Siapa yang memegang keuangan keluarga, suami atau istri?


Gara-gara harus bayar tukang bangunan, tukang sofa, dan beli beberapa perabot yang bikin tabungan sama setipis lambenya Lambe Turah, saya jadi kepikiran masalah ini.

Dari sejak menikah sampai sekarang keuangan kami dipegang Puput.

Myeongdong di pagi hari

Kenapa dipegang suami? Soalnya dulu NEM matematikanya pas SD, SMP, SMA 10 bulat telur. Sementara saya….nganu bulat krowak. Wekekeke.

Soalnya dia lebih bisa ngatur keuangan. Berapa untuk belanja dapur (dikasih ke saya), berapa untuk sedekah, berapa untuk tabungan. Continue reading Siapa yang memegang keuangan keluarga, suami atau istri?

Leyeh-leyeh sendirian di MAS Cottage Samosir, ealah mblo!


Kalau menengok ke belakang, setiap cerita traveling saya kok sendiri terus? Apa saya kelihatan ngenes banget? Sampai-sampai Mommy Ade @Travelingprecils mau jodohin saya sama pak gurunya Ayesha. Hahahaha. Mom, aku ora sengenes itu.

FYI, saya itu memang seneng make fun of myself. Iya, saya seneng ngetawain diri sendiri. Itu cara saya mensyukuri kehidupan yang saya miliki sekarang. Tapi yaa kalau mau nyariin jodoh, kata almarhum papah kriterianya harus kayak Mas Puput, Islamnya baik, pinter dan suka jalan-jalan. Tolong dong dicatet. (Intine tetep golek jodo).

Oke, lanjut cerita saya setelah drama dengan Abang Daud kemarin. Akhirnya sampailah saya di Samosir setelah naik Ferry dengan harga Rp 8.000 saja. Kita tinggal bilang ke tukang kapalnya mau menginap di mana, mereka sudah tahu akan menurunkan kita di mana. Atau bisa juga turun di pelabuhan.

image_6483441
Ini penampakan dari resepsionis

Setelah turun di sebuah dermaga, saya langsung telpon ke MAS Cottage tempat saya menginap. Kita hanya menunggu sebentar dan pegawainya akan menjemput kita pakai motor tanpa biaya tambahan.

Continue reading Leyeh-leyeh sendirian di MAS Cottage Samosir, ealah mblo!

Review Hotel Alana Solo


Sebenarnya liburan minggu lalu sudah direncanakan, namun seperti biasa perencanaan liburan-liburan pendek kami tidak terencana wekekek.

“Ke Santorini aja yuk!”

“Ke Boyolali aja. Viewnya bagus lho dari Selo ke Ketep.”

“Udan-udan ngene arep ndelok view opo?”


Akhirnya kami sepakat ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, setelah Puput diiming-imingi erotisme Candi Sukuh plus kebun teh di antara kedua candi.


Dasar fetish kebun teh.


Kami kembali sepakat menginap di Solo dengan tujuan wisata kota dan wisata kuliner yang blas tidak terlaksana.


Saya mengontak Halim Santoso tentang hotel-hotel Solo. Dia merekomendasikan Alila. Dan beberapa hotel lainnya, tapi tetep madep mantep sama Alila.


Sayang budgetnya ga masuk di saya karena tarif per malam waktu itu sudah di 900 ribu. Saya lirik hotel lain yang kelasnya ga kalah jauh. Macam The Sunan, Aston, Alana, Best Western Premier, maupun Hotel Syariah. Ternyata tarifnya murah-murah banget untuk bintang 4. Hanya di 400 ribuan. Ya emohlah saya milih Alila.


Saya book The Alana karena kasurnya terlihat besar. Minimal king size ga bikin kami berempat tidur kaya ikan pindang di keranjang. Tarif 500 ribu sudah termasuk breakfast.


Kesan pertama tiba di Alana. HASYEEEK depannya banyak warung-warung. Ada sate, ada soto, ada bakso, ada penyetan. Kami kan gitu orangnya, nginap di mana pun makannya tetap warung murahan. Citarasa ndeso.


Check in lancar sekali. Kami dapat di lantai 11, paling atas. Viewnya Garuda Mahkota yang ternyata lampunya tidak pernah dinyalakan selama dua malam di sana. “Belum beli pulsa listrik mesti,” kata Oliq yang sudah biasa mendengar simboknya nggrundel perkara pulsa listrik sejuta habis 10 hari.


Kamarnya sesuai dengan foto, bednya king size. Ada meja kursi dan sofa pendek. Anak-anak langsung heboh memanjat sofa untuk melihat pemandangan di luar. Heboh lihat sawah 😒.


Interiornya minimalis standar hotel bintang segitu. Tidak ada pernak-pernik membahayakan yang bisa dibanting anak. Makanya saya jarang bawa anak ke hotel heritage. Bukannya ga suka tradisional. Tapi takut bayar ganti kalau ada yang dirusakin anak 😝.


Yang paling membahagiakan dari kamar ini adalah kamar mandinya yang dibatasi kaca. Kami kan keluarga…nganu…eksibisionis.

Sungguh kamarnya nyaman. Lantainya juga parket kayu, bukan karpet, jadi mudah kami.bersihkan kalau nasinya Ola bercecer ke mana-mana. Ada minimar kecil yang kosong, ada safe deposit box. Dan ada telepon yang…nnggg…bikin deg-degan dua hari kemudian.


Anak-anak hepi banget mandi sambil semprot-semprotan kaya nggak pernah lihat yang namanya shower.

Breakfastnya beragam. Saya memang punya kesan baik dengan buffetnya Aston Group.


Ada jajaran makanan berat seperti nasi, nasgor, mie goreng dan berbagai lauknya. Pastry superlengkap. Ada beberapa meja yang menyajikan makanan khas sarapan hotel misalnya bubur ayam, noodle corner, cereal, telur. Jus buahnya juga lengkap disertai infused water.


Tambahan menyenangkan adalah gubuk makanan tradisional di luar. Ada jamu, angkringan dengan berbagai pelengkap, nasi liwet, lontong opor, soto bandung.


Pagi pertama makan di sana kok menurut saya masakannya kurang enak. Nasi kucingnya keras. Ikannya kurang segar tapi untung Oliq doyan. Croissantnya ga kaya croissant. Lebih seperti pastri biasa yang menyamar menjadi croissant.


“Croissantnya enak ga Aik?”

“Lebih enak croissant Roti Boy di KLCC.”


Ouch, bandingannya sama Roti Boy yang mini croissantnya cuma RM 2.8 dapat 6 biji. Bisa dikeplak Manajer F&B ini.


Hari ke dua makanan lebih enak. Soto Bandungnya seger. Tapi pastri-pastrinya tetep nggak enak hahahaha.


Lokasinya enak banget sih, di Colomadu. Tidak jauh dari kota, dekat PG Colomadu. Gara-gara warung di depan hotel yang enak-enak dan murah, kami batal wisata kuliner wekeke.

Nah di hari check out saya mampus deg-degan. Waktu saya selesai check out saya keluar nunggu Puput dari parkiran. Pas di luar resepsionis telpon satpam nyuruh saya masuk lagi. Kirain ada cawet ketinggalan di kamar atau gimana. Kutang misalnya. Eh ternyata….


Ini status FB saya setelah itu:


The moment when you checking out dan disodori tagihan telpon dari kamar Rp 272.500. Inget Ola sempat mainan telpon, berusaha menata hati, ngeluarin duit sambil misuh dalam hati. Bajilaque, kowe wingi nelpon nandi, Nduk? Angola?

Appeal dong, ternyata menurut log yg dipencet cuma #. Lha kan harusnya ga nyambung ke mana2. Minta dicek lagi ternyata menurut sistem kejadian kemarin jam 3 sore. Lha, kami masih di Ndoro Donker jam segitu. Setelah diusut teknisi katanya memang sistemnya error.

Langsung masukin duit ke dompet secepat kilat. 😂😂


Hahahahaha. Gitu aja sih. Saya ga dendam sama Alana. Biasa aja, kesalahan bisa terjadi. Mbak resepsionis juga udah berkali-kali minta maaf.

Merekomendasikan Alana? Big YES.

Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali


Saya hanya bisa menatap ngeri kabut tebal yang mengelilingi, berharap dalam gelap. Mobil menanjak tajam, melemparkan kerikil-kerikil ke pinggir jalan. Saat itu masih siang, mungkin baru tengah hari. Kanan kiri adalah kebun teh tersusun rapi menunggu pucuk-pucuk mudanya dipetik paa ibu pembawa bakul. Naik sedikit, terintip dari sela kabut tebal kebun daun bawang berjajar rapi di punggung bukit.

Kami sedang berada di sekitar Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam sebuah misi mengunjungi dua buah candi yag sudah kami idamkan. Di puncak bukit itu berdirilah sebuah candi megah. Candi Ceto. Atau Candi Cetho. Sebuah candi Hindu dengan struktur punden berundak yang memiliki arsitektur nyaris identik dengan pura.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Continue reading Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali

Ketika Apartemen Lebih Nyaman dari Hotel


Kalau membuka linimasa saat ini, saya akan menemukan banyak sekali iklan vacation rental. Bisa jadi rumah mungil yang diubah fungsi menjadi guest house, atau unit apartemen yang didekorasi cantik hingga bisa disewa harian. Semacam hotel, demikian, tapi biasanya tanpa servis yang sama.

Ini menandakan dua hal, teman-teman saya sudah menyadari investasi properti mereka bisa menghasilkan pendapatan reguler. Ke dua, semakin banyak orang Indonesia yang memilih menginap di rumah atau apartemen sewaan, alih-alih di hotel.

Ada banyak alasan bergesernya preferensi akomodasi seperti yang pernah saya tulis di sini. Salah satunya adalah privasi. Yang ke dua, bisa memasak sendiri adalah alasan valid bagi para ibu dengan anak yang masih konsumsi MPASI. Ke tiga, lokasi.

Bulan lalu saya ada urusan di Jakarta. Kebetulan saya harus ke Kalibata. Karena bawa dua anak sendirian, saya memilih tempat menginap di Kalibata City, jadi bisa jalan kaki ke tempat yang saya tuju. Awalnya berniat menginap di unit saya sendiri yang saat itu kosong, tapi tiba sudah terisi. Akhirnya mesti cari-cari.

Hotel atau unit apartemen ya? Saya melihat Travelio.com punya beberapa unit yang disewakan di Kalibata Residence dan Green Palace. Harganya pun cocok, setara dengan hotel bintang 3 di bilangan Jakarta Selatan. Itu sudah dapat unit 2 kamar, sofa bed, tersedia dapur dan peralatan memasak.

Travelio ini unik, kita bisa menawar harga sewanya. Pengalaman saya membooking hotel lewat Travelio ada di sini

Jadilah saya sewa 1 unit apartemen di Green Palace untuk 3 hari. Mekanismenya mudah, saya bayar melalui internet banking (bisa juga dengan Mandiri Clickpay atau KlikBCA). Setelah itu akan ada komunikasi lewat WA dari.tim Travelio, menanyakan pukul berapa kita akan tiba di unit.

Pesawat saya dan anak-anak tertunda 1 jam. Setiba di Soetta saya mengabari tim Travelio bahwa saya agak terlambat sedikit. Untungnya tidak terlalu macet, dan dapat Mas Express yang baik hati.

Setibanya di Tower Tulip, sudah ada staff Travelio menunggu dan membantu membawakan barang. Dia menjelaskan tentang kunci dan kartu akses. Dan, yay, ada pocket wifi disediakan gratis.

Unitnya bersih walaupun kecil. Ya iyalah, semua juga tahu unit di sana ukurannya 33 meter persegi. Anak-anak kelaparan tapi terlalu capek untuk turun cari makanan. Oliq langsung tersenyum lebar melihat apa yang disediakan Travelio. Ada beberapa Popmie, air mineral, dan beberapa teh botol.

Oliq dan Ola berebut makan mie instan itu. Go judge me karena kasih makan anak mie instan, wahai ibu-ibu idealis! 😂😂😂

Alhamdulillah semuanya nyaman. Waktu Puput pulang kerja, saya harus jemput dia ke bawah karena tidak punya kartu akses. Jadi di sini, walaupun punya kartu kita hanya bisa naik ke lantai sesuai kartu kita. Turun pun hanya bisa ke lobi.

Anak-anak suka sekali mengintip dari balkon mungil tempat kami jemur baju. Karena tepat di depan outdoor AC, satu jam baju langsung kering.

Untuk check out, kita juga harus janjian dengan tim Travelio mau jam berapa. Nanti akan ada staf yang mengambil kunci, memeriksa unit dan mengembalikan uang deposit. Deposit kami 500 ribu.

Jadi apa saja plusnya:

  1. Unit bersih, sesuai dengan fotonya

  2. Transaksi mudah

  3. Komunikasi dengan staf mudah

  4. Gimmick makanan minuman membantu saat darurat (kalau ditambah suvenir lebih oke lagi)

  5. Staf ramah dan tepat waktu

  6. Disediakan toileteries dan handuk

Tentu saja tidak semunya positif, masih ada yang bisa diperbaiki. Misalnya staf harusnya lebih lengkap memberi informasi dan memastikan semua peralatan menyala dengan baik. Kasusnya kompor yang sempat rebus air untuk popmie tiba-tiba mati. Ternyata batere untuk pemantik habis. Akhirnya kami beli sendiri. Staf juga tidak menginformasikan ada tisu dan kantong sampah. Kami menemukannya waktu mau check out di dalam rak sepatu. Staf juga seharusnya memberi info tentang di mana harus membuang sampah. Karena kebetulan kami punya unit di Kalibata, kami sudah familiar dengan segala sesuatunya, kalau orang lain belum tentu kan?

Lebih oke lagi kalau disediakan dispenser sih heehe.

Apakah merekomendasikan menggunakan Travelio? BIG YES.

Travelio Property Management

Kalian punya properti nganggur dan terlalu sibuk untuk mengurus sendiri? Travelio Property Management bisa membantu mengurusi properti kalian.

Atau bisa jadi kalian ingin mengurus sendiri, tapi bingung memasarkannya? Bisa listing properti kamu di situs Travelio hanya dengan berbagi keuntungan sekian persen bila tersewa.

Dulu waktu saya pindah ke Malaysia, kebingungan siapa yang mau urus unit di Kalibata, akhirnya kami kasih ke agen. Sekarang lagi kepikiran siapa tahu bisa disewakan harian lewat Travelio.

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .