Tag Archives: Air terjun

Air Terjun Bertingkat Tiu Kelep dan Sendang Gile


“Ke mana nih hari ini?” Puput dan saya menjembreng peta Lombok gratisan dari hotel. Setelah kemarin kami menyusuri pantai-pantai Lombok Selatan dan pulangnya cukup malam, rasanya hari ini pengen agak santai dikit. Oliq sudah mengultimatum agar jalan-jalannya nggak jauh-jauh. Delin apalagi. Melirik peta, kami sepakat bahwa rencana ke Sembalun harus dibatalkan. Terlalu jauh dari hotel kami di Senggigi. Lagipula, karena membawa anak, mustahil untuk berangkat pagi-pagi.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Tiu Kelep dan Sendang Gile di Lombok Utara. Dulu waktu masih tinggal di Jakarta, kami sering sekali wisata air terjun. Mulai dari berbagai curug di TN Gunung Salak hingga Curug Cikaso di dekat Ujung Genteng. Di Lombok, lokasi wisata tidak hanya pantai, bukan?

Simbok keren dan bayi keren
Simbok keren dan bayi keren

Dari Senggigi kami perkirakan akan tiba di lokasi dalam waktu 2 jam. Ternyata perjalanan ke utara menyusuri pantai barat Lombok sangat mengasyikkan. Sepanjang jalan berselang-seling antara pantai dan kota kecil. Jalannya mulus, berkelok, naik turun, just the way Puput likes it.

Pemandangan di jalanan dan bojoku dengan pose embuhlah
Pemandangan di jalanan dan bojoku dengan pose embuhlah

Tidak banyak yang terjadi hingga sebuah belokan tajam ke kanan. Puput mengandalkan aplikasi maps.me yang bisa offline. Irit batere dan irit data, katanya. Tapi boros waktu dan tenaga, wong kesasar akut.

Belokan ke kanan masih cukup meyakinkan karena masih berupa jalan raya besar. Namun ketika belok ke kiri, saya mulai ragu dan mempertanyakan. “Kamu yakin lewat sini?” Bla, bla, bla pokoke dudu Puput nek ora sabda pandhita GPS. Manut suarane mbak-mbake. Madep mantep. Keblasuk. Continue reading Air Terjun Bertingkat Tiu Kelep dan Sendang Gile

Advertisements

Blusukan Jogja: Curug Kedung Kandang


Wisata Jogja itu lengkap.  Mulai dari gunung, pantai sampai curug. #MingguMblusuk kali biar nggak terlalu mainstream,  saya sama partner mlipir cari yang seger-seger, mblusuk cari waterfall alias curug. Kemana? ke Curug Kedung Kandang Gunungkidul.  Lokasinya masih di daerah Nglanggeran.

Curug Kedung Kandang saat musim hujan
Curug Kedung Kandang saat musim hujan

Istimewanya, curug ini letaknya di tengah-tengah persawahan milik warga. Jadi setelah parkir kita kudu jalan lewat pematang sawah dan kebon-kebon punya warga. Belum ada tarif masuk, bayarnya cuma seikhlasnya. Continue reading Blusukan Jogja: Curug Kedung Kandang

Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso


Setelah perjalanan tak berujung ke Ujung Genteng, melewati bukit dan lembah, hutan dan desa, keindahan alam ciptaan Tuhan dan kerusakan jalan ciptaan manusia, saatnya untuk pulang.

Karena sadar bahwa perjalanan pulang yang akan berliku nan panjang, bagi kami sulit untuk tiba di Jakarta sebelum malam. Prinsip road trip kami jelas, Magrib sudah hampir sampai tujuan, atau cari penginapan. Alasannya adalah karena Puput ngantukan demi keselamatan bersama.

Ini dia Si Amanda Ratu
Ini dia Si Amanda Ratu

Jadi, kami tidak kesusu untuk balik ke Jakarta. Agar terasa sah ampai di Ujung Genteng, mampirlah kami di Amanda Ratu. Apa sih Amanda Ratu ini? TANAH LOT SUKABUMI! Or so they say. Continue reading Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso

Melipir ke Jogan, Yuk!


Sudah ke Pantai Siung tapi nggak mampir di Pantai Jogan? Rugi hukumnya! Beda dengan pantai-pantai Gunungkidul yang lebih dikenal seperti Siung, Indrayanti, Baron, Pantai Jogan ini memang termasuk salah satu yang paling baru.

"Mabur" di bibir Jogan
“Mabur” di bibir Jogan

Apa sih istimewanya? Sesuai dengan kabar-kabar yang beredar, di pantai ini ada air terjun yang berada di bibir pantai. Kebetulan kami pulang mudik ke Jogja, dan Gunungkidul hampir selalu masuk daftar jalan-jalan tiap kali pulang kampung.

Kami berangkat dari Condong Catur sekitar jam 11 siang, menuju ke Jl Wonosari. Jalan yang kayanya udah kenal banget sama kami. Ibarat temen, udah cipika cipiki. Belum masuk Janti, Oliq udah tumbang di kursi belakang. Bobo manis, anteng. Simbokpun tenang,

Jalan naik ke Wonosari padat, tapi nggak terlalu susah nyalip truk-truk karena jalan sudah diperlebar di beberapa titik pendakian. Salut buat Pemkab Gunungkidul! Masuk ke jalan Baron, jalanan agak lengang. Belok kiri di jalan menuju ke Pantai Siung, melewati Ngringrong.

Baru sekitar jam 13.00 kami sampai di Pantai Siung, ini adalah kunjungan ke dua saya dan Puput. Pertama kali ke sini Oliq masih di perut buncit berumur 9 bulan 8 hari (2 hari menjelang due date). Tujuan ke Siung cuma satu: makan.

Setelah bayar retribusi masuk Rp 3000 per orang (sepertinya), saya sempat tanya kepada bapak penjaga. Katanya, Pantai Jogan sekitar 2 km dari pos tersebut. Jalan utama menuju ke Siung, persimpangan ke kanan menuju Jogan.

Dua setengah tahun yang lalu Siung masih cukup bagus, sekarang sudah terlalu banyak warung-warung yang berdiri tak beraturan. Saya kok jadi kurang suka ya. Padahal saya sendiri termasuk salah satu yang mempromosikan Pantai Siung lewat blog dan Yahoo Travel serta beberapa media lain :-(.

“Nek menurut kula, Pantai Jogan niku adem, enak! Wonten warung setunggal, Pak Min, taksi sedherek,” kata ibu pemilik warung. Artinya, menurutnya Pantai Jogan itu dingin. Hanya ada satu warung di sana milik Pak Min, yang masih bersaudara dengannya.

Karang Pantai Jogan, cantik!
Karang Pantai Jogan, cantik!

Tadinya ada teman yang bilang mobil tidak bisa ke Jogan, harus parkir di Siung dan jalan kaki ke sana. Ternyata sekarang sudah ada jalan yang cukup untuk mobil. Jalan ini mendaki karena lokasi memang berada di atas tebing. Di sana ada satu petak tanah yang kira-kira hanya cukup untuk 3 mobil dan belasan sepeda motor.

Pantainya sendiri berada di bawah. “Air terjunnya mana?” tanya saya pada Puput. “Kayanya yang dimaksud kriwikan ini, Cup!” ujar Puput menunjuk pada sebuah sungai kecil yang bermuara di bibir tebing, langsung jatuh ke laut.

The infamous kriwikan
The infamous kriwikan

Agaknya kami memang tidak terlalu beruntung. Debit air sungai saat itu kecil, sehingga yang terlihat bukannya air terjun, melainkan “kriwikan” atau air terjun mini. Otherwise, pantai ini memang adem seperti yang dibilang Bu Gholib. Ada pohon-pohon yang melindungi dari sengatan matahari.

Bila mau, bisa saja ke bawah melalui jalan setapak terjal dengan keamanan seadanya. Pantainya tidak berpasir, melainkan berbatu-batu. Ada sebuah cekungan seperti gua di bawah air terjun itu.

Jangan kalah sama traveler asing!
Jangan kalah sama traveler asing!

Oliq tidak mau dibawa ke bawah, jadi hanya Puput yang turun. Saya menemani Oliq main pesawat di muara sungai. Beberapa menit baru saya sadar, nnggg muara sungai ya…. emmmm kotor kan ya? Gleks. Ya sudahlah, anaknya hepi gitu, nggak tega mau ngangkat.

IMG_0631

Pemandangan dari atas bagus karena Pantai Jogan sangat sempit dan diapit karang-karang. Di sini juga masih bersih, mungkin karena belum terlalu banyak orang yang berkunjung juga.

Yang paling nikmat itu duduk-duduk di bale-bale warung Pak Min yang dibangun di bawah pohon, menikmati kelapa muda dan pesona Laut Selatan!

Ayo, melipir ke Jogan!

Tat Kuang Xi, Kesejukan di Laos Utara


Negeri kecil Laos mungkin belum banyak dikunjungi oleh wisatawan Indonesia, padahal ada beberapa lokasi wisata yang menarik di sini. Salah satu yang paling mengesankan adalah air terjun Kuang Xi, yang dalam bahasa setempat disebut Tat Kuang Xi. Air terjun ini berada di kota Luang Prabang, di bagian utara negeri.
Kolam-kolam alami di mana wisatawan dapat berenang. (Olenka Priyadarsani)

Continue reading Tat Kuang Xi, Kesejukan di Laos Utara