Tag Archives: family traveler

Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2017


Tahun 2017 adalah tahun yang kurang ceria untuk kehidupan plesiran kami. Ada beberapa berita duka di awal tahun, ditambah dengan cash flow yang masih embuh-embuhan karena kebanyakan mbayar tukang jadi kami tidak bisa melakukan trip jauh. Selain itu, saya dan anak-anak tinggal di Jogja sementara Puput di Jakarta. Kehidupan LDM membuat kami harus banyak berpikir untuk melakukan piknik-piknik terencana. Gimana bisa merencanakan wong masa depan hidup kami juga belum jelas waktu itu hahahha. Jadilah hanya piknik tipis-tipis.

Boleh dibilang tahun ini adalah satu-satunya tahun setelah pernikahan di mana kami sama sekali tidak melakukan trip jauh keluar benua, bahkan trip medium keluar regional. Paling jauh hanya Bangkok, Thailand.

Maret  — Candi Sukuh, Candi Cetho, Solo (Indonesia)

Beginilah namanya pasangan LDM, setiap Jumat Puput pulang ke Jogja, dan akan balik ke Jakarta Senin pagi. Plesirnya cuma bisa weekend saja, yang artinya nggak bisa jauh-jauh dari Jogja. April ini kami ke Solo, menginap di Alana Solo yang reviewnya ada di sini.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Kami day trip ke Karanganyar menuju ke Candi Sukuh yang disebut-sebut mirip dengan Chichen Itza, lengkap dengan arca yang nganu itu. Bagus, kami suka, suka, suka karena memang penggemar candi dan sudah lama banget mengagendakan ke sini tapi belum kesampaian.

Dari Candi Sukuh kami menuju ke Candi Cetho melewati kebun teh di Kemuning yang cantik. Jalannya berliku dan lumayan seram ya karena menanjak terjal. Untung kami pakai Accord tangguh yang pernah ke segala medan. Candi Cetho menurut saya malah menyerupai pura. Di sekelilingnya terdapat perkebunan sayur.

Pulangnya kami mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker yang fenomenal itu. Reviewnya di sini.   Continue reading Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2017

Advertisements

Jalan-jalan dengan Anak Kecil?? Siapa Takut….


Kami sering mendapat pertanyaan, “Jalan-jalan bawa anak-anak apa gak repot?” Ya jelas repot, wong jalan-jalan sendiri aja ribet apalagi bawa anak-anak, lebih-lebih kalau lebih dari satu dan masih kecil. Atau bisa juga dilihat dari sisi lain, punya anak aja repot apalagi diajak jalan-jalan, pasti lebih repot lagi. Repot, ribet, rebyek. Opo maneh jal…

Yang jelas punya anak adalah suatu anugerah yang siap tidak siap, mau tidak mau, harus dijaga sebaik-baiknya. Dulu memang rasanya gak kebayang jadi orang tua, tapi setelah dijalani selama hampir 5 tahun rasanya kami masih baik-baik saja, tetap enjoy sambil terus jalan-jalan.

the backpackologiest siap-siap ke kamboja di pagi dini hari... semua udah siap kecuali si Ola yg masih ngleker.. malam terakhir kami sebagai perantau di negeri jiran...
the backpackologiest siap-siap ke kamboja di pagi dini hari… semua udah siap kecuali si Ola yg masih ngleker.. malam terakhir kami sebagai perantau di negeri jiran…

Continue reading Jalan-jalan dengan Anak Kecil?? Siapa Takut….

Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2013


Akhir tahun, saatnya melihat kembali sudah ke mana saja kami tahun ini (dan berapa banyak dari bucket list yang belum juga tercapai ;( ). Oh, there will always be next year!

Di Stavanger, Norwegia
Di Stavanger, Norwegia

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Januari biasanya kami melakukan perjalanan besar karena setelah peak season Natal dan Tahun Baru, harga tiket akan turun. Kali ini – sayangnya – tidak ke mana-mana. Awal Januari kami hanya jalan-jalan ke Musem Satria Mandala yang jaraknya hanya 2 km dari rumah.

Bulan Februari, kami mudik ke Jogja dan mencoba destinasi baru. Bukan lagi Gunungkidul, tapi Kulonprogo. Pertama, kami ke Gua Kiskendo di Kecamatan Girimulyo. Kabarnya, gua ini dulunya adalah sebuah kerajaan dengan raja bernama Mahesosuro.

Setelah itu, kami naik menuju ke Puncak Suroloyo di Perbukitan Menoreh. Puncak Suroloyo adalah tempat pertapaan Sultan Agung. Dari atas sini dapat terlihat Candi Borobudur, sayangnya saat itu kabut terlalu tebal.

Februari dilanjutkan dengan mendampingi Puput meeting di Aston Bogor.

Februari juga jadi bulan besar nan repot. Karena satu dan lain hal, Puput batal dinas ke London. Akhirnya kami putar haluan untuk liburan ke Paris dan Amsterdam.  Singapura-Paris adalah penerbangan non-stop terpanjang Oliq, untungnya dia tidak rewel. Dari Paris kami menuju Amsterdam dengan kereta Thalys sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Sebulan kemudian Puput harus dinas ke Stavanger, Norwegia. Sebagai istri solehah, saya memaksa diri untuk mendampingi. Ini perjalanan kami yang paling gila karena anak 1,5 tahun ini harus terbang melalui 5 bandara. Kebetulan sebelum ke Norwegia, Puput ada tugas ke Bali. Jadilah kami terbang Denpasar-Jakarta-Abu Dhabi-Amsterdam-Stavanger dengan total waktu lebih dari 24 jam. Di Stavanger kami tinggal lebih dari 20 hari.

Pada bulan April, kembali nebeng perjalanan dinas, kami ke Batam, dilanjutkan ke Pulau Rempang dan Galang. Selain mengunjungi Kamp Mansinam, kami juga pergi ke beberapa pantai, yaitu Melayu dan mmmm satunya lupa namanya.

Masih di bulan April, kami kembali ke Taman Safari, Cisarua, menginap di villa milik CIFOR di Puncak.

Di bulan April juga, sebagai acara syukuran Oliq sembuh dari diare, kami ke Singapura. Tujuan utamanya adalah naik Singapore Flyer. Selain itu, kami juga ke Marina Bay Sand, Gardens by the Bay, dan Chinatown. Ada pengalaman buruk ketika pulang.

Di bulan Mei kami mudik lagi ke Jogja. Kali ini kami sempatkan ke Candi Barong di Klaten dan mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul. Kami berjuang untuk yang pertama kalinya berburu matahari terbit di Punthuk Setumbu Borobudur, dan gagal. Liburan kali ini cukup memuaskan dengan sate klathak Pak Pong dan sambel welut Pak Sabar.

Di bulan Juni, setelah berbingung-bingung ria mau weekend getaway ke mana, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Situs Megalitik Gunung Padang di Cianjur. Sebuah penumpang gelap dan berat bernama Noni ikut serta.

Paling kiri buka lowongan suami
Paling kiri buka lowongan suami

Bulan Juni ini kami kembali mudik dan mencoba peruntungan kembali ke Punthuk Setumbu. Tetap gagal! Akhirnya kami jalan-jalan seputaran candi Prambanan, yaitu ke Candi Sojiwan, Candi Plaosan, dan Candi Sumberwatu yang tengah dipugar.  Wisata pantai itu seperti hal wajib saat mudik, jadi kami juga ke Pok Tunggal – masih jadi pantai Gunungkidul terbaik versi Backpackology.

Masih di bulan Juni, kami akhirnya pergi juga ke Ujung Genteng di Sukabumi dengan perjalanan nan berliku. Walau penuh perjuangan, akhirnya dapat foto sunset yang bagus-bagus. Simbok hepi. Pulangnya kami sempatkan ke Curug Cikaso yang memang bagus banget.

Bulan Juli Puput pergi ke Singapura dan Batam, Oliq dan Simbok cengoh di rumah, makan tempe penyet. Selain itu, kami hanya pergi ke Sea World. Bulan yang suram.

Agustus pun masih sama suramnya. Hanya mudik ke Jogja.

September adalah bulan yang besar bagi Puput. Setelah menang lomba blog Terios, dia jadi bisa ikut road trip Jakarta – Sawarna KinahrejoRanu Pane Baluran – Bali – Lombok Sumbawa Komodo selama dua minggu. Sebagai kompensasi, simbok dan Oliq ke Lombok berdua saja pada bulan Oktober.

Bulan November, kami ke Lembang karena Puput ada team building di sana. Dari Lembang kami menuju ke Sawarna dengan (terpaksa) pit stop di Pelabuhan Ratu.

Awal bulan Desember, kami terbang ke Belitung. Ini adalah yang pertama bagi Puput dan Oliq. Hari pertama kami island-hopping dan “Naik manana tinggi banget”. Di hari ke dua, kami ke Belitung Timur yang lebih tidak tereksplor.

Di akhir Desember ini semua barang sudah dikemasi. Kami memang harus pindahan. Tanggal 27 nanti, perjalanan panjang road trip dari Jakarta ke Jogja. Rencananya akan mampir ke Semarang dan Magelang. Jadi akan butuh 3-4 hari untuk sampai di rumah (orangtua/mertua).

Nantikan cerita kami tahun depan ya ;))

Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2012 ada di sini