Tag Archives: buku

Surat untuk Papa


Hoi Papa,

Apa kabar di sana? Bahagia pastinya ya. Di sini semuanya sehat. Ola tambah lucu, Oliq masih galak. Mama udah sibuk berkegiatan, Delin masih glundang glundung koyo semangka sementara jodoh belum tampak dalam pandangan.


Aku mau ngabarin aja, buku-buku Papa banyak yang udah disumbangkan. Kami berpikir daripada buku cuma di rumah, sudah tidak ada yang membaca, cuma berdebu dan jadi sarang coro, nak mending disumbangkan ya, Pa.


Ada yang bilang sayang koleksi kok disumbangkan? Rasanya lebih sayang kalau didiamkan di rumah dan tidak dibaca. Bukunya bisa nangis. Kalau disumbangkan insyaallah masih bisa berguna buat orang lain. Ilmunya masih muter. Dan insyaallah juga jadi amal jariyah Papa.


BTW, intermezzo nih mumpung ingat, motor Papa sekarang ditaruh di rumah Paingan. Hooh, motor AB YU yang dulu kubawa ngebut Jakarta-Bogor pp sendirian. Sudah diservis semuanya. Alhamdulillah bisa dipakai mereka yang datang mau berobat. Semoga bisa jadi hitungan amal jariyah Papa ya.


Kembali ke buku nih Pa, ternyata buku yang ditulis Papa uakehhh banget ya. Bahkan novel remaja tipis-tipis dengan cover-cover wagu. Tapi tentunya Perempuan Jogja, Merpati Biru yang tetap paling hits. Favoritku tetap Tikungan, Pa, yang settingnya di kios koran pojokan Bulaksumur nan legendaris itu.


Kalau koleksi Papa memang luar biasa. Kami masih nemu buku-buku sastra yang pakai ejaan lama. Tahun 1972. Ada Tempo tahun yang sama. Masih ada Reader’s Digest dan Intisari tahun jebot, bahkan sebelum aku lahir.


Kalau sastra paling banyak punya Ahmad Tohari, yang juga kesukaanku karena ga nyastra-nyastra amat. Anakmu ini cemen, Pa, hahahaha. Tapi Delin lebih cemen lagi bacaannya 😛😛

Buku Umar Kayam, Emha, sampai Mochtar Loebis. Novel STA pun ada. Sampai yang kekinian bukunya Agustinus Wibowo pun disumbangkan. Eh itu punyaku ding.


Buku-buku Papa memang. Dari sastra berat, sastra populer, hingga fiksi sangat populer pun ada. Genre seperti Papa yang dulu menulis tidak peduli untuk siapa. Macam-macam karya Papa baca. Macam-macam karya Papa tulis.


Artikel dimuat di Kompas, langganan cerber di Republika, Jawa Pos,dan Surabaya Post. Namun juga tidak segan kirim cerpen remaja ke Anita Cemerlang. Cerita-cerita Papa juga laku buat Kartini dan Femina. Bahkan yang sangat ringan macam Detektif Romantika pun Papa mau kirim. Itu dulu. Belakangan, Papa bahkan mau kirim ke Minggu Pagi padahal tahu homornya cuma 100-150rb potong pajak. Karena bagi Papa yang penting menulis.


Kebanyakan buku diangkut oleh Mas Aryana dan Mas Sugeng dari Karanganyar. Cita-cita mereka mendirikan perpustakaan di Tawangmangu. Semoga segera terwujud.


Ada setumpuk yang kukirim ke Mbak Lilik, putranya Bude Tunin di Jombang.

Satu kardus dikirim ke Ploso juga untuk disumbangkan ke Gang Masjid Jombang. Beberapa kardus lain ke Jambi, Tasikmalaya, Bogor, Serang, dan Makassar.


Masih ada satu kardus lagi untuk Ganjar — temen kuliahku yang pinter banget itu — karena sepulang dari Inggris dia mau membuka taman baca. Banyak buku panduan menulis di sana, termasuk yang kukirim ke Rumah Dunia punya Mas Gola Gong dan Mbak Tias Tatanka. Dulu sering kan satu majalah dengan Mas Gong di Anita Cemerlang?


Tetralogi Pram diminta Gufron, yang dulu suka nebeng Delin, dan sampai sekarang belum ngembaliin helmku.


Alquran, Riyadhus solichin, hadits, berbagai buku Islam disumbangkan ke Gunungkidul.

Semoga buku-buku Papa itu berguna ya. Sungguh sayang sekali anak-anak jaman sekarang kurang sekali minat bacanya.


Segini dulu ya, Pa. Baik-baik di sana 😘😘😘


Olen

Blogger dan Bahasa Indonesia


(Karena kita adalah duta bahasa #eeaaa)

Sudahkah kalian bisa membedakan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan? Sudahkah kalian mencetak miring semua kata-kata dalam bahasa daerah dan bahasa asing bila menulis artikel dalam Bahasa Indonesia?

Sudahkah tata bahasa menulis kalian sempurna?

Simbok jelas belum sempurna. Sangat sulit untuk menemukan penulis yang dapat menggunakan tata bahasa dengan sempurna. Tapi, menurut saya, sebagai blogger yang menulis dalam Bahasa Indonesia, kita wajib belajar kembali tentang bahasa. Kalau perlu sambil pakai baju merah putih dan makan Krip Krip.

Blog kan bebas gaya bahasanya? Fenomena blogging memang semarak, membuat orang menjadi lebih berani menulis. Menulis kini bukan lagi monopoli orang-orang tertentu dan kelompok-kelompok pecinta sastra saja. Pejalan, pedandan (#halah, maksudnya pesolek), ibu rumah tangga yang hobi masak, semuanya mendadak memiliki blog dan rajin menulis. Sebuah perkembangan luar biasa dalam dunia tulis-menulis kita.

Foto dipinjam dari sini
Foto dipinjam dari sini

Blog memang menjadi sarana sempurna untuk mengungkapkan opini, argumen, bahkan curhatan. Maka dari itu, bahasanya pun seringkali tidak baku, bercampur bahasa asing dan daerah, serta sering menggunakan bahasa percakapan. Misalnya menggunakan kata-kata: nggak, ga, gue, banget, dsb. Menurut saya itu sah-sah saja. Continue reading Blogger dan Bahasa Indonesia

Kompas Gramedia Travelling Book Fair : Konsultasi Travelling bersama Olenka Priyadarsani


Hari Jumat, 30 Nopember 2012, menjadi hari spesial bagi kami, backpackology.me, karena istri saya sekaligus kontributor utama, Olenka Priyadarsani, memiliki kesempatan menjadi konsultan travelling untuk Phuket, Vietnam, dan Jepang, ditambah tips travelling bersama anak. Ya, acara ini diadakan sebagai ajang promosi dan penjualan buku-buku wisata terbitan Elex Media selaku anak perusahaan dari Kompas Gramedia. Karena ini merupakan acara pertama dan bisa dibilang sebagai uji coba, acara ini diadakan di kantor pusat Kompas Gramedia di Jalan Palmerah.

travelling book fair1 Continue reading Kompas Gramedia Travelling Book Fair : Konsultasi Travelling bersama Olenka Priyadarsani