Tag Archives: kamera

Memilih kamera untuk traveling : handphone, pocket, SLR, mirrorless, atau handycam?


Buat Anda penggemar traveling, kamera jelas menjadi barang wajib. Tapi masalahnya, kini kamera ada banyak jenis dan tak jarang kita dibuat bingung mana yang paling pas. Kalau dulu jaman kamera film pilihannya hanya kamera poket buat yang berkantong pas-pasan (seperti saya) atau kamera SLR yang besar, berat, rumit, dan pastinya mahal, kini spesies kamera makin berkembang seiring perkembangan teknologi digital.

Kamera SLR lengkap dengan aksesorisnya
Kamera SLR lengkap dengan aksesorisnya

Sejak saya menulis tentang kamera saku untuk jalan-jalan, banyak yang bertanya, “Mending pilih kamera saku atau SLR ya buat jalan-jalan?” Atau setelah adanya kamera mirrorless, banyak juga yang tanya, “Apa sih bedanya mirrorless dengan SLR?” Untuk lebih jelasnya, simak terus tulisan ini ya.

1. Smartphone

Nokia Lumia 1020 dengan kamera 41 megapiksel, handphone kamera paling canggih saat ini, plus fitur batere grip untuk menambah kapasitas batere
Nokia Lumia 1020 dengan kamera 41 megapiksel, handphone kamera paling canggih saat ini, plus fitur batere grip untuk menambah kapasitas batere

Dulu, kamera handphone alias ponsel tidak pernah dianggap sebagai kamera serius untuk mengabadikan momen-momen indah di perjalanan. Namun kini, seiring perkembangan teknologi imaging di ponsel dan maraknya media sosial di internet, kamera ponsel terutama smartphone mulai menggeser kamera saku dalam pilihan kamera untuk jalan-jalan. Kelebihan kamera ini jelas selalu ada di kantong, tak perlu ribet membawa kamera tersendiri, dan mudah untuk berbagi di media sosial langsung saat itu juga (real time). Kekurangannya, kualitas kamera smartphone masih kurang bagus dibanding kamera saku, apalagi kamera SLR, meskipun kamera smartphone papan atas. Memang sih, kini kualitas kamera smartphone makin canggih, misalnya Nokia Lumia 1020 yang beresolusi 41 Megapixel dengan lensa Carl Zeiss dan optic stabilizer, namun secara umum kamera posel masih tetap kalah bagus dibanding kamera saku kelas menengah, di bawah 2 juta. Belum lagi kamera di smartphone sangat menguras batere. Kalau Anda memang merasa cukup dengan kualitas kamera handphone, saran saya pilih kamera yang baterenya bisa dicopot sehingga Anda bisa menyiapkan batere cadangan agar tak kehilangan momen. Handphone plus kamera bisa Anda dapatkan mulai dari harga ratusan ribu hingga sekitar 9 juta rupiah.

2. Kamera saku / Pocket camera

Sony RX100, salah satu kamera saku professional yang paling direkomendasikan
Sony RX100, salah satu kamera saku professional yang paling direkomendasikan

Meskipun namanya kamera saku, sebenarnya kamera jenis ini lebih cocok disebut non-interchangeable lens camera alias kamera yang lensanya tidak bisa diganti-ganti. Ini untuk membedakan dengan kamera SLR yang lensanya bisa diganti-ganti. Walaupun namanya kamera saku alias pocket, tidak semua bentuknya ringkas dan bisa dikantongi, beberapa kamera ini bentuknya mirip SLR, cukup besar dan tidak bisa dikantongi, terutama yang memiliki zoom super panjang. Kelebihan kamera ini bentuknya ringkas (kecuali jenis bridge-camera alias kamera yang mirip SLR), simpel karena tak perlu gonta-ganti lensa, dan harganya lebih murah. Kekurangannya, secara umum kualitasnya masih kalah dari SLR atau mirrorless, dan aksesorisnya relatif terbatas dibanding SLR. Namun, kini ada pula kamera saku yang kualitasnya mendekati kamera SLR pemula dan bisa disetting manual, misal Sony RX100. Tentu, harganya pun tak bisa dibilang murah, bahkan lebih mahal dari SLR pemula. Yang lebih ekstrim lagi, kini ada pula kamera saku dengan sensor dan lensa setara kamera SLR papan atas, yaitu Sony RX1. Harganya? Jangan tanya lagi, mendekati SLR papan atas, sekitar 26 juta. Secara umum, kamera saku memiliki harga mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari 20 juta rupiah. Kamera ini cocok buat Anda yang males ribet dengan urusan tukar-menukar lensa dan sangat menghargai ukuran kompak dan bobot yang ringan. Kalau memang Anda masih ingin hasil yang sangat memukau, tetap ada pilihan kamera saku papan atas dengan harga 8-12 juta yang dijamin hasilnya tak kalah dengan SLR namun dengan ukuran tetap kecil dan enteng dibawa kemana-mana.

3. Kamera SLR

Single Lens Reflex adalah istilah untuk menunjukkan sebuah kamera yang menggunakan sebuah cermin dan prisma sehingga sang fotografer bisa mengintip melalui lensa dan melihat obyek yang persis dengan yang akan diterima oleh sensor / film. Ini yang membedakan dengan kamera jenis viewfinder yang umumnya terdapat di kamera saku film. Karena kamera ini sebenarnya berasal dari jaman kamera film, ekosistem kamera ini sudah sangat mapan. Kelebihan utama kamera ini adalah lensa yang bisa ditukar dan setting manual yang komplit. Sensornya pun lebih besar dari kebanyakan kamera saku dan kualitasnya lebih bagus sehingga gambarnya pun juga lebih ciamik. Kekurangannya, body kamera ini umumnya besar dan berat dibanding kamera saku. Bila ditambah dengan lensa, ukurannya akan lebih besar dan lebih berat lagi. Pastinya kamera ini harganya lebih mahal, apalagi jika dipasangkan dengan lensa kelas atas. Kamera ini juga memerlukan keahlian tertentu, walaupun kini kamera jenis ini juga sudah bisa disetting full auto, tidak seperti jaman kamera film dahulu. Kamera jenis ini dipasarkan mulai harga 4 jutaan hingga diatas 60 juta sepaket dengan lensanya, walaupun umumnya bisa dibeli dalam kondisi body only. Sementara lensanya dipasarkan mulai dari harga ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Kamera ini pastinya hanya cocok untuk Anda yang memang benar-benar hobi fotografi dan tidak keberatan dengan ukuran yang besar dan bobot yang berat.

4. Kamera Mirrorless

Panasonic Lumix DMC GM1 , salah satu mirrorless paling kecil saat ini. Perhatikan meskipun body-nya kecil, namun lensanya tetap besar, tidak bisa sekompak kamera poket...
Panasonic Lumix DMC GM1 , salah satu mirrorless paling kecil saat ini. Perhatikan meskipun body-nya kecil, namun lensanya tetap besar, tidak bisa sekompak kamera poket…

Kamera ini didesain untuk mendapatkan keuntungan sebuah sensor digital. Dengan menghilangkan cermin dan prisma, fotografer bisa langsung mendapatkan komposisi gambar yang diinginkan langsung di layar kamera, suatu hal yang mustahil pada jaman kamera film. Kamera ini masih mewarisi keunggulan kamera SLR yaitu lensa yang bisa diganti-ganti, namun dengan body yang lebih kecil dan ringan. Sebagian besar ekosistem kamera mirrorless memiliki ukuran sensor yang lebih kecil dari ukuran film 35mm yang umum dipakai di jaman kamera film. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan body dan lensa yang lebih kecil dan ringan. Namun kini sudah ada kamera mirrorless dengan ukuran sensor full frame, yaitu Sony Alpha7 dan Alpha7R. Kekurangan utama kamera jenis ini adalah pilihan lensa asli yang masih sedikit dibanding kamera SLR. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa kamera ini tidak bisa menggunakan lensa SLR yang sudah ada? Jawabannya adalah karena tiadanya cermin dan prisma, jarak dari lensa ke sensor menjadi lebih pendek sehingga lensa SLR yang sudah ada tidak bisa dipasang langsung. Solusinya, ada adapter yang dipasang diantara lensa dan body sehingga jarak antara lensa dan sensor menjadi lebih panjang dan cocok dengan ukuran lensa untuk SLR. Kini, adapter untuk mirrorless pun sudah ada yang bisa digunakan untuk merek body dan lensa yang berbeda, misalnya lensa Canon EF dipasang di body Sony NEX. Harga kamera ini sedikit lebih murah dari SLR, mulai dari 4 jutaan hingga lebih dari 20 juta. Kamera ini bisa dibilang favorit baru kaum pelancong karena menggabungkan kelebihan kamera saku dan kamera SLR, yaitu ukuran kecil, bobot ringan, namun lensa tetap bisa diganti-ganti. Namun tentu saja ukurannya tetap tidak sekompak kamera saku, meskipun lensa yang dipasang jenis pancake (lensa fix yang ukurannya tipis). Jadi kalau Anda memang mencari kamera yang kompak, saran saya tetap pilih kamera saku. Namun kalau Anda memang mencari kamera dengan lensa yang bisa diganti, namun tak ingin body yang besar dan bobot yang berat, kamera mirrorless cocok menjadi pilihan Anda.

5. Handycam

Handycam JVC, salah satu produsen handycam yang masih konsisten bermain di segmen handycam tanpa terjun di pasar kamera...
Handycam JVC, salah satu produsen handycam yang masih konsisten bermain di segmen handycam tanpa terjun di pasar kamera…

Kalau pilihan di atas sudah membuat bingung, masih ada satu spesies lagi yaitu handycam. Aslinya handycam diperuntukkan untuk merekam gambar bergerak / moving picture, namun bisa juga mengambil gambar diam / still picture. Sebaliknya, hampir semua kamera biasa kini juga bisa mengambil video, baik poket, SLR, maupun mirrorless. Nah tambah bingung kan, apa bedanya kalau gitu?? Sesuai kegunaan utamanya, handycam cocok untuk Anda yang lebih sering mengambil video. Handycam poket (untuk membedakan dengan handycam professional yang besar) memiliki lensa dengan zoom panjang, memori yang beragam, dari miniDV, harddisk, hingga memory card, dan batere yang ada di luar. Keunggulan batere tipe ini adalah pengguna bisa mengganti batere standar dengan batere yang kapasitas besar (ukurannya juga lebih besar), berbeda dengan kamera poket yang hanya bisa diganti dengan batere yang kapasitas (dan ukuran fisik) sama. Desain fisik handycam pun lebih cocok untuk mengambil video dalam waktu lama. Sistem autofocus-nya pun dioptimalkan untuk video. Kalau Anda menggunakan kamera biasa untuk mengambil video, keterbatasannya adalah di kapasitas memori yang umumnya lebih kecil, batere yang lebih terbatas, dan desain yang kurang ergonomis untuk pengambilan video dalam waktu lama. So, kalau lebih sering mengambil video gunakan handycam, kalau cuma sesekali dan dalam waktu pendek, kamera biasa sudah cukup. Harganya berkisar mulai dari dibawah 1 juta hingga di atas 10 juta.

Dengan ulasan singkat di atas, semoga Anda tak lagi bingung menentukan kamera pilihan untuk travelling. Apapun pilihan Anda, ketrampilan Anda yang akan sangat menentukan kualitas gambar yang dihasilkan sebuah kamera. Salam Jepret!

Advertisements

Tips Solo Traveling bagi Jiwa-Jiwa Narsis


Saya tidak akan bicara yang seram-seram seperti gang-rape, penculikan, penjualan organ tubuh yang sering membuat orang takut untuk traveling sendirian. Saya bicara yang ringan saja, sesuai pengalaman pribadi.

Bahaya solo traveling bagi jiwa narsis kita.

Beberapa tips ini mungkin bisa membantu para solo traveler pemula yang hobi upload foto-foto diri di sosial media.

Bawa tripod

Kalau ada yang tanya apa yang paling penting dibawa ketika solo traveling? Saya jawab, ya jelas tripod, kan nggak ada temen buat motoin. Selain untuk memastikan foto-foto kita tidak goyang dan kabur, tripod akan membantu kita memotret diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain.

Beli tripod yang kecil saja, muat untuk masuk ransel (Rp 100 -200 ribu), nggak kebanting kalaupun kita hanya pakai kamera saku yang kecil. Masih mampu juga untuk menopang DSLR dengan lensa yang tidak heboh-heboh amat.

Kalau lupa tidak bawa tripod, terpaksa harus memanfaatkan apa aja yang ada, misalnya pagar, bangku, bahkan pohon. Pengalaman saya di Tat Kuang Xi,Laos, ke sana pagi-pagi dan belum ada orang lain. Saya tidak bawa tripod dan nggak ada penopang kecuali pohon. Akhirnya kamera ditaruh di atas batang pohon yang agak horizontal, diganjel kerikil supaya kamera lurus, disetting 10 detik, lalu saya lari-lari, kepleset-kepleset untuk berpose.

Hasil hit and run dengan bantuan batang pohon di Laos
Hasil hit and run dengan bantuan batang pohon di Laos

Continue reading Tips Solo Traveling bagi Jiwa-Jiwa Narsis

Menjadi orang biasa dan travel blogger


Mungkin ketika membaca judul di atas, Anda akan heran, memangnya ada blogger perjalanan yang bukan orang biasa? Bagi kami, definisi orang biasa alias orang kebanyakan ya mungkin seperti kami sendiri. Saya bekerja di Jakarta sebagai karyawan swasta dengan jam kerja 8 – 5, tentu dengan aturan-aturan ketat seperti jumlah cuti yang terbatas, yang tiap hari bergelut dengan kemacetan Jakarta dan berhadapan langsung dengan transportasi publik yang sangat buruk. Hampir setiap hari saya naik Kopaja reguler yang nyaris semua mirip kaleng rombeng berjalan. Ada sih yang lumayan mendingan, kursinya empuk dan full music, cuma mungkin hanya ada satu dari sekian banyak bis. Sementara istri saya, simboknya Oliq, sudah tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Anak saya, Oliq, masih 2,5 tahun dan belum bersekolah. Jadi keluarga kecil kami bisa dibilang keluarga pada umumnya di Jakarta.

Bermesraan di punggung kuda
Naik kuda di kebun teh puncak, wisata standar bagi “orang biasa” di Jakarta

Continue reading Menjadi orang biasa dan travel blogger

Camera review : kamera saku (pocket camera) waterproof di bawah 2 juta rupiah


Sebelum saya bahas kamera terbaik dalam kategori ini, ada baiknya kita berkenalan dengan jenis kamera ini terlebih dahulu. Sesuai namanya, waterproof artinya tahan air, dalam hal ini maksudnya kamera bisa berfungsi normal meskipun dicelupkan dalam air. Tentu saja, ada batasan kedalamannya, pada umumnya di kelas ini hingga 5 m di bawah permukaan air, lebih dari cukup untuk memotret sembari snorkeling.

Nikon Coolpix AW100, salah satu kamera tahan air / goncangan / debu dengan banyak pilihan warna
Nikon Coolpix AW100, salah satu kamera tahan air / goncangan / debu dengan banyak pilihan warna

Continue reading Camera review : kamera saku (pocket camera) waterproof di bawah 2 juta rupiah

Camera review : Kamera saku (pocket camera) di bawah 2 juta rupiah (OLD – 2013)


Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang fitur-fitur kamera saku dan tulisan tentang fitur-fitur canggih kamera saku, tentu Anda akan kembali bertanya-tanya, jadi kamera apa yang paling bagus? Tentu saja jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung selera dan fitur-fitur yang dipilih tiap orang. Sesuai ulasan saya bahwa batasan yang paling penting adalah harga, rekomendasi kamera ini berdasarkan batasan harga Rp 2.000.000. Kenapa harga ini yang dipilih, karena ini adalah batasan psikologi harga yang masih bisa dianggap terjangkau alias “murah” untuk ukuran kamera saku, namun masih dapat memperoleh kamera dengan fitur-fitur canggih yang sangat berguna bagi seorang backpacker. Saya hanya memilih 3 kamera saku terbaik agar Anda lebih fokus namun tetap memiliki pilihan sesuai kebutuhan.

1. Sony Cybershot DSC WX50 ( http://www.sony.co.id/product/dsc-wx50 )

Sony Cybershot DSC WX50 , kamera saku di bawah 2 juta yang paling direkomendasikan

Continue reading Camera review : Kamera saku (pocket camera) di bawah 2 juta rupiah (OLD – 2013)