Tag Archives: beach

Kabur ke Krabi


Awalnya kami tidak ada niatan dolan ke Krabi, Thailand. Tapi mendadak kota ini jadi pilihan karena beberapa hal. Pertama, harus pakai segera credit shell AirAsia waktu gagal mudik ke Jogja pasca Kelud meletus karena setelah 3 bulan akan hangus. Ke dua, sejak pindah ke KL belum sekalipun liburan yang pakai naik pesawat. Ih dangkal ya alasannya.

Terus kenapa Krabi? Kenapa nggak Seoul – mahal. Kenapa nggak Boracay – waktunya sempiiit banget. Kenapa nggak Turki – duite mbahmu po?

Pantai Ao Nang menjelang sore
Ao Nang

Tiket ke Krabi dari KL lumayan murah, dapat RM 800 untuk 3 orang pulang pergi, jadi nggak sampai 2,5 juta bertiga. Lumayan kan?

Kami sampai di Krabi Airport sekitar jam 7.30 pagi. Bandaranya bersih, sepi, nyaman, jauh banget kalau dibandingin bandara-bandara di Indonesia. Yang agak mengecewakan bagi Oliq waktu mendarat nggak ada pesawat lain, tapi anaknya cukup seneng lihat tangga-tangga untuk naik pesawat.

Imigrasi lancar jaya, karena ada 4 konter (+ 1 meja untuk yang VOA) untuk melayani satu pesawat saja.

Di luar sudah ada mas-mas yang pegang kertas bertulisan “Puput Aryanto”. Ahooi, itu jemputan kami. Memang di luar kebiasaan, kali ini saya booking airport transfer. Bukan sok gaya, setelah lihat di forum-forum, sebenarnya bisa dari bandara ke Ao Nang naik bus ganti dengan songthaew tapi bisa sampai 2 jam lebih. Taksi sekitar 600 baht.

Krabi Shuttle ini mencharge THB 599 untuk sekali jalan dari bandara ke Ao Nang dan sebaliknya. Saya booking secara online dan milih metode pembayaran “pay  cash upon arrival”  cocok nih buat kalian yang curigaan atau nggak mau sembarangan booking pakai kartu kredit.

Jebulnya, mobil tidak sesuai dengan ekspektasi saat booking. Saya booking mobil standard. Yang dikirim adalah Camry mewah baru gres dilengkapi Wifi cepet. Oh wooow *langsung online*

Perjalanan antara bandara ke Ao Nang butuh waktu 30 menit-an karena jaraknya juga hampir 20 km. Kami  sudah booking Aonang Cliff Beach Resort, sengaja cari yang aksesnya mudah buat jajan-jajan. Sampai di hotel jam 8 pagi. Dibukain pintu mobil sama mas bellboy namanya Amad. Mas Amad ini langsung nggendong Oliq ke resepsionis. Anaknya kalem aja.

Kebayang mau nitipin ransel lanjut jalan sampai waktu check in jam 2an. Dan coba apa kata resepsionisnya?

“Your room is ready. Do you want to have breakfast first or go to your room? We are afraid that there are not many halal restaurants open this early, so we give you complimentary breakfast for free.”

Duh, Mbak, kamar sepagi itu udah dikasih, dapet makan pagi gratis pula. Kene tak ambunge!

Berhubung dari KL belum mandi akhirnya kami ke kamar dulu buat mandi dan taruh tas. Dan ternyata di balkon kamar ada bathtub-nya, agak eksibisionis ditutup pohon-pohon kecil. Puput langsung kedip-kedip. Kelilipen belek!

Hari pertama itu kami langsung sewa motor. Sewanya di hotel karena malas kalau misalnya harus ninggalin paspor. Di hotel sewa motor 250 baht (75 ribu) sehari. Bebas aja sampai jam berapa. Habis makan kami langsung lanjut jalan-jalan naik motor.

IMG_2605-tile

Yuk kita review satu-satu pantainya, harap maklum kalau nggak lengkap soalnya di sini cuma 2 hari aja nggak genep.

Pantai Ao Nang ini touristy karena memang banyak sekai hotel dan penginapan di sini. Di sisi kiri ada jalan dari cornblock yang dipenuhi kafe-kafe dan restoran. Sisi kiri Ao Nang adalah tebing-tebing kapur tinggi cantik. Nggak cuma di sisi kiri dink, Krabi ini memang dikelilingi tebing kapur – melebihi Phuket.

Ao Nang ramai dengan pasir lembut, kadang-kadang ada tumpukan pecahan kulit kerang. Di sini juga banyak perahu wisata yang bawa turis ke Railay, Hong Islands, atau Poda Island. Kami nggak sempet island-hopping karena keterbatasan waktu.

Kesan pertama di Ao Nang ini adalah, “Mobilnya bagus-bagus!” kata Puput. Memang benar, merk mahal bertebaran. Fortuner aja dijadikan taksi.

Pantai-pantai di Krabi berbeda dengan di Phuket yang dipenuhi sundeck dan payung-payungnya. Di sini mah orang klekaran aja pakai tikar. Iya bener tikar biasa kaya di Indonesia. Hotel kami aja menyediakan tikar kok di kamar, buat dibawa ke pantai.

Ada juga Phranang Bay, sebuah teluk antara Ao Nang dan Nopparatthara. Orang-orang tinggal jalan atau naik motor dari satu pantai ke pantai lain. Parkir di mana saja sudah disediakan garis-garisnya, aman dan tidak bayar. Tuk-tuk dan songtheaw juga banyak berseliweran.

Nopparatthara
Nopparatthara

Nopparatthara pantainya panjang, banyak pohon-pohonnya. Ketika besoknya kami lewat sini lagi, hari Minggu, berderet mobil di pinggir jalan. Sepertinya Noppa ini jadi favorit wisatawan domestik yang bawa keluarga untuk piknik di pinggir pantai di bawah pohon. Mereka gelar tikar, bawa rantang lengkap *ngiler*

Kami sempat menyeberang dari Noppa ke pulau kecil di seberangnya. Air lautnya sebatas betis. Ini gara-gara Oliq lihat excavator lagi ngeruk pasir di dekat pulau itu. Ceritanya pasir dikerukin biar tidak dangkal dan perahu tetap lewat. Jadilah kami nongkrong di pulau pasir sambil nonton excavator.

Pas mau balik, jalan yang tadi udah ilang. Jadinya kami terpaksa meraba-raba kaki ke pasir cari jalan dangkal. Oliq udah nggak bisa digandeng lagi karena airnya sudah sepaha kami. Untungnya tiba di daratan dengan selamat walau basah kuyup.

Oh ya di antara Ao Nang dan Nopparatthara ini banyak bakul-bakul di gerobak yang jual banana pancake, ikan goreng, minuman, dan sebagainya. Sayangnya, mereka biasa sedia ketan buat teman makan ikan, bukan nasi L

Hari berikutnya kami ke arah Tubkaek, pantai yang jadi setting film Hangover 2. Yang mana filmnya? Ya mbuh, wong saya terakhir nonton bioskop pas masih hamil.

Kami nyasar dulu ke Klong Muang. Di sini pantainya biasa aja. Malah nonton sepasukan polisi lagi kerja bakti ngambilin sampah-sampah di pantai. Good job, boys!

Tubkaek
Tubkaek

Tubkaek diawali dengan Phulay Bay, di sinilah katanya setting pernikahan The Hangover 2 dilakukan. Kami melipir untuk cari pantai umum yang bisa dimasuki orang luar, bukan yg nginep di resor-resor mewah sekitar situ. Kami nemu jalan nylempit antara tebing dan sebuah resor. Pemandangannya memang bagus banget dari sini. Airnya jernih biru, kebetulan langitnya juga biru. Di depan ada jajaran pulau-pulau Hong yang bagus banget. Pantai di sini juga sepi cocok buat yang mau bulan madu. Resortnya juga mahal semua.

Foto-fotolah kami di sini. Oliq sibuk mainan pesawat sama excavatornya di pasir. Bapak simboknya foto narsis dulu. Muncullah serombongan bule. Salah satunya bertindak sebagai guide yang bilang, “Di sana itu mereka nikahnya” sambil nunjuk-nunjuk ke arah pantai pribadinya Phulay Bay. Yang lain manggut-manggut. Saya ikut manggut-manggut.

Jadi secara umum saya bisa bilang kalau Krabi itu lebih laid back daripada Phuket yang sangat ramai. Memang objek wisata di Phuket lebih banyak pilihan. Pantai di Krabi lebih sedikit (walaupun masih ada Railay dan Ton Sai yang katanya bagus dan tidak sempat saya kunjungi). Dari Krabi bisa ke Ko Lanta dan ke Phi Phi. Saya pernah ke Phi Phi dua kali sebelumnya, dan saya bisa bilang Phi Phi dan sekitarnya mungkin bagian dari Laun Andaman yang terbaik.

Tinggal pilih mau makan apa

Krabi cenderung lebih murah dari Phuket, walaupun jajanan pinggir jalan harganya tidak beda jauh (misal banana nutella pancake 40 baht, pad thai 60 baht). Restoran/warung halal cenderung lebih banyak daripada Phuket yang sangat komersil. Hiburan malam lebih sedikit, nggak lihat ada ladyboy di sekitar Ao Nang, beda sekali dengan Bangla.

Oh ya, pas pulang, mas sopir Krabi Shuttle yang sama jemput kami (yang telat bangun dan deg-degan setengah modar bakal ketinggalan pesawat) dengan Camry yang lain, lengkap dengan wifi pula. Jempol!

Jadi, kalau tiket murah Krabi bisa jadi pilihan – lebih bagus sekalian ke Ko Lanta, Phi Phi, dan Phuket.

Advertisements

Hidden treasure just around the corner. It’s Belitung….


How to get there

Sriwijaya Air (www.sriwijayaair-online.com) and Batavia air (www.batavia-air.co.id) offer one flight daily from Jakarta to Tanjung Pandan, the main city in Belitung Island. The flight takes approximately one hour.

It is highly recommended that you pre-book your transportation to your hotel since public transport is scarce in this island. Don’t worry, it’s only a small hassle compare to its beauty.

For you who prefer organized trips, please contact: www.belitungisland.com. For those who love a bit more adventure, keep reading…

Tanjung Pandan

There are some nice accommodations in Tanjung Pandan, around one hour from the airport. Martni Hotel (0719 21432) and Wisma Martani (0719) 21156) are among those preferred. Room rate are around $20 to $40 a night. Hotel Martani has basic but nice rooms, good value for money.

Tanjung Pandan is located in the center of the island, so it takes 45 minutes to one hour to get to the beach. The town is famous for its traditional food: Mie Belitung and Gangan.

Mie Belitung is traditional Belitungese noodle with bean sprout and potato. Gangan is a red curry fish with pineapple. The taste is sour and spicy, perfect with hot steam rice. Durian is another attraction for you who like it, just wander around the town and you can get it with relatively cheap price.

Tanjung Tinggi

Tanjung Tinggi is the most popular beach in the western part of Belitung. It has stretched granite rocks and blue sea. Belitung beaches are friendly to families with small children because the wave is not very strong and in some areas the water is contained by the rocks.

Avoid busy crowd and you can easily take photos with picturesque background. The beach is only very busy on Sunday and holidays. Most tourists are local, students, with few travelers from Jakarta. Westerners are very few.

Small shops and food stalls selling Indonesian traditional food, soft drink, coffee and tea, coconut are available on the beach.

The only accommodation you can find in Tanjung Tinggi is Lor In Resort. Owned by Tommy Soeharto, the son of Indonesian former dictator, the resorts offer a beautiful view. Named as the most expensive hotel in the island with around $60 a night, it is expensive compared to the facilities. Lor In consists of 6 executive and 14 superior cottages.

Although having a beautiful sea view, it is located not on the beach, because you need to cross a road. Hence, mind your children. The main advantage of the resort is it is the only one that can offer a luxurious service such as massage and spa. Please check their website for further information:  http://www.lor-in.com/belitung/index.php

Tanjung Kelayang

Tanjung Kelayang is a fishermen beach around 4 kilometres from Tanjung Tinggi. It has undisputable marvelous panorama. You can enjoy the clear blue sea that stretches for one kilometer. In the afternoon you can see the fishermen unloading their boats and selling fishes on the beach.  One great thing about this place is, although serving as fishermen village, it doesn’t stink at all. And although you can see many fishing boats, the beach is still very clean and blue. It is perfect for families with small children who enjoy swimming, also you who like to snorkel.

Belitung beaches are famous and unique for their granites and Tanjung Kelayang is no exception. In the corner of the beach, you can see a big stack of huge granite rocks. The place is well-known for dating teenagers. Try to climb the rocks and you will find maybe the bluest sea you have ever seen. On the rocks you, you can see some other islands such as Pulau Lengkuas and Pulau Tikus.

The only accommodation in Tanjung Kelayang is Kelayang Cottages (www.kelayangcottages.com). Owned by a British gentleman, it consists of 6 wooden cottages with attached bathroom. The rooms are spacious and clean, although they are basic.  For rooms with air-con you need to pay $25 a night, room with fan $15 a night, and one backpacker style with only $10. Please book in advance at: (+6281929798420).

The accommodation provides a restaurant with reasonable price. They also provide airport pick-up and drop-off for $15 one way (it takes one hour traffic-free trip from the airport to Tanjung Kelayang). You can also book one-day islands hopping for $30 one boat – it can fit more than 10 people.

Pulau Lengkuas


 

 

It takes around 30-50 minutes boat ride to Lengkuas Island or Pulau Lengkuas which is famous for its lighthouse. Built during the Dutch colonial era, the lighthouse is still working properly to keep boats safe. From the top, on 18th floor, you will enjoy the most magnificent blue sea. Take a lot of pictures or you will be sorry.

You can swim or snorkel in the sea around Pulau Lengkuas. The water is very clear. The guardians of the lighthouse have prepared some benches and hammocks. They also have facilities to rinse after swimming. Please note that it is a tiny and isolated island, so bring your food and enough water. Do a picnic while enjoying one of the best scenic views in Indonesia.