Drama Ketinggalan Pesawat ke Kelantan


“Cup, besok kita berangkat jam berapa?”

“Pesawate jam 8 to, berangkat jam setengah 6 aja cukup.”

“Cukup po?”

“Cukup.”

Yo wis lah, sebagai istri yang manut suami saya nurut. Dalam hati sebenarnya merasa cukup juga sih. Biasanya kami kalau terbang internasional berangat dari rumah sekitar 3 jam sebelumnya, kalau pagi-pagi buta tanpa macet. Lha ini cuma Kelantan doang, terbang domestik nggak pakai pemeriksaan imigrasi segala, beda setengah jam harusnya cukup kan? Harusnya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kami berangkat naik mobil, karena hanya pergi 2 malam 3 hari, parkirnya lebih murah daripada harus bayar taksi bolak-balik. You know lah, jarak dari KLIA ke pusat kota KL sana sekitar 48km, kalau jarak ke rumah bisa sampai 60km.

Kok ya ndilalahnya ada aja kejadian di jalan. Puput suka lewat Sungei Besi, itu lho dekat Terminal Bersepadu Selatan (kalau kalian pernah ke Melaka naik bus pasti naiknya di TBS). Nah saya selalu bilang kalau habis TBS agak ribet jalannya, mlungker-mlungker, sekali salah masuk jalan ya muter. Saya lebih senang lewat tol MEX langsung melewati KBRI. Tapi ya sudah, manut suami wong dia yang nyetir. Continue reading Drama Ketinggalan Pesawat ke Kelantan

Advertisements

Wisata Syariah di Terengganu


Bagaimana rasanya mengelilingi 23 masjid paling keren di dunia, mulai dari Indonesia kita tercinta sampai Tunisia, Spanyol, dan Rusia? Ha mbuh saya juga belum pernah hahahha. Tapi minimal kemarin kami sudah mengelilingi miniaturnya di Kuala Terengganu, Malaysia.

Hitung-hitung gladi resik sebelum berkunjung ke tempat sebenarnya. Ya to?

Gerbang masuk Taman Tamadun Islam

Tidak ditampik, sebagai muslim kami pun selalu tergerak untuk mengunjungi masjid di negara di mana kami hinggap, terutama bila itu adalah negara di mana muslim bukan mayoritas. Kami pernah ke beberapa masjid di Thailand, ke Seoul Central Mosque di Itaewon Korea Selatan, Masjid Ammar di Hong Kong, dan Central Mosque di Dong Khoi Ho Chi Minh City Vietnam.

Kalau di negara muslim, jelas dong, karena masjid hampir selalu menjadi salah satu atraksi wisata.

Terengganu, selain Kelantan, adalah negara bagian di Malaysia di mana nilai Islami memang masih dinilai tinggi. Huruf Jawi (penggunaan huruf Arab untuk Bahasa Melayu – seperti Arab Melayu di Sumatera atau Pegon di Jawa) masih umum dipakai. Bahkan untuk iklan-iklan di billboard (kalau yang ini saya kok rasanya enggak nemu di Sumatera).

Terengganu punya satu objek wisata unggulan yaitu Masjid Kristal yang terapung di Sungai Terengganu, termasuk dalam kompleks Taman Tamadun Islam. Taman Tamadun Islam ini terletak di Pulau Wan Man yang terhubung langsung dengan pusat kota Kuala Terengganu. Jadi ceritanya ini adalah menggabungkan antara wisata spiritual dengan edutainment, yaitu berupa wahana yang menghadirkan miniatur masjid-masjid di dunia. Well, tidak semuanya masjid sih, yang jelas merupakan miniatur peninggalan Islam dari seluruh dunia.

Tiket masuk ke wahana ini adalah RM 22 untuk dewasa, sementara anak-anak usia di bawah 7 tahun masih gratis. RM 22 itu sudah termasuk makan gratis lho, makannya pun lumayan, yaitu pilihan nasi campur atau bihun/mie/kwetiau kuah.

Cuaca Terengganu nggak jelas banget waktu kami datang. Begitu masuk, mau ke miniatur masjid pertama sudah hujan. Kami harus berteduh di emperan souvenir shop yang sukses membuat Ola, “Mau beli bonekaaaaaaaa. Mau beli bonekaaaaaaa.”

Simbok lelah.

Miniatur Masjid Kul Sharif di Rusia

Satu menit berikutnya matahari bersinar terang dan kami bisa mulai menjelajah wahana Islami ini. Masjid yang pertama kami datangi adalah Kul Sharif Mosque di Kazan, Rusia, negara saya idam-idamkan. Aslinya, masjid ini dibangun dengan arsitektur Volga Bulgaria di Kazan Kremlin Tatarstan pada abad ke 16, namun dihancurkan oleh Ivan The Terrible pada tahun 1552. Pada tahun 1996 masjid dibangun kembali dengan bantuan beberapa negara Islam. Continue reading Wisata Syariah di Terengganu

Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2017


Tahun 2017 adalah tahun yang kurang ceria untuk kehidupan plesiran kami. Ada beberapa berita duka di awal tahun, ditambah dengan cash flow yang masih embuh-embuhan karena kebanyakan mbayar tukang jadi kami tidak bisa melakukan trip jauh. Selain itu, saya dan anak-anak tinggal di Jogja sementara Puput di Jakarta. Kehidupan LDM membuat kami harus banyak berpikir untuk melakukan piknik-piknik terencana. Gimana bisa merencanakan wong masa depan hidup kami juga belum jelas waktu itu hahahha. Jadilah hanya piknik tipis-tipis.

Boleh dibilang tahun ini adalah satu-satunya tahun setelah pernikahan di mana kami sama sekali tidak melakukan trip jauh keluar benua, bahkan trip medium keluar regional. Paling jauh hanya Bangkok, Thailand.

Maret  — Candi Sukuh, Candi Cetho, Solo (Indonesia)

Beginilah namanya pasangan LDM, setiap Jumat Puput pulang ke Jogja, dan akan balik ke Jakarta Senin pagi. Plesirnya cuma bisa weekend saja, yang artinya nggak bisa jauh-jauh dari Jogja. April ini kami ke Solo, menginap di Alana Solo yang reviewnya ada di sini.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Kami day trip ke Karanganyar menuju ke Candi Sukuh yang disebut-sebut mirip dengan Chichen Itza, lengkap dengan arca yang nganu itu. Bagus, kami suka, suka, suka karena memang penggemar candi dan sudah lama banget mengagendakan ke sini tapi belum kesampaian.

Dari Candi Sukuh kami menuju ke Candi Cetho melewati kebun teh di Kemuning yang cantik. Jalannya berliku dan lumayan seram ya karena menanjak terjal. Untung kami pakai Accord tangguh yang pernah ke segala medan. Candi Cetho menurut saya malah menyerupai pura. Di sekelilingnya terdapat perkebunan sayur.

Pulangnya kami mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker yang fenomenal itu. Reviewnya di sini.   Continue reading Catatan Perjalanan Keluarga Pelancong 2017

Ribuan Tahun Hidup Cappadocia


Ini postingan serius. Kalian boleh saja eker-ekeran masalah Erdogan dan keberadaan Kedutaan Israel di Ankara, tapi dijamin kalian akan sepakat terpesona bersama bila berkunjung ke wilayah negara Erdogan yang satu ini.

Cappadocia. Kapadokya. Namanya saja sudah romantis bukan? Sama romantisnya dengan nama Olenka.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Love Valley

Olenka berdiri di ujung Pigeon Valley, menatap nanar burung-burung merpati yang terbang. Dia tengah gundah gulana mencari makna dari kisah cintanya di Cappadocia. Romantis banget kan, bisa jadi scene FTV, asal tidak berubah menjadi sinetron hidayah karena Olenka kena azab ketelekan manuk.

Sudah, sudah. Ini mau jadi tulisan serius. Hampir tiga tahun berlalu dan sepertinya saya belum pernah menulis sejarah tempat yang panoramanya terasa magis ini. Cappadocia berada di region Anatolia, di Turki bagian Asia. Saat ini yang dinamakan Cappadocia adalah suatu daerah gabungan dari provinsi Aksaray, Nevsehir, Kayseri, Kirsehir, dan Nigde. Bila datang dengan pesawat biasanya kita akan mendarat di Kayseri yang bandaranya lebih besar, atau Nevsehir yang jaraknya lebih dekat. Kota yang dituju turis adalah Goreme hingga ke Urgup. Continue reading Ribuan Tahun Hidup Cappadocia

12 Pengalaman Sial Saat Travelling


Kalau plesir nggak ada pengalaman sial kan ga seru ya? Hooh to? Nek nggak nemu wong sing nggapleki kan hidup hambar to? Ini adalah 12 pengalaman sial kami saat travelling yang merupakan tulisa update dari 7 pengalaman sial sebelumnya. Sumpah lho ini belum semua.

  1. Tas kamera hilang kereta Thalys jurusan Paris – Amsterdam

Kalau tas kameranya doang nggak apa-apa kali ya? Ini ada isinya berupa Handycam Sony (ga apal specsnya) dan kamera pocket Canon SX 230. Plus batere-batere cadangannya. Selain itu ada juga charger kamera pocket Canon S90 yang (untungnya) posisi ada di saku celana Puput. Karena sibuk bawa barang (1 koper besar, 1 stroller, 2 ransel, dan 1 bayi), kami kelupaan ambil tas kamera yang ditaruh di kabin atas. Turun melenggang begitu aja di Amsterdam Centraal. Baru sadar pas mau check in apartemen. Panik? Iya. Sedih? Iya. Untungnya (cieeh Jawa banget sial juga masih dicari untungnya) video saya melahirkan yang ada di Handycam udah dihapus. Eh bener udah dihapus kan, Cup? Pokoknya kalau kejadian seperti ini menimpa kalian, jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Yang kami lakukan pertama adalah balik ke Centraal dan lapor di Lost and Found. Sampai beberapa hari berikutnya pun kami tetap balik ke sana tanya apa ada yang nemu, walaupun tetap hilang. Beberapa bulan berikutnya kantor Centraal mengirimkan surat ke rumah kami di Jakarta menyatakan menyesal mereka nggak bisa menemukan barang kami yang hilang. Walaupun tetap tidak ketemu, kami akui itikad baik tersebut. Yang juga tidak kalah penting adalah solusi. Setelah lapor, kami buru-buru ke Nieuwmarkt untuk beli batere cadangan dan charger kamera S90 yang masih ada. Hilang ya hilang, tapi jangan sampai merusak seluruh perjalanan. Life and fun must go on! Continue reading 12 Pengalaman Sial Saat Travelling

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.