Tag Archives: candi

Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup


Seorang ibu berusaha mengendalikan mobilnya, menuju ke parkiran. Juru parkir heboh mengganjal ban belakang mobil dengan batu besar. Maklum saja, tanjakannya terjal, sementara mobil mengantre masuk ke lokasi parkir. Sepanjang jalan pun berjajar mobil parkir, semua diganjal batu.

Dulu Candi Ijo tak begini. Empat tahun silam kami datang ke candi ini. Sepi, hanya sekelompok (yang sepertinya) mahasiswa dan sepasang muda-mudi yang bergaya pre-wed. Waktu itu masuknya gratis, ada box donasi, hanya wajib lapor penjaganya dan menulis buku tamu.

Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus
Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus

Syahdu. Hening. Sepi. Hanya kicau burung dan sesekali suara pesawat terbang dari dan ke Adisutjipto.

Baca: Terminal B Bandara Adisutjipto Continue reading Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup

Situs Candi Palgading di Sleman


“Jogja iki nek dikeruk kabeh isine candi.” Artinya, Jogja ini kalau dikeruk semua isinya candi, kata Delin adik saya. Dia memang suka lebay, terutama sejak diputus secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Tapi, memang situs candi di DIY dan sekitarnya sangat banyak dan saya yakin masih banyak juga yang belum diketemukan. Ingat kan ketika Universitas Islam Indonesia (UII) berniat membangun gedung baru dan malah menemukan candi? Sekarang candi tersebut dinamai Candi Kimpulan — sesuai dengan nama desanya — dan telah dibuka untuk umum.

Kompleks Candi Palgading
Kompleks Candi Palgading

Saya dan Puput punya misi untuk mengunjungi semua situs candi di sekitar DIY dan Klaten. Rasanya sudah belasan candi kami kunjungi, ternyata masih juga belum selesai. Sayangnya juga, saya tidak menemukan daftar candi yang lengkap, sehingga kesulitan melacaknya. Kalau mengandalkan situs wisata hanya tampak candi-candi besar yang sudah sangat mainstream itu. Bahkan salah satu link yang muncul adalah tulisan saya tentang candi-candi di seputaran Prambanan. Paling pol saya mengandalkan Wikipedia. Dari daftar candi, Candi Palgading ini sama sekali tidak pernah disebut-sebut. Namun bila kita search Candi Palgading akan nampak informasi singkatnya. Continue reading Situs Candi Palgading di Sleman

Seribu Sisi Angkor


Angkor di Kamboja adalah situs arkeologi paling penting di Asia Tenggara, menurut situs resmi UNESCO. Bangunan yang paling dikenal dalam kompleks ini adalah Angkor Wat. Namun ternyata, kompleks yang maha luas itu memiliki berbagai candi yang buat saya malah lebih mengesankan dari sekadar Angkor Wat.

You want small circle or big circle?” tanya Jay Lim, si supir tuk tuk dengan bahasa Inggris yang agak susah dipahami. Saya sampai harus memiring-miringkan kepala supaya bisa mendengar dengan benar. “Big circle needs two days.Jaaah, wong saya di Siem Reap juga cuma dua hari, masak hanya keliling Angkor saja. Lagian sebesar apa sih kompleksnya kalau putaran kecil saja butuh sehari penuh?

Akhirnya saya pilih yang tur sehari saja, ongkosnya 20 dolar Amerika khusus untuk tuk tuknya, sementara tiket masuk kompleks juga 20 dolar per orang.  Itu saja sudah mahal, bayangkan kalau dua hari, bisa tekor langsung.

Walau katanya sedang musim sepi, ternyata antrean wisatawan di loket tiket banyak juga. Lucunya, selain harus membayar, wisatawan juga akan difoto satu per satu. Persis seperti di imigrasi, walau mereka tidak melihat paspor kita. Mungkin sebagai tindakan preventif kalau-kalau ada yang melakukan vandalisme.

Kompleks Angkor ini tidak jauh dari pusat kota Siem Reap, hanya sekitar 6 km. Kebanyakan wisatawan berkunjung dengan menyewa tuk tuk seperti saya, namun ada juga yang menyewa mobil atau sepeda.

Begitu masuk gerbang saya langsung senang melihat hutan lebat yang mengelilingi kompleks. Bukan model taman-taman cantik yang ditanam seperti di candi-candi Indonesia, melainkan pohon-pohon besar yang banyak dan rimbun, dibiarkan tumbuh secara alami. Sepanjang jalan pun bersih, sangat jarang sampah plastik. Mungkin karena kompleks ini memang sengaja disterilkan dari pemukiman penduduk, jadi jarang ada tangan-tangan jahil yang buang sampah sembarangan.

Jay Lim menyarankan agar saya ke Angkor Thom lebih dulu, “Because the sun not too high,” katanya. Dia bilang bahwa Angkor Thom sangat besar jadi butuh waktu lama untuk berkeliling, lebih baik didatangi pagi hari.
Patung-patung menuju ke gerbang Angkor Thom. (Olenka Priyadarsani)Patung-patung menuju ke gerbang Angkor Thom. (Olenka Priyadarsani)

Continue reading Seribu Sisi Angkor

Menggamit Pagi Plaosan


Gerobak sapi berukuran sedang itu melambatkan lajunya. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sederhana, didominasi warna biru, namun dengan beberapa corak berwarna cerah.

Tiga orang wisatawan asing sengaja menghentikan laju gerobak sapi, untuk kemudian berfoto bersama. Takjub mereka melihat gerobak yang ditarik sapi. Alih-alih membiarkan pemilik gerobak melanjutkan perjalanannya, mereka malah sengaja ikut menumpang di dalam gerobak. Sapi pun berderap pelan meninggalkan jalan depan kompleks Candi Plaosan.

Hari itu, si sapi jadi idola para wisatawan
Hari itu, si sapi jadi idola para wisatawan

Saya tertawa melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Jujur saja, entah sudah berapa tahun lalu terakhir kali saya melihat gerobak sapi yang masih dioperasikan sebagaimana fungsinya. Biasanya hanya melihat d TV, atau bahkan menjadi pajangan di sebuah pameran atau museum. Continue reading Menggamit Pagi Plaosan

Di Tengah Kabut Telaga Warna


Longsornya tanah di Banjarnegara benar-benar mematahkan hati, mengukir empati. Tabahlah semua yang tengah mengalami ujian Yang Maha Kuasa.

Saya teringat perjalanan dua tahun lalu, dari Jakarta menuju ke Jogja, dengan perhentian di Dataran Tinggi Dieng. Saya mengira Dieng hanya termasuk wilayah Wonosobo, namun ternyata sebagian merupakan wilayah Banjarnegara. Kabupaten yang kini tengah dilanda bencana.

Di Candi Arjuna, Dieng
Di Candi Arjuna, Dieng

Continue reading Di Tengah Kabut Telaga Warna