Tag Archives: bayah

Sawarna, Mutiara Banten Selatan


Ketika para pejalan sudah cukup lama menggembar-gemborkan tentang tujuan wisata yang satu ini, ternyata masih banyak juga orang yang sama sekali belum pernah mendengarnya. Sawarna berada di Provinsi Banten, pesisir Laut Selatan. Dari Jakarta ada dua pilihan akses; melalui Rangkasbitung dan Sukabumi. Kebanyakan lebih memilih jalur yang kedua karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Saya pun demikian.

Baru minggu lalu saya akhirnya melakukan perjalanan darat melalui Pelabuhan Ratu dengan tujuan akhir Sawarna. Bagi orang yang masih bertanya-tanya apa istimewanya Sawarna, jujur saya akan bingung menjawab. Masalahnya, di sini ada banyak hal yang sangat menarik perhatian saya. Lokasi wisatanya pun tidak hanya satu, dengan beragam keunikan masing-masing.

Mari kita telusuri cantiknya Sawarna satu demi satu.

Pantai Pasir Putih Ciantir, tujuan utama wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Tujuan utama pelancong adalah Pantai Pasir Putih Ciantir, yang memang merupakan objek utama di sini. Untuk mencapai pantai ini, wisatawan harus meninggalkan kendaraan roda empatnya di tepi jalan atau di halaman rumah-rumah penduduk yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat parkir darurat. Saya memilih untuk meninggalkan mobil di penginapan dan berjalan kaki menuju ke pantai ini.

Dari jalan raya, saya melewati jembatan gantung yang menjadi ikon daerah ini. Di depan jembatan tertulis bahwa Desa Sawarna adalah desa ramah lingkungan. Sayangnya saya malah agak bingung membaca hal ini karena kenyataannya sepeda motor lalu lalang melalui jembatan menuju ke desa, baik motor-motor ojek maupun milik wisatawan yang membawa kendaraan roda dua. Bagaimana tidak? Di seberang jembatan ini, terdapat puluhan penginapan yang penuh sesak pengunjung.

Saya harus berjalan sekitar 10 menit, melewati desa, penginapan beraneka rupa, beberapa petak sawah, untuk sampai di pantai. Di Pantai Pasir Putih sendiri warung-warung sudah banyak bermunculan, banyak di antaranya yang menawarkan bale-bale yang bisa diinapi pelancong dengan dana terbatas.

Saya bisa mengerti mengapa pantai ini menjadi tujuan utama pelancong. Pantainya panjang dengan pasir yang luas enak untuk bermain. Ombaknya kencang sehingga ada larangan untuk berenang walaupun banyak yang tak mengindahkannya. Selain lokasi yang dekat dengan pusat akomodasi, keberadaan warung dan toilet umum memudahkan wisatawan. Pengunjung kala itu membludak. Terus terang, Pantai Pasir Putih bukan pantai favorit saya di Sawarna.

Tebing karang Tanjung Layar yang menjadi favorit fotografer. (Olenka Priyadarsani)

Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari Pantai Pasir Putih, terdapat pantai lain yang bisa dikatakan selalu menjadi objek foto untuk mempromosikan Sawarna. Tanjung Layar memilih dua buah karang besar tinggi. Di kanan kirinya terdapat terdapat tebing karang yang selalu jadi incaran para fotografer. Seringkali ombak besar tiba-tiba datang melapisi tebing karang bagaikan tirai putih.

Batu-batu karang menjulang di Tanjung Layar. (Olenka Priyadarsani)

Kita dapat menyeberang dari bibir pantai ke karang-karang besar di tengah. Tentunya harus berbasah-basah, karena tinggi air laut yang diseberangi berkisar antara selutut hingga setinggi dada, tergantung pasang surutnya laut saat itu. Tanjung Layar juga jadi favorit para pemburu matahari terbenam.

Berkebalikan dengan Tanjung Layar untuk melihat matahari terbenam, Legon Pari (Laguna Pari) adalah lokasi untuk melihat matahari terbit. Letaknya sekitar 6 km dari Desa Sawarna, hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang masih berbatu.

Tebing karang membatasi Pantai Gua Langir dengan dunia luar. (Olenka Priyadarsani)

Pantai favorit saya adalah pantai di Gua Langir, berada sekitar 2 km dari Pantai Pasir Putih. Bahkan ketika akhir pekan panjang, pantai ini sepi pengunjung. Ketika itu hanya ada keluarga kecil kami di sana, bagaikan pantai pribadi. Sesuai namanya, kawasan ini memiliki beberapa gua, yaitu Gua Langir, Gua Kanekes, Gua Seribu Candi, dan Gua Harta Karun. Kabarnya, gua-gua di sini dulunya dipakai oleh penjajah Jepang untuk bersembunyi.

Pantai Gua Langir terlihat dari balik hutan. (Olenka Priyadarsani)

Pantai di Gua Langir sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang seolah-olah membatasi area ini dengan dunia luar. Pasirnya lembut, suasananya agak mistis karena selain dikepung tebing, juga dikelilingi hutan yang masih lebat. Ah, mungkin juga suasana terasa mistis karena di pantai itu hanya ada saya, suami, dan anak kami yang masih kecil. Anak saya malah dengan santainya tidur-tiduran di atas pasir yang lembut.

Telusur Gua Lalay menjadi aktivitas alternatif selain pantai. (Olenka Priyadarsani)
Di Sawarna ada juga Gua Lalay yang kini ramai dikunjungi untuk melakukan caving (telusur gua). Berbeda dengan Gua Langir yang kering, pelancong harus mau berbasah-basahan bila masuk ke Gua Lalay. Namun, airnya pun tidak terlalu tinggi, hanya sebatas mata kaki dan betis. Jadi, Gua Lalay tidak berbahaya untuk dimasuki oleh mereka yang mungkin belum berpengalaman melakukan telusur gua.

Perahu-perahu nelayan menghiasi Pantai Pulo Manuk. (Olenka Priyadarsani)

Ada beberapa pantai lain yang berada di sekitar Sawarna. Salah satunya adalah Pantai Pulo Manuk, sebuah nelayan yang berkarang. Di sini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulo Manuk. Saya sangat menikmati perjalanan dari Desa Sawarna menuju ke Gua Langir dan Pulo Manuk karena di kanan kiri jalan adalah hutan lebat hijau yang dikelola Perhutani. “Andai saja semua hutan di Indonesia lestari seperti ini,” kata suami saya saat itu.

Pantai yang lebih jauh lagi berada di Bayah, bernama Karang Teraje. Tampaknya ini adalah lokasi wisata yang tidak baru lagi, sayangnya kurang terawat. Kami melihat banyak pekerja menggunakan overall berwarna oranye di sekitar sini. Ternyata sedang dibangun sebuah pabrik semen besar. Kami hanya bisa berharap pembangunan besar-besaran ini tidak akan merusak alam Sawarna.

Jangan kotori Sawarna
Satu hal yang sangat mengganggu saya ketika berwisata di dalam negeri adalah sampah. Mungkin faktor ini juga yang mengganggu pandangan objektif saya terhadap Pantai Pasir Putih Ciantir. Di Indonesia, semakin banyak orang yang berkunjung sama artinya dengan semakin banyak sampah berserakan. Kenapa yang cantik seperti ini kita kotori?

Yang paling banyak ditemui adalah botol air mineral berserakan. Banyak pula bungkus-bungkus makanan ringan, wadah mi instan, bahkan popok sekali pakai kotor. Padahal, biasanya warung-warung yang hanya beberapa langkah dari bibir pantai menyediakan tempat sampah. Herannya, di Pantai Gua Langir yang sepi pun masih terlihat tumpukan botol air mineral. Apa susahnya sih membawa tas plastik untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah?

Di Pantai Pasir Putih, kami melihat seorang laki-laki bolak-balik memunguti sampah di pasir. Suami saya langsung mengajaknya mengobrol. Namanya Egi, ia adalah salah satu dari tiga penjaga pantai di Ciantir ini. “Saya nggak tega lihat pantainya kotor, Mas!” saya menguping dari tempat saya duduk. Bayangkan saja, ada ratusan pengunjung pantai yang beramai-ramai membuang sampah sembarangan, sementara hanya ada beberapa orang seperti Egi yang memiliki hati besar untuk membersihkannya. Mau jadi apa pariwisata negara kita?

Baca juga cerita perjalanan Olenka di http://backpackology.me

Advertisements

Terios 7 Wonders : Menyibak Pesona Sawarna yang Tersembunyi


Tujuan pertama perjalan panjang Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise adalah Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebenarnya pantai ini tidak terlalu tersembunyi dan sudah mulai dikenal warga Jakarta dan Jawa Barat. Namun, tetap saja pantai ini masih tak sepopuler pantai di laut selatan seperti Pangandaran atau Pelabuhan Ratu, padahal pantai ini sebenarnya menyimpan banyak pesona unik yang layak dijelajahi. Tak heran, dalam ekspedisi ini, Pantai Sawarna menjadi tujuan pertama 7 Wonders versi Daihatsu Indonesia, setelah sebelumnya Konvoi Terios ini dilepas secara resmi di VLC Daihatsu Sunter.

Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna
Pantai Tanjung Layar yang legendaris di Sawarna

Untuk menjangkau pantai ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari Jakarta, Anda cukup melalui Tol Jagorawi, lalu keluar di Ciawi dan mengambil arah menuju Sukabumi. Hanya saja, selepas Ciawi biasanya jalan agak macet karena pasar tumpah dan banyaknya truk-truk aqua di sepanjang jalan raya tersebut. Alternatifnya, Anda bisa keluar di Bogor dan melalui Lido, hanya saja jalur ini memang agak kecil, berkelok-kelok, dan agak membingungkan karena tak ada petunjuk arah. Pada ekspedisi Terios 7 Wonders ini kami diajak melalui jalur ini, namun kalau Anda ragu saya sarankan tetap melalui jalur utama. Setelah memasuki jalan raya Sukabumi, teruskan arah menuju kota Sukabumi hingga menemukan pertigaan menuju lokasi Arung Jeram Sungai Citarik. Ada beberapa operator di sana, yang paling besar adalah Arus Liar dan papan petunjuknya terpampang jelas di pertigaan ini. Anda tinggal belok kanan dan ikuti jalan aspal hingga menemukan jembatan baja lokasi titik awal pengarungan Sungai Citarik. Ikuti saja jalur ini, Anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok naik turun dan akhirnya akan sampai di pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dari pintu masuk tol di Kuningan sampai Pelaburan Ratu bisa ditempuh kira-kira 4-5 jam dengan kondisi lalu lintas normal, tidak terlalu macet. Dari Pelabuhan Ratu, Anda terus menyusuri jalan aspal ke arah barat. Anda akan melewati hotel paling legendaris di sini, yaitu Samudera Beach Hotel yang memiliki kamar horor yang di dalamnya ada lukisan Nyi Roro Kidul. Tak sembarang orang bisa melihat isi kamarnya, apalagi menginap di dalamnya. Anda juga akan menemukan papan nama Mak Erot yang legendaris. Kalau Anda tak tahu siapa itu Mak Erot, googling saja J , saya tak akan membahasnya disini. Anda bisa terus berjalan sampai menemukan pertigaan dengan gerbang Desa Sawarna di belokan ke kiri. Ambil jalan ini dan Anda akan tiba di Desa Sawarna. Dari Pelabuhan Ratu ke Desa Sawarna bisa ditempuh selama 2 jam, hanya saja kondisi jalan berlika-liku naik turun dan beberapa tempat sedang dalam perbaikan, jadi hati-hari saja.

Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna
Konvoi Terios 7 Wonders menuju Sawarna

Ada beberapa obyek wisata di Sawarna, tapi yang paling ikonik adalah Pantai Tanjung Layar. Sebelum sampai di pantainya, Sahabat Petualang harus berjalan melewati Desa Ramah Lingkungan. Dari pakir mobil ke desa ini, Anda harus melewati jembatan gantung kecil yang ikonik. Lebarnya hanya sekitar semeter dan sering dilalui motor, jadi Anda harus ekstra hati-hati. Oya, jembatan ini menawarkan sensasi gotik alias goyang itik (pinjem istilah neng Zaskia Gotik, mumpung lagi heboh gara-gara statusisasi kemakmurannya). Gimana rasanya, coba saja sendiri 🙂

Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya
Jembatan Gantung menuju Desa Sawarna, kini motor pun dengan santai melintas di atasnya

Pertama melihat spanduk ”Selamat Datang di Kawasan Wista Ramah Lingkungan Desa Sawarna”, saya langsung bertanya-tanya, kenapa desa ini disebut ramah lingkungan? Dari banyak tulisan di internet, sepertinya motor tidak diperkenankan memasuki kawasan desa, persis seperti konsep desa di Gili Trawangan, Lombok. Rasanya cukup masuk akal kalau melihat kondisi jembatan gantung yang memang hanya pas untuk pejalan kaki saja. Namun, ketika kami sampai di sana, ternyata motor lalu lalang keluar masuk desa dan lewat di jembatan dengan santainya meskipun ada orang yang sedang lewat di atasnya. Bahkan jasa ojek juga sudah tersedia buat pengunjung malas yang ingin ke Pantai Tanjung Layar tanpa berjalan kaki. Rasanya, predikat ramah lingkungan tak lagi layak disandang desa ini.

Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan
Desa Ramah Lingkungan yang tak jauh beda dengan desa kebanyakan

Tapi lupakan saja predikat itu, kami terus berjalan menyusuri desa menuju pantai terdekat. Desa Sawarna kini sudah sangat komersial, dimana-mana rumah penduduk sudah menjadi penginapan dan resor dengan papan nama yang mencolok. Menurut saya wajar saja, seiring pesona Sawarna yang makin terkenal, pasti kawasan ini makin ramai dan membutuhkan banyak penginapan. Kami juga melintasi persawahan dan perkebunan kelapa.

Setelah berjalan kira-kira 20 menit dari jembatan gantung, kami tiba di Pantai Ciantir. Pantai ini berupa hamparan pasir putih yang panjang, cocok untuk Anda yang gemar bermain ombak dan pasir pantai. Tapi Anda harus tetap hati-hari jika bermain ombak di sini karena ombaknya masih cukup kuat, tipikal ombak pantai selatan. Di pinggiran pantai sudah banyak saung-saung yang menawarkan makanan dan minuman. Saya juga melihat beberapa bule, sepertinya surfer, yang asyik bercengkrama dengan penduduk dan surfer lokal. Saya jadi penasaran ingin melihat aksi mereka.

Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna
Perahu nelayan sedang bersandar di Pantai Ciantir, Sawarna

Puas melihat Pantai Ciantir, saya melanjutkan langkah ke arah timur menuju bagian yang berkarang. Di sini menjadi spot favorit bagi surfer lokal. Ombaknya masih cukup kuat untuk ditunggangi, namun tidak terlalu besar sehingga cocok untuk sarana berlatih selancar bagi pemula. Saya langsung mencari posisi strategis dan rupanya seorang awak media sudah ada di sana dengan membawa kamera SLR Canon dipadu dengan lensa 35-350 mm L series. Wah, perpaduan sempurna untuk memotret surfer kata saya dalam hati. Saat itu saya sendiri hanya memakai Canon 400D dengan lensa kit 18-55 mm, meskipun saya juga membawa lensa 70-200 mm f4L. Rupanya, kawan saya lagi berbaik hati, dia menawarkan untuk meminjamkan lensa ini begitu melihat saya juga memakai Canon SLR. Jadilah saya berkesempatan menjajal lensa 35-350 mm yang mungkin harga barunya lebih dari 30 juta. Beberapa aksi peselancar lokal mengarungi ombak berhasil saya abadikan dengan lensa bata ini. Ya, lensa ini benar-benar seberat batu bata, jadi umumnya fotografer selalu memakai monopod untuk menopang lensa ini.

Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna
Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna

Puas memoto surfer lokal, saya beralih ke titik lain untuk menyaksikan surfer bule mengarungi ombak yang lebih kuat. Lensa saya kembalikan, karena saya juga tak kuat lama-lama memegang kamera dan lensa sembari menunggu momen. Kini saatnya saya gunakan lensa 70-200 mm untuk membidik surfer bule. Sayangnya, saat itu hanya ada 2 orang di spot ombak kuat, dan ternyata salah satunya hanya boarding, bukan surfing. Tak banyak foto yang bisa didapat disini.

Begitu saya hendak beralih dari spot ini, tiba-tiba saya melihat seekor burung camar sendirian seperti sedang menunggu ombak. Rupanya banyak ikan-ikan kecil yang terbawa ombak dan menjadi santapan lezat si burung camar. Burung ini tampak sabar menanti ikan-ikan yang terbawa, dan begitu ombak agak besar datang menghampiri, dia langsung mengepakkan sayapnya dan berpaling ke lokasi lain. Benar-benar pemandangan langka yang menyenangkan.

Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna
Seekor burung camar sedang mengepakkan sayapnya melintasi deburan ombak Sawarna

Setelah burung camar hilang dari hadapan saya, saatnya menuju Pantai Tanjung Layar yang menjadi simbol Sawarna. Sesuai namanya, pantai ini memiliki dua buah batu besar yang berbentuk seperti layar kapal yang terkembang. Dua batu raksasa yang dikelilingi karang-karang yang berserakan ini menjadikan pantai ini obyek fotografi favorit. Hempasan ombak di sekeliling karang menjadi obyek andalan bagi fotografer yang mahir menggunakan teknik slow speed. Oya, jangan lupa untuk membawa tripod, karena tanpa tripod hasilnya dijamin akan blur semuanya. Saya sendiri agak sial kali ini, tripod tidak terbawa ketika saya menuju pantai ini, jadilah tidak ada foto slow speed yang cantik di sini. Mungkin ini pertanda saya harus ke sini lagi hehehe… Jadilah saya hanya menunggu matahari terbenam alias sunset yang sayangnya kurang cantik karena tertutup awan. Memang butuh banyak keberuntungan untuk bisa memotret sunset yang benar-benar menggoda.

Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna
Menjelang senja di Pantai Tanjung Layar Sawarna

Sebenarnya masih banyak obyek wisata lain di Sawarna, seperti Pantai Lagoon Pari, Goa Lalay, Pantai Karang Bokor, Pulau Manuk, dan Goa Cangir. Karena waktu yang sangat terbatas, kali ini saya dan tim Terios 7 Wonders belum sempat menjelajahi setiap sudut Sawarna. Memang ini semakin mengukuhkan bahwa Sawarna adalah surga tersembunyi yang layak untuk dijelajahi. Puas di Sawarna, Sahabat Petualang bersiap-siap menempuh perjalanan panjang ke Desa Kinahrejo, Sleman, DIY.