Tag Archives: bayi

Traveling dengan Anak-Anak Part 17: Singapura


Singapura hampir selalu menjadi pilihan pertama liburan luar negeri bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Memang banyak alasan mengapa negeri tetangga ini menjadi pilihan utama. Mengapa Singapura menjadi negara tujuan wisata favorit keluarga Indonesia?

• Akses penerbangan yang mudah dan murah, terdapat penerbangan langsung dari beberapa kota di Indonesia

• Jarak yang dekat (misal: kurang dari 1,5 jam dari Jakarta), sehingga balita tidak akan bosan dalam pesawat

• Singapura memiliki berbagai atraksi wisata keluarga yang sangat menarik

• Saat anak-anaknya bermain, orangtuanya mungkin juga dapat sekalian berbelanja (kami kurang suka belanja kecuali barang-barang rumah tangga di IKEA *emak-emak mendadak gelap mata!)

• Akses transportasi umum di Singapura (MRT, Circle Line, bus) sangat aman dan nyaman

• Banyak pilihan akomodasi, walaupun dari masalah harga cenderung lebih mahal daripada di kota-kota besar di Indonesia

• Kotanya bersih dari polusi dan sampah

• Stroller-friendly, setiap stasiun disediakan lift, jalanan dengan trotoar yang memadai, nyaman bagi keluarga yang membawa balita

Di bawah ini rekomendasi dari kami:

1. Singapore Zoo

Kebun binatang selalu menjadi pilihan utama bagi keluarga dengan anak-anak. Kebun binatang ini sudah berdiri selama 40 tahun dan kini memiliki 315 spesies binatang, banyak di antaranya merupakan spesies yang terancam punah. Salah satu andalan kebun binatang ini adalah Panda Raksasa yang dapat disaksikan di bagian River Safari. Di sini ada berbagai paket yang ditawarkan, antara lain sarapan dengan para binatang.

2. Sentosa Island

Bisa dibilang di Pulau Sentosa ini apa saja ada. Ada pantai, bukit, taman hiburan, tempat berbelanja, taman kupu-kupu dan masih banyak lagi. Anak Anda mungkin akan senang diajak naik kereta gantung (cable car) hingga ke puncak Mount Faber. Beberapa kereta gantungnya bergambar karakter dari Angry Birds. Tiket SGD 26 untuk dewasa dan SGD 15 untuk anak-anak.

Cable car Sentosa Island
Cable car Sentosa Island

Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 17: Singapura

Advertisements

Traveling dengan Anak-Anak Part 16: Keselamatan Balita dalam Pesawat


Ya benar, ini artikel dibuat sebagai respon atas musibah yang menimpa Lion Air di Bali. Sebagai seorang ibu, miris hati saya mendengar bahwa dalam pesawat naas tersebut ada 5 orang anak dan 1 bayi. Semua orangtua pasti sadar bahwa keselamatan anak adalah hal yang paling utama, tapi apa kita sudah melalukan yang terbaik untuknya?

Oliq di Air France A380 Singapura-Paris
Oliq di Air France A380 Singapura-Paris

Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 16: Keselamatan Balita dalam Pesawat

Traveling dengan Anak-Anak (Part 13): Obat-obatan yang dibawa bepergian


Traveling dengan Anak-Anak (Part 13): Obat-obatan yang dibawa bepergian

Ketika bepergian, kondisi kesehatan harus dijaga. Terutama bagi anak-anak yang relatif lebih rentan. Namun, ada kalanya

Contoh obat-obatan untuk anak
Contoh obat-obatan untuk anak

mereka sakit saat dalam perjalanan. Kalau tidak membawa obat, tentu repot, bukan? Ada baiknya bunda panda mempersiapkan obat-obatan si Kecil untuk dibawa bepergian.

Inilah obat yang biasa kami bawa:

1. Obat demam atau paracetamol. Ini obat wajib karena dapat mengobati demam, sakit kepala, dan sakit gigi anak-anak. Terserah merk apa yangdipilih. Sebagai gambaran, paracetamol generik sirup 120 ml harganya hanya Rp 3000, lho. Continue reading Traveling dengan Anak-Anak (Part 13): Obat-obatan yang dibawa bepergian

Traveling dengan Anak-Anak Part 12: Membuat Paspor Anak


Paspor adalah dokumen paling penting ketika akan pergi ke luar negeri. Bagaimana membuat paspor untuk anak-anak? Kami, para emak-emak keren berbagi pengalaman dan tips tentang pembuatan paspor untuk bayi dan balita. Namun, karena ada beberapa perbedaan peraturan di masing-masing kantor imigrasi, Anda tetap harus mengecek dokumen apa saja yang harus dibawa untuk proses pembuatan paspor ini. Mari bawa si Kecil keliling dunia!

———————-

Lala bersama Raissa dan Fiamma

Kalau mengerjakan hal dengan santai karena waktu yang leluasa itu memang se-su-a-tu ya. Bisa bikin awet muda karena tidak stress dikejar-kejar tenggat waktu. Begitu pula saat saya berniat membuatkan Fiamma, anak kedua saya, paspor. Saya sedang kerja dengan waktu yang sangat fleksibel, belum ada rencana berpergian ke luar negeri, dan kebetulan kantor imigrasi ada yang dekat tempat tinggal kami, sehingga bisa menyambi bikin paspornya. Setelah mengantar Raissa, si kakak, ke sekolah, ke imigrasi untuk memasukan dokumen, terus bisa tepat waktu jemput Raissa dari sekolah. Sangat berbeda ceritanya saat membuatkan paspor untuk Raissa. Saat itu saya hanya punya waktu kurang dari 2 minggu, buta dengan segala persyaratan membuat paspor anak, sehingga pontang-panting di setiap langkah untuk memenuhi persyaratan. Bahkan setelah mendapatkan bantuan kemudahan proses oleh imigrasi, paspor Raissa selesai tepat sehari sebelum berangkat ke Singapura. Sungguh olahraga ekstrim buat jantung orang tuanya. Jadi saran saya, segerakanlah membuat paspor, jauh-jauh hari sebelum ada rencana berlibur keluar negeri karena sebenarnya anak sudah bisa dibuatkan paspor dari usia baru lahir, namun saran saya kalau memang tidak terburu-buru lebih baik menunggu sampai anak berusia 6 bulan atau saat sudah bisa duduk.

Sebenarnya permohonan pengajuan paspor bisa dilakukan secara online terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan kedatangan ke kantor imigrasi untuk verifikasi data mencocokan fotokopi dengan dokumen asli, bila semua dinyatakan OK maka pemohon bisa langsung interview dan foto setelah membayar harga paspor di hari yang sama. Tetapi saya sengaja mengambil proses terpanjang dan terlama agar informasi ini bisa bermanfaat untuk mereka yang minim internet akses. Nah inilah jalur terpanjang yang saya lakoni, dimulai dengan menyiapkan dokumen persyaratan membuat paspor untuk anak. Berkas yang dibutuhkan adalah: Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 12: Membuat Paspor Anak

Diary of A Pregnant Traveller


No, I’m not pregnant again, if you’re wondering! This is a short piece of my and my husband’s journey during the 2010-2011 pregnancy period. We dubbed it as Gembolan Era.  Nggembol is the Javanese term for “bringing something in your pocket. And the pocket should be around tummy area. It may as well carrying something using your T-shirt”. OK, I give up, I lost in translation. Long story short, we called the baby inside my belly “Gembolan”. And he sure has his share of adventure while still in the womb.

This certain piece is not to encourage pregnant women out there to travel. Sure, everything is up to their own judgement – as well as their condition. And sure as hell, their willingness! I share the story so that pregnant ladies are not discouraged to travel. 

Here is the list of short and long trips we’ve taken during the Gembolan Era.

2.5 month at Taman Bunga Nusantara

2.5 month along we went to Kebun Bunga Nusantara in Cibodas West Java. Everything was fine until the returning trip. It was supposed to be a day trip. Coming out from the complex, we were supposed to follow the sign to Jakarta, that leads us to the road we were coming from. Instead, dear husband put his whole trust to the GPS. He worshipped the GPS blindly (owing this sentence to Chairman Mao).

The road was fine until it was not. We had been traveled for kilometers and the road worsened and worsened. It was no longer a paved road. And even the dirt road occasionally only fit one car. Jungle on the left, cliff on the right. And the GPS lost it way. The screen showed that the car was not on any road. It simply in the middle of nowhere.

Continue reading Diary of A Pregnant Traveller