Tag Archives: jawa barat

Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso


Setelah perjalanan tak berujung ke Ujung Genteng, melewati bukit dan lembah, hutan dan desa, keindahan alam ciptaan Tuhan dan kerusakan jalan ciptaan manusia, saatnya untuk pulang.

Karena sadar bahwa perjalanan pulang yang akan berliku nan panjang, bagi kami sulit untuk tiba di Jakarta sebelum malam. Prinsip road trip kami jelas, Magrib sudah hampir sampai tujuan, atau cari penginapan. Alasannya adalah karena Puput ngantukan demi keselamatan bersama.

Ini dia Si Amanda Ratu
Ini dia Si Amanda Ratu

Jadi, kami tidak kesusu untuk balik ke Jakarta. Agar terasa sah ampai di Ujung Genteng, mampirlah kami di Amanda Ratu. Apa sih Amanda Ratu ini? TANAH LOT SUKABUMI! Or so they say. Continue reading Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso

Advertisements

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

Sawarna, Mutiara Banten Selatan


Ketika para pejalan sudah cukup lama menggembar-gemborkan tentang tujuan wisata yang satu ini, ternyata masih banyak juga orang yang sama sekali belum pernah mendengarnya. Sawarna berada di Provinsi Banten, pesisir Laut Selatan. Dari Jakarta ada dua pilihan akses; melalui Rangkasbitung dan Sukabumi. Kebanyakan lebih memilih jalur yang kedua karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Saya pun demikian.

Baru minggu lalu saya akhirnya melakukan perjalanan darat melalui Pelabuhan Ratu dengan tujuan akhir Sawarna. Bagi orang yang masih bertanya-tanya apa istimewanya Sawarna, jujur saya akan bingung menjawab. Masalahnya, di sini ada banyak hal yang sangat menarik perhatian saya. Lokasi wisatanya pun tidak hanya satu, dengan beragam keunikan masing-masing.

Mari kita telusuri cantiknya Sawarna satu demi satu.

Pantai Pasir Putih Ciantir, tujuan utama wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Tujuan utama pelancong adalah Pantai Pasir Putih Ciantir, yang memang merupakan objek utama di sini. Untuk mencapai pantai ini, wisatawan harus meninggalkan kendaraan roda empatnya di tepi jalan atau di halaman rumah-rumah penduduk yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat parkir darurat. Saya memilih untuk meninggalkan mobil di penginapan dan berjalan kaki menuju ke pantai ini.

Dari jalan raya, saya melewati jembatan gantung yang menjadi ikon daerah ini. Di depan jembatan tertulis bahwa Desa Sawarna adalah desa ramah lingkungan. Sayangnya saya malah agak bingung membaca hal ini karena kenyataannya sepeda motor lalu lalang melalui jembatan menuju ke desa, baik motor-motor ojek maupun milik wisatawan yang membawa kendaraan roda dua. Bagaimana tidak? Di seberang jembatan ini, terdapat puluhan penginapan yang penuh sesak pengunjung.

Saya harus berjalan sekitar 10 menit, melewati desa, penginapan beraneka rupa, beberapa petak sawah, untuk sampai di pantai. Di Pantai Pasir Putih sendiri warung-warung sudah banyak bermunculan, banyak di antaranya yang menawarkan bale-bale yang bisa diinapi pelancong dengan dana terbatas.

Saya bisa mengerti mengapa pantai ini menjadi tujuan utama pelancong. Pantainya panjang dengan pasir yang luas enak untuk bermain. Ombaknya kencang sehingga ada larangan untuk berenang walaupun banyak yang tak mengindahkannya. Selain lokasi yang dekat dengan pusat akomodasi, keberadaan warung dan toilet umum memudahkan wisatawan. Pengunjung kala itu membludak. Terus terang, Pantai Pasir Putih bukan pantai favorit saya di Sawarna.

Tebing karang Tanjung Layar yang menjadi favorit fotografer. (Olenka Priyadarsani)

Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari Pantai Pasir Putih, terdapat pantai lain yang bisa dikatakan selalu menjadi objek foto untuk mempromosikan Sawarna. Tanjung Layar memilih dua buah karang besar tinggi. Di kanan kirinya terdapat terdapat tebing karang yang selalu jadi incaran para fotografer. Seringkali ombak besar tiba-tiba datang melapisi tebing karang bagaikan tirai putih.

Batu-batu karang menjulang di Tanjung Layar. (Olenka Priyadarsani)

Kita dapat menyeberang dari bibir pantai ke karang-karang besar di tengah. Tentunya harus berbasah-basah, karena tinggi air laut yang diseberangi berkisar antara selutut hingga setinggi dada, tergantung pasang surutnya laut saat itu. Tanjung Layar juga jadi favorit para pemburu matahari terbenam.

Berkebalikan dengan Tanjung Layar untuk melihat matahari terbenam, Legon Pari (Laguna Pari) adalah lokasi untuk melihat matahari terbit. Letaknya sekitar 6 km dari Desa Sawarna, hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang masih berbatu.

Tebing karang membatasi Pantai Gua Langir dengan dunia luar. (Olenka Priyadarsani)

Pantai favorit saya adalah pantai di Gua Langir, berada sekitar 2 km dari Pantai Pasir Putih. Bahkan ketika akhir pekan panjang, pantai ini sepi pengunjung. Ketika itu hanya ada keluarga kecil kami di sana, bagaikan pantai pribadi. Sesuai namanya, kawasan ini memiliki beberapa gua, yaitu Gua Langir, Gua Kanekes, Gua Seribu Candi, dan Gua Harta Karun. Kabarnya, gua-gua di sini dulunya dipakai oleh penjajah Jepang untuk bersembunyi.

Pantai Gua Langir terlihat dari balik hutan. (Olenka Priyadarsani)

Pantai di Gua Langir sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang seolah-olah membatasi area ini dengan dunia luar. Pasirnya lembut, suasananya agak mistis karena selain dikepung tebing, juga dikelilingi hutan yang masih lebat. Ah, mungkin juga suasana terasa mistis karena di pantai itu hanya ada saya, suami, dan anak kami yang masih kecil. Anak saya malah dengan santainya tidur-tiduran di atas pasir yang lembut.

Telusur Gua Lalay menjadi aktivitas alternatif selain pantai. (Olenka Priyadarsani)
Di Sawarna ada juga Gua Lalay yang kini ramai dikunjungi untuk melakukan caving (telusur gua). Berbeda dengan Gua Langir yang kering, pelancong harus mau berbasah-basahan bila masuk ke Gua Lalay. Namun, airnya pun tidak terlalu tinggi, hanya sebatas mata kaki dan betis. Jadi, Gua Lalay tidak berbahaya untuk dimasuki oleh mereka yang mungkin belum berpengalaman melakukan telusur gua.

Perahu-perahu nelayan menghiasi Pantai Pulo Manuk. (Olenka Priyadarsani)

Ada beberapa pantai lain yang berada di sekitar Sawarna. Salah satunya adalah Pantai Pulo Manuk, sebuah nelayan yang berkarang. Di sini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulo Manuk. Saya sangat menikmati perjalanan dari Desa Sawarna menuju ke Gua Langir dan Pulo Manuk karena di kanan kiri jalan adalah hutan lebat hijau yang dikelola Perhutani. “Andai saja semua hutan di Indonesia lestari seperti ini,” kata suami saya saat itu.

Pantai yang lebih jauh lagi berada di Bayah, bernama Karang Teraje. Tampaknya ini adalah lokasi wisata yang tidak baru lagi, sayangnya kurang terawat. Kami melihat banyak pekerja menggunakan overall berwarna oranye di sekitar sini. Ternyata sedang dibangun sebuah pabrik semen besar. Kami hanya bisa berharap pembangunan besar-besaran ini tidak akan merusak alam Sawarna.

Jangan kotori Sawarna
Satu hal yang sangat mengganggu saya ketika berwisata di dalam negeri adalah sampah. Mungkin faktor ini juga yang mengganggu pandangan objektif saya terhadap Pantai Pasir Putih Ciantir. Di Indonesia, semakin banyak orang yang berkunjung sama artinya dengan semakin banyak sampah berserakan. Kenapa yang cantik seperti ini kita kotori?

Yang paling banyak ditemui adalah botol air mineral berserakan. Banyak pula bungkus-bungkus makanan ringan, wadah mi instan, bahkan popok sekali pakai kotor. Padahal, biasanya warung-warung yang hanya beberapa langkah dari bibir pantai menyediakan tempat sampah. Herannya, di Pantai Gua Langir yang sepi pun masih terlihat tumpukan botol air mineral. Apa susahnya sih membawa tas plastik untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah?

Di Pantai Pasir Putih, kami melihat seorang laki-laki bolak-balik memunguti sampah di pasir. Suami saya langsung mengajaknya mengobrol. Namanya Egi, ia adalah salah satu dari tiga penjaga pantai di Ciantir ini. “Saya nggak tega lihat pantainya kotor, Mas!” saya menguping dari tempat saya duduk. Bayangkan saja, ada ratusan pengunjung pantai yang beramai-ramai membuang sampah sembarangan, sementara hanya ada beberapa orang seperti Egi yang memiliki hati besar untuk membersihkannya. Mau jadi apa pariwisata negara kita?

Baca juga cerita perjalanan Olenka di http://backpackology.me

Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu


Apa sih yang terlintas di benakmu ketika mendengar tentang Pelabuhan Ratu? Mungkin pantai? Nyi Roro Kidul? Atau malah Mak Erot? Saya sih langsung terbayang film-film Suzana. Dan minggu lalu terpaksa kami menginap di Pelabuhan Ratu. One night. Nggak lagi deh.

Pantai Karang Pamulang
Pantai Karang Pamulang

Ceritanya kami sedang dalam perjalanan dari Lembang ke Sawarna, via Cianjur, masuk ke Kab Sukabumi, melalui Pelabuhan Ratu. Hujan deras sore itu hampir-hampir sepanjang Sukabumi. Oliq sebenarnya tidak rewel karena tidur nyenyak terus di mobil. Tapi setelah nyanyi Pok Ame-Ame sampai seratus kali, anaknya mulai bete juga. “Aik mau puyang…aik mau puyang!” Demikian juga dengan simbok dan bapaknya.

Ketika sudah tidak mungkin untuk mencapai Sawarna sebelum Maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di tengah hujan deras kami lirik kanan kini cari penginapan. Penginapan pertama namanya Pondok Dewata atau semacamnya, tampak luar seram. Tapi apa ada penginapan nggak seram di Pelabuhan Ratu? Kalau istilah Puput semuanya “hotel Dono”, alias hotel-hotel cocok jadi setting film-film masa silam Dono-Kasino-Indro. Andai saja hujan tidak sedemikian derasnya, mungkin kami akan ke Karang Aji Beach Villa di Cimaja.

Ada penginapan di sebelah kanan, entah apa namanya, kami masih ragu-ragu. Akhirnya Puput membelok ke kiri, ke sebuah penginapan dengan embel-embel “Seaside Resort”. Namanya Bunga Ayu. Saya sih sudah menduga, ini pasti penginapan masa lampau.

Ya sudahlah, namanya sudah capek, akhirnya kami check in di Bunga Ayu ini. Kamarnya memang menghadap ke pantai dengan view pelabuhan dan kapal-kapal nelayan. Tapi ya itu tadi, hotel Dono. Lampau, silam, prasejarah.

Waktu digendong ke sini, Oliq nangis, “Aik mau kuar, aik ke cana-cana!” Artiya Oliq mau keluar, mau ke sana – sambil menunjuk arah luar. “Ni hotey jaman duyu banget!” Terbiasa melihat gambar pesawat, Oliq sudah bisa membedakan kuno dan modern, misalnya A380 akan dia bilang “wawa jaman cekanang (pesawat jaman sekarang)” dan DC-9 sebagai “wawa jaman duyu (pesawat jaman dulu)”. Dan akan dia tambahi “banget”, misalnya untuk pesawat-pesawat perang jaman Perang Dunia.

Awalnya Oliq sama sekali tidak mau masuk kamar. Maunya di teras. Tapi karena sudah capek, akhirnya mau juga dia main-main di kasur. Ternyata bonus penginapan ini berada di kamar yaitu: nyamuk dua juta ekor!

Laaaah, Oliq itu di mana-mana selalu jadi santapan nyamuk. Pernah semalam di Garut, ada 60 bentol di badannya – 20 di antaranya di muka. Saya langsung panik. “Ayo dimandiin sekarang terus diblonyoh Autan!” Saya dan Puput berjibaku memandikan anak yang meronta-ronta karena walau di pantai ternyata airnya dingin seperti di pegunungan. Ada sih keran air panas tapi saat itu tidak menyala. Anaknya jerit-jerit, saya cuma bisa bilang, “Di hotel jaman dulu banget nggak ada air panasnya, Aik!”

Sukses memandikan, langsung si anak dipakaiin piyama, dan diolesi Autan di seluruh tubuhnya, termasuk muka. Anaknya sudah agak adem ayem ketika AC sudah dinyalakan dan TV pun menyala. Mungkin jadi agak tidak seram. Untungnya, walaupun masa silam, kusam, dan kotor, kamar tidak berbau pengap.

Si mas karyawan hotel datang membawa Baygon semprot. Kami keluar dan Puput menyemprot seluruh kamar. Di kamar kiri kanan kami ada bapak-bapak biker yang ramai. Ada event motocross di Pantai Muara Sawarna.

Cuma agak deg-degan ketika Puput keluar beli air mineral sementara saya dan Oliq di kamar bersama dengan mayat-mayat nyamuk yang bertebaran di seluruh penjuru. Untung, malam berlalu singkat dan tidak ada yang aneh-aneh. Dan luar biasanya, tidak ada gigitan nyamuk sama sekali di Oliq – dengan jumlah yang dua juta itu!

 

Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Ombak di sini cocok untuk surfing
Ombak di sini cocok untuk surfing

 

Kami bangun sebelum matahari terbit dan setelah shalat Subuh jalan-jalan ke Pantai. Pantainya kotor dan berpasir gelap. Isenglah kami foto-foto sementara Oliq mainan tripod. “Ni kaya manana bandaya,” katanya. Maksudnya “Ini kaya menara bandara”.

"Jadi manana!"
“Jadi manana!”

Sarapan berupa nasi goreng dan/atau roti tawar panggang, lumayan lah ada rasanya. Saya buru-buru pengen langsung ke Sawarna aja. Acara mandi kembali jadi prahara. Oliq mandi jerit-jerit karena airnya dingin. Selesai dia mandi, Puput mandi dan airnya jadi hangat – cenderung panas malah. Saya mandi dengan air panas juga. Waktu Puput sikat gigi, air wastafel tiba-tiba berubah jadi coklat kelam. Iiihhhh berasa masuk ke film Suzana beneran nggak sih? Lebay ya, itu kan paling karena pipanya aja yang kotor.

Tapi tetap aja kami buru-buru packing dan check out, untuk menuju ke Sawarna yang lebih “muda” dan menjanjikan. Apa sih kaya slogan kampanye aja.

Dan baru saat mau berangkat itu saya melihat ada tulisan di atas pintu kamar, “1981” tahun pembangunan hotel. Yeeeee, seumur dong sama saya dan Puput!!!

A kiss from Nyi Blorong - hayahh!
A kiss from Nyi Blorong – hayahh!
Narsis sejenak
Narsis sejenak

 

Saat menuju ke Sawarna ini kami melewati Hotel Inna Samudra yang legendaris dengan kamar Nyi Roro Kidul.

Beberapa hari di Sawarna Oliq masih bolak-balik bilang, “Aik enggak mau puyang ke hotey jaman duyu banget. Aik tatuk.”

Simboknya deg-degan, “Takut apa di hotel jaman dulu banget?”

“Aik tatuk cama AC – ada boyongan.” Maksudnya Aik takut sama AC ada bolongan – entah maksudnya apa. “Di hotey jaman cekanang Aik enggak tatuk.” Gitulah, Oliq menyebut pondokan kami di Sawarna hotel jaman sekarang dan dia tidak takut!

Sudah ah, semalam saja di Pelabuhan Ratu!

Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng


Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.

Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng

Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).

Continue reading Cipanarikan, Pantai Tersembunyi di Ujung Genteng