Tag Archives: blogger

Nasib Blogger Nyonya-Nyonya


Sebaris…dua baris….ngeeeeeek bayi nangis. Sekata…dua kata…”Mamaaaa!”

Bubar kabeh!

Nggak dink 😌sebagai blogger nggak profesional tapi serius, saya sih tetap berkomitmen buat konsisten ngeblog, walau agak seret publishnya, agak pendek postingannya, dan itu-itu aja fotonya. Huahaha maklum, suka-suka ngeblog cuma modal hape aja jadi susye cari foto baru yang kebanyakan tersimpan manis di hard disk, di negeri tetangga sono *mewek*

image

Continue reading Nasib Blogger Nyonya-Nyonya

Blogger dan Bahasa Indonesia


(Karena kita adalah duta bahasa #eeaaa)

Sudahkah kalian bisa membedakan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan? Sudahkah kalian mencetak miring semua kata-kata dalam bahasa daerah dan bahasa asing bila menulis artikel dalam Bahasa Indonesia?

Sudahkah tata bahasa menulis kalian sempurna?

Simbok jelas belum sempurna. Sangat sulit untuk menemukan penulis yang dapat menggunakan tata bahasa dengan sempurna. Tapi, menurut saya, sebagai blogger yang menulis dalam Bahasa Indonesia, kita wajib belajar kembali tentang bahasa. Kalau perlu sambil pakai baju merah putih dan makan Krip Krip.

Blog kan bebas gaya bahasanya? Fenomena blogging memang semarak, membuat orang menjadi lebih berani menulis. Menulis kini bukan lagi monopoli orang-orang tertentu dan kelompok-kelompok pecinta sastra saja. Pejalan, pedandan (#halah, maksudnya pesolek), ibu rumah tangga yang hobi masak, semuanya mendadak memiliki blog dan rajin menulis. Sebuah perkembangan luar biasa dalam dunia tulis-menulis kita.

Foto dipinjam dari sini
Foto dipinjam dari sini

Blog memang menjadi sarana sempurna untuk mengungkapkan opini, argumen, bahkan curhatan. Maka dari itu, bahasanya pun seringkali tidak baku, bercampur bahasa asing dan daerah, serta sering menggunakan bahasa percakapan. Misalnya menggunakan kata-kata: nggak, ga, gue, banget, dsb. Menurut saya itu sah-sah saja. Continue reading Blogger dan Bahasa Indonesia

Kamu Ngeblog Untuk Apa?


Kalau ditanya demikian, saya agak mumet juga jawabnya. Jadi ceritanya sebenarnya Simbok ini ngeblog belum lama. Jaman dulu walaupun punya title communications officer di organisasi yang terkenal tetep aja gaptek kalau berkaitan dengan teknologi. *seumur hidup belum pernah berhasil kirim MMS coba!*

Jadi ketika era Multiply ngehits, saya mana ngerti. Nggak dong blas. Padahal di era tahun 2009-2010 rekam jejak jalan-jalan saya sudah lumayan. Indonesia sudah banyak yang saya jelajahi karena memang imbas kerjaan. Luar negeri sudah Australia dan banyak negara Asia Tenggara.

Sumber foto di sini

Continue reading Kamu Ngeblog Untuk Apa?

Hari Blogger Nasional: Dapat Saudara dari Blog


Ngeblog dapat duit? Bagi saya sih nggak banget. Boros iya, hasilnya dikiiit banget. Apalagi http://backpackology.me adalah blog perjalanan, yang modal jalan-jalannya aja mahal. Jelas nggak sebanding sama hasilnya.

Kalau ada blogger yang dapat banyak uang dari ngeblog ya itu rezekinya, memang rajin berkomunitas dan ikut lomba. Kalo buat simbok rempong kaya, memang nggak pernah berorientasi keuntungan finansial dari blog. Kalau ada ya alhamdulillah, kalo nggak, kan ada Puput yang cari uang.

Kopdar dengan Halim dan Yusmei
Kopdar dengan Halim dan Yusmei (Foto: mas-nya Madam Tan Ristorante pake kamera Halim)

Tapi, harus diakui, dari blog juga saya mendapat berbagai tawaran, misalnya menulis untuk buku, menulis artikel majalah, diwawancarai sebagai narasumber, dan sebagainya. Ya, alhamdulillah.

Efek samping lain adalah jadi makin kompak sama Puput, karena blog ini punya kami bersama. Ada aja tiap hari gosipin komen-komen aneh di blog, atau statistik yang terjun bebas, atau saling menyemangati untuk membuat tulisan-tulisan baru.

Salah satu hal terseru dari memiliki blog adalah bertemu dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan yang sama: jalan-jalan. Di TL Twitter saya sebagian adalah penyuka jalan-jalan. Simbok ini sebenarnya tidak terlalu suka berkomunitas, apalagi setelah resign, teman-temannya pun terbatas. Apalagi tinggal di luar negeri.

Nah, jejaring sosial membuat saya menemukan banyak teman baru, saling bersapa di Facebook dan Twitter. Dilanjutkan dengan ngobrol intim di Whatsapp #ehh.

Lebih asyiknya lagi setelah ketemu di dunia maya, sering dilanjutkan pula dengan bertemu di dunia nyata. Ngobrolnya pun seputaran: habis ini mau ke mana? Ada tiket promo ke mana? X bagus lho! Cocok banget kan?

Saya baru ngeblog sejak tahun 2011, dan sejak 2013 sudah lumayan banyak kopdar dengan beberapa blogger tenar, misalnya @catperku dan istri @puteriih beserta @cumilebay di Jakarta. Dilanjutkan ketemuan dengan blogger idealis @efenerr dan nyonya @celotehputri. Sempat juga ketemu dengan @munindohoy.

Lalu ketemu dengan blogger hiu spesialis giveaway @fahmianhar dan istri di KL. Tiba-tiba menampung blogger kondang kawentar asli Jombang @alidabdul yang rumahnya di Ploso sana nggak jauh dari tempat kelahiran bapak saya. Sempat ketemu juga dengan Mei @geretkoper di KL.

Baru kemarin ketemu juga dengan blogger masyhur Solo @halim_san dan @usemay. Dibawakan tengkleng pula!

Ada pula @tesyasblog yang belum pernah bertemu muka tapi pernah menulis kolaborasi di 3 buku, dan yang ke-4 sudah direncanakan. Ada juga blogger tenar bin kondang The Emak @TravelingPrecil yang (akhirnya) pernah ketemuan di Muntilan. Kami pernah kolaborasi nulis artikel dan buku.

Masih banyak rencana untuk bertemu blogger-blogger yang lain, karena berkat dunia maya pun bisa jadi saudara.

Selamat Hari Blogger Nasional, kawan-kawan, mari tetap berkarya!

 

Semarak Lomba Blog, Siapa yang Untung?


Jika kita cermati beberapa tahun belakangan ini lomba blog semakin hari makin banyak. Dalam satu bulan ada beberapa lomba yang digelar dengan hadiah yang beraneka rupa, mulai dari hanya voucher taman bermain hingga liburan keluar negeri.

Jurnalisme warga memang kian semarak, ditandai dengan adanya rubrik ini di dalam media-media mainstream. Agaknya, jurnalisme warga kini menjadi salah satu sumber utama informasi bagi pembaca selain media konvensional.

Salah satu lomba blog yang diadakan
Salah satu lomba blog yang diadakan

Yang tidak lepas dari maraknya jurnalisme warga adalah perkembangan jejaring sosial. Hanya dengan satu tulisan/foto/video yang kontroversial, akan langsung tersebar di mana-mana. Bahkan dari sini pun media cetak dan elektronik pun ikut memberitakannya.

Tak pelak lagi, media blog menjadi semacam media baru yang sangat potensial untuk menyebarkan isu tertentu, maupun untuk melakukan promosi. Karena itu, tidak salah bila banyak sekali diadakan lomba blog dengan peserta yang banyak pula, walaupun seringkali hadiahnya tidak terlalu besar.

Lalu siapa yang untung?

Keuntungan Bagi Para “Banci Kontes”

Bukan bermaksud buruk terhadap kaum transeksual, namun belakangan ini muncul istilah “banci kontes”. Istilah baru ini dimaksudkan pada mereka yang sering mengikuti lomba-lomba. Para blogger memang menjadi satu pihak yang sangat diuntungkan oleh semaraknya lomba blog.

Bagaimana tidak? Bila biasanya hanya menulis hanya karena ingin curhat, sharing, dan “sudah senang bila ada yang membaca” kini ada tambahan bonus hadiah. Iming-iming hadiah smartphone, tiket pesawat gratis, dan lain sebagainya menjadi pemicu mereka untuk menulis. Selain itu tak segan-segan para blogger juga menyebarkan melalui akun-akun jejaring sosial mereka karena kadang salah satu kriteria penjurian adalah frekuensi tulisan tersebut dibaca dan disebar melalui jejaring sosial.

Ada beragam “banci kontes” ini, ada yang memang konsisten hanya menulis dan mengikuti lomba tentang bidang yang ia geluti, misalnya khusus cerita perjalanan ataupun foto perjalanan atau khusus review tentang produk teknologi. Namun banyak pula yang kemudian rela banting setir dari satu tema ke tema yang lain, sesuai dengan tema blog apa yang sedang dilombakan.

Semuanya halal! Kalau memang bisa menulis berbagai tema kenapa tidak dimanfaatkan?

Selain hadiah, ada beberapa keuntungan lain bagi mereka yang rajin mengikuti – dan menang – kontes blog. Pertama, untuk blogger yang mengunggah tulisan di blog pribadi pasti akan mengalami peningkatan traffic. Tidak hanya juri yang membaca tulisan tersebut, mungkin juga para peserta lain yang sekadar ingin mengintip saingan mereka.

Kentungan lainnya adalah semakin sering mengikuti lomba-lomba semacam ini, nama Anda akan semakin dikenal. Apalagi kalau menang, wah dijamin popularitas Anda di dunia jurnalisme warga makin berkibar.

Untuk yang belum menang pun ada keuntungannya, yaitu ketrampilan menulis yang semakin terasah. Bukan hanya itu, peserta lomba biasanya juga makin mengerti kriteria apa saja yang membuat sebuah tulisan menang. Jadi, ada semacam lessons learned untuk lomba-lomba berikutnya. Apalagi kalau sudah pernah menang, makin tahu komponen apa saja yang membuat tulisan bisa jadi juara.

Branding Murah Meriah

Bagi brand atau merk, maraknya jurnalisme warga dan media sosial pun mereka manfaatkan untuk kampanye, branding, promosi di luar marketing konvensional mereka dengan memasang iklan. Salah satunya adalah menggelar lomba blog.

Apanya yang murah? Coba bayangkan, dengan menggelar lomba blog mereka akan mendapatkan promosi gratisan oleh tulisan-tulisan para pesertanya yang ditampilkan di blog dan disebarkan melalui jejaring sosial. Modalnya hanya hadiah untuk pemenang. Memang ada lomba yang hadiahnya besar seperti paket wisata ke luar negeri, namun kebanyakan hadiah tidaklah terlalu besar. Bisa dibilang banyak perusahaan menggelar lomba blog hanya dengan modal 10 juta rupiah ( 5 juta untuk juara 1, 3 juta juara 2, 2 juta juara 3), plus merchandise kecil-kecilan yang juga dimanfaatkan untuk branding.

Perusahaan produsen teknologi pasti akan menyediakan hadiah berupa produk buatan mereka sendiri. Misalnya: Juara 1 ponsel seri tercanggih, juara 2 ponsel seri biasa, dan juara 3 ponsel murah produksi mereka sendiri. Bisa jadi akan ada tiga “juara harapan” dengan hadiah lebih kecil lagi ataupun hanya merchandise.

Sungguh sistem promosi yang sangat menguntungkan brand, bukan? Saya bukan pakar marketing, tapi saya kira bila hal-hal seperti ini mereka manfaatkan secara maksimal, perusahaan dapat memotong anggaran iklan konvensional.

Banyak pula perusahaan yang mau mengeluarkan anggaran lebih untuk mengadakan lomba blog dengan cara menggandeng rubrik-rubrik jurnalisme warga di media mainstream, misalnya Kompasiana di Kompas, Detik Blog di Detik.com, ataupun Viva Log di VivaNews. Tentu biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan lomba seperti ini lebih banyak, namun juga lebih optimal sebagai instrumen promosi selain menjaring lebih banyak peserta. Lebih banyak peserta artinya lebih banyak tulisan sebagai media promosi gratisan.

Kenyataannya, banyak juga perusahaan besar yang tidak perlu membayar lebih. Mereka memanfaatkan sistem “gethok tular” atau “dari mulut ke mulut” untuk menyebarkan informasi tentang adanya sebuah lomba. Mereka hanya akan memajang pengumuman tentang lomba di website resmi perusahaan dan Halaman Facebook, serta menyebarkannya dengan media Twitter yang terbukti sangat ampuh.

Oleh karena itu, hampir semua lomba blog mengharuskan peserta menyebarkan karyanya lewat Twitter sehingga para followers peserta tersebut pun mengetahui adanya lomba dan mungkin tertarik untuk mengikutinya.

Demikian luar biasanya jejaring sosial bagi perusahaan.

Jeli Memanfaatkan Peluang

Saya baru ngeblog sejak dua tahun yang lalu di http://backpackology.me, sebuah blog perjalanan yang diampu bersama suami. Bodohnya, kami baru mulai memahami banyak keuntungan yang dapat dipetik dengan mengikuti lomba blog dua tiga bulan belakangan ini.

Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger
Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger

Puput, suami saya, menjadi lima besar (dari 500an peserta) lomba blog Terios 7 Wonders yang diadakan oleh Daihatsu. Hadiahnya adalah diajak ikut serta berkeliling ke 7 lokasi menakjubkan di Indonesia, dari Pantai Sawarna di Banten hingga Pulau Komodo. Semuanya gratis, bahkan diberi uang saku. Dari lomba yang sama itu pula mendapatkan sebuah ponsel samsung Galaxy S4. Bayangkan saja bagaimana senangnya seseorang yang hobi jalan-jalan mendapatkan hadiah seperti itu.

Saya menulis kisah kami dan anak berjudul Jadilah Pemimpin, Petualang Kecilku dan menjadi salah satu artikel favorit lomba blog yang diadakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa (Sari Husada). Hadiahnya tidak besar, tapi sangat berarti bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa saya mengetik tulisan tersebut tidak lebih dari satu jam.

Ayah saya, seorang mantan wartawan dan penulis, berkata bahwa maraknya jurnalisme warga menggerus kesempatan para penulis untuk mendapatkan uang dari media cetak. Banyak media cetak yang kemudian memang mengurangi “jatah” penulis seperti ini dan memilih mengambil tulisan dari warga yang gratis (ada juga yang dibayar walau lebih sedikit daripada artikel yang dimuat tanpa embel-embel “citizen journalism”).

Andai saja saya mau (dan saya akan melakukannya lain kali saya pulang kampung), saya akan menjelaskan kepada ayah saya bahwa sebenarnya peluang penulis konvensional pun tetap ada melalui media blog. Selain tetap menulis artikel/cerpen untuk media cetak konvensional, penulis dapat memanfaatkan ajang lomba-lomba blog ini. Toh untuk para penulis yang sudah sering dimuat di media, kualitas tulisan mereka pasti mumpuni. Menulis untuk blog ataupun kompetisi blog tidak akan sulit dengan ketrampilan mereka yang lebih terasah daripada para blogger baru.

Bagi saya, yang paling penting adalah memanfaatkan peluang yang ada. Jangan ragu atau sungkan untuk mengirimkan karya, walaupun mungkin tidak pernah menang. Saya pun masih baru di dunia ini, belum seperti beberapa kawan yang sudah menjadikan lomba blog sebagai profesi sampingan yang menghasilkan. Yang penting terus bersemangat menghasilkan karya.

Indonesia, ayo menulis!

Disclaimer: Tulisan ini sudah dipublish di Kompasiana terlebih dahulu.