Tag Archives: islam

Safari Masjid-Masjid di Istanbul, Turki (bagian 2 – habis)


Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan pertama di sini, masih tentang wisata masjid di Istanbul, Turki.

Setelah berkeliling sambil shopping di Grand Bazaar, panggilan Adzan Maghrib mengantarkan saya ke Masjid Mercan Aga. Masjid ini cukup kecil dan sederhana, tidak ada kubah besar di dalamnya. Letaknya pun tersembunyi di balik toko-toko di belakang Grand Bazaar. Tak heran, para jamaahnya pun sebagian besar pedagang di Grand Bazaar. Alhamdulillah, masjid ini cukup ramai pada saat Sholat Maghrib.

Pintu gerbang Mercan Aga Cami yang tersamar diantara kompleks pertokoan di belakang Grand Bazaar
Pintu gerbang Mercan Aga Cami yang tersamar diantara kompleks pertokoan di belakang Grand Bazaar

Continue reading Safari Masjid-Masjid di Istanbul, Turki (bagian 2 – habis)

Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling


Salah satu hal yang paling saya sukai dari travelling (apalagi tinggal di luar negeri) adalah kesempatan untuk menjadi minoritas. Bayangkan saja, kalau di Indonesia, kurang mayoritas apa saya ini! Sudah perempuan, Jawa, muslim, setelah nikah pakai kerudung, setelah punya anak berhenti bekerja. Kurang mayoritas apa?

Justru saat berkunjung ke negara lain, saya belajar menjadi “lain”, menjadi orang bukan kebanyakan, menjadi alien.

Shalat di Ngong Ping, HK
Shalat di Ngong Ping, HK

Continue reading Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling

Sam Po Kong, Islam, dan Tionghoa


Siang itu Semarang panas membara. Matahari begitu terik menyengat serasa masih tepat berada di ubun-ubun. Adzan dhuhur sudah bergema beberapa puluh menit silam, ketika kami tiba di parkiran Kuil Sam Po Kong.

Sam Poo Kong dan Backpackology
Sam Poo Kong dan Backpackology

Menurut sumber dari Wikipedia, Sam Po Kong ini dahulu adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Laksamana Cheng Ho berasal dari Tiongkok dengan keturunan Persia. Bahkan Republika pernah menuliskan kemungkinan Cheng Ho merupakan keturunan Sayyidina Syafii yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

Dari luar terlihat adalah pengaruh Tiongkok yang sangat kuat dengan dominasi warna merah, seperti kuil-kuil Tiongkok yang pernah saya kunjungi di kota-kota lain. Kompleksnya juga sangat besar dan ramai. Pantas memang dijadikan salah satu lokasi wisata andalan Semarang, lekat dengan budaya dan sejarah.

Saat itu saya belum memahami sejarah kuil ini sehingga agak terperanjat ketika menemukan sebuah mushola tak jauh dari gerbang masuk. Alhamdulillah, tidak perlu lagi mencari masjid, sementara matahari makin menggelinding ke barat.

Mushola tidak terlalu besar, namun ramai oleh jamaah. Sebenarnya cukup terawat, namun seperti biasa, semua mukena kotor — problema klasik mushola di Indonesia. Ada yang shalat, ada yang berdandan, ada yang sedang menyusui bayinya.

Pertalian yang erat antara Islam dan klenteng ini juga membuat Sam Po Kong (katanya) jadi lokasi wisata religi muslim Tiongkok, terutama dari Yunnan. Yang saya lihat di sini sih klenteng ini malah jadi tujuan semua orang, ada perempuan berniqab, ada banyak etnis Tionghoa, ada orang-orang Jawa, semuanya campur aduk menikmati keindahan budaya.

Oleh saudara-saudara Tionghoa baik dari Semarang maupun luar kota, klenteng ini juga jadi tempat sembahyang. Maka dari itu, tak heran bila bau dupa menyeruak. Selain itu ada pula kios yang menjual dupa dan persembahan.

Patung-patung yang menggambarkan pasukan Cheng Ho
Patung-patung yang menggambarkan pasukan Cheng Ho

Bagian inti dari klenteng ini adalah sebuah gua batu yang kabarnya merupakan markas Laksamana Cheng Ho ketika mendarat di Jawa. Di dalam sini ada patung Laksamana Cheng Ho, altar, dan makam orang-orang terpercaya Sang Laksamana.

Di klenteng ini terdapat banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan penjelajahan Cheng Ho dan awak kapalnya. Seperti relief di candi-candi. Seperti diorama di museum. Bak mesin waktu yang membawa kita ke masa lalu.

Cheng Ho sebenarnya hanya kebetulan mampir di Semarang. Ketika sedang menyusuri pantai Jawa, salah seorang awak kapalnya jatuh sakkt sehingga ia memerintahkan kapal untuk menepi dan kemudian menyusuri Kali Garang hingga berlabuh di Desa Simongan. Ia membangun sebuah masjid kecil.

Saya sendiri sangat menyukai pohon-pohon besar yang dibiarkan tumbuh di pinggiran. Lampion-lampion besar berwarna merah menggantung mewah. Orang-orang bergerombol berteduh di bawah pohon agar terlindung dari teriknya sang surya.

Saya dan Oliq duduk manis sambil menyeruput Teh Botol Sosro dingin di bawah pohon, sementara Puput menunaikan tugasnya memotret-motret.

Buat saya, Sam Po Kong ini menyimpan sejarah yang unik, menggambarkan toleransi agama dan budaya seperti menjadi miniatur kota Semarang di mana etnis Tionghoa dan Jawa hidup berdampingan apa adanya.

sam poo kong 1

 

Hijab Backpacking Part II: Japan


Menyambung tulisan saya beberapa bulan yang lalu (hijab backpacking ke India, Australia, Malaysia, Thailand), ini bagian ke duanya. Sedikit mengulang, ini hanyalah pengalaman saya melakukan backpacking di beberapa daerah dan negara, dan bagaimana persepsi orang-orang melihat saya yang berkerudung (maaf, saya tidak pernah menggunakan kata jilbab). Namun tidak hanya itu, cerita ini juga berisi tentang pengalaman tetap menjalankan rukun Islam di negara lain. Kali ini adalah tentang kunjungan kami ke Jepang bulan Oktober lalu.

welcome

Yang pertama muncul dalam benak saya adalah kurangnya exposure orang Jepang dengan Islam. Kira-kira mereka akan melihat kami seperti apa ya? Apalagi Puput berjenggot (yang tetep ngeyel jenggoten padahal istrinya risih karena jadi selalu ingat Syekh Puji – hih jijay!).

Continue reading Hijab Backpacking Part II: Japan