Tag Archives: bahasa

Blogger dan Bahasa Indonesia


(Karena kita adalah duta bahasa #eeaaa)

Sudahkah kalian bisa membedakan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan? Sudahkah kalian mencetak miring semua kata-kata dalam bahasa daerah dan bahasa asing bila menulis artikel dalam Bahasa Indonesia?

Sudahkah tata bahasa menulis kalian sempurna?

Simbok jelas belum sempurna. Sangat sulit untuk menemukan penulis yang dapat menggunakan tata bahasa dengan sempurna. Tapi, menurut saya, sebagai blogger yang menulis dalam Bahasa Indonesia, kita wajib belajar kembali tentang bahasa. Kalau perlu sambil pakai baju merah putih dan makan Krip Krip.

Blog kan bebas gaya bahasanya? Fenomena blogging memang semarak, membuat orang menjadi lebih berani menulis. Menulis kini bukan lagi monopoli orang-orang tertentu dan kelompok-kelompok pecinta sastra saja. Pejalan, pedandan (#halah, maksudnya pesolek), ibu rumah tangga yang hobi masak, semuanya mendadak memiliki blog dan rajin menulis. Sebuah perkembangan luar biasa dalam dunia tulis-menulis kita.

Foto dipinjam dari sini
Foto dipinjam dari sini

Blog memang menjadi sarana sempurna untuk mengungkapkan opini, argumen, bahkan curhatan. Maka dari itu, bahasanya pun seringkali tidak baku, bercampur bahasa asing dan daerah, serta sering menggunakan bahasa percakapan. Misalnya menggunakan kata-kata: nggak, ga, gue, banget, dsb. Menurut saya itu sah-sah saja. Continue reading Blogger dan Bahasa Indonesia

Nggak Bisa Ngomong “Lo” dan “Gue”


Suatu hari di dekat bus loop Monash University di Clayton, Australia, seseorang yang saya kira berasal dari Beijing atau Hongkong dan sekitarnya berseru pada seorang kawannya yang sudah menjauh, “Ojo lali mbek sing mau yo. Aku gak duwe liyane!”

“Oh, arek Suroboyo!” pikir saya.

Ketika itu saya masih tinggal dengan sebuah keluarga yang asalnya dari Yogyakarta. Mbak Atun, sang istri, adalah dosen UIN Kalijaga yang sedang menyelesaikan PhD-nya. Suaminya pun asli Bantul. Hebatnya, walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Australia – dan sebelumnya mereka tinggal di Kanada untuk S2 – keluarga ini sangat Jawa. Bahasa yang digunakan sehari-hari di rumah adalah Bahasa Jawa walaupun anak mereka keponthal-ponthal untuk mengikuti. Kaset yang diputar di mobil pun gendhing-gendhing Jawa yang sering saya dengar di acara pernikahan di desa-desa.

Sebenarnya apa sih arti bahasa bagi kita?

Sering dengar anak-anak kecil udah pinter cas cis cus Bahasa Inggris? Babysitternya pun bicara bahasa Inggris pada mereka. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beli gorengan, ada sepasang suami istri. Sang istri bicara dengan suaminya tentang tempe-tempe yang masih ada di wajan, “Masih digoreng. We need to wait!” Suaminya ini lalu berkata pada si pedagang gorengan,”Mas, telone telu!” Kontras ya.

Tapi saya di sini tidak untuk menghakimi. Wong saya kadang-kadang juga suka keminggris, kok!

Ada satu adegan lucu lagi ketika bawa Oliq ke taman. Ada seorang bunda gaul menanyakan sesuatu sama Oliq – saya lupa persisnya. Anaknya jawabnya lempeng aja, “Nggih!”

Jujur saja, kami pun tidak konsisten dengan masalah bahasa ini. Saya dan Puput merasa sangat penting untuk mengajarkan Bahasa Jawa kepada Oliq, tapi pada kenyataannya kami berbicara dalam Bahasa Indonesia satu sama lain (dengan berbagai istilah Jawa yang sangat kental) – kadang grammarnya Indonesia, kata-katanya Jawa atau sebaliknya. Akibatnya bahasa Oliq pun campur baur.

Dulu di Australia, saya hampir selalu berbahasa Jawa karena sebagian besar Indonesian circle di sana pun orang Jawa atau mereka yang mengerti Bahasa Jawa. Sampai ada kawan yang nyeletuk, “Udah di luar negeri kok masih pakai Bahasa Jawa!” Lha piye, dab, pancen wong Jowo je!

Tinggal di Aceh, saya pun terkenal sangat Jawa. Bisa dimaklumi karena di kantor saya saat itu pun sangat banyak alumni UGM. Bahkan ada seorang bule Amerika yang juga fasih bahasa Jawa.

Sudah lama meninggalkan Jogja, pernah tinggal di luar negeri, agaknya untuk urusan bahasa, saya masih cukup statis. Saya memang terpengaruh untuk menggunakan istilah “galau” misalnya, namun sama sekali tidak pernah menggunakan kata “secara” secara tidak benar seperti yang pernah ngetren beberapa tahun lalu. Bahkan saya pernah menegur seorang kawan jurnalis yang mempergunakannya dengan tidak benar, sampai saat ini kawan tersebut tidak pernah menyapa saya lagi.

Untuk postingan blog juga, bisa dilihat, pasti akan saya sisipkan (sengaja maupun tidak sengaja) istilah-istilah dalam Bahasa Jawa. Ada yang bilang itu adalah salah satu selling-point dalam tulisan saya.

Tak bisa dipungkiri, lingkungan sangat mempengaruhi cara bicara kita. Saya agak kaget juga ketika bercakap-cakap dengan kawan lama, baik secara langsung maupun lewat jejaring sosial, mereka sangat fasih menggunakan kata “lo” dan “gue” – yang dulunya tidak sama sekali. Padahal berbicara dengan kawan yang sama-sama orang Jawa.

Mungkin saya saja yang aneh, satu-satunya yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta namun masih tetap tidak bisa (atau mungkin tidak mau) menggunakan istilah “lo” dan “gue”. Saya tetap pakai “aku” dan “kamu”. Atau bahkan “kowe”, “awakmu” dsb.

Sekali lagi, saya tidak sedang menghakimi. Puput saja sering pakai istilah “lo” dan “gue” saat berbicara dengan teman-temannya. Mungkin karena kuliah di Bandung yang sangat dekat dengan Jakarta. Entahlah.

Fenomena “lo” “gue” mungkin juga sangat marak karena faktor televisi. Hampir semua tayangannya sangat Jakarta. Dulu sehabis melahirkan Oliq di Jogja, saya sangat suka nonton FTV dengan setting daerah –walaupun ceritanya sih begitu-begitu saja. Tapi bumbu kedaerahan ini sangat menyegarkan, sesuatu yang berbeda dari tayangan-tayangan Jakarta/mall/alay/anak-SMU-bawa-mobil/host-melambai sentris.

Ketika sudah hampir meninggalkan Jakarta pun saya masih tidak pernah memakai kata “lo” dan “gue”. Harus bangga atau malu?

Guweh kudu piye, cyint?