Tag Archives: jepang

Jatuh Cinta dengan Orang Jepang


Baru sekali pergi ke Jepang, saya langsung jatuh cinta pada orang-orangnya. Padahal, biasanya saya bukan tipe orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dulu bayangan saya tentang orang Jepang adalah seperti Nagao Kanji di Tokyo Love Story. Dingin, spaneng. Lebih parah lagi, seperti para tentara Jepang jaman penjajahan. Mungkin hanya satu dua yang lucu wagu seperti Kenshin Himura Battosai Si Pembantai dalam Samurai X. Atau seperti Nobita. Sementara itu bayangan Puput tentang orang Jepang adalah seperti Miyabi.

image

Dari pertama menginjakkan kaki di Jepang, rasanya tidak habis-habis bertemu orang baik hingga meninggalkan Jepang lagi.

Turun dari pesawat AirAsia di Bandara Haneda, waktu setempat hampir menunjukkan tengah malam. Saya sudah memesan satu kamar hotel untuk ‘transit’ sebelum pindah ke apartemen. Hotel ini menyediakan shuttle bus gratis, antara lain pukul 11.30 dan 12.20.

Orang Baik #1: penjaga konter informasi. Kami terbirit-birit menuju ke konter informasi untuk bertanya di mana parkiran shuttle bus. Si Mbak yang menjaga konter informasi memberitahu, menunjukkan denah. Pembawaannya ramah, Bahasa Inggrisnya pun bagus.

Continue reading Jatuh Cinta dengan Orang Jepang

Tiga Masa Bersama AirAsia


Siapa yang bisa menduga saya anak kampung ini bisa menjelajah Asia. Siapa juga yang menyangka dengan perut buncit saya bisa melintas batas negara. Dengan bayi pun saya menyeberang benua. Semuanya berkat AirAsia.

Tiga Masa Bersama Airasia
Tiga Masa Bersama Airasia

Boleh dibilang impian menjelajah dunia itu menjadi impian sejak kecil, tapi apa daya zaman dulu sepertinya sulit sekali ke luar negeri. Selain fiskal yang menjadi hambatan, rasanya tiket pesawat pun hanya mampu dibeli oleh mereka yang berpunya. Baru medio 2000 adanya AirAsia Indonesia menjembatani halangan ini. Semua orang bisa terbang. Semua orang Indonesia bisa ke luar negeri. Continue reading Tiga Masa Bersama AirAsia

Perjalanan Mencari Kota-Kota yang Nyaman bagi Seorang Muslim (bag 1 ASEAN)


Sebenarnya, sudah lama saya ingin membuat tulisan untuk menanggapi penelitian yang berjudul “How Islamic are Islamic Countries.” Eh, rupanya ada pula tulisan dari Mbak Jihan dengan judul yang sama, tautannya bisa dilihat di sini. Ulasan Mbak Jihan ini sangat menarik, saya jadi tergelitik untuk menuangkan pemikiran dan pengamatan saya sendiri terkait masalah ini.

Masjid Raya Aceh, masjid kebanggaan serambi Makkah, salah satu bangunan yang selamat dari terjangan tsunami
Masjid Raya Aceh, masjid kebanggaan serambi Makkah, salah satu bangunan yang selamat dari terjangan tsunami

Untuk lebih menghangatkan suasana, berikut kutipan dari kompas, yang juga dikutip dalam tulisan Mbak Jihan.

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Lalu bagaimana dengan negara-negara lain? Masih dari blog Mbak Jihan, ternyata negara dengan mayoritas penduduk muslim yang menempati peringkat tertinggi adalah Malaysia di urutan 39. Sementara Arab Saudi sebagai pemilik dua kota suci Makkah dan Madinah berada di peringkat 131. Sebagai perbandingan, Jerman berada di urutan 17, Amerika Serikat ada di 25, sementara Jepang menduduki peringkat ke-29.

Masjid Nabawi di Madinah, kota suci umat Islam yang tenang dan damai
Masjid Nabawi di Madinah, kota suci umat Islam yang tenang dan damai

Sebenarnya, buat saya pribadi judul “How Islamic are Islamic Countries” alias “Seberapa Islami Negara Islam” sebenarnya terasa sangat bombastis. Coba kalau dipersempit menjadi “Sebarapa Islami Seorang Muslim,” rasanya jawabannya pun sangat sulit. Apakah dinilai dari seberapa rajin dia shalat, sebarapa banyak zakatnya, sebarapa banyak hafalan Quran-nya, seberapa dalam pengetahuan Quran dan Haditsnya, dll yang sangat sulit diukur. Menurut saya, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh Allah SWT selaku Tuhan Semesta Alam. Kalau individu saja tidak bisa diukur, apalagi skala yang lebih luas seperti negara.

Pasti Anda akan kembali bertanya, apa iya tidak ada parameter untuk mengukur tingkat keislaman suatu negara?

Kalau saya sendiri sih, lebih suka menilai dalam skala kota daripada negara. Lihat saja negara kita Indonesia, kalau Jakarta dibandingkan dengan Yogyakarta saja sudah jelas sekali bedanya, apalagi dengan Banda Aceh misalnya. Dan ingat, meskipun Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, Islam bukanlah agama mayoritas di semua kota. Akibatnya, warna Islam pastinya akan berbeda antara kota Bandung yang mayoritas Islam dengan kota Denpasar yang mayoritas bukan Islam.

Anda pasti masih ingin berdebat, apa dong indikator tingkat keislaman yang saya pakai. Saya sendiri tidak suka menggunakan istilah “tingkat keislaman” alias “how Islamic” dengan alasan yang sudah saya kemukakan di atas. Namun, saya lebih suka menilai tingkat kenyamanan suatu kota dan bagaimana kemudahan pelaksanaan ibadah bagi kaum muslimin di kota tersebut. Terus, tolok ukurnya apa kalau begitu?

Kalau menurut saya, sekali lagi menurut saya, seorang pekerja kantoran biasa yang gemar jalan-jalan dan tentunya beragama Islam, indikatornya adalah fasilitas publik seperti trotoar, taman, kemudian transportasi umum (penting banget nih buat traveler kere), lalu lintas, kebersihan, ketertiban, keramahan, keamanan, dan …… yang paling penting adalah kenyamanan dan kemudahan beribadah, utamanya shalat di masjid, termasuk menemukan makanan halal.

Sekali lagi, indikator di atas adalah murni pendapat saya pribadi, boleh setuju boleh tidak. Tidak ada penelitian ilmiah dan sebagainya, hanya pengamatan dan pengalaman pribada saja. Jadi kalau Anda punya pendapat berbeda, monggo-monggo mawon, wong yang Anda lihat pastinya akan berbeda dengan yang saya lihat. Kalaupun sama, intepretasinya pun belum tentu sama. Saya tidak menyinggung masalah yang berat-berat seperti politik, ekonomi, HAM, dll…Kalau masalah ini biar Simbok Oliq saja yang bergelar Master of International Relation. Kalau saya hanya bisa nggelar kloso alias tikar.

Lalu kota-kota mana saja yang dinilai, apakah kota-kota besar seluruh dunia? Wah, kalo itu sampai tua pun bisa-bisa belum semua bisa dikunjungi. Di sini saya hanya menilai dari kota-kota yang pernah saya kunjungi saja. Alhamdulillah, saat ini sudah ada beberapa kota dari beberapa negara yang setidaknya bisa memberi gambaran luas bagi Anda.

Dimulai dari Indonesia, saya lahir dan besar di Yogyakarta, kemudian kuliah di Bandung, lanjut kerja di Jakarta, kemudian hijrah ke Balikpapan (walaupun bukan di kotanya), balik lagi ke Jakarta, hingga akhirnya awal tahun ini keluar dari Indonesia. Meluas ke negeri tetangga, kota-kota di negara ASEAN yang pernah saya kunjungi adalah Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Kota Kinabalu (Malaysia), Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), dan Ho Chi Minh (Vietnam). Lanjut ke Asia, saya pernah plesiran ke Tokyo (Jepang), Kyoto (Jepang), New Delhi (India), dan umroh ke Makkah dan Madinah (Arab Saudi). Kemudian saya juga pernah diajak Simbok Oliq kilas balik ke Meulborne dan Sydney (Australia). Lalu yang agak jauh adalah kunjungan ke benua Eropa yang meliputi Paris (Prancis), Amsterdam (Belanda), dan Stavanger (Norwegia). Yang paling jauh adalah perjalanan ke Amerika Serikat, dimana saya berkesempatan menyambangi kota San Diego, San Fransisco, Los Angeles (ketiganya di negara bagian California), dan Dallas (Texas). Alhamdulillah….

Kota San Diego dilihat dari laut, salah satu kota di Amerika Serikat yang berdekatan dengan perbatasan Meksiko
Kota San Diego dilihat dari laut, salah satu kota di Amerika Serikat yang berdekatan dengan perbatasan Meksiko

Saya mulai dari Yogyakarta. Rasanya ini kota ternyaman di Indonesia versi saya. Di sini fasilitas publik lumayan bagus dibanding kota lain di Indonesia. Transportasi umum yang berupa bis kota sudah banyak yang uzur dan ditinggalkan pelanggannya yang kebanyakan beralih ke motor (seperti kota-kota besar lainnya), namun untungnya sekarang bis Trans Jogja sudah mulai digemari warganya. Kondisinya masih lumayan bagus, sayangnya jangkauannya masih terbatas. Kotanya cukup bersih, bisa dibilang tak ada pemukiman kumuh disini. Penduduknya juga ramah. Sayangnya kini lalu lintasnya mulai semrawut dan macet karena saking banyaknya motor, sementara jalan hanya bertambah sangat sedikit. Tapi bisa dibilang ini masalah semua kota besar di Indonesia. Sementara dari segi kemudahan menjalankan ibadah, Yogyakarta juga sangat nyaman. Masjid mudah ditemukan di mana-mana, demikian juga dengan makanan halal. Sayangnya, di sini saya tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang saya, jadilah saya harus hijrah dulu dari kota tercinta ini.

Takbir keliling dengan nyaman di Yogyakarta, tapi cukup di jalan kompleks, tak perlu ke jalan besar yang bisa mengganggu pengguna jalan lain
Takbir keliling dengan nyaman di Yogyakarta, cukup di jalan kompleks, tak perlu ke jalan besar yang bisa mengganggu pengguna jalan lain

Lanjut ke Jakarta, rasanya tak perlu panjang lebar lagi. Masalah klasik banjir dan macet masih belum teratasi hingga kini. Belum lagi kebiasaan buang sampah sembarangan yang parah. Fasilitas publik pun rata-rata kondisinya memprihatinkan walaupun sekarang sudah banyak perbaikan. Meskipun tranportasi umum masih sulit diandalkan, tapi bagusnya sekarang sudah terlihat perbaikan yang nyata. Untuk urusan beribadah, secara umum sudah nyaman. Masjid dan mushola tersebar di seluruh penjuru, bahkan kadang-kadang berdekatan. Sayangnya, saya banyak menemui masjid yang berlebihan dalam mengumandangkan pengajian dan wirid. Sebelum subuh banyak masjid yang sudah mengumandangkan pengajian dari rekaman entah dari jaman kapan, kadang bahkan sampai sejam sebelum waktu subuh. Bagi saya, ini sangat berlebihan, apalagi tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW. Nabi hanya menyuruh sahabat Bilal untuk mengumandangkan adzan secara lantang sebagai tanda shalat lima waktu, itu saja. Kalau Anda datang ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, Anda hanya akan mendengar adzan dan iqomat saja yang dikumandangkan lantang dari masjid, lain itu tidak. Selain menyelisihi sunnah, pastinya sangat mengganggu warga yang sedang beristirahat, apalagi bayi dan anak kecil. Jangan salah sangka lho, saya sendiri selalu berusaha shalat subuh tepat pada waktunya dan pergi ke masjid, tapi saya sangat tidak setuju kalau suatu masjid berlebihan dalam mengumandangkan pengajian dan wirid diluar adzan dan iqomat, karena memang tidak ada tuntunan dari Nabi SAW dan sangat menggangu. Kalau hal ini, Simbok Oliq yang sensitif karena Oliq suka tiba-tiba bangun dan menangis waktu masih bayi.

Masjid kubah emas di Depok... mungkin inilah masjid paling mewah di Indonesia
Masjid kubah emas di Depok… mungkin inilah masjid paling mewah di Indonesia

Mari kita beranjak ke negeri tetangga. Dimulai dari Singapura, sepertinya negeri ini contoh yang nyaris sempurna sebuah negara maju. Fasilitas publik yang bagus dan terawat, transportasi publik berbasis rel yang menjangkau hampir semua wilayah, serta kebersihan yang sangat terjaga di setiap sudut kota merupakan idaman setiap warga kota. Namun karena Islam bukan agama mayoritas disini, mencari masjid tidak semudah seperti di kota-kota di Indonesia ataupun Malaysia, walaupun masih lebih mudah dibanding kota-kota di negara-negara Eropa. Makanan halal juga demikian, meskipun tidak semua tempat ada, namun dengan sedikit usaha pasti kita bisa menemukannya. Tapi berhubung negara ini sangat kecil, suasana disini terasa sangat padat. Dimana-mana gedung pencakar langit, entah perkantoran atau apartemen. Seperti terkurung dan cenderung membosankan bagi saya. Belum lagi harga-harga yang sangat mahal dibanding harga-harga di Indonesia atau Malaysia. Untuk tinggal sementara waktu memang nyaman, tapi untuk tinggal dalam waktu lama, saya sendiri kurang suka.

Kali ini saya akan melewati Kuala Lumpur karena akan saya ulas di bagian terakhir. Beralih ke Bangkok, secara umum fasilitas publik dan lalu lintas di sini mirip dengan Jakarta. Dulu saya datang ke sini sekitar tahun 2005 sebelum transportasi massal dibangun, jadi rasanya mirip dengan di Jakarta. Mungkin sekarang sudah lebih mendingan daripada ibukota Indonesia itu. Sisi baiknya, disini sungai masih dimanfaatkan sebagai jalur transportasi sehingga bisa mengurangi kepadatan di jalan raya. Kalau soal kebersihan dan ketertiban, menurut saya mirip-mirip dengan Jakarta, tapi entah kalau sekarang. Nah, kalau bicara masalah Islam, disini jelas minoritas, jadi mencari masjid dan makanan halal agak sulit. Biasanya masjid hanya ada di pemukiman-pemukiman Islam yang umumnya orang India – Pakistan muslim atau pemukiman Melayu. Tapi kalau makanan halal masih bisa dicari dengan sedikit usaha karena wilayah ini masih berdekatan dengan Malaysia. Jadi buat seorang muslim, kehidupan di Bangkok memang agak sulit dibandingkan di Kuala Lumpur atau Jakarta, bahkan Singapura yang juga bukan mayoritas Islam.

Menuju ke utara lagi, secara umum Ho Chi Minh City terlihat lebih tertinggal dibanding ibukota-ibukota lain di negara ASEAN. Tak heran, perang Vietnam yang baru berakhir tahun 1976 membuat kota ini terlambat melakukan pembangunan. Namun, dibalik fakta itu, saya cukup kagum dengan kemajuan yang sudah dicapai kota ini. Meskipun secara umum fasilitas publik tidak terlalu bagus, di beberapa tempat terasa sangat nyaman untuk sekedar berjalan-jalan santai. Transportasi umum masih jauh tertinggal disini, bahkan taksi pun mayoritas berupa sedan butut tanpa argo. Lalu lintasnya juga sangat padat dengan motor, namun saya merasa lebih tertib dibanding Jakarta. Yang membuat saya kagum, terasa sekali penduduknya memiliki semangat kerja yang kuat setelah masa peperangan berakhir. Yang menyenangkan salah satunya adalah harga-harga makanan yang murah disini. Oya, sekedar info saja, mata uang vietnam, dong, nilainya lebih kecil dari rupiah, satu rupiah sama dengan 2 dong. Kalau untuk kaum muslim, mencari masjid dan makanan halal lebih sulit lagi. Seperti halnya di Bangkok, masjid umumnya ada di kantong-kantong kaum India-Pakistan muslim atau Melayu. Jadi kehidupan umat Islam di sini memang agak sulit, mirip dengan di Bangkok. Namun demikian, dalam pengamatan saya kaum muslim di sini cukup bebas dalam menjalankan ibadah, tidak ada tekanan.

bersambung ke bagian Asia…

 

Tak Perlu Uji Nyali di Lawang Sewu


“Waktu zaman Belanda ini kantor kereta api, Mbak. Tapi yang bikin seram adalah waktu penjajahan Jepang, ruang bawah tanah dijadikan penjara,” kata Widi, pemandu wisata saya saat mengunjungi Lawang Sewu di Semarang belum lama ini.


Lawang Sewu sebenarnya sudah dikenal sejak lama, namun baru benar-benar naik daun setelah dijadikan lokasi uji nyali acara televisi beberapa tahun silam. Kini, bangunan yang terletak di dekat Tugu Muda Semarang itu menjadi objek wisata utama bagi wisatawan yang datang ke kota ini.

Seperti kata Widi, gedung dengan arsitektur benar-benar cantik ini dulunya dibangun sebagai kantor jawatan kereta api. Tepatnya pada tahun 1904, dibangunlah gedung ini untuk kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS dan baru selesai tiga tahun kemudian.

Lalu mengapa dinamakan Lawang Sewu (Seribu Pintu)? Kabarnya jumlah pintu sebenarnya tidak sampai seribu namun masyarakat menganggap jendela-jendela yang besar dan tinggi sebagai pintu sehingga dinamakan demikian. “Kalau dihitung semua daun pintu dan jendela, jumlahnya sekitar tiga ribu lembar,” Widi menjelaskan sambil membawa saya menuju bagian depan gedung.

Sesuai dengan peruntukkannya pada masa Belanda, di bagian depan terdapat lokomotif kereta uap yang dipamerkan. Warnanya hitam, terlihat gagah, walau sudah tidak beroperasi lagi.


Orkes keroncong di tengah kompleks Lawang Sewu. (Olenka Priyadarsani)

Saya kemudian diajak menuju ke bagian tengah kompleks di mana terdapat sebuah pohon besar. Bagian tersebut seperti sebuah lapangan yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan Lawang Sewu. Di bawah pohon terdapat sebuah band keroncong yang tengah memainkan lagu Bengawan Solo. “Cocok sekali dengan suasananya,” pikir saya.

Widi kemudian mengajak saya berkeliling Gedung B. Saat itu tengah ada pameran kereta api yang menyajikan gambar-gambar serta miniatur kereta api kuno. Sambil berjalan ia menjelaskan bahwa gedung tertua di Lawang Sewu masih dibangun dengan metode lama tanpa semen.


Lorong gelap di bangunan-bangunan Lawang Sewu. (Olenka Priyadarsani)
Lorong-lorong gedung lebar dengan daun pintu dan jendela yang memang banyak sekali. Saya bisa membayangkan kalau malam hari pasti terasa menyeramkan. Namun siang seperti itu, ketika pencahayaan baik dan sirkulasi udara cukup, tidak terlalu mengerikan. Apalagi dari luar terdengar riuh rendah suara pengunjung lain.

Widi lalu membawa saya menaiki tangga ulir ke lantai atas. Tangganya sempit dan sedikit memutar jadi perlu hati-hati. Di lantai atas terdapat ruangan-ruangan besar dan kosong. Lantai atas ini memiliki balkon panjang dengan pagar dinding setinggi pinggang orang dewasa. Dari sini bisa terlihat Bundaran Tugu Muda dan keramaian di sekitarnya.

Di bagian bawah terdapat sebuah parit sempit dengan air dangkal. Widi mengatakan bahwa dulunya parit tersebut adalah sungai yang cukup besar dan dalam. Dulu dikenal dengan nama Sungai Merah, merujuk pada warna darah karena sungai ini dahulu digunakan sebagai lokasi pembuangan mayat para tahanan.

Tiba saatnya kami menuju ke ruang bawah tanah yang pernah dijadikan penjara oleh Jepang pada tahun 1942. Untuk masuk ke ruang bawah tanah pengunjung diharuskan menyewa sepatu boot seharga Rp10 ribu sepasang. Ruang bawah tanah memang selalu becek dengan air setinggi mata kaki. Sejak awal, ruang bawah tanah didesain untuk dapat menyimpan air dengan fungsi mendinginkan lantai di atasnya. “Oh, jadi semacam AC alami,” kata saya.


Masing-masing sel kecil ini dulu bisa berisi hingga 6 tahanan. (Olenka Priyadarsani)

Tangga menuju ke ruang bawah tanah juga sempit dan berulir. Ruangan ini gelap sehingga pengunjung harus membawa senter. Seperti beberapa bekas penjara lama yang pernah saya kunjungi sebelumnya, sel-sel di sini sangat sempit. Beda lho dengan penjara-penjara zaman sekarang yang biasa kita lihat di film-film seri Amerika.

Sel yang berukuran 1,5 x 1 m dulu bisa ditempati hingga enam orang tahanan. Lalu ada pula sel pendek setinggi lutut. Di sini tahanan hanya bisa jongkok atau duduk. Satu sel juga berisi banyak orang. Kejam sekali penjajah Jepang kala itu!

Tempat inilah yang dianggap seram oleh masyarakat sekitar. Maklum saja, penjara selalu jadi tempat penyiksaan dan entah berapa orang sudah mati disiksa di sini.

Kompleks Lawang Sewu sudah direnovasi, bahkan pernah ada wacana untuk menjadikannya tempat komersial dan hotel. Namun, banyak kalangan yang menentang rencana tersebut karena mengganggap proyek seperti itu akan merusak keaslian saksi sejarah ini.

Saya pribadi sebagai penikmat sejarah akan merasa sedih bila sampai bangunan bersejarah seperti ini dimodernisasi secara brutal. Perlu diingat, Lawang Sewu adalah saksi perjuangan para pendahulu republik ini. Di sinilah dulu terjadi Pertempuran Lima Hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang.

Renovasi untuk merawat dan melestarikan bangunan bersejarah tentu wajib hukumnya, demikian juga sebagai sumber pendapatan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Namun, tentu tidak bila dilakukan hanya demi kepentingan bisnis semata yang hanya akan menguntungkan segelintir orang.

Baca juga cerita perjalanan Olenka yang lain di http://backpackology.me

Dari Kebun Tebu ke Eropa


Usai shalat Subuh di Masjid Muhajirin, selalu saja terdengar nyaring suara petasan di segala penjuru. Tak jarang saya terlonjak kaget bila petasan yang dibunyikan hanya satu dua meter jaraknya. Kami – termasuk Puput dan saya – anak-anak perumahan biasanya lalu melanjutkan pagi bulan puasa kami dengan berjalan menyusur kebun tebu, sawah, dan ladang ilalang ke Kali Mancasan. Itu sekitar seperempat abad yang silam.

Bukti otentik saya pernah lebih tinggi (1993)
Bukti otentik saya pernah lebih tinggi (1993)

Kini, tidak ada lagi ceritanya tentang kebun tebu yang sangat lebat dan luas. Tidak ada lagi cerita tentang anak-anak seperti kami yang mencuri tebu hingga dikejar-kejar mandor.

Dulu, sepulang dari bermain di Kali Mancasan – mencari cethul, perosotan di tanggul hingga celana berlubang – kami akan pulang bersama-sama. Kadang ada rombongan pekerja bersepeda yang rela diboncengi anak-anak perempuan. Sekarang, mana ada pekerja yang bersepeda kalau motor matic saja bisa dibawa pulang hanya dengan 500 ribu?

Dulu kali Mancasan asri, sepi, airnya jernih. Kini, kantor pajak berdiri megah di seberang. Di sebelahnya terdapat sebuah tempat spa besar. Di sisi baratnya terdapat perumahan mewah, mungkin dengan embel-embel river view untuk meningkatkan daya jualnya.

Betapa cepat duapuluh lima tahun berlalu.

Kali Mancasan dulu jadi tempat main favorit saya dan Puput, beserta banyak teman sebaya kami seperti Iyok, Fendit, Encis, dan Donal. Encis sekarang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Makassar. Kakaknya, Fendit, entah berada di mana. Donal pun tidak terdengar kabarnya setelah keluarganya pindah rumah. Iyok sudah beranak dua, kami masih sering bertemu karena orangtua bertetangga. Saya dan Puput malah menikah – lebih dari dua dekade kemudian. Siapa yang menyangka? Kami pun tidak.

Saya tidak punya masa kecil yang sangat istimewa dengan berlibur ke mana-mana bersama orangtua. Paling sering ke Cirebon tempat Mama berasal, atau ke Jombang – kampung Papa. Biasanya hanya naik kereta ekonomi, pernah juga naik motor. Liburan paling sering saat kecil ya cuma ke Kebun Binatang Gembiraloka. Itu sudah yang paling top di Jogja kala itu. Masih untung sering diadakan jalan-jalan RT ke Kyai Langgeng, Kopeng, Pantai Ayah, Gua Jatijajar, atau ke candi-candi kecil sekitar Prambanan.

Saya tidak ingat apakah Puput pernah ikut piknik RT, kalau ditanya saya tidak yakin orangnya ingat. Yang jelas, wisata pertama kami bersama adalah ke Tawangmangu saat perpisahan SD.

Masa kecil itu bukan hanya kenangan. Masa kecillah yang menjadikan kita seperti sekarang. Petualangan kecil menembus kebun tebu, menyusuri Kali Mancasan hingga ke Tambakboyo, ataupun bermain-main di Kali Leles hingga menjelang Maghrib berperan dalam membentuk jiwa pejalan saat ini. Membentuk orang-orang yang punya “bokong gatel” bila terlalu lama di rumah.

Di Ho Chi Minh City, Vietnam
Di Ho Chi Minh City, Vietnam

Bahkan sebelum “reconnect” kami berdua sudah sering jalan-jalan sendiri. Ketika akhirnya menikah, cincin kawin lupa dibeli pun tak masalah, selama tiket bulan madu sudah di tangan. Upacara pernikahan berlangsung sederhana karena kami enggan dengan tetek bengek mengurus pernikahan. Baju pengantin pun beli jadi. Bahkan siang lepas akad dan resepsi kecil-kecilan ketika tamu masih ada kami terpaksa pamit untuk mengejar pesawat.

Masa kecil pun terulang kembali di sini. Petualangan bersama dimulai lagi. Mengejar mimpi.

Dari Condongcatur ke Paris
Dari Condongcatur ke Paris

Dari kebun tebu ke Eropa. Dari Mancasan ke Jepang. Dari Masjid Muhajirin ke Baitullah.

Tulisan singkat ini dibuat sebagai syukuran facelift (walau belum 100%) Backpackology, sebagai anak ke dua kami. Semoga ke depannya makin banyak cerita yang bisa dibagi dengan kawan-kawan pejalan semua.