Tag Archives: kamboja

Ta Prohm, Candi Paling Misterius di Angkor


Sudah nonton Tomb Raider kan? Itu lho yang ada Angelina Jolie jadi Lara Croft. Kalau Simbok sih belum pernah nonton wekekek. Salah satu lokasi yang digunakan di film itu adalah Ta Prohm, sebuah kompleks candi yang menjadi bagian dari peninggalan Kerajaan Khmer di Siem Reap, Kamboja.

Candi-candi Angkor dibangun pada abad 12-13 oleh Raja Jayavarman VII. Ta Prohm dikenal juga dengan nama Rajavihara. Ta Prohm dulunya memang wihara dan perguruan alias sekolahan yang dihuni sekitar 12.500 orang. Lalu apa yang membedakan Ta Prohm dengan candi-candi lain di kompleks ini?

Salah satu spot favorit di Ta Prohm
Salah satu spot favorit di Ta Prohm

Continue reading Ta Prohm, Candi Paling Misterius di Angkor

Advertisements

Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?


Terlalu sering saya dicurhati oleh teman-teman sesama traveller yang mengatakan bahwa mereka dicela oleh teman-teman mereka sendiri karena sering jalan-jalan ke luar negeri. Dibilang tidak nasionalis lah, tidak cinta Indonesia, dan sebagainya. Terus terang saja, saya sering menulis cerita perjalanan luar negeri untuk Yahoo dan media lain. Saya cermati, sering ada komentar yang mengatakan “Indonesia punya pantai yang lebih bagus dari itu, ngapain jauh-jauh ke luar negeri,” dan semacamnya. Seolah-olah kalau kita tinggal di negeri yang indah, terus kita tidak punya hak untuk berkunjung ke tempat lain yang dianggap “kurang indah”.

Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?
Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?

Continue reading Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?

Seribu Sisi Angkor


Angkor di Kamboja adalah situs arkeologi paling penting di Asia Tenggara, menurut situs resmi UNESCO. Bangunan yang paling dikenal dalam kompleks ini adalah Angkor Wat. Namun ternyata, kompleks yang maha luas itu memiliki berbagai candi yang buat saya malah lebih mengesankan dari sekadar Angkor Wat.

You want small circle or big circle?” tanya Jay Lim, si supir tuk tuk dengan bahasa Inggris yang agak susah dipahami. Saya sampai harus memiring-miringkan kepala supaya bisa mendengar dengan benar. “Big circle needs two days.Jaaah, wong saya di Siem Reap juga cuma dua hari, masak hanya keliling Angkor saja. Lagian sebesar apa sih kompleksnya kalau putaran kecil saja butuh sehari penuh?

Akhirnya saya pilih yang tur sehari saja, ongkosnya 20 dolar Amerika khusus untuk tuk tuknya, sementara tiket masuk kompleks juga 20 dolar per orang.  Itu saja sudah mahal, bayangkan kalau dua hari, bisa tekor langsung.

Walau katanya sedang musim sepi, ternyata antrean wisatawan di loket tiket banyak juga. Lucunya, selain harus membayar, wisatawan juga akan difoto satu per satu. Persis seperti di imigrasi, walau mereka tidak melihat paspor kita. Mungkin sebagai tindakan preventif kalau-kalau ada yang melakukan vandalisme.

Kompleks Angkor ini tidak jauh dari pusat kota Siem Reap, hanya sekitar 6 km. Kebanyakan wisatawan berkunjung dengan menyewa tuk tuk seperti saya, namun ada juga yang menyewa mobil atau sepeda.

Begitu masuk gerbang saya langsung senang melihat hutan lebat yang mengelilingi kompleks. Bukan model taman-taman cantik yang ditanam seperti di candi-candi Indonesia, melainkan pohon-pohon besar yang banyak dan rimbun, dibiarkan tumbuh secara alami. Sepanjang jalan pun bersih, sangat jarang sampah plastik. Mungkin karena kompleks ini memang sengaja disterilkan dari pemukiman penduduk, jadi jarang ada tangan-tangan jahil yang buang sampah sembarangan.

Jay Lim menyarankan agar saya ke Angkor Thom lebih dulu, “Because the sun not too high,” katanya. Dia bilang bahwa Angkor Thom sangat besar jadi butuh waktu lama untuk berkeliling, lebih baik didatangi pagi hari.
Patung-patung menuju ke gerbang Angkor Thom. (Olenka Priyadarsani)Patung-patung menuju ke gerbang Angkor Thom. (Olenka Priyadarsani)

Continue reading Seribu Sisi Angkor

Peringkat Negara ASEAN untuk Jalan-Jalan


Dulu saya punya cita-cita agung, mengunjungi semua negara ASEAN sebelum menikah. Apa daya, pada tahun 2010 saya hanya sempat sampai di Filipina – negara ASEAN ke 9 yang saya kunjungi. Dua bulan setelah itu saya terpaksa menikah dengan Puput sebelum tuntas.

Saya pernah ditertawai teman sih, punya cita-cita kok ASEAN, mbok ya mengunjungi mengunjungi semua benua! Wait! Itu cita-cita berikutnya, dong!

Myanmar yang seharusnya menjadi pelengkap, still got away. Maklumlah tahun 2010 itu Myanmar masih harus pakai visa, ribet ngurusnya. Tapi, waktu ke Kamboja (2008) dan Laos (2009) pun saya masih harus bayar VOA yang USD 20 itu! Huh.

Kabar baiknya, the one that got away was not getting away anymore! Apaan sih ini bahasa? Maksudnya, setelah terlambat 5 tahun – tepat di hari ulang tahun saya yang ke 25 – akhirnya saya menuntaskan semua negara ASEAN.

Berikut ini cuplikan serta peringkat negara mulai dari yang paling saya sukai hingga yang saya least sukai. Ingat, ini SUBJEKTIF, sesuai dengan pengalaman dan selera saya. Jadi jangan protes kalau tidak sesuai dengan pendapat Anda. Selain itu, walau sudah ke semua negara, di tiap negara paling saya hanya berkunjung ke 1-3 kota, kecuali Malaysia (10+ kota). Ke tiga, saya sengaja tidak mencantumkan Indonesia karena nanti jadi tidak adil dan kalau tidak jadi nomor 1 bisa-bisa saya dikepruki massa nasionalis .

  1. Vietnam
Salah satu sudut Old Quarter Hanoi

Continue reading Peringkat Negara ASEAN untuk Jalan-Jalan