Tag Archives: india

Thaipusam 2014 : Video


Setelah foto-foto yang bisa dilihat di bagian1 dan bagian2, berikut beberapa video yang diambil selama Festival Thaipusam 2014 di Batu Caves Temple, Selangor, Malaysia

Thaipusam movie1

Thaipusam movie2

Oya, festival ini diselenggarakan menurut penanggalan Hindu, biasanya setiap Januari atau Februari. Kalau mau kesana, cara yang paling gampang adalah dengan kereta KTM Komuter dari KL Sentral, langsung berhenti persis di stasiun Batu Caves yang terletak di sebelah komplek Kuil Batu Caves sendiri.

Enjoy… 🙂

Advertisements

JPG : Festival Thaipusam Batu Caves, Selangor, Malaysia (bagian 2)


Tulisan dan foto-foto ini adalah lanjutan dari bagian 1 di sini. Kali ini saya tampilkan aksi-aksi para pemuja (devotee) yang memberikan persembahan terbaik mereka kepada Dewa Perang Tamil, Murugan, di kuil Batu Caves. Para pemuja ini harus berjalan dari kuil Sri Mahamariamman di Kuala Lumpur sejauh kira-kira 15 km dan dilanjutkan dengan menaiki anak tangga sebanyak 272 buah menuju kuil Batu Caves di dalam gua. Dalam perjalanan, mereka sering menampilkan persembahan dalam bentuk tarian dan nyanyian yang juga menjadi atraksi yang menarik bagi para turis.

Sanggahan / Disclaimer : Foto-foto di bawah mungkin menimbulkan rasa ketidaknyamanan, anak-anak dan orang-orang yang tidak tahan dengan foto-foto yang agak sadis tidak disarankan melihat foto-foto para pemuja berikut.

Pertama kali melihat adegan ini, Anda pasti bertanya-tanya kenapa pria ini harus ditarik tangannya dan dijaga beberapa orang di sekelilingnya...
Pertama kali melihat adegan ini, Anda pasti bertanya-tanya kenapa pria ini harus ditarik tangannya dan dijaga beberapa orang di sekelilingnya…

 

Rupanya pria ini sedang menarik sebuah kereta persembahan.... dengan kait-kait yang dicolokkan langsung di punggungnya... hanya di Thaipusam Batu Caves
Rupanya pria ini sedang menarik sebuah kereta persembahan…. dengan kait-kait yang dicolokkan langsung di punggungnya… hanya di Thaipusam Batu Caves

 

Seperti ini bentuk kereta yang ditarik sang pria dengan punggungnya... mungkin beratnya bisa mencapai ratusan kg...
Seperti ini bentuk kereta yang ditarik sang pria dengan punggungnya… mungkin beratnya bisa mencapai ratusan kg…

 

Sang pemuja (devotee) membawa kanopi yang berhias patung-patung dan bulu merak, beratnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan kg...
Sang pemuja (devotee) membawa kanopi kavadi yang berhias patung-patung dan bulu merak, beratnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan kg…

 

Saking beratnya kanopi kavadi, sang pemuja kadang harus dibantu kawan-kawannya untuk menyangga ketika akan berdiri...
Saking beratnya kanopi kavadi, sang pemuja kadang harus dibantu kawan-kawannya untuk menyangga ketika akan berdiri…

 

 

Sang pemuja yang lain, tampak bentuk kanopi yang sangat megah dan meriah...
Sang pemuja yang lain, tampak bentuk kanopi yang sangat megah dan meriah…

 

Kini lihat bagian belakang sang pemuja ini... puluhan kait ditusukkan di punggungnya sebagai bentuk pengorbanan kepada Dewa Perang Murugan...
Kini lihat bagian belakang sang pemuja ini… puluhan kait ditusukkan di punggungnya sebagai bentuk pengorbanan kepada Dewa Perang Murugan…

 

Tak cukup dengan berjalan membawa beban berat dan punggung yang ditusuk-tusuk, dia juga menari diiringi tabuhan gendang sebagai wujud persembahan pada Sang Dewa...
Tak cukup dengan berjalan membawa beban berat dan punggung yang ditusuk-tusuk, dia juga menari diiringi tabuhan gendang sebagai wujud persembahan pada Sang Dewa…

 

Kadang-kadang sang pemuja harus duduk sesaat karena menunggu rombongan lain yang sedang menari atau menyanyi, atau bahkan sekedar beristirahat sejenak..
Kadang-kadang sang pemuja harus duduk sesaat karena menunggu rombongan lain yang sedang menari atau menyanyi, atau bahkan sekedar beristirahat sejenak..

Sang pemuja juga masih manusia... seteguk air membantunya tetap tegar memberi persembahan terbaik...
Sang pemuja juga masih manusia… seteguk air membantunya tetap tegar memberi persembahan terbaik…

 

 

 

Sang pemuja yang membawa persembahan puluhan cantolan jeruk di sekujur badannya...
Sang pemuja yang membawa persembahan puluhan cantolan jeruk di sekujur badannya…

 

Tak cukup dengan cantolan puluhan jeruk, dia juga menusuk pipinya dengan tongkat besi yang panjangnya hampir satu meter...
Tak cukup dengan cantolan puluhan jeruk, dia juga menusuk pipinya dengan tongkat besi yang panjangnya hampir satu meter…

 

Tak hanya lelaki, wanita pun turut meberi persembahan... Kali ini berupa susu dalam kendi dan rambut yang dicukur habis...
Tak hanya lelaki, wanita pun turut meberi persembahan… Kali ini berupa susu dalam kendi dan rambut yang dicukur habis…

 

Anak-anak pun ada yang berpartisipasi membawa kavadi meskipun berukuran lebih kecil dan tidak ditusuk-tusuk badannya...
Anak-anak pun ada yang berpartisipasi membawa kavadi meskipun berukuran lebih kecil dan tidak ditusuk-tusuk badannya…
Rombongan pengiring musik sang pemuja membuat suasana pemujaan menjadi lebih hidup...
Rombongan pengiring musik sang pemuja membuat suasana pemujaan menjadi lebih hidup…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JPG : Festival Thaipusam Batu Caves, Selangor, Malaysia (bagian 1)


Kali ini saya akan menyajikan foto-foto festival Thaipusam yang diadakan setiap tahun di Batu Caves, Selangor (mayoritas turis menganggap Batu Caves masih di KL, tapi sebenarnya sudah masuk negara bagian Selangor), Malaysia. Kebetulan sekali kami baru saja 2 minggu pindah ke KL, jadi momen ini pastinya tidak kami (saya, Olen, dan Oliq) lewatkan, apalagi Thaipusam termasuk agenda libur regional di KL dan Selangor.

Sekedar pengetahuan singkat saja, Thaipusam adalah festival Hindu Tamil pada saat bulan purnama di bulan Thai (Januari / Februari). Festival ini diadakan di negara yang banyak penduduk Hindu Tamil seperti India, Sri Lanka, Malaysia, dan Singapura. Yang unik dari festival di Batu Caves adalah adanya pemuja-pemuja yang memberi persembahan kepada Dewa Perang Tamil, Murugan, dalam bentuk kanopi yang diberi hiasan-hiasan unik yang disebut kavadi. Tak cukup hanya itu, kadang-kadang sang pemuja juga ditusuk pipinya dan punggungnya dikait berbagai cantolan yang semakin memberi kesan ngeri bagi yang melihat.

Langsung saja, ini liputan dari festival yang baru saja berlangsung Jumat 17 Januari kemarin.

Ribuan orang memadati Batu Caves, sementara para pemuja menuju kuil di dalam gua melalui 272 anak tangga
Ribuan orang memadati Batu Caves, sementara para pemuja menuju kuil di dalam gua melalui 272 anak tangga

 

KTM komuter dari KL Sentral, langsung berhenti persis di stasiun Batu Caves, cara paling mudah menuju sini dari KL
KTM komuter dari KL Sentral, langsung berhenti persis di stasiun Batu Caves, cara paling mudah menuju sini dari KL

 

Di luar komplek kuil, festival ini menjadi seperti pasar kaget yang penjual dan pembelinya didominasi orang India. Berbagai barang dijual disini, mulai dari ornamen religius hingga makanan
Di luar komplek kuil, festival ini menjadi seperti pasar kaget yang penjual dan pembelinya didominasi orang India. Berbagai barang dijual disini, mulai dari ornamen religius hingga makanan

 

Manisan India alias Indian Sweet, salah satu stan makanan yang selalu ramai dikunjungi pembeli
Manisan India alias Indian Sweet, salah satu stan makanan yang selalu ramai dikunjungi pembeli

 

Masakan khas India pastinya mudah ditemui disini. Anda akan merasa berada di India, bukan di Malaysia, saat festival Thaipusam ini
Masakan khas India pastinya mudah ditemui disini. Anda akan merasa berada di India, bukan di Malaysia, saat festival Thaipusam ini

 

Bercukur adalah salah satu bentuk pengorbanan bagi Sang Dewa. Tak hanya kaum lelaki, kaum wanita dan anak-anak pun banyak yang mempersembahkan rambut mereka sebagai bentuk ketaatan mereka pada Sang Dewa
Bercukur adalah salah satu bentuk pengorbanan bagi Sang Dewa. Tak hanya kaum lelaki, kaum wanita dan anak-anak pun banyak yang mempersembahkan rambut mereka sebagai bentuk ketaatan mereka pada Sang Dewa

 

Berbagai bentuk kanopi yang disebut Kavadi dibawa oleh para pemuja sebagai bentuk pengorbanan yang lebih tinggi bagi Sang Dewa Perang Murugan
Berbagai bentuk kanopi yang disebut Kavadi dibawa oleh para pemuja sebagai bentuk pengorbanan yang lebih tinggi bagi Sang Dewa Perang Murugan

 

Foto-foto para pemuja (devotee) yang memberi persembahan akan disajikan di bagian 2. Ikuti terus kisah Thaipusam di blog ini.

 

 

 

 

 

Ditangkap Polisi di Taj Mahal


Bila ditanya pengalaman yang paling berkesan saat melancong sejauh ini, jawaban saya pastilah ketika bepergian ke India dua tahun yang lalu. Bagaimana tidak, selain menikmati peninggalan sejarah yang luar biasa, berbagai kejadian unik dan tidak terlupakan saya alami. Mulai dari dikejar-kejar supir bajaj, ditangkap polisi, hingga terpaksa semalaman menginap di Stasiun Agra Cant – dan saat itu adalah puncak musim dingin. Ditambah lagi, petualangan tersebut kebetulan terjadi ketika saya mengandung empat bulan. Read more

It's worth the hassle
It’s worth the hassle

Pengalaman Shalat di Masjid-Masjid India


Mumpung masih bulan Ramadhan, saya ingin sedikit berbagi pengalaman shalat di masjid-masjid India. Mungkin Anda agak heran, apa yang istimewa? Toh shalatnya sama aja kan, tetep pake bahasa arab kan. Memang sih, shalatnya sama aja, tapi tetap ada suasana yang berbeda dan unik, yang akan saya ceritakan disini.

Masjid Jami di kawasan Old Delhi, India, masjid terbesar dan termegah yang dibangun Raja Shahjahan
Masjid Jama di kawasan Old Delhi, India, masjid terbesar dan termegah yang dibangun Raja Shahjahan

Pertama kali menginjak kaki di India, salah satu tujuan adalah Masjid Jama (kadang disebut Jami atau Jamek) di kawasan Old Delhi, masjid terindah dan terbesar di India. Masjid ini mampu menampung hingga 25.000 jamaah. Dibangun selama 6 tahun dari tahun 1650 hingga 1656 oleh Raja Shahjahan dari Kerajaan Mughal yang juga membangun Taj Mahal dan Benteng Merah (Red Fort), masjid ini memiliki 3 gerbang, 4 menara, dan 2 minaret (menara untuk mengumandangkan adzan) setinggi 40 m yang terbuat dari batu merah dan marmer putih. Yang menarik, di dalam masjid ini ada ruang terbuka besar, kira-kira berukuran 75 x 66 m, dan dipenuhi burung merpati. Penjaga masjid sesekali menaburkan biji-bijian ke atas lantai dan burung-burung akan beterbangan menuju biji-bijian. Kalau ada yang mendekati, burung-burung ini akan berhamburan terbang ke atas atap masjid.

Burung merpati beterbangan di dalam Masjid Jami, Old Delhi, India
Burung merpati beterbangan di dalam Masjid Jama, Old Delhi, India

Wisatawan bisa memasuki masjid ini secara gratis, namun bila membawa kamera akan dikenakan biaya. Kebetulan saya dan Olen (si Oliq masih jadi gembolan) datang pas hari Jumat, sehingga kami memutuskan untuk datang agak pagi agar bisa leluasa memotret dalam masjid yang sangat cantik ini. Menjelang jam 11, petugas masjid sudah mulai “mengusir” turis-turis karena memang saatnya shalat jumat. Khusus hari Jumat jam buka memang hanya sampai jam 11 siang dan baru buka lagi setelah shalat jumat selesai. Awalnya saya juga diusir, namun setelah mengatakan saya juga muslim dan ingin shalat jumat disini, akhirnya petugasnya paham dan membiarkan saya tetep di dalam masjid.

Petugas segera menggelar karpet di lapangan dalam masjid karena memang lapangan ini kotor terkena kotoran burung. Bisa dibayangkan banyaknya karpet mengingat luasnya lapangan ini. Oya, tatacara shalat jumat di sini agak berbeda. Adzan pertama dilakukan seperti biasa, diikuti khutbah jumat dalam Bahasa Hindi. Tentu saja saya hanya diam dan melongo. Kemudian setelah selesai khutbah pertama, muadzin mengumandangkan adzan kedua. Setelah selesai adzan, para jamaah segera shalat sunnah, diikuti khutbah kedua. Tidak seperti khutbah pertama, khutbah kedua lebih banyak doa-doa dalam bahasa arab sehingga saya sedikit familiar. Selanjutkan muadzin mengumandangkan iqomah. Namun bedanya, iqomah disini lebih mirip adzan (dua kali pengucapan tiap kalimat), beda dengan iqomah di Indonesia atau Arab Saudi. Selanjutnya shalat jumat dua rakaat seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Selesai shalat, Imam memimpin wirid diikuti jamaah, mungkin hal ini juga umum dilakukan di Indonesia.

Taj Mahal di kota Agra, peninggalan Raja Shahjahan sebagai persembahan untuk almarhum istri tercintanya
Taj Mahal di kota Agra, peninggalan Raja Shahjahan sebagai persembahan untuk almarhum istri tercintanya

Pengalaman kedua adalah ketika kami shalat di masjid dalam kompleks Taj Mahal. Masjid ini terletak di sebelah barat bangunan utama makam Taj Mahal. Secara arsitektur, bangunan ini juga didominasi batu merah. Lantainya pun merah, dengan bentuk menyerupai sajadah, tepatnya sejumlah 569 sajadah. Saya sempat bertemu dengan orang Indonesia waktu shalat di sini. Saya juga sempat berbincang-bincang dengan imam masjid ini yang dipegang secara turun-temurun. Dia tampak sangat senang ada jamaah dari jauh yang shalat di masjid itu. Pada saat menjelang maghrib, kumandang adzan terdengar dari masjid ini. Ternyata muadzin adalah imam masjid itu sendiri. Kami pun menyempatkan diri shalat di masjid ini, kali ini berjamaah langsung dengan imam masjid. Yang membuat saya trenyuh, dari ribuan pengunjung Taj Mahal yang didominasi orang India, tak satupun dari mereka yang shalat di masjid ini. Saya pun kini paham kenapa sang imam sangat bahagia ada yang shalat di masjid ini. Padahal, di kota Agra tempat berdirinya Taj Mahal, ada banyak penduduk muslim. Selain itu, populasi muslim India sebenarnya cukup banyak, sekitar 20 % dari 1 milyar penduduk.

Masjid di kompleks Taj Mahal, sayangnya hanya bangunannya yang besar, namun jamaahnya sepi
Masjid di kompleks Taj Mahal, sayangnya hanya bangunannya yang besar, namun jamaahnya sepi

Selanjutnya pengalaman saya adalah shalat di kompleks Qutb Minar. Ini adalah minaret tertinggi di dunia pada masanya, dengan ketinggian mencapai 72 m dengan diameter bawah 14 m. Menara ini mulai dibangun tahun 1197 seiring dimulainya kerajaan Islam di India, dan perlu waktu 20 tahun untuk menyelesaikan menara dan bangunan sekitarnya. Di dalam kompleks Qutb Minar terdapat sebuah masjid yang bernama Quwwatul Islam di sebelah timur laut menara. Sayangnya, masjid ini kini dibiarkan menjadi puing-puing dan tidak lagi berfungsi sebagai tempat shalat. Kembali saya merasa sangat sedih mengingat sejarah kerajaan Islam yang sangat panjang di India. Awalnya saya berniat shalat di masjid ini, namun mengingat di dalam bangunan cukup kotor dan tidak layak sebagai tempat shalat, akhirnya saya shalat sendiri di taman dalam kompleks masjid. Tampaknya saya menjadi tontonan menarik sehingga ada beberapa orang sibuk memotret saya ketika shalat. Ternyata, ketika kami keluar, baru kami tahu kalau ada mushola kecil di dekat pintu gerbang. Namun ini tidak mengurangi kesedihan saya, mengingat harusnya Masjid Quwwatul Islam di dalam kompleks tetap berfungsi sebagai masjid dan tempat shalat.

Menara Qutb Minar yang menjadi menara adzan tertinggi di jamannya, bahkan masih salah satu yang tertinggi hingga kini
Menara Qutb Minar yang menjadi menara adzan tertinggi di jamannya, bahkan masih salah satu yang tertinggi hingga kini

Banyak pejalaran yang saya ambil dari perjalanan kami di India. Kerajaan Islam yang berdiri cukup lama dan kuat di India, ditunjukkan dengan banyaknya bangunan-bangunan yang impresif seperti Taj Mahal, Masjid Jami, Qutb Minar, ternyata bukan jaminan dakwah Islam berjalan dengan baik. Saya merasakan seolah-olah Islam seperti agama yang masih asing di sini. Memang kita perlu belajar dari sejarah pada masa Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, dimana tidak ada bangunan-bangunan besar namun dakwah benar-benar terasa sehingga Islam bisa berkembang ke seluruh dunia hingga kini.