Tag Archives: gunungkidul

Jom Balik Kampung!


Tradisi mudik saat lebaran ternyata bukan cuma milik Indonesia saja. Di Malaysia, mudik atau apa yang mereka sebut ‘balik kampung’ bagaikan agenda wajib, terutama bagi yang tinggal di kota-kota besar. Kalau orang Malaysia saja balik kampung, apalagi kami yang jarang bertemu keluarga. Jom balik kampung ke Jogja!

Pulangke Jogja
Pulang ke Jogja

Untuk warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia seperti kami, perjuangan cari tiket pun sama saja dengan teman-teman yang ada di Jakarta. Semua mahal! Bagaimana tidak, hampir semua teman TKI yang berada di Malaysia pun pulang kampung. Bagi mereka, Lebaran mungkin menjadi satu-satunya kesempatan bertemu sanak saudara karena biasanya hanya pulang kampung setahun sekali. Continue reading Jom Balik Kampung!

Advertisements

Blusukan Jogja: Curug Kedung Kandang


Wisata Jogja itu lengkap.  Mulai dari gunung, pantai sampai curug. #MingguMblusuk kali biar nggak terlalu mainstream,  saya sama partner mlipir cari yang seger-seger, mblusuk cari waterfall alias curug. Kemana? ke Curug Kedung Kandang Gunungkidul.  Lokasinya masih di daerah Nglanggeran.

Curug Kedung Kandang saat musim hujan
Curug Kedung Kandang saat musim hujan

Istimewanya, curug ini letaknya di tengah-tengah persawahan milik warga. Jadi setelah parkir kita kudu jalan lewat pematang sawah dan kebon-kebon punya warga. Belum ada tarif masuk, bayarnya cuma seikhlasnya. Continue reading Blusukan Jogja: Curug Kedung Kandang

Blusukan Jogja: Embung Sriten


Setelah status “sayur lodeh” yang dibuat Mbakyu Olen menuai kontroversi, bikin saya sadar bahwa di dunia ini banyak orang yang kurang piknik. Sehingga sayur lodeh bisa mbladrah kemana-mana. Ah biarlah itu berlalu.  So, intinya piknik itu nggak usah jauh-jauh asal bisa refresh otak. Sejak kerja, waktu luang saya cuma wiken jadilah saya bikin agenda #MingguMblusuk

Embung Sriten
Embung Sriten

Kali ini saya sm partner blusukan ke Embung Sriten 896mdpl. Tepatnya di daerah Pilangrejo, Nglipar, GunungKidul. Belom lama ini diresmikan Pak Sultan. Jalan menuju sini nggak susah, di Google map udah ada. Dari Jogja sampai Pilangrejo jalan mulusss tapi pas mulai masuk desa yang nanjak,  di sinilah dzikir dimulai.  Continue reading Blusukan Jogja: Embung Sriten

Mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran


Gunungkidul tidak hanya memiliki wisata pantai. Salah satu yang sedang naik daun sekarang ini adalah Nglanggeran, terletak di Patuk, tidak terlalu jauh dari Kota Yogyakarta. Penelitian mengungkapkan bahwa Nglanggeran dulunya adalah gunung berapi aktif. Kini, kombinasi antara susunan material vulkanik purba dengan bentang alam hijau menjadikannya primadona pariwisata.
Petunjuk arah jalur pendakian di Nglanggeran. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyadarsani)
Saya berangkat pagi hari dari Yogyakarta menuju ke Jalan Wonosari, sebuah jalan mendaki dan berliku yang kian hari kian ramai, terutama karena wisata di kawasan ini semakin berkembang. Walaupun berliku dan ramai – terutama saat akhir pekan dan liburan – akses ke arah Wonosari lancar karena jalan yang mulus dan senantiasa diperbaiki oleh pemerintah daerah.

Tidak seperti pantai-pantai Gunungkidul yang rata-rata berjarak 60-70 km dari Yogya, Nglanggeran paling hanya separuhnya. Tidak jauh dari perbatasan antara Bantul dan Gunungkidul, saya membelok ke kiri sesuai dengan petunjuk arah yang terdapat di tepi jalan. Dari jalan utama ini, jaraknya sekitar 7 km. Saya melewati desa-desa yang masih asri di tengah sawah dan kebun.

Begitu tiba di dekat tujuan, terbentang panorama yang menakjubkan. Gunung Api Nglanggeran dari jauh terlihat seperti susunan batu-batu raksasa berwarna keabu-abuan. Di kanan kirinya sawah menghijau – dan tentu saja menara-menara operator telepon seluler.

Tiket masuk ke kawasan wisata ini sangat murah, saat itu hanya Rp3.000 untuk siang hari dan Rp5.000 untuk malam hari. Di bagian depan terdapat pendopo yang sering digunakan sebagai tempat istirahat dan makan siang.
Tangga kayu dan bambu disediakan pengelola untuk mempermudah langkah wisatawan. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyad …
Jangan bandingkan Nglanggeran dengan gunung-gunung berapi yang masih aktif. Gunung api purba ini hanya memiliki puncak setinggi 700 meter di atas permukaan laut. Sementara di bagian dasarnya pun sudah 200 mdpl, jadi saya hanya mendaki 500 meter hingga ke puncak. Tergantung stamina kita berapa lama sampai ke puncak. Apabila tidak sanggup pun masih ada beberapa titik pendakian di mana wisatawan bisa berhenti dan menikmati pemandangan.

Untuk sebagian jalur pendakian, terutama di bagian bawah, sudah dibangun tangga oleh pihak pengelola. Asyiknya, saya harus melewati jalan di bawah batu yang berbentuk seperti gua. Ada juga titik-titik di mana saya harus mendaki menggunakan tali yang sudah disediakan oleh pengelola. Ada juga lokasi di mana kita harus melompati celah sempit.
Bentang alam Gunungkidul terlihat dari atas. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyadarsani)
Kebanyakan pengunjung berhenti di puncak pertama atau ke dua karena makin ke atas medannya memang makin berat. Saya juga sempat berhenti beberapa kali untuk mengatur napas dan meluruskan kaki yang pegal. Dari puncak pemandangan memang menakjubkan. Gunungkidul yang dulunya dikenal sebagai daerah kering kini tambak subur dan ijo royo-royo.

Gunung terbesar yang ada di Nglanggeran adalah Gunung Gede. Di sinilah terdapat puncak tertinggi. Selain itu ada pula Gunung Tlogo Mardidho yang dihuni oleh tujuh keluarga. Menurut kepercayaan, di dusun ini memang hanya boleh ditinggali oleh tujuh keluarga, tak kurang dan tak lebih. Bila ada yang menikah dan membentuk keluarga baru, harus meninggalkan dusun untuk tinggal di tempat lain bila tidak ingin ada bencana terjadi.

Seperti halnya banyak tempat di Jawa, Gunung Api Purba Nglanggeran pun menyimpang banyak misteri dan mitos yang masih dipercayai oleh penduduk setempat. Mitos-mitos ini banyak berkaitan dengan tokoh-tokoh pewayangan.

Nglanggeran sebenarnya paling cocok dikunjungi saat matahari terbit, sayangnya saya kesiangan. Walaupun masih cukup pagi, namun matahari sudah terik membakar tubuh. Ketika turun dari gunung, saya sempat bercakap-cakap dengan petugas jaga.

“Ini sudah terlalu terang, Mbak. Kalau mau foto, paling bagus harus dari embung,” katanya.

Ternyata ada sebuah embung (waduk) yang berada 1,5 km arah tenggara kawasan wisata Nglanggeran. Jalannya kadang-kadang berlubang namun mudah untuk dilalui oleh kendaraan roda empat. Di sekitar embung ini sudah mulai ditanami kebun beragam buah-buahan. Idenya adalah mengubah kawasan ini menjadi seperti Taman Buah Mekarsari. Memang masih butuh beberapa tahun agar pohon-pohon di lahan seluas 20 hektar itu besar dan berbuah lebat.

Dari sekitar embung ini jajaran Gunung Api Nglanggeran memang terlihat jelas secara keseluruhan. Matahari yang kebetulan saat itu sangat terik justru mengaburkan pandangan karena terlalu menyilaukan. Di kawasan embung sudah terdapat lapangan parkir yang besar dengan beberapa warung yang menjual makanan ringan dan minuman botol.

Saya memilih untuk duduk berteduh di salah satu warung, menyaksikan pemandangan Nglanggeran sambil menikmati segelas manisnya es dawet.

Baca juga cerita perjalanan Olenka lainnya di backpackology.me

Melipir ke Jogan, Yuk!


Sudah ke Pantai Siung tapi nggak mampir di Pantai Jogan? Rugi hukumnya! Beda dengan pantai-pantai Gunungkidul yang lebih dikenal seperti Siung, Indrayanti, Baron, Pantai Jogan ini memang termasuk salah satu yang paling baru.

"Mabur" di bibir Jogan
“Mabur” di bibir Jogan

Apa sih istimewanya? Sesuai dengan kabar-kabar yang beredar, di pantai ini ada air terjun yang berada di bibir pantai. Kebetulan kami pulang mudik ke Jogja, dan Gunungkidul hampir selalu masuk daftar jalan-jalan tiap kali pulang kampung.

Kami berangkat dari Condong Catur sekitar jam 11 siang, menuju ke Jl Wonosari. Jalan yang kayanya udah kenal banget sama kami. Ibarat temen, udah cipika cipiki. Belum masuk Janti, Oliq udah tumbang di kursi belakang. Bobo manis, anteng. Simbokpun tenang,

Jalan naik ke Wonosari padat, tapi nggak terlalu susah nyalip truk-truk karena jalan sudah diperlebar di beberapa titik pendakian. Salut buat Pemkab Gunungkidul! Masuk ke jalan Baron, jalanan agak lengang. Belok kiri di jalan menuju ke Pantai Siung, melewati Ngringrong.

Baru sekitar jam 13.00 kami sampai di Pantai Siung, ini adalah kunjungan ke dua saya dan Puput. Pertama kali ke sini Oliq masih di perut buncit berumur 9 bulan 8 hari (2 hari menjelang due date). Tujuan ke Siung cuma satu: makan.

Setelah bayar retribusi masuk Rp 3000 per orang (sepertinya), saya sempat tanya kepada bapak penjaga. Katanya, Pantai Jogan sekitar 2 km dari pos tersebut. Jalan utama menuju ke Siung, persimpangan ke kanan menuju Jogan.

Dua setengah tahun yang lalu Siung masih cukup bagus, sekarang sudah terlalu banyak warung-warung yang berdiri tak beraturan. Saya kok jadi kurang suka ya. Padahal saya sendiri termasuk salah satu yang mempromosikan Pantai Siung lewat blog dan Yahoo Travel serta beberapa media lain :-(.

“Nek menurut kula, Pantai Jogan niku adem, enak! Wonten warung setunggal, Pak Min, taksi sedherek,” kata ibu pemilik warung. Artinya, menurutnya Pantai Jogan itu dingin. Hanya ada satu warung di sana milik Pak Min, yang masih bersaudara dengannya.

Karang Pantai Jogan, cantik!
Karang Pantai Jogan, cantik!

Tadinya ada teman yang bilang mobil tidak bisa ke Jogan, harus parkir di Siung dan jalan kaki ke sana. Ternyata sekarang sudah ada jalan yang cukup untuk mobil. Jalan ini mendaki karena lokasi memang berada di atas tebing. Di sana ada satu petak tanah yang kira-kira hanya cukup untuk 3 mobil dan belasan sepeda motor.

Pantainya sendiri berada di bawah. “Air terjunnya mana?” tanya saya pada Puput. “Kayanya yang dimaksud kriwikan ini, Cup!” ujar Puput menunjuk pada sebuah sungai kecil yang bermuara di bibir tebing, langsung jatuh ke laut.

The infamous kriwikan
The infamous kriwikan

Agaknya kami memang tidak terlalu beruntung. Debit air sungai saat itu kecil, sehingga yang terlihat bukannya air terjun, melainkan “kriwikan” atau air terjun mini. Otherwise, pantai ini memang adem seperti yang dibilang Bu Gholib. Ada pohon-pohon yang melindungi dari sengatan matahari.

Bila mau, bisa saja ke bawah melalui jalan setapak terjal dengan keamanan seadanya. Pantainya tidak berpasir, melainkan berbatu-batu. Ada sebuah cekungan seperti gua di bawah air terjun itu.

Jangan kalah sama traveler asing!
Jangan kalah sama traveler asing!

Oliq tidak mau dibawa ke bawah, jadi hanya Puput yang turun. Saya menemani Oliq main pesawat di muara sungai. Beberapa menit baru saya sadar, nnggg muara sungai ya…. emmmm kotor kan ya? Gleks. Ya sudahlah, anaknya hepi gitu, nggak tega mau ngangkat.

IMG_0631

Pemandangan dari atas bagus karena Pantai Jogan sangat sempit dan diapit karang-karang. Di sini juga masih bersih, mungkin karena belum terlalu banyak orang yang berkunjung juga.

Yang paling nikmat itu duduk-duduk di bale-bale warung Pak Min yang dibangun di bawah pohon, menikmati kelapa muda dan pesona Laut Selatan!

Ayo, melipir ke Jogan!