From Starlets to Starless


Hotels differentiate office budget and your own pocket

I bet many of you have experienced this: moving from a five-star hotel to a no-star or budget hotel, maybe youth hostel or event a backpacker lodge. And certainly I have. Several times.

Usually this begins with a business trip – workshop or meetings, fancy luggage, high heels and make ups, every little thing that I dislike – continued with a short holiday at your own expense.

A drive from the airport to the five stars hotel is most probably taken on a taxi – some people use one of those Chrysler thingy, but soon after the office business is over, you’d start looking for any cheapest means to get around. Whether it’s a bus, MRT, autorickshaw, jeepney, tuk-tuk, anything.

And these are some of my experiences….

Bangkok

I had this 3-day workshop held at Amari Watergate Hotel, in Pratunam area in the heart of Bangkok. Luckily since the beginning, I managed to resist the temptation of bringing suitcase (can be suitcases if you wish). Instead, I packed everything including my laptop, kamera, business clothes, shoes, shorts, into my 55-litres Deuter. And yes I wore my Teva for the trip from Jakarta to Bangkok. This is because I had the plan to skip to Luang Prabang in Laos after the workshop.

The Workshop with multicultural faces

So then the workshop finished. My international friends started to leave the country and I packed my backpack to move to a budget hotel in Khao San Road – famous for backpackers as KSR. I caught a motorcycle taxi just in front of Amari Watergate and bargained it down, hopped on, and there you go…to the first starless followed by another starless in Laos.

The cost of a night stay in Amari Watergate is around USD 80-90, not very expensive but definitely not my choice to stay alone in my own expense. My hotel in KSR, I don’t remember the name cost USD 20. It did not offer a wide range of brekkie as in Amari, but it’s definitely worth the price. You simply get what you pay for.

It was continued with another budget hotel staying in Luang Prabang. Sayo River Guesthouse is not actually a bad choice, since it has Mekong view, a decent room and shower, a veranda and free coffee and tea anytime of the day. It cost around USD 25/night.

Sayo River Guest House

Singapore

Another story was in Singapore when my husband got a chance to do training in Singapore. He is very lucky since his company allows the staff to choose the hotel, doesn’t matter how much it costs. Marina Bay Sand was fully booked. Raffles was fully booked. So The Fullerton Hotel it was…

The Fullerton

The Hotel once used to be a general post office, so you can wonder how antique and beautiful the building is. It’s overlooking Singapore River and two country’s oldest bridges, the Cavenagh bridge and Anderson bridge. The interior was luxurious so was the heritage room where we were staying in. Banquet was excellent as so was the price, approximately SGD 700-800 for one night. It costs SGD 6 to laundy a pair of panties. But they do have the best hotel toiletries!

Time is up and the story continued with a search of much cheaper hotel. It was NOT very easy to look for a cheap hotel in Singapore especially because we decided not to go to Geylang. We tried one of this chain hotel, 81, that has over 15 hotels all over Singapore. Searched over the Google and booked it over the phone, we jumped on to MRT (yes MRT, no more taxi) to Little India station. The street to the hotel was Indianish…the smell of onions, masala, flowers…

Hotel 81 Dickson is pretty good. A budget (SGD 100) – those kinds of budget will get you to at least a 3-star in Jakarta – it was clean and got newish look. I think it was a newly-built hotel. Compared to the Fullerton (how dare me!), the room was very small but decent and clean enough. It was definitely sufficient for us to have a good night sleep after one day in IKEA Alexandra.

Hotel 81 Dickson

Kuala Lumpur

A recent trip, about a week ago, brought me and my 28-weeks preggy belly to the capital of Malaysia, Kuala Lumpur. Another “nebeng” trip of my husband’s business trip. Flying in with AirAsia, I got to LCCT at midnight. Because my dear beloved husband disregarded my wish to pick me up at the airport, I had to catch SkyBus from LCCT to KL Sentral. He waited me there.

As most of you know, the distance between airport and KL Sentral is around 60 km. I got to the station at almost 2am. My phone was off so I got to walk around (yes with bulging belly and bulging backpack) around the dark and deserted station to look for my husband. There he was reading a magazine with red eyes in McDonald’s.

Jumping on a cab, we drove to Intercontinental Hotel (still famously as Nikko Hotel) in KLCC area. A five-star, I think it has the biggest hotel bathroom I’ve ever seen. But the rest is just like another normal four or five-star with free fruit everyday, two bottles of water, Herald Tribune and so on. It cost around USD 130-150/night.

After a more-than-fulfilling breakfast, we drag the (his) luggage to an LRT station nearby, I think it was Ampang Park. Taking Ampang line to Masjid Jamek, we took a different route and got off in Sultan Ismail station. And there was our new hotel. Tune Hotel.

We had to wait until 2pm because that is the check in time. And Tune sort of has the earliest check out time, 10am. A bunch of not-very-rich tourists from the West, China, and Indonesia were waiting until 2pm.

When we got to our room, my husband said, “It’s so small.” In fact it was tiny. I once stayed here about 3 years ago, it was as tiny but this time it’s not only tiny but needed renovation. For a one night stay, it’s alright, but I think no more than that. It cost RM 95 per night for two. The best feature of Tune Hotel Downtown KL is its location, in between a monorail station and an LRT station. Bus stop is just around the corner. And KLCC, Petronas Tower is just a stone throw away.

So, whether you want to save or splurge, it’s your choice!

Advertisements

Menyusuri masjid di Phuket dan Koh Phi Phi


Sebagai seorang Muslim, walau kita sedang berlibur di negeri lain, ibadah shalat lima wkatu tidak boleh ditinggalkan. Apalagi bila di negara yang tengah dikunjungi, akses terhadap tempat ibadah tidak terlalu sulit, hal itu justru menambah pengalaman dan kesan liburan.

Keindahan Koh Phi Phi

Pulau Phuket berada di Thailand tenggara, kalau dilihat di peta, tidak terlalu jauh dari Banda Aceh. Phuket merupakan salah satu tujuan wisata favorit turis lokal maupun internasional karena terkenal akan keindahan pantai-pantainya.

Pada tahun 2004, daerah ini diterjang tsunami Samudera Hindia yang mengakibatkan  ribuan orang tewas dan hilang. Sama seperti di Indonesia, Sri Lanka dan negara-negara lain, tsunami di Thailand tidak hanya merenggut korban jiwa, melainkan harta, infrastruktur dan mata pencaharian warga lokal. Pariwisata hancur lebur selama beberapa waktu, namun kini semua telah kembali seperti sebelum bencana. Tidak tampak bekas-bekas tragedi tersebut di  Patong, Kata, Karon, pantai-pantai paling populer di Pulau Phuket.

Kini, yang terlihat hanya resort-resort, hotel mewah, restoran-restoran yang ramai oleh turis asing, serta gemerlapnya Bangla Road – jalanan yang paling terkenal bagi para backpackers – dan keindahan pantainya.

Tentu, seperti di daerah wisata pantai yang lain, banyak sekali diskotik, bar, dan turis-turis asing yang berpakaian minim. Namun di Provinsi Phuket ini banyak juga warga lokal yang Muslim dan banyak di antara mereka yang mengenakan kerudung, sehingga saya juga tidak merasa asing.

Apabila kita menyusuri jalan-jalan utama di daerah ini, tidak perlu merasa khawatir karena jumlah masjid cukup banyak. Pemerintah lokal pun sangat membantu dengan selalu menyediakan papan arah untuk masjid.

Islam merupakan kaum minoritas di Thailand dan sebagian besar bermukim di Thailand bagian selatan. Di Phuket dan Phi Phi Don, pemandangan perempuan berkerudung dan laki-laki berpeci adalah hal yang biasa. Makanan halal pun cenderung mudah untuk didapatkan, walaupun di tempat wisata yang menyediakan makanan halal biasanya adalah restoran India atau Arab.

Di beberapa pantai, misalnya Surin dan Kamala, banyak warung-warung yang menyediakan makanan halal dengan ibu-ibu penjual yang mengenakan kerudung. Anda juga jangan khawatir bila membeli makanan kecil di minimarket, banyak yang memiliki label halal.

Masjid Kamala

Salah satu masjid yang sempat saya kunjungi adalah Masyid Kamala atau Kamala Mosque, yang terletak tak jauh dari Ban Kamala dan Pantai Kamala,tepat di depan kantor Kecamatan. Shalat jama’ Dhuhur dan Ashar di masjid ini sungguh menenangkan hati sekaligus juga mendinginkan tubuh setelah mengendarai motor mengelilingi pulau di bawah teriknya matahari.

Masjid yang terbuat dari marmer berwarna abu-abu dan merah ini berdiri tegak di tengah pemukiman padat penduduk. Kamala juga merupakan wilayah dengan populasi Muslim karena kami banyak melihat tanda masjid serta warung halal.

Masjid  Nuruddee Neeyah

Masjid ini terletak di daerah Chalong, berada di jalan utama bila anda hendak menuju ke Pantai Rawai ataupun Promthep Cape. Masjid ini sangat indah dengan kubah berwarna keemasan dan marmer putih. Di depannya ditanami pohon palem untuk memberikan sedikit karakter Timur Tengah, namun juga terdapat banyak pohon anggrek yang mencirikan Thailand.

Di depan masjid, berjajar ruangan-ruangan yang tampaknya berfungsi sebagai pesantren di sore hari. Di daerah ini, yang terletak di ujung selatan Pulau Phuket, juga merupakan komunitas Muslim. Selain karena kami banyak melihat masjid di sepanjang jalan, juga penduduk lokal berpakaian muslim.

Di dekat masjid, sebuah warung makan menyediakan berbagai masakan yang semuanya halal. Pemiliknya yang beragama Islam, juga memajang berbagai hiasan dinding bertuliskan ayat-ayat dari Al-Quran. Tanpa ragu-ragu kami pun mampir ke warung ini. Ternyata, tidak hanya halal, masakannya pun sangat lezat. Bahkan ada beberapa turis asing yang tampaknya sudah sering berkunjung ke warung ini.

Koh Phi Phi dan Masjid Al-Islah

Phi Phi Island terdiri dari Phi Phi Don dan Phi Phi Ley, serta beberapa pulau kecil lainnya. Walaupun wisatawan seringkali pergi ke Phi Phi dengan kapal dari Phuket, sebenarnya Phi Phi islands berada di provinsi yang berbeda, yaitu Krabi. Selain dari Phuket, ada juga yang menyeberang dari Krabi, Ko Lanta, dan Ko Phanga. Daerah ini juga terkena dampak tsunami 2004, namun kini tidak tampak bekas-bekas bencana tersebut.

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Phi Phi Don sungguh luar biasa. Pulau-pulau karst yang tinggi berwarna abu-abu dan hijau di tengah laut yang sangat biru membuat kami semakin mengagumi keagungan Allah.

Perjalanan dari Phuket ke Phi Phi Don dengan kapal besar membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Phi Phi Don merupakan satu-satunya pulau di wilayah itu yang ditinggali. Mayoritas penduduk Phi Phi beragama Islam.

Selepas makan siang, kami beranjak mencari masjid untuk menunaikan ibadah shalat Dhuhur. Masjid Al-Islah berada di ujung pulau, sekitar 15 menit berjalan kaki dari pelabuhan. Kami harus melewati toko-toko yang menjual souvenir, restoran, bar, serta penginapan-penginapan.

Masjid Al-Islah bernuansa warna kuning dengan menara hijau. Seperti masjid-masjid lain yang saya kunjungi di Thailand, di depan setiap keran untuk berwudhu disediakan tempat duduk. Ternyata memang kebiasaan berwudhu di Thailand berbeda dengan di Indonesia di mana kita biasa berwudhu sambil berdiri.

Masjid ini menyerukan adzan yang terdengar di seluruh pulau dan warga lokal berbondong-bondong untuk shalat jamaah di masjid ini. Menurut informasi yang kami dapatkan, baru sekitar 40 tahun yang lalu pulau ini dihuni. Penduduk lokal berasal dari Krabi dan Ko Lanta dan mereka adalah nelayan Muslim.

Masjid Al-Islah memegang peranan penting di Phi Phi Don, karena merepresentasikan kerendahan manusia di hadapan Sang Pencipta. Masjid ini terletak di timur pulau, di dekat sebuah pantai indah yang dinamakan Hat Rante tempat turis dan warga lokal berenang dan berselancar. Dahulu penduduk lokal melarang pembangunan hotel dan penginapan di sekitar majid, namun kini karena alasan ekonomis, hotel dan penginapan dibiarkan berdiri di sekeliling kompleks masjid.

Bersembahyang berjamaah di masjid ini merupakan aktivitas yang biasa dilakukan, namun hal itu semakin terasa setelah bencana tsunami tahun 2004. Marilah seperti warga Phi Phi, ketika cobaan tidak menjauhkan kita dari Allah, justru makin mendekatkan kita pada-Nya.

Published in Republika, 13 March 2011

Tour to the one of the scariest places I’ve visited – Tuol Sleng Museum of Genocide (Cambodia)


(And, darn, I stayed just across its gate!)

Arriving at the Phnom Penh International Airport, my friend Yudit and I jumped on a cab to the one of the Lonely Planet’s top pick hotels for Phnom Penh. We yet to find out what in front of us, and I mean it literally.

Bodhi Tree is a great guesthouse, offering a clean room, minimalist yet with Cambodian traditional touch. The staff spoke English very well. We got the last room available. After a little break and lunch, we headed off to the nearest tourism site, just across our hotel gate.

It was late afternoon but there were still some groups of tourists scattered at this museum. I thought it was merely a museum with the usual stuff I encountered in some other countries. But, I was a hundred percent wrong.

It was the most depressing place I’ve ever visited in my 28 years of life. In front of the buildings there were signs forbidding people to laugh. If I can borrow a little bit of JK Rowling’s imagination, I felt like surrounded by dementors, making me feel like I would never be happy again.

Tuol Sleng was originally a high school complex before Khmer Rouge Regime turned it into S-21 prison in 1975. Around 20,000 people detained in this prison with up to 1,500 prisoners at one time. They include activists from Lon Nol regime, doctors, engineers, teachers, whoever suspected to be against Khmer Rouge, including their family members, children, babies.

Laughing and joking is not allowed in this premise

We were lucky to meet a Malaysian gentleman who hired a guide and invited us to join him. The guide explained how the torture happened. There are some torture devices, such as searing metals and electric shocks. Prisoners were often beaten to death, suffocated using plastic bag, hung, or cut with knives. Female were raped although it was against Khmer Rouge policy, and often time the perpetrators executed for raping. Crying babies were thrown into barb wires.

The guide explained how he lost his father and brother during the Pol Pot tenure. His mother secretly caught the frogs to feed him. The security guards would collect everything owned by the people.

One of the most notable thing in this museum is a skull map, consists of 300 human skulls depicting the map of Cambodia. The S-21 also kept an intensive documentation of all prisoners. After arriving at the prison, the guards took their photographs. The photographs of men, women, old people, children, are now showcased in the museum. It was extremely disheartening to see the faces of the people, who knew that they’d be tortured to death.

Among nearly 20,000 S-21 detainees, only seven known survivors. They were kept alive because they had some skills, such as painting or handy work.

The afternoon wore on, and it was getting even more depressing to witness cells with blood splatters, execution devices, skulls, because the Cambodian government kept it original. I would conclude it as the scariest places I’ve ever visited – I might be able to make a comparison if one day I’d visit KZ Nazi camp concentration.

At the hotel, we simply stripped off our clothes, including my belt and sandals, giving them to the bell boy for laundry.  And only the next day we could smile again….(with all night thought that might be our room was also use to torture and kill innocent people)

Mengunjungi Jejak Kejayaan Islam di India


India merupakan negara yang kompleks dengan lebih dari satu miliar penduduk, wilayah negara yang luas, serta kesenjangan sosial yang tinggi. Beberapa orang menyarankan saya untuk menunda perjalanan, karena saya tengah hamil empat bulan, dan India bukan merupakan tempat yang sesuai karena cenderung kumuh, kotor dan kurangnya prasarana publik.

Humayon’s Tomb

Tapi toh saya dan suami memutuskan untuk berangkat, karena kami memang menggemari travelling, dan backpacking selalu menjadi pilihan. Karena keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk mengunjungi Delhi dan Agra. India bulan Januari tahun ini mencapai puncak musim dingin, dengan suhu berkisar antara 4 hingga 17 derajat Celcius.

Beberapa tempat wisata yang kami kunjungi antara lain Taj Mahal, Red Fort atau Lal Qila, Purana Qila, Jama’ Masjid, Qutub Minar, Humayun’s Tomb. Sebagian besar tempat wisata di India bagian utara adalah peninggalan Islam di mana Kekaisaran Mughal atau Mogul mencapai masa keemasan antara tahun 1500-1600 Masehi.

Jama’ Masjid

Hari pertama kami di Delhi merupakan hari Jumat sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi Jama’ Masjid atau Masjid-i Jahān-Numā , sehingga suami saya bisa memunaikan ibadah shalat Jumat di masjid tersebut. Jama’ Masjid terletak di Old Delhi, atau kota tua. Masjid ini dibangun oleh kaisar Mogul ke-5, Shah Jahan yang juga membangun Taj Mahal, pada tahun 1650. Pembangunan masjid ini membutuhkan waktu 6 tahun dengan melibatkan lebih dari 5 ribu pekerja.

Jama’ Masjid mampu menampung sekitar 25 ribu jamaah. Bangunan serta pelatarannnya terbuat dari batu paras (sandstone) merah, merupakan bahan bangunan yang umum digunakan pada masa Kekaisaran Mogul. Masjid ini memiligi tiga gerbang besar,  empat buah menara, dan dua buah menara masjid yang masing-masing tingginya 40 meter. Dua menara masjid ini terbuat dari batu paras merah yang diselingi oleh marmer putih.

Shalat Jumat di masjid ini merupakan pengalaman yang cukup unik bagi saya. Kira-kira satu jam sebelum adzan, para petugas sudah menyuruh para turis asing untuk keluar. Ketika kami juga disuruh keluar, kami mengatakan bahwa kami Muslim dan hendak mengikuti namaz sehingga tetap diperbolehkan berada di dalam komplekd masjid.

Adzan dikumandangkan dua kali, yang pertama sekitar pukul 13.30, dilanjutkan dengan khutbah yang seluruhnya dalam bahasa Arab. Perempuan diperbolehkan untuk mengikuti shalat, walau waktu itu hanya ada sekitar 20 orang, dibandingkan dengan ribuan kaum laki-laki.

Masjid ini masih sangat gagah berdiri, dan merupakan masjid terbesar dan paling terkenal di India. Wisatawan mancanegara masih menjadikan Jama’ masjid sebagai ‘must-see’. Tiket untuk masuk ke kompleks masjid ini adalah Rs. 250 per kamera.

Taj Mahal

Taj Mahal, yang juga merupakan salah satu keajaiban dunia, adalah tempat wisata yang paling terkenal di India. Terletak di kota Agra, 195 km dari Delhi, Taj Mahal dapat dicapai dengan kereta, bus, maupun pesawat terbang. Setibanya kami di Taj Mahal, antrian masuk sudah sangat panjang. Mungkin karena hari Sabtu sehingga banyak wisatawan domestik maupun mancanegara mengunjungi tempat ini. Tiket untuk turis internasional adalah Rs. 750 per orang atau sekitar Rp 160.000. Antrian masuk ke kompleks Taj Mahal cukup lama, dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Alasannya adalah karena setiap pengunjung akan diperiksa dengan teliti oleh para petugas sebelum masuk. Hanya minuman, tas kecil dan kamera yang diperbolehkan untuk dibawa. Tripod, buku panduan, maupun tas besar harus ditinggalkan di loker yang telah disediakan. Makanan yang ditemukan oleh petugas akan dibuang begitu saja.

Kompleks Taj Mahal memiliki dua buah gerbang masuk, yaitu gerbang barat dan timur. Seperti yang telah banyak diketahui, Taj Mahal dibangun atas perintah Kaisar Shah Jahan untuk istri ketiganya yang telah meninggal, Mumtaz Mahal, sebagai tanda cinta yang abadi. Mulai dibangun pada tahun 1632, dan selesai pada tahun 1653, Taj Mahal dibangun menggunakan material dari India dan Asia. Lebih dari 1.000 gajah digunakan untuk mengangkut bahan bangunan tersebut. Marmer putih diangkut dari Makrana, Rajasthan, jasper dari Punjab, batu jade dan Kristal dari Cina. Batu turquoise dibawa dari Tibet, Lapis lazuli dari Afganistan, safir dari Sri Lanka dan carnelian dari Arab Saudi.

Masjid Taj Mahal terletak di sebelah barat hanya beberapa meter dari bangunan utama. Masjid ini terbuat dari batu paras merah, dibangun oleh Muhammad Isa. Interior masjid tersebut berisi kaligrafi nama-nama Allah serta cuplikan ayat-ayat Quran. Di sebelah timur Taj Mahal terdapat replika masjid dengan ukuran yang sama, namun tidak pernah digunakan untuk shalat.

Kami berkesempatan untuk menunaikan ibadah Slahat Maghrib di Masjid Taj Mahal dengan Imam Masjid. Sayangnya, hanya kami berdua yang menjadi jamaah shalat, padahal pada saat itu masih banyak pengunjung dan petugas yang ada dalam kompleks. Tampaknya seruan adzan yang dilakukan oleh Imam di menara masjid tidak dihiraukan oleh kaum muslim yang masih ada di sekitar Taj Mahal.

Qutub Minar

Qutub Minar merupakan tempat wisata sejarah lain yang wajib dikunjungi. Qutub Minar adalah menara masjid paling tinggi sedunia, setinggi 72,5 meter. Menara masjid ini mungkin hanya kalah dengan masjid Nabawi yang sudah direnovasi. Menara Qutub ini dibangun oleh  Qutb-ud-din Aibak dan diselesaikan oleh Iltutmish, menantus erta penerusnya. Qutub Minar juga dibangun dengan batu paras merah berukir kaligrafi dari ayat-ayat Quran.

Di kompleks Qutub Minar juga terdapat masjid tertua di India, Masjid Quwwat-ul-Islam yang didirikan oleh Qutb-ud-din Aibak pada tahun 1198 M.  Masjid ini dibangun dari bekas 27 kuil Jain yang dibangun sebelumnya pada masa Tomar dan Prithvi Raj Chauhan. Beberapa bagian kuil dibiarkan berdiri di bagian luar masjid.  Masjid ini sudah tidak digunakan lagi karena sebagian besar telah runtuh, namun pengunjung dapat menunaikan shalat di Masjid Mughlai yang ada di dekat pintu gerbang.

Di kompleks Qutub terdapat juga Pilar Besi  yang dibangun pada tahun 375 M oleh Chandragupta II. Pilar setinggi 7,25 m dengan berat lebih dari 6 ton. Pilar ini mengundang keingintahuan para arkeolog dan dan ahli metalugi, karena sama sekali tidak berkarat setelah lebih dari 1600 tahun berada di udara terbuka.

Perjalanan ke Qutub Minar merupakan tujuan wisata kami yang terakhir sebelum mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. India, dengan lebih dari 12 persen penduduk Muslim memiliki kekayaan sejarah Islam yang luar biasa. Suasana kota yang kumuh dan kotor serta berdebu, seakan terlupakan ketika kita menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang sangat hebat ini.

Namun peninggalan sejarah yang hebat ini sekaligus menjadi ironi tersendiri bagi umat muslim. Tidak adanya jamaah saat kami sholat maghrib di Taj Mahal maupun tidak digunakannya lagi Masjid Quwwat-ul-Islam di komplek Qutub Minar menunjukkan rendahnya kesadaran beragama Islam di India. Dengan jumlah muslim lebih dari 12 persen dari 1 milyar lebih penduduk India, seharusnya gairah Islam lebih terasa dengan aktifnya kegiatan di masjid-masjid utama. Apalagi bila dikaitkan dengan kekuasaan Islam di India selama hampir 1000 tahun sampai menghasilkan banyak peninggalan-peninggalan luar biasa, kondisi Islam di India kini terasa sangat ironis. Semoga suatu saat Islam bisa kembali bangkit di India seperti pada masa kejayaannya dulu. Barakallah.

Published in Republika 23 January 2011:

http://republika.co.id:8080/koran/153/127795/Mengunjungi_Jejak_Kejayaan_Islam_di_India

Tagaytay, the Philippines: My solo adventure to the smallest active volcano in the world


I had a few days to kill on March this year, so I said to myself, I gotta go somewhere. Why the Philippines? My answer is simple, because I’ve never been there! And due to the brief 4 nights I had, I couldn’t go to Bohol or Palawan or other places famous for the beach. Besides, I’m Indonesian, what am I doing looking for a beach in the Philippines?

So I decided to go to Tagaytay, besides Manila of course. Carrying my 55-litres Deuter, I boarded on Cebu Pacific to Manila. The midnight flight got me to Ninoy Aquino International Airport (NAIA) at 06:00 in the morning. Some Filipino friends suggested me to catch yellow metered taxi to Tagaytay. And guess what? The officer told me that they are no longer allowed to take passenger out of Metro Manila. So I tried my luck at white taxi counter for a fixed price. Bad luck! They offered Php 1,000 equals to US$ 80.

And my dearest Lonely Planet saved my life (and wallet), again. It says that I can catch a bus from Pasay City to Tagaytay. So I took yellow cab to Pasay City for around $3, I don’t remember exactly how much in peso. From Pasay City terminal I just climbed on a bus with Tagaytay sign on it. Actually, most of the busses go to Nasugbu and Balayan via Aguinaldo Highway passing Tagaytay.  It was air-con, clean, new, and very comfortable. And, cheap! It cost lest then $3 for 3 hours drive.

The drive was not very much different to bus-ride at hometown. Traffic was bad inside Manila, but getting better as the morning wore on. We passed Dasmarinas and started to enter the province of Cavite. Finally the bus arrived at Plaza Olivarez and I jumped down. I took a tricycle and ask the driver to get me to Estancia Resort, which cost me around $35 a night for a nipa hut with magnifique view of Lake Taal.

Lake Taal and the volcano

on Taal with the crater as background

The volcano is in an island within a lake in Luzon island. Lake Taal can be reached from Tagaytay City using tricycle in 20 minutes. I simply book the tricycle for a day for less than $10. The view to the lake is panoramic. On the lakeside, your tricycle driver (in my case his name is Christopher) will wait for you while you jump on a boat, crossing the lake into the volcano. There, you need to take a horse – most likely an old weak donkey to the crater. If I remember correctly, it cost started from $30. Yes it’s expensive, but it’s a long walk to the crater. The path is rough and very dusty. You will need a hat, sunglasses and a face mask. And a lot of water. It took me an hour to get to the crater. The trip to the volcano takes almost a whole day.

Tagaytay City

The center of the City is Plaza Olivarez and the surroundings. If you need some more familiar taste, go to Chowking or Jolibee. There is also Starbucks, about 500 meters on the road to Nasugbu. Some more top end restaurants also available in the area.

Don’t forget to try buko pie at Collette’s. It’s a young coconut filled pie. And they only have large size. I mean, their smallest size is large. It cost around $3.  Try also Philippines national dish Sinigang – a savoury fish/chicken soup. Try also traditional porridge for breakfast, it contains eggs and meats. Tell the vendor if you don’t want any pork – I think I forgot to do that!

Other attractions

People’s Park in the Sky – An artful blending of natural and man-made attractions, poised on the highest point of Tagaytay City. It stands on a 4,516 sq, meters solid ground and overlooks four bodies of water – Taal Lake, Balayan Bay, Laguna de Bay and Manila Bay. It is located at Dapdap West and Dapdap East, approximately 6 to 7 km away from Silang Crossing.

Tagaytay Picnic Grove – just right on the corner of Silang junction. The cool weather is perfect for lazing, walking and rest your mind for a while.

Other Information

the tricycle and the shorts -- oh how I miss my shorts!!!

ATM is available in this city, as well as money changers. Pharmacies and convenience stores are available. You can go around on jeepney or tricycle. There are busses going to Manila, just wait near the Silang junction.

F485FSUVBYJA

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.