Tag Archives: KL tower

Itinerary dan Budget Liburan Keluarga Kuala Lumpur


Rencana perjalanan ini dibuat hanya sebagai garis besar untuk membantu Anda membuat rencana yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat. Pastikan tidak membuat agenda yang terlalu dipaksakan terutama bila anak-anak masih balita.

I Love KL logo, jangan lewatkan foto selfie di sini
I Love KL logo, jangan lewatkan foto selfie di sini

Tips menghemat ada beberapa, antara lain:

1. Mencari tiket murah, yang kiatnya ada di sini

2. Mencari objek wisata gratisan, yang daftarnya untuk Kuala Lumpur sudah kami jlentrehkan di sini, untuk yang bawa anak silakan cek objek wisata anak yang Simbok rekomendasikan di sini

3. Bingung cari penginapan murah di KL? Backpackology punya sederetan rekomendasi akomodasi murah tapi nyaman, yang daftarnya ada di sini Continue reading Itinerary dan Budget Liburan Keluarga Kuala Lumpur

Advertisements

17 Wisata Gratis di Kuala Lumpur, Malaysia


KL memang sudah menjadi tujuan wisata favorit bagi banyak orang Indonesia. Banyaknya penerbangan murah dari berbagai kota di Indonesia adalah pemicu utama, di samping banyaknya pilihan wisata dan kemiripan budaya serta bahasa yang menjadikan kota ini ramah bagi banyak wisatawan Indonesia. Asyiknya lagi, kota ini juga menawarkan banyak tujuan wisata gratis yang layak Anda kunjungi. Berikut pilihannya :

Petronas Twin Tower alias Menara Berkembar Petronas, ikon utama kota KL
Petronas Twin Tower alias Menara Berkembar Petronas, ikon utama kota KL

Continue reading 17 Wisata Gratis di Kuala Lumpur, Malaysia

Never take the hard way to KL Tower


Today is one of the most annoying days in my life, momen ketika pasangan pejalan bertengkar gara-gara kesasar. Kalau kesasarnya di Paris, atau di Tokyo, atau di Sydney mending banget ya, agak elit. Kami kesasar di jalan menuju ke KL Tower atau Menara KL. Semua gara-gara Cucup. The wife is always right: simple recipe to a happy marriage.

Jadi ceritanya karena kami cuma plonga-plongo di rumah saja weekend ini, akhirnya diputuskan untuk ke KL (udah gajian jadi udah rela bayar tiket yang RM 49 per orang itu). Dan karena mobil masih diservis, terpaksa naik kereta.

Stasiun LRT paling dekat dengan Menara KL adalah Dang Wangi. Dari situ masih harus jalan beberapa ratus meter untuk sampai di persimpangan JL P Ramlee dan Jl Punchak, dekat dengan gerbang naik ke lobi menara.

Awal trek, masih bisa nyengir
Awal trek, masih bisa nyengir

Turun di Dang Wangi kami menyeberang jalan, ngikutin trotoar ke arah Bukit Nanas. Menara KL berada di tengah-tengah hutan lindung yang dikenal dengan nama Bukit Nanas. Pertanda buruk terjadi ketika Puput melihat penunjuk arah trekking memasuki hutan. Yaelah, batin saya, udah disempat-sempatin pake eyeliner segala, masa kudu masuk hutan sih.

Protes dong saya, “Cup, mbok lewat jalan biasanya aja, kan nanti ada shuttle-nya!” Terakhir kami ke KL Tower adalah 7 tahun yang lalu, tapi saya tahu pasti kalau masih ada shuttle gratisan.

“Itung-itung latihan, Cop, buat naik ke Everest.” Halah, Everest. Yeah, whatever!

Akhirnya kami naik tangga yang menembus Bukit Nanas, sebenarnya medannya tidak berat-berat amat, cuma memang dibuat bagi mereka yang mau trekking atau olahraga. Dengan celana jins yang agak ketat, langsung saya ngos-ngosan. Jumlah anak tangganya kira-kira 2 kali lipat daripada di Batu Caves, cuma tidak terjal naiknya.

Tidak sampai-sampai, saya mulai mutung. “Nggak ada jalan lain, Cop, kamu harus semangat, kita harus terus!” Huh. Mrengut dong Simbok.

Lewat hutan-hutan lebat yang sebenarnya di seberang udah kelihatan gedung-gedung perkantoran, tapi apa daya, nggak ada jalan pintas. Beberapa  pusat olahraga outdoor tersedia, tapi jelas banget udah terbengkalai tidak ada yang pakai. Ya kali, siapa juga niat banget olahraga naik-naik sini.

Pertanda (semakin) buruk terjadi waktu saya sadar kalau kaki Oliq dikerubuti nyamuk. Nggak cuma digigit, tapi nyamuk-nyamuk itu setia nginthili Oliq yang digendong belakang sama Puput. Yang ada saya udah nemu 50 lebih bentol di kaki, tangan, muka, leher Oliq. Puput juga digigitin tangannya. Makin panik dong saya.

Kami sampai di sebuah lokasi yang mungkin seperti camping ground. Secercah cahaya tampak ketika melihat papan tanda “Selamat datang di Menara KL”. Dari situ kami harus naik jembatan gantung beberapa tingkat. Napas udah makin ngos-ngosan. By the way, kami nggak bawa air minum setetes pun.

Jembatan gantung -- harapan yang sirna
Jembatan gantung — harapan yang sirna

Sampai di ujung jembatan gantung menuju ke kompleks Menara KL. Jeblarrrr! Pintu ditutup rapat, dirantai dan digembok. Tidak ada satu pun lubang tikus yang bisa disusupi.

Simbok mutung berat, langsung saya bilang, “Pulang aja, ayo pulang aja sekarang. Ngapain ke sini cuma makakke Aik sama nyamuk.” Oh ya, sekali kerubut ada 10 nyamuk nginthili Oliq. Saya langsung balik arah menuju ke camping ground.

Ada jalan lain bernama Bamboo Trail yang menurut Puput kemungkinan lebih dekat ke bawah. Seratus, dua ratus meter naik turun tangga, hasilnya nihil. JALAN BUNTU! Asli udah mau mewek gara-gara mangkel, haus, sama stres ngeliatin Oliq yang dirubung nyamuk.

Marah saya balik ke arah camping ground untuk ngambil jalan ke Jelutong/Denai Trail tempat kami naik. Kerudung saya lepas, saya jadikan semacam sarung buat nutupin kaki Oliq yang masih digendong Puput. “Paling nggak, bentol yang udah 50 biji, nggak nambah jadi 100,” pikir saya. Upaya penyelamatan pertama.

Gendong dan krodongan kerudung
Gendong dan krodongan kerudung

Kami turun dengan cepat, udah nggak sabar ketemu sama air minum dingin. Ketek, paha basah semua. Ubun-ubun udah kebakar, bisa buat ceplok telor kali.

Akhirnya kami sampai ke basah lagi. Oliq ribut minta dibeliin mainan, karena pagi memang udah dijanjiin. “Ke arah mana kita?” tanya Puput. Saya nggak jawab, langsung nyelonong aja jalan ke arah Stasiun Monorail Bukit Nanas. Nah, pas mau nyeberang jalan ke warung 100 Plus yang kelihatan, Puput bilang naik aja ke stasiun, banyak warung di atas. Kami naik ke stasiun dan semua warungnya masih tutup! Berhubung udah anti klimaks, udah nggak bisa lebih mutung lagi.

Akhirnya kami ke warung 100 Plus yang kelihatan dari seberang itu dan mengembat air dingin plus milo dingin. Setelah reda kemarahan saya, akhirnya kami jalan lagi lewat jalan normal ke Menara KL. Jalan yang sejak semula seharusnya ditempuh. Jalan yang mudah, datar, dan bisa sewaktu-waktu mampir ke warung. Jalan yang kalau capek tinggal nyetop taksi.

Dan sampailah kami di gerbang Menara KL. Such an easy way. Jadi kami naik sampai observation deck tanpa hambatan. Oliq juga udah seneng banget karena nemu miniatur pesawat Malaysia Airlines yang dia belum punya. “Cekalang Aik punya wawa Mai o Mai oo,” anaknya hepi berat.

IMG_3006IMG_3055

Perjalanan panjang nan melelahkan ini berakhir dengan mengganyang seekor anak dinosaurus di TGI Friday.

Take the easy road, dear friends.

Wisata ke Menara-Menara Tinggi di Dunia


Salah satu hal yang tidak pernah kami lewatkan ketika berkunjung ke nagara tertentu adalah mengunjungi menara-menara. Saya sih jujur aja, kadang agak males, terutama kalau menara tersebut nggak spektakuler banget, atau harga tiket masuknya mahal. Apalagi kalau harus antri! Tapi yah gimana, sebagai istri solehah saya harus membahagiakan suami. Bagi Puput, naik ke menara itu wajib hukumnya.

Memang baru beberapa menara saja yang kami kunjungi, tapi paling tidak kami pernah ke menara tertinggi di dunia, lho! Di bawah ini beberapa menara yang pernah kami naiki.

KL Tower, Malaysia

Menara KL menjadi monumen penting kota metropolitan Kuala Lumpur. Menara ini dibangun pada tahun 1994 dengan tinggi 421 meter. Anda dapat naik hingga ketinggian 276 meter tempat dek observasi berada. Dari atas Anda akan dapat melihat pemandangan seluruh kota Kuala Lumpur. Di malam hari pengunjung pasti akan terpesona dengan kelap kelip lampu kota.

Arsitektur KL Tower mencerminkan warisan Islam dengan tulisan Arab, keramik dan bentuk-bentuk bangunan dengan gaya Islami serta Arab. Bangnannya memiliki sebuah struktur yang bernama “muqarnas” dekorasi yang merupakan ciri khas dalam gaya arsitektur Arab maupun Persia.

Ini kami kunjungi beberapa tahun yang lalu sebelum Oliq ada. Mungkin suatu saat kami akan mampir lagi.

Menara Kembar Petronas, Malaysia

Siapa saja yang pernah mengunjungi Kuala Lumpur pasti tidak akan melewatkan untuk berfoto dengan Menara Kembar Petronas sebagai latar belakangnya. Bangunan ini memang menjadi ikon wisata ibukota negeri jiran. Selain karena ingin melihat keunikan bangunannya, banyak wisatawan yang datang ke tempat ini karena di sini juga terdapat pusat perbelanjaan, taman, pusat ilmu pengetahuan, dan juga gedung konser.

Bertiga di depan Petronas Twin Towers
Bertiga di depan Petronas Twin Towers

Menara Kembar Petronas atau Petronas Twin Towers hingga saat ini masih menjadi menara kembar tertinggi di dunia dengan 88 lantai untuk tiap gedung. Kedua gedung tersebut dihubungkan dengan jembatan yang sering disebut skybridge di lantai 41 dan 42. Menara ini dibuka pada tahun 1998 dan sempat menjadi menara tertinggi di dunia dengan tinggi 452 meter hingga tahun 2004 ketika Taipei meresmikan gedung 101.

Kayanya setiap kali kami ke KL pasti ke KLCC. Saya pernah ke Petronas sendirian, sama Puput pas hamil 7 bulan, dan terakhir sama Oliq waktu dia umur satu tahun. Liburan ke KL dengan anak-anak lihat di sini.

Bagi Anda yang pertama kali terbang ke Kuala Lumpur mungkin bingung hendak menginap di mana karena kota ini memiliki beberapa pusat akomodasi bagi wisatawan. Saya pernah mengalami peak season di saat hampir semua hotel di Kuala Lumpur penuh sesak, karena itu saya memilih untuk memesan hotel sebelum berangkat. Pesan hotel sebelum berangkat!

Sydney Tower, Australia

Di Sydney, Australia, tempat ini adalah Sydney Tower dengan ketinggian mencapai 309 meter.. Dari sini pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan cantik kota Sydney termasuk Sydney Opera House dan Harbour Bridge.

Pemandangan dari atas Sydney Tower
Pemandangan dari atas Sydney Tower

Pemandangan dari atas memang sangat bagus. Dari sini Anda bisa langsung jalan-jalan ke Market St, ke Townhall. Di daerah ini juga banyak seniman jalanan. Asyik sekali pokoknya. Tulisan saya yang lebih lengkap tentang Sydney Tower di sini.

Kyoto Tower, Jepang

Kyoto Tower ini dibangun pada tahun 1964 dengan ketinggian 131 meter, letaknya di sekitar Karasuma. Ketika Puput bersikeras mau naik ke menara ini, saya males banget. Pendek, kata saya. Tapi ya sudahlah toh harga tiket masuknya cukup murah.

Kyoto Tower dari depan stasiun
Kyoto Tower dari depan stasiun

Dan benar, dari atas nggak keliatan kalau kami berada di atas menara. Orang lagi jalan aja bisa keliatan, kok. Tapi keuntungan dari naik ke Kyoto Tower ini adalah kami jadi tau orientasi arah dan jaraknya. Di dinding kaca terdapat arah lokasi-lokasi wisata dan jaraknya, misalnya Kiyomizu-dera Temple sekian kilometer.

Tokyo Skytree, Jepang

Tokyo Skytree merupakan menara tertinggi di dunia dengan tinggi 634 meter. Menara ini juga merupakan bangunan tertinggi di dunia kedua setelah Burj Khalifa di Dubai.

Papa Krewel, Boliq, dan Tokyo Skytree
Papa Krewel, Boliq, dan Tokyo Skytree

Menara ini memang relatif sangat baru. Selesai dibangun pada bulan Februari 2012, Tokyo Skytree berhasil melampaui menara tertinggi di dunia sebelumnya, yaitu Canton Tower. Menara yang baru dibuka untuk umum pada bulan Mei 2012 ini kabarnya dikunjungi 1,6 juta orang pada minggu pertama setelah pembukaannya.

Pemandangan kota dari Tokyo Skytree
Pemandangan kota dari Tokyo Skytree

Karena antrian yang luar biasa, akhirnya Oliq tidur nyenyak dalam gendongan saya sejak antri tiket, naik ke atas, nongkrong di atas, hingga turun. Baru bangun pas sudah di bawah. Rugi kowe, Le!

Memang masih banyak menara lain yang belum kami kunjungi, namun yang sangat memalukan adalah bahkan Monas pun kami belum pernah naik. Ayo jadwalkan ke Monas segera!