Tag Archives: Belanda

Traveling dengan Anak-Anak Part 20: Ngajak Anak ke Museum? Boleh, asal…


Alangkah baiknya bila orangtua sudah mulai mengajak anaknya mencintai sejarah dan budaya sejak dini. Saya pun berusaha demikian, walaupun tidak selalu sukses. Tidak semua museum ramah anak. Kebanyakan – jujur saja – membosankan terutama bagi anak-anak.

Di Indonesia, Oliq baru belum banyak berkunjung ke Museum. Maklum saja bapak dan simboknya lebih senang ngajak dia liburan ke lokasi-lokasi yang berdekatan dengan alam, misalnya pantai, gunung, selain juga telusur candi.

Salah satu museum yang pernah kami kunjungi adalah Museum Gunung Merapi di Jogja, yang sayangnya pada saat itu hampir tutup. Jadilah Puput saja yang masuk dan mengambil foto. Saya dan Oliq menunggu di mobil karena anaknya juga sedang tidur.

Di Museum Satria Mandala Jakarta
Di Museum Satria Mandala Jakarta

Nah, museum berikutnya, sejauh ini adalah museum terkecil yang pernah ia kunjungi – namun favoritnya – adalah Museum Satria Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta. Bagaimana tidak menjadi favorit, belum masuk juga sudah disuguhi beberapa pesawat terbang. Oliq terobsesi dengan pesawat terbang sejak usia belum genap 1 tahun (dia punya mainan dan miniatur pesawat terbang lebih dari 50 buah, mulai dari yang harganya 2.000 rupiah sampai 24 euro.

Di museum ini anak-anak memang bisa berlarian di halaman rumputnya. Sayangnya, pesawat terbang yang dipajang tidak bisa dinaiki. Sebenarnya kami sudah beberapa kali mau ke Museum Dirgantara Adisutjipto yang sangat lengkap, sayangnya belum juga kelakon. Padahal itu tempat studi ekskursi saya ketika TK.

Museum lain yang kami kunjungi adalah Museum Tsunami di Aceh. Bagian luarnya luas jadi cocok juga untuk membawa anak-anak, ada beberapa fitur yang interaktif.

Waktu umrah, kami juga dibawa ke Museum Makkah tapi tidak lama. Hanya putar-putar, foto-foto. Oliq juga belum bisa jalan jadi adem ayem digendong saja.

Oliq dan Puput di Museum Makkah
Oliq dan Puput di Museum Makkah

Terjadi kecelik yang sangat besar waktu mau ke Museum Anime Suginami di Ogikubo, Tokyo. Kami dengan pedenya ke sana tanpa memperhatikan brosur. Senin tutup! Untungnya cukup terhibur dengan sebuah kuil kecil di seberangnya. Setelah itu mengalami nggonduk lagi karena kesasar waktu menuju ke apartemen sewaan di Nishi-Ogikubo. Kaki saya sampai hampir prothol.

Perasaan bercampur-baur (maksudnya mixed feeling) saya mengenai membawa anak ke museum terjadi di Belanda. Saat itu kami berada di Rijksmuseum yang memamerkan berbagai lukisan karya pelukis ternama. Alkisah, Oliq tiba-tiba lari menuju ke salah satu lukisan mahakarya Rembrandt (yang kebetulan dipasang cukup pendek). Tangannya yang berbalur remah-remah keripik kentang terjulur. Saya dan seorang petugas museum lari mengejar. Kalau di film-film pasti sudah dibikin adegan slow motion. Oliq mbrobos pagar sebelum akhirnya petugas berhasil menangkapnya beberapa centimeter sebelum menyentuh lukisan. Saya deg-degan setengah modyar! Langsung saya cangking anaknya. Setelah itu Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 20: Ngajak Anak ke Museum? Boleh, asal…

“Monggo Pinarak” di De Wallen


“Cup, masak aku disuruh pinarak sama yang cantik,” Puput terbirit-birit menghampiri saya sambil mendorong stroller Oliq. Hidungnya kembang-kempis bangga.

Sekilas pengalaman kami datang ke Red Lights District di Amsterdam, Belanda. Kawasan prostitusi ini dikenal dengan nama demikian karena secara harfiah daerah ini memang penuh lampu merah. Gang-gang menggurita mengikuti kontur kanal yang memang menjadi ciri khas ibukota Belanda.

Kanal di De Wallen yang romantis
Kanal di De Wallen yang romantis

Karena rasa penasaran, baru pertama kali ke Amsterdam, De Wallen otomatis masuk ke agenda. Sore itu, sebelum matahari tenggelam, kami memutuskan untuk berjalan dari apartemen di Prinshenrikkade ke Red-Lights District.

Continue reading “Monggo Pinarak” di De Wallen

Mengurus Visa Schengen


Pernah ada yang tanya pada saya, Schengen itu negara di mana? Nah saya juga jadi bingung jawabnya, penjelasan singkatnya demikian: Wilayah Schengen meliputi 22 negara anggota Uni Eropa dan 4 negara anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) yang bersepakat untuk menghapuskan pemeriksaan paspor dan imigrasi di perbatasan mereka sesama negara Schengen. Dengan demikian, negara-negara ini menerapkan kebijakan satu visa. Lebih lengkapnya mengenai wilayah Schengen dan negara-negara anggotanya dapat dibaca di Wikipedia.

Singkat kata, bila kita ingin pergi ke Belanda, kita tidak akan melamar visa Belanda, melainkan visa Schengen di Kedubes Belanda. Demikian juga bila akan ke Perancis, Italia, dan sebagainya (Catatan: Inggris tidak termasuk!). Dan dengan satu visa itu kita dapat pergi ke beberapa negara Schengen sekaligus, tanpa passport control kalau lewat jalan darat.

Museum Louvre di Paris
Museum Louvre di Paris

Continue reading Mengurus Visa Schengen

De-icing, Prosedur untuk Menjamin Keselamatan Pesawat di Musim Dingin


Kalau Anda bepergian dengan pesawat di wilayah Eropa atau Amerika Utara pada bulan-bulan ini, seperti ketika saya sedang  transit di bandara Amsterdam Schiphol Belanda pada bulan Maret, Anda pasti akan menemukan sebuah fenomena unik. Pesawat yang hendak lepas landas (take off) biasanya tidak langsung menuju landasan pacu (runway), tapi parkir dulu di suatu tempat kemudian didatangi beberapa mobil kecil yang akan menyemprot seluruh badan pesawat. Apakah ada kebakaran di pesawat? Jangan khawatir, ini adalah suatu prosedur yang disebut de-icing. De-icing adalah proses pemindahan es, salju, atau cairan beku dari suatu permukaan, dalam hal ini badan pesawat.

???????????????????????????????
Sebuat pesawat KLM tengah disemprot (de-icing) oleh 4 mobil sekaligus di bandara Amsterdam Schiphol Belanda

Continue reading De-icing, Prosedur untuk Menjamin Keselamatan Pesawat di Musim Dingin

Penitipan bagasi di Amsterdam Centraal Station, Belanda


Anda pasti pernah menjumpai situasi ketika Anda sudah harus check out dari penginapan sementara penerbangan Anda masih malam hari. Kalau Anda memperpanjang masa menginap hingga malam, mungkin Anda akan terkena biaya penuh, biasanya ketentuan ini berlaku kalau Anda memperpanjang hingga pukul 18.00. Kalau Anda ingin jalan-jalan dulu sebelum ke bandara, mungkin Anda merasa repot dengan koper besar yang harus dibawa-bawa kemana-mana. Mungkin kalau Anda menginap di hotel, Anda bisa menitipkan koper di resepsionis hotel. Namun ini berarti Anda harus kembali ke hotel lagi untuk mengambil koper yang kadang kala agak merepotkan jika hotel Anda berlokasi jauh dari bandara atau lokasi jalan-jalan. Apalagi jikalau Anda menginap di apartemen atau homestay, Anda tidak akan menemukan fasilitas ini. Lalu, apakah Anda harus menambah biaya untuk memperpanjang penginapan atau harus repot menenteng koper besar kesana kemari?

Ruangan loker di Amsterdam Centraal Station, Belanda
Ruangan loker di Amsterdam Centraal Station, Belanda

Continue reading Penitipan bagasi di Amsterdam Centraal Station, Belanda