Tag Archives: itinerary

Itinerary dan Budget Singapura 3 Hari


Singapura bisa jadi pilihan pertama wisata luar negeri bagi keluarga Indonesia, selain Malaysia. Negara jiran ini memang sangat mudah dikunjungi karena akses pesawat langsung dari kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dll). Jadi, kita tidak perlu datang ke Jakarta untuk naik pesawat ke Singapura, melainkan bisa menuju ke kota besar terdekat yang memiliki rute langsung ke negara pulau tersebut.

Haus banget habis diinterogasi imigrasi
Haus banget habis diinterogasi imigrasi

Kita pun tidak repot mengurus visa karena perjanjian multilateral ASEAN. Jadi tinggal persiapkan paspor yang tanggal kadaluwarsanya lebih dari 6 bulan. Langsung cabut deh ke Singapura. Continue reading Itinerary dan Budget Singapura 3 Hari

In Travel I Surrender


Apa sih yang kalian cari dari traveling? Mungkin ada yang akan menjawab melepaskan diri sejenak dari rutinitas, pencarian jati diri, mengenal budaya negara/daerah lain, sampai juga usaha cari jodoh (duh, yang terakhir kok kesannya desperate banget ya). Kalaupun ditanya, saya juga akan bingung menjawab. I travel for the shake of travelling itself.

IMG_4795

Buat saya, sulit untuk menjabarkan kenapa saya rela menghabiskan uang berjuta-juta dari jerih payah sendiri – sekarang jerih payah Puput hehehe – untuk selembar dua lembar tiket. Belum lagi sibuk membanding-bandingkan akomodasi murah lewat internet, mau pesan pakai Agoda, masih harus lihat review di TripAdvisor, udah gitu dicari harga termurahnya lewat Hotelscombined.com, repot banget gitu kesannya?

Mungkin alasan yang paling pas bagi saya adalah karena saya memang suka traveling. Bukan untuk pencarian jati diri – aduh saya terlalu shallow untuk itu. I enjoy everything when it comes to travelling, although I enjoy less when it comes to packing and when post-travelling syndrome hits me.

Ketika masih perawan ting-ting yang tidak kunjung disunting-sunting, memang lebih bebas untuk travel. Setiap ada promo, langsung booking saja, tidak peduli mau ke mana, dengan siapa, ada uang atau tidak. Tidak perlu minta cuti dulu. Baru setelah tiket di tangan, bolehlah mengajukan cuti pada bos, sambil bilang, “Udah booking tiket, Mas, tiket promo ga bisa dicancel.” Ampuh alasannya. Lha wong bule-bule selevel wakil direktur saja pakai alasan serupa juga.

Nah, masa itu adalah saat di mana kebahagiaan adalah melihat beberapa tiket liburan cemranthol sekaligus di kubikel. Senang itu ketika melihat kalendar dan tanggal yang ditandai sudah semakin dekat.

Hampir-hampir tidak pernah tidak punya tiket sama sekali. Sampai rekan kerja akhirnya menantang taruhan. Dia bilang, bisa nggak sampai bulan sekian kamu nggak booking tiket lagi. Saya jawab, bisa. Nyatanya saya kalah.

In travel I surrender.

Menikah bukan jadi penghalang untuk melanjutkan passion, justru semakin gila. Tentu saja menjadi agak rumit karena harus menyatukan dua jadwal yang berbeda. Tapi nyatanya, tetap bisa dan sering. Bahkan ketika hamil pun rela menggendong ransel ke India semata-mata karena tidak bisa lagi menolak gairah bepergian.

Karena punya bayi/balita lantas duduk di rumah saja, paling liburan akhir pekan, ke mall, atau main ke playground saja? It’s so last decade. Sudah bukan masanya lagi males repot. Singsingkan lengan baju and throw you baby to see the world. Emmm, lebay ya perumpamaannya….

Kenapa mau repot-repot seperti itu?

Saya menemukan kesenangan ketika melihat layar komputer dan di situ tertera “your booking is confirmed”. Hati langsung ser-seran ketika melihat iklan promo tiket sebuah maskapai, ibaratnya ditegur cowok idola waktu SMP.

Repotnya mencari penginapan pun jadi kesenangan sendiri, membandingkan yang ini dan yang itu. Walaupun sangat easy going untuk masalah transportasi, sejak punya anak saya cukup picky dalam hal memilih penginapan. Prinsip saya, kita boleh-boleh saja bercapek ria seharian, jalan-jalan ke sana ke mari, tapi pulang harus dapat tidur nyenyak dan nyaman. Alasannya? Ya supaya besoknya fit untuk jalan-jalan seru lagi, dong!

Menyusun itinerary pun jadi kesenangan tersendiri, walau biasanya juga tidak ditepati. Going where the wind blows, follow where the crowd goes.

Kadang bukan destinasinya yang paling penting melainkan kenyataan bahwa saya akan traveling.

Yang paling menyenangkan adalah membayangkan wah mau jalan-jalan, wah besok di sana mau ngapain aja ya, wah apa aja makanan yang kudu dicicipi. Udah kaya Oliq aja ngomongnya pake wah ini wah itu.

Semakin dekat semakin senang, merencanakan ini dan itu. Tetapi buat saya biasanya pada malam sebelum keberangkatan (terutama untuk acara liburan jarak jauh dan agak lama) akan ada semacam pre- travel jitters – rasa keengganan untuk pergi dari kasur yang tercinta.

Jitters ini mungkin terjadi karena saya sebenarnya adalah anak rumahan J.

Dulu acara menunggu di bandara pun jadi menyenangkan. Sekarang sih tidak lagi karena itu artinya harus entertain Oliq lebih lama. Nggak apa-apa sih anaknya cukup senang kalau bisa lihat pesawat-pesawat dan punya persediaan KitKat yang cukup.

Saya tidak mengesampingkan bahwa dalam travelling saya senang bertemu dengan banyak orang yang tidak saya kenal. Saya menikmati makanan yang tidak biasa saya makan di rumah. Saya melihat kebiasaan dan adat budaya asing. Saya mengenalkan anak saya dengan hal-hal di luar zona kenyamanannya.

Tapi tetap saja, alasan utama saya travelling adalah karena saya menikmatinya. Saya menikmati prosesnya dari awal hingga akhir.

Kalaupun saya kenalan dengan orang saat traveling itu bonus. Kalau saya dapat uang dari nulis cerita travel itu juga bonus. Kalau itu membuat anak saya jadi terbiasa travel dan akan berakhir jadi travel addict, itu adalah bonus dan sekalian tujuan – siapa tahu besok gede gantian dia yang ngajak simboknya jalan-jalan. Bapaknya tunggu rumah aja :b.

aiksulpice
Anak yang akan dipaksa ngajak simboknya jalan2 di masa depan

 

Saat ini sudah bukan masanya hanya mereka yang berduit saja yang bisa traveling. Tiket pesawat kadang bisa lebih murah dari tiket kereta api. Tentu saja ada banyak biaya lain selain tiket, tetapi kalau memang benar-benar niat, prinsip klise seperti menabung pun bisa dilakukan. Masa kalah dengan tukang becak yang menabung puluhan tahun untuk berhaji? Memang traveling ke Thailand atau Singapura misalnya, tidak bisa dibandingkan dengan niatan berhaji, but…you get my point, right?

Sudah cukup lama kami tidak traveling dan pantat ini sudah gatal saja. Baru tadi siang dapat approval dari si penyandang dana untuk booking tiket. Akhirnya excitement pra-traveling muncul lagi. Kembali ingat rasanya cari tiket murah. Rasanya membandingkan penginapan satu dengan yang lainnya. Menyusun itinerary. Mencari angle untuk tulisan berikutnya.

It’s not the destination that appealing to me the most, it’s the fact that I am travelling.

In travel I surrender.

3 Days 2 Nights in Jogja


Let say you are an expatriate working in Jakarta or having a business trip in Indonesia. You may consider to run away from Jakarta during long weekend. Yogyakarta or simply called Jogja is one of the most recommended place. Why? Because it is the second top destination after Bali. Known as student and cultural city, it is a place where modern city perfectly blends with traditional village. There are several flights daily from 6 in the morning to 9 in the night. It’s only an hour flight, but remember Soekarno Hatta International Airport is located outside of Jakarta which may take up to 2 hours from city center. You can also go by train which takes 9 hours.

Day 1 – Saturday

You shall catch a flight on Friday afternoon. Please consider crowded traffic to airport during long weekend, you should calculate the fastest time you can escape from office till reach the airport. Before 4 o’clock is the best time since you can arrive in airport within an hour from city center. If you board at 6 pm, you will arrive in Jogja at 7 pm. From Adisutjipto International Airport Jogja, you can go to your hotel by taxi or bus. Airport taxi is recommended transportation eventough more expensive than metered taxi outside. You can also go by TransJogja bus. Just for your info, you can also go by train from Maguwoharjo Railway Station. Adisutjipto International Airport is the one and only airport in Indonesia which have bus station and railway station located nearby.

Now it’s time to find a hotel. The best and most popular place is Sosrowijayan area, next to Tugu Railway Station and Malioboro street, the most famous street in Jogja. You can find wide range of accomodation from cheap hostel to 4 star hotel. It takes only half an hour by taxi from airport.

The first destination is Borobudur Temple, the biggest and the most famous buddhist temple in the world, one of UNESCO World Heritage. Borobudur is located in Magelang district, Central Java Province. It takes around one and a half hour by car from Jogja. I recommend you to rent a car for easy mobilization. It’s better to go early morning around 7 am. Borobudur Temple is built in 9th century during the reign of Syailendra Dynasty. Since it is the masterpiece of Jogja and Central Java tourism, Borobudur Temple shall be your first destination.

Stupa of Borobudur, “house” of Buddha statue

Continue reading 3 Days 2 Nights in Jogja