercanggih, juara 2 ponsel seri biasa, dan juara 3 ponsel murah produksi mereka sendiri. Bisa jadi akan ada tiga “juara harapan” dengan hadiah lebih kecil lagi ataupun hanya merchandise.

Sungguh sistem promosi yang sangat menguntungkan brand, bukan? Saya bukan pakar marketing, tapi saya kira bila hal-hal seperti ini mereka manfaatkan secara maksimal, perusahaan dapat memotong anggaran iklan konvensional.

Banyak pula perusahaan yang mau mengeluarkan anggaran lebih untuk mengadakan lomba blog dengan cara menggandeng rubrik-rubrik jurnalisme warga di media mainstream, misalnya Kompasiana di Kompas, Detik Blog di Detik.com, ataupun Viva Log di VivaNews. Tentu biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan lomba seperti ini lebih banyak, namun juga lebih optimal sebagai instrumen promosi selain menjaring lebih banyak peserta. Lebih banyak peserta artinya lebih banyak tulisan sebagai media promosi gratisan.

Kenyataannya, banyak juga perusahaan besar yang tidak perlu membayar lebih. Mereka memanfaatkan sistem “gethok tular” atau “dari mulut ke mulut” untuk menyebarkan informasi tentang adanya sebuah lomba. Mereka hanya akan memajang pengumuman tentang lomba di website resmi perusahaan dan Halaman Facebook, serta menyebarkannya dengan media Twitter yang terbukti sangat ampuh.

Oleh karena itu, hampir semua lomba blog mengharuskan peserta menyebarkan karyanya lewat Twitter sehingga para followers peserta tersebut pun mengetahui adanya lomba dan mungkin tertarik untuk mengikutinya.

Demikian luar biasanya jejaring sosial bagi perusahaan.

Jeli Memanfaatkan Peluang

Saya baru ngeblog sejak dua tahun yang lalu di http://backpackology.me, sebuah blog perjalanan yang diampu bersama suami. Bodohnya, kami baru mulai memahami banyak keuntungan yang dapat dipetik dengan mengikuti lomba blog dua tiga bulan belakangan ini.

Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger
Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger

Puput, suami saya, menjadi lima besar (dari 500an peserta) lomba blog Terios 7 Wonders yang diadakan oleh Daihatsu. Hadiahnya adalah diajak ikut serta berkeliling ke 7 lokasi menakjubkan di Indonesia, dari Pantai Sawarna di Banten hingga Pulau Komodo. Semuanya gratis, bahkan diberi uang saku. Dari lomba yang sama itu pula mendapatkan sebuah ponsel samsung Galaxy S4. Bayangkan saja bagaimana senangnya seseorang yang hobi jalan-jalan mendapatkan hadiah seperti itu.

Saya menulis kisah kami dan anak berjudul Jadilah Pemimpin, Petualang Kecilku dan menjadi salah satu artikel favorit lomba blog yang diadakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa (Sari Husada). Hadiahnya tidak besar, tapi sangat berarti bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa saya mengetik tulisan tersebut tidak lebih dari satu jam.

Ayah saya, seorang mantan wartawan dan penulis, berkata bahwa maraknya jurnalisme warga menggerus kesempatan para penulis untuk mendapatkan uang dari media cetak. Banyak media cetak yang kemudian memang mengurangi “jatah” penulis seperti ini dan memilih mengambil tulisan dari warga yang gratis (ada juga yang dibayar walau lebih sedikit daripada artikel yang dimuat tanpa embel-embel “citizen journalism”).

Andai saja saya mau (dan saya akan melakukannya lain kali saya pulang kampung), saya akan menjelaskan kepada ayah saya bahwa sebenarnya peluang penulis konvensional pun tetap ada melalui media blog. Selain tetap menulis artikel/cerpen untuk media cetak konvensional, penulis dapat memanfaatkan ajang lomba-lomba blog ini. Toh untuk para penulis yang sudah sering dimuat di media, kualitas tulisan mereka pasti mumpuni. Menulis untuk blog ataupun kompetisi blog tidak akan sulit dengan ketrampilan mereka yang lebih terasah daripada para blogger baru.

Bagi saya, yang paling penting adalah memanfaatkan peluang yang ada. Jangan ragu atau sungkan untuk mengirimkan karya, walaupun mungkin tidak pernah menang. Saya pun masih baru di dunia ini, belum seperti beberapa kawan yang sudah menjadikan lomba blog sebagai profesi sampingan yang menghasilkan. Yang penting terus bersemangat menghasilkan karya.

Indonesia, ayo menulis!

Disclaimer: Tulisan ini sudah dipublish di Kompasiana terlebih dahulu.