Tag Archives: KL

Menjamu Selera di Pasar Ramadhan Setiawangsa


Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, bulan Ramadhan tentunya disambut meriah oleh warga Malaysia. Seperti halnya di Indonesia, suasana meriah menjelang buka puasa juga terasa di setiap sudut kota. Fenomena pasar kaget saat sore hari mendekati maghrib juga ada di sini, tentu dengan keunikan tersendiri yang mebuatnya berbeda dengan di tanah air. Seperti apa uniknya, yuk kita tengok.

Pasar kaget ramadhan di belakang stesen LRT Setiawangsa
Pasar kaget ramadhan di belakang stesen LRT Setiawangsa

Continue reading Menjamu Selera di Pasar Ramadhan Setiawangsa

Hello klia2! (Quick facts and tips)


Bagi yang sudah sering ke Kuala Lumpur atau menikmati tiket-tiket promo yang terpaksa harus transit di KL pasti akrab dengan LCCT. Sebagai traveler kere, kami pun demikian. Nah, walau agak mellow karena LCCT sudah almarhum, kami senang juga karena bandara pindah ke klia2 yang jauh lebih baik.

Welcome to klia2
Welcome to klia2

Continue reading Hello klia2! (Quick facts and tips)

Ramadhan di Luar Negeri Lagi


Tahun lalu saya sempat berkata ingin sekali merasakan bulan puasa di luar negeri lagi, alhamdulillah kini terlaksana walaupun cuma sepelemparan batu dari nusantara. Tahun ini saya mengalami bulan Ramadhan — dan insya Allah Idul Fitri — di Kuala Lumpur.

IMG_3124

Puasa di Malaysia hampir sama guyubnya dengan di Indonesia dengan berbagai kebiasaan yang sama pula. Kolak, es buah, dan takjil pun mirip-mirip semua. Datangnya bulan puasa ditandai dengan penjualan kurma dan sirup di supermarket. Bahkan waktu ke Pasar Chow Kit, di toko langgganan karyawan mengangkut berdus-dus sirup marjan. Marjan memang tak lekang lokasi. Jaya selalu di bulan puasa. Continue reading Ramadhan di Luar Negeri Lagi

Never take the hard way to KL Tower


Today is one of the most annoying days in my life, momen ketika pasangan pejalan bertengkar gara-gara kesasar. Kalau kesasarnya di Paris, atau di Tokyo, atau di Sydney mending banget ya, agak elit. Kami kesasar di jalan menuju ke KL Tower atau Menara KL. Semua gara-gara Cucup. The wife is always right: simple recipe to a happy marriage.

Jadi ceritanya karena kami cuma plonga-plongo di rumah saja weekend ini, akhirnya diputuskan untuk ke KL (udah gajian jadi udah rela bayar tiket yang RM 49 per orang itu). Dan karena mobil masih diservis, terpaksa naik kereta.

Stasiun LRT paling dekat dengan Menara KL adalah Dang Wangi. Dari situ masih harus jalan beberapa ratus meter untuk sampai di persimpangan JL P Ramlee dan Jl Punchak, dekat dengan gerbang naik ke lobi menara.

Awal trek, masih bisa nyengir
Awal trek, masih bisa nyengir

Turun di Dang Wangi kami menyeberang jalan, ngikutin trotoar ke arah Bukit Nanas. Menara KL berada di tengah-tengah hutan lindung yang dikenal dengan nama Bukit Nanas. Pertanda buruk terjadi ketika Puput melihat penunjuk arah trekking memasuki hutan. Yaelah, batin saya, udah disempat-sempatin pake eyeliner segala, masa kudu masuk hutan sih.

Protes dong saya, “Cup, mbok lewat jalan biasanya aja, kan nanti ada shuttle-nya!” Terakhir kami ke KL Tower adalah 7 tahun yang lalu, tapi saya tahu pasti kalau masih ada shuttle gratisan.

“Itung-itung latihan, Cop, buat naik ke Everest.” Halah, Everest. Yeah, whatever!

Akhirnya kami naik tangga yang menembus Bukit Nanas, sebenarnya medannya tidak berat-berat amat, cuma memang dibuat bagi mereka yang mau trekking atau olahraga. Dengan celana jins yang agak ketat, langsung saya ngos-ngosan. Jumlah anak tangganya kira-kira 2 kali lipat daripada di Batu Caves, cuma tidak terjal naiknya.

Tidak sampai-sampai, saya mulai mutung. “Nggak ada jalan lain, Cop, kamu harus semangat, kita harus terus!” Huh. Mrengut dong Simbok.

Lewat hutan-hutan lebat yang sebenarnya di seberang udah kelihatan gedung-gedung perkantoran, tapi apa daya, nggak ada jalan pintas. Beberapa  pusat olahraga outdoor tersedia, tapi jelas banget udah terbengkalai tidak ada yang pakai. Ya kali, siapa juga niat banget olahraga naik-naik sini.

Pertanda (semakin) buruk terjadi waktu saya sadar kalau kaki Oliq dikerubuti nyamuk. Nggak cuma digigit, tapi nyamuk-nyamuk itu setia nginthili Oliq yang digendong belakang sama Puput. Yang ada saya udah nemu 50 lebih bentol di kaki, tangan, muka, leher Oliq. Puput juga digigitin tangannya. Makin panik dong saya.

Kami sampai di sebuah lokasi yang mungkin seperti camping ground. Secercah cahaya tampak ketika melihat papan tanda “Selamat datang di Menara KL”. Dari situ kami harus naik jembatan gantung beberapa tingkat. Napas udah makin ngos-ngosan. By the way, kami nggak bawa air minum setetes pun.

Jembatan gantung -- harapan yang sirna
Jembatan gantung — harapan yang sirna

Sampai di ujung jembatan gantung menuju ke kompleks Menara KL. Jeblarrrr! Pintu ditutup rapat, dirantai dan digembok. Tidak ada satu pun lubang tikus yang bisa disusupi.

Simbok mutung berat, langsung saya bilang, “Pulang aja, ayo pulang aja sekarang. Ngapain ke sini cuma makakke Aik sama nyamuk.” Oh ya, sekali kerubut ada 10 nyamuk nginthili Oliq. Saya langsung balik arah menuju ke camping ground.

Ada jalan lain bernama Bamboo Trail yang menurut Puput kemungkinan lebih dekat ke bawah. Seratus, dua ratus meter naik turun tangga, hasilnya nihil. JALAN BUNTU! Asli udah mau mewek gara-gara mangkel, haus, sama stres ngeliatin Oliq yang dirubung nyamuk.

Marah saya balik ke arah camping ground untuk ngambil jalan ke Jelutong/Denai Trail tempat kami naik. Kerudung saya lepas, saya jadikan semacam sarung buat nutupin kaki Oliq yang masih digendong Puput. “Paling nggak, bentol yang udah 50 biji, nggak nambah jadi 100,” pikir saya. Upaya penyelamatan pertama.

Gendong dan krodongan kerudung
Gendong dan krodongan kerudung

Kami turun dengan cepat, udah nggak sabar ketemu sama air minum dingin. Ketek, paha basah semua. Ubun-ubun udah kebakar, bisa buat ceplok telor kali.

Akhirnya kami sampai ke basah lagi. Oliq ribut minta dibeliin mainan, karena pagi memang udah dijanjiin. “Ke arah mana kita?” tanya Puput. Saya nggak jawab, langsung nyelonong aja jalan ke arah Stasiun Monorail Bukit Nanas. Nah, pas mau nyeberang jalan ke warung 100 Plus yang kelihatan, Puput bilang naik aja ke stasiun, banyak warung di atas. Kami naik ke stasiun dan semua warungnya masih tutup! Berhubung udah anti klimaks, udah nggak bisa lebih mutung lagi.

Akhirnya kami ke warung 100 Plus yang kelihatan dari seberang itu dan mengembat air dingin plus milo dingin. Setelah reda kemarahan saya, akhirnya kami jalan lagi lewat jalan normal ke Menara KL. Jalan yang sejak semula seharusnya ditempuh. Jalan yang mudah, datar, dan bisa sewaktu-waktu mampir ke warung. Jalan yang kalau capek tinggal nyetop taksi.

Dan sampailah kami di gerbang Menara KL. Such an easy way. Jadi kami naik sampai observation deck tanpa hambatan. Oliq juga udah seneng banget karena nemu miniatur pesawat Malaysia Airlines yang dia belum punya. “Cekalang Aik punya wawa Mai o Mai oo,” anaknya hepi berat.

IMG_3006IMG_3055

Perjalanan panjang nan melelahkan ini berakhir dengan mengganyang seekor anak dinosaurus di TGI Friday.

Take the easy road, dear friends.

My Life in KL, First Glance


Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Everyday I am still amazed by things I see in Kuala Lumpur, from its super efficient public transportation system to its state-of-art office buildings. Even, by smallest things I experience.

I am amazed that Malaysia — country who used to be inferior to mine — has grown this big.

I have travelled to KL (and Penang, Langkawi, Kota Kinabalu) many times before moving here, although I am not familiar with KL as well as my familiarity with LCCT where I transited a lot. Yet, travelling is different with living. Little things do not fail to amaze me.

For the second time in my life, I enjoy using public transportation in the city where I live (the first one being Melbourne, a city where I studied). Although during travelling I use (happily) this cheapest way of transportation. The LRT in KL is so efficient and speedy with 3-5 minutes interval during normal hours. Feeder buses are easily available. I am so lucky because my condo is just opposite an LRT station.

The condition of the stations are maybe comparable to those in Tokyo. Clean and in order. Whereas in Melbourne sometimes it stinks of pee mostly because of the drunks and those in Paris are damp (mainly because they are underground) and mostly don’t have lifts.

Traffic is light. Only in rush hours there are some points like Jalan Ampang, Jalan Jelatek, and around Chinatown, Chow Kit area and few others, are jammed.  Often, the taxi drivers complained, “Oh it’s jam teruk!” (bad traffic/macet parah). I sighed and whispered to Puput, “Try one day driving in Jakarta, by the end of the day he’ll go straight to a shrink!”

It is why — maybe — despite the good public transport and overwhelmingly expensive parking in KLCC area, there are many people willing to drive their own cars to the office.

I am amazed that machines are literally everywhere, from ticket machine, vending machine selling snacks and drinks, even umbrellas! The only thing I have not seen is condom dispensers *wink*

I am still amazed that I have my best burgers here — Fuel Shack. Of course, I have not been to Gordon Ramsay’s BURGR, but Fuel Shack by far has the best burgers out of chain stores.  I little bit more expensive than the likes, but it is so worth it. I am gonna stop now because I am drooling….

We also have experiencing a wonderful service with the immigration where we submitted visa application for our maid. A 5 minutes waiting, in a lounge comparable to those in premier airports. Met by a friendly immigration staff (though the immigration staff at the airports are such as mood killers).

Banking is easy, charges are cheap. Internet is fast.

But KL — and Malaysia — is certainly not flawless. Democracy is one big problem. I remember years ago during my grad school I wrote a paper that concludes Malaysia and Singapore as the least democratic countries in the region.

Prices hike. Locals said that prices of goods keep getting higher and higher. Generally things are more expensive that what I pay in Jakarta. Some things that are cheaper here are cooking oil (hell yeah this is the country where palm oil plantation are too common), beef (Malaysia does not have party leader who feeds his 3 wives using money from corruption on beef) and water charges.

Here my story will end for now. We will post stories and tips on Malaysia that are useful for you who want to move or simple travel to KL, topics such as: bringing in maid from your country, finding accommodation in KL, and of course best street food in KL.