Tag Archives: agra

Perjuangan Berat Demi Taj Mahal


Tulisan ini pernah dimuat dalam antologi Finding Islam (QultumMedia). Ini adalah versi aslinya.

Jamanku masih kecil dulu, nonton film India itu seperti makanan sehari-hari. Waktu itu masih eranya video (punya kami merknya Betamax), belum bentuk CD, apalagi model file-sharing seperti sekarang. Tiap kali sewa film India, bahkan tetangga pun berkerumun ikut nonton bareng. Seru deh, ada joget-jogetnya, adegan romantis dan sedihnya juga maksimal banget. Maklum, hiburan waktu itu masih sangat terbatas.

image

Continue reading Perjuangan Berat Demi Taj Mahal

Advertisements

Ditangkap Polisi di Taj Mahal


Bila ditanya pengalaman yang paling berkesan saat melancong sejauh ini, jawaban saya pastilah ketika bepergian ke India dua tahun yang lalu. Bagaimana tidak, selain menikmati peninggalan sejarah yang luar biasa, berbagai kejadian unik dan tidak terlupakan saya alami. Mulai dari dikejar-kejar supir bajaj, ditangkap polisi, hingga terpaksa semalaman menginap di Stasiun Agra Cant – dan saat itu adalah puncak musim dingin. Ditambah lagi, petualangan tersebut kebetulan terjadi ketika saya mengandung empat bulan. Read more

It's worth the hassle
It’s worth the hassle

Pengalaman Shalat di Masjid-Masjid India


Mumpung masih bulan Ramadhan, saya ingin sedikit berbagi pengalaman shalat di masjid-masjid India. Mungkin Anda agak heran, apa yang istimewa? Toh shalatnya sama aja kan, tetep pake bahasa arab kan. Memang sih, shalatnya sama aja, tapi tetap ada suasana yang berbeda dan unik, yang akan saya ceritakan disini.

Masjid Jami di kawasan Old Delhi, India, masjid terbesar dan termegah yang dibangun Raja Shahjahan
Masjid Jama di kawasan Old Delhi, India, masjid terbesar dan termegah yang dibangun Raja Shahjahan

Pertama kali menginjak kaki di India, salah satu tujuan adalah Masjid Jama (kadang disebut Jami atau Jamek) di kawasan Old Delhi, masjid terindah dan terbesar di India. Masjid ini mampu menampung hingga 25.000 jamaah. Dibangun selama 6 tahun dari tahun 1650 hingga 1656 oleh Raja Shahjahan dari Kerajaan Mughal yang juga membangun Taj Mahal dan Benteng Merah (Red Fort), masjid ini memiliki 3 gerbang, 4 menara, dan 2 minaret (menara untuk mengumandangkan adzan) setinggi 40 m yang terbuat dari batu merah dan marmer putih. Yang menarik, di dalam masjid ini ada ruang terbuka besar, kira-kira berukuran 75 x 66 m, dan dipenuhi burung merpati. Penjaga masjid sesekali menaburkan biji-bijian ke atas lantai dan burung-burung akan beterbangan menuju biji-bijian. Kalau ada yang mendekati, burung-burung ini akan berhamburan terbang ke atas atap masjid.

Burung merpati beterbangan di dalam Masjid Jami, Old Delhi, India
Burung merpati beterbangan di dalam Masjid Jama, Old Delhi, India

Wisatawan bisa memasuki masjid ini secara gratis, namun bila membawa kamera akan dikenakan biaya. Kebetulan saya dan Olen (si Oliq masih jadi gembolan) datang pas hari Jumat, sehingga kami memutuskan untuk datang agak pagi agar bisa leluasa memotret dalam masjid yang sangat cantik ini. Menjelang jam 11, petugas masjid sudah mulai “mengusir” turis-turis karena memang saatnya shalat jumat. Khusus hari Jumat jam buka memang hanya sampai jam 11 siang dan baru buka lagi setelah shalat jumat selesai. Awalnya saya juga diusir, namun setelah mengatakan saya juga muslim dan ingin shalat jumat disini, akhirnya petugasnya paham dan membiarkan saya tetep di dalam masjid.

Petugas segera menggelar karpet di lapangan dalam masjid karena memang lapangan ini kotor terkena kotoran burung. Bisa dibayangkan banyaknya karpet mengingat luasnya lapangan ini. Oya, tatacara shalat jumat di sini agak berbeda. Adzan pertama dilakukan seperti biasa, diikuti khutbah jumat dalam Bahasa Hindi. Tentu saja saya hanya diam dan melongo. Kemudian setelah selesai khutbah pertama, muadzin mengumandangkan adzan kedua. Setelah selesai adzan, para jamaah segera shalat sunnah, diikuti khutbah kedua. Tidak seperti khutbah pertama, khutbah kedua lebih banyak doa-doa dalam bahasa arab sehingga saya sedikit familiar. Selanjutkan muadzin mengumandangkan iqomah. Namun bedanya, iqomah disini lebih mirip adzan (dua kali pengucapan tiap kalimat), beda dengan iqomah di Indonesia atau Arab Saudi. Selanjutnya shalat jumat dua rakaat seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Selesai shalat, Imam memimpin wirid diikuti jamaah, mungkin hal ini juga umum dilakukan di Indonesia.

Taj Mahal di kota Agra, peninggalan Raja Shahjahan sebagai persembahan untuk almarhum istri tercintanya
Taj Mahal di kota Agra, peninggalan Raja Shahjahan sebagai persembahan untuk almarhum istri tercintanya

Pengalaman kedua adalah ketika kami shalat di masjid dalam kompleks Taj Mahal. Masjid ini terletak di sebelah barat bangunan utama makam Taj Mahal. Secara arsitektur, bangunan ini juga didominasi batu merah. Lantainya pun merah, dengan bentuk menyerupai sajadah, tepatnya sejumlah 569 sajadah. Saya sempat bertemu dengan orang Indonesia waktu shalat di sini. Saya juga sempat berbincang-bincang dengan imam masjid ini yang dipegang secara turun-temurun. Dia tampak sangat senang ada jamaah dari jauh yang shalat di masjid itu. Pada saat menjelang maghrib, kumandang adzan terdengar dari masjid ini. Ternyata muadzin adalah imam masjid itu sendiri. Kami pun menyempatkan diri shalat di masjid ini, kali ini berjamaah langsung dengan imam masjid. Yang membuat saya trenyuh, dari ribuan pengunjung Taj Mahal yang didominasi orang India, tak satupun dari mereka yang shalat di masjid ini. Saya pun kini paham kenapa sang imam sangat bahagia ada yang shalat di masjid ini. Padahal, di kota Agra tempat berdirinya Taj Mahal, ada banyak penduduk muslim. Selain itu, populasi muslim India sebenarnya cukup banyak, sekitar 20 % dari 1 milyar penduduk.

Masjid di kompleks Taj Mahal, sayangnya hanya bangunannya yang besar, namun jamaahnya sepi
Masjid di kompleks Taj Mahal, sayangnya hanya bangunannya yang besar, namun jamaahnya sepi

Selanjutnya pengalaman saya adalah shalat di kompleks Qutb Minar. Ini adalah minaret tertinggi di dunia pada masanya, dengan ketinggian mencapai 72 m dengan diameter bawah 14 m. Menara ini mulai dibangun tahun 1197 seiring dimulainya kerajaan Islam di India, dan perlu waktu 20 tahun untuk menyelesaikan menara dan bangunan sekitarnya. Di dalam kompleks Qutb Minar terdapat sebuah masjid yang bernama Quwwatul Islam di sebelah timur laut menara. Sayangnya, masjid ini kini dibiarkan menjadi puing-puing dan tidak lagi berfungsi sebagai tempat shalat. Kembali saya merasa sangat sedih mengingat sejarah kerajaan Islam yang sangat panjang di India. Awalnya saya berniat shalat di masjid ini, namun mengingat di dalam bangunan cukup kotor dan tidak layak sebagai tempat shalat, akhirnya saya shalat sendiri di taman dalam kompleks masjid. Tampaknya saya menjadi tontonan menarik sehingga ada beberapa orang sibuk memotret saya ketika shalat. Ternyata, ketika kami keluar, baru kami tahu kalau ada mushola kecil di dekat pintu gerbang. Namun ini tidak mengurangi kesedihan saya, mengingat harusnya Masjid Quwwatul Islam di dalam kompleks tetap berfungsi sebagai masjid dan tempat shalat.

Menara Qutb Minar yang menjadi menara adzan tertinggi di jamannya, bahkan masih salah satu yang tertinggi hingga kini
Menara Qutb Minar yang menjadi menara adzan tertinggi di jamannya, bahkan masih salah satu yang tertinggi hingga kini

Banyak pejalaran yang saya ambil dari perjalanan kami di India. Kerajaan Islam yang berdiri cukup lama dan kuat di India, ditunjukkan dengan banyaknya bangunan-bangunan yang impresif seperti Taj Mahal, Masjid Jami, Qutb Minar, ternyata bukan jaminan dakwah Islam berjalan dengan baik. Saya merasakan seolah-olah Islam seperti agama yang masih asing di sini. Memang kita perlu belajar dari sejarah pada masa Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, dimana tidak ada bangunan-bangunan besar namun dakwah benar-benar terasa sehingga Islam bisa berkembang ke seluruh dunia hingga kini.

Pipis Itu Mahal?


Siapa sih yang lebih kenal toilet umum dibandingkan dengan para traveler?

Toilet itu bisa jadi hal remeh yang paling penting, apalagi kalau sedang kebelet. Bayar mahal pun mau. Eh belum tentu dink!

Lha kalau di Indonesia kan bayar toilet umum antara 1000-2000 rupiah per pipis (pipis besar bisa lebih mahal – tapi mosok pada ngaku?), bagaimana dengan di luar negeri?

Toilet umum di luar negeri ada yang bayar ada yang tidak. Tarifnya juga bervariasi. Bentuk dan fasilitasnya apalagi. Sekilas pengalaman kami dengan masalah public toilet di beberapa negara.

Penampakan salah satu toilet di Bandara Haneda Tokyo
Penampakan salah satu toilet di Bandara Haneda Tokyo

Juaranya tentu saja Jepang! Toilet-toilet umum di Jepang, menurut pengalaman kami di Tokyo dan Kyoto, semuanya gratistis. Kebanyakan bersih, terutama yang ada di bandara. Sempet pipis di kompleks Kuil Kiyomizu-dera di Tokyo dan sangaaaaaat bersih. Padahal kalau toilet umum di bandara Indonesia saja banyak yg kotor walau mbak-mas janitornya bebersih 10 menit sekali. Apalagi di lokasi wisata.

Nah toilet umum di Jepang ini selain gratis, bersih, juga canggih. Banyak yang tidak menggunakan kenop konvensional, melainkan tombol-tombol terpadu yg ada dalam satu papan. Beberapa kali saya menggunakan toilet disable (curang ya, karena harus mengganti popok Oliq), fasilitasnya lebih canggih lagi. Kadang ada kasurnya juga. Nah lo.

Continue reading Pipis Itu Mahal?

Why I Marry A Man Who Travels: Reflection on our third anniversary


Date a boy who travels would get you more than a series of sit-in dates in fancy restaurants. Your dates will involve exploring the city, savouring the evening air, and tasting one of the cheapest foods in the bank of Code River.

A boy who does not mind sitting hours in a wrecked bus to Tangkahan, North Sumatra, a boy who prefers taking you to exploring the woods rather than sitting two-hours in the movie – he will spend the last one hour snoring!

He will enjoy the hours of waiting the boat in Bangsal taking tons of pictures, rather than booking a convenient boat to go to Gili T in Lombok.

The cycle of our life and all the fun that follows
The cycle of our life and all the fun that follows

Marry a man who treasures new experiences over a steady lifestyle. He will not bore you with the details of his day-to-day jobs after hours, but a discussion over where Diego Bunuel (or Charlie Boorman) is heading aired on NatGeo Adventure instead.

Continue reading Why I Marry A Man Who Travels: Reflection on our third anniversary