Candi Cangkuang, Candi Mungil di Tengah Danau


Oleh Olenka Priyadarsani

Garut mungkin lebih dikenal sebagai produsen dodol. Tetapi sebenarnya kota kecil ini memiliki pemandangan alam yang indah. Kabarnya, aktor Inggris Charlie Chaplin pernah berkunjung ke Garut dan menjulukinya “Switzerland of Java”.

Salah satu objek wisata yang terdapat di Garut adalah Candi Cangkuang di Kecamatan Leles. Tidak seperti Prambanan atau Borobudur, Cangkuang hanya terdiri dari satu candi mungil yang terletak di tengah danau bernama sama — Situ Cangkuang.

Ketika tiba di tepi danau, yang pertama kali terlihat adalah jajaran rakit bambu aneka warna. Jauh lebih cantik dari rakit yang pernah saya lihat. Penumpang dapat duduk di dua bangku panjang berhadapan di bagian tengah.

Situ Cangkuang dikelilingi beberapa gunung dengan pemandangan indah. Foto: Olenka Priyadarsani

Sementara itu bagian dasar rakit terbuat dari bambu-bambu panjang yang disatukan, dengan bagian depan runcing. Rakit-rakit inilah yang dapat disewa untuk menyeberangkan wisatawan ke lokasi candi.

Tarif sewa rakit cukup murah yaitu Rp 4 ribu per orang bolak-balik. Namun dengan catatan penumpang berjumlah 20 orang. Anda harus menunggu penumpang lainnya sampai rakit penuh. Bila tidak mau membuang waktu, Anda dapat menyewa satu rakit seharga Rp 80 ribu, bisa ditawar hingga 60 ribu.

Pulau di tengah danau tidak jauh. Rakit berjalan pelan menyusuri danau yang berwarna kehijauan. Di kejauhan terlihat sisi danau yang dipenuhi bunga-bunga teratai berwarna merah muda. Sementara itu, gunung dan bukit menjadi latar belakang pemandangan.

Continue reading Candi Cangkuang, Candi Mungil di Tengah Danau

Advertisements

Berbelanja Cendera Mata di Queen Victoria Market


Oleh Olenka Priyadarsani

Bila Anda sedang berlibur di Melbourne, Australia dan mencari cendera mata untuk orang-orang terkasih di Tanah Air, ada satu tempat yang direkomendasikan. Namanya Queen Victoria Market atau sering juga disebut Vicmart.

Queen Victoria Market berdiri pada 1878 dan merupakan pasar terbuka pertama di negara bagian Victoria. Pasar ini terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Melbourne. Bagi warga Melbourne, Vicmart merupakan tempat berbelanja sehari-hari, seperti sayuran, buah-buahan, daging, serta produk laut.

Bahan-bahan segar tersebut dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah daripada di pasar-pasar lain ataupun supermarket.

Walau berfungsi sebagai pasar tradisional, Vicmart jauh lebih bersih. Di sore hari, lapak-lapak tidak akan terlihat karena semuanya dimasukkan ke dalam gudang. Selain rapi dan bersih, Queen Victoria Market juga makin ramah lingkungan. Salah satu buktinya adalah dilarangnya tas plastik bagian daging dan susu, jadi Anda harus membawa tas sendiri.

Bagi wisatawan penggila belanja, Vicmart menjadi surga tersendiri dengan berbagai toko yang menjual cendera mata khas Australia. Salah satu yang paling umum ditemukan di bagian los barang-barang umum adalah pedagang kaos suvenir. Selain itu, banyak kios yang menjajakan boneka koala dan kanguru, tas, gantungan kunci, magnet kulkas, dan sebagainya.

Pilihan cendera mata yang dapat Anda bawa pulang dengan harga cukup murah. Foto: Olenka Priyadarsani

Anda suka cendera mata etnik? Senjata khas suku Aborigin, bumerang yang terbuat dari kayu dijual di sini untuk hiasan di rumah. Selain itu, ada beberapa instrumen musik tradisional Aborigin yang sangat menarik untuk dibeli. Lukisan tradisional pun dapat dijadikan pilihan untuk diberikan pada orang-orang terdekat.

Cendera mata khas Aborigin dapat dijadikan pilihan oleh-oleh. Foto: Olenka Priyadarsani

Salah satu keunggulan dari berbelanja di Queen Victoria Market adalah macam suvenir yang sangat lengkap. Anda dapat mencari barang untuk bayi hingga orang tua. Selain itu, tentu saja, harganya yang cenderung lebih murah daripada di toko-toko suvenir yang tersebar di seluruh kota Melbourne, apalagi di lokasi-lokasi wisata.

Nah, keuntungan yang lainnya adalah karena banyak penjaga kios adalah orang Indonesia. Banyak di antara mereka adalah mahasiswa yang mengisi waktu senggang dengan bekerja paruh waktu di pasar ini. Bila Anda menemukan penjaga kios orang Indonesia tentu tawar-menawar akan lebih mudah. Bisa jadi Anda akan mendapat harga yang lebih murah, ataupun dapat bonus!

Wahyu (31 tahun), salah satu penjaga kios di Victoria Market yang berasal dari Indonesia mengatakan bahwa kadang wisatawan dari Indonesia melakukan “aji mumpung” dengan menawar semena-mena bila mengetahui penjaga kios berasal dari satu negara.

Wahyu, salah satu penjaga kios Vicmart yang berasal dari Indonesia. Foto: Olenka Priyadarsani

Queen Victoria Market tidak buka setiap hari. Jam bukanya pun berbeda setiap harinya. Pasar ini libur pada hari Senin dan Rabu. Sementara itu jam buka untuk Selasa dan Kamis adalah antara pukul 06.00 hingga 14.00. Untuk Jumat agak lebih panjang antara pukul 06.00 hingga pukul 17.00. Hari Sabtu buka pada pukul 06.00 hingga jam 15.00 dan Minggu 09.00 sampai 16.00.

Untuk membeli bahan-bahan segar, semakin mendekati tutup akan semakin murah. Anda akan sering mendengar teriakan, “One dollar, one dollar!”. Itu adalah suara para pedagang yang mengobral dagangan mereka, terutama buah, sayur, dan produk laut.

Sedikit kiat untuk pemburu cendera mata kaus, datanglah pada hari Jumat. Pada hari ini kaus yang harga biasanya antara 5 hingga 7 dolar Australia bisa didapatkan pada harga 10 dolar untuk 3 kaus. Lumayan, bukan?

Mengalami Empat Musim di Great Ocean Road


Oleh Olenka Priyadarsani

Great Ocean Road mungkin adalah jalan paling istimewa di negara bagian Victoria, Australia. Jajaran karang setinggi 45 m bernama Twelve Apostles berdiri di lepas pantai Taman Nasional Port Campbell dan sering menjadi titik perhentian terakhir dari perjalanan melintasi Great Ocean Road yang menghubungkan antara Torquay dan Warnambool sepanjang 243 km.

Bagi saya, hal yang paling menarik dari Great Ocean Road adalah bagaimana saya merasa seperti mengalami empat musim dalam satu kali perjalanan. Cuaca Victoria yang suka berubah-ubah seenaknya makin menambah kesan saya.


Batu-batu yang disebut 12 Apostles di Great Ocean Road, Australia. Foto: Olenka Priyadarsani

Bersama seorang teman, saya berangkat pagi-pagi menggunakan mobil. Dari pusat kota Melbourne, tempat saya tinggal saat itu, kami menuju ke arah Geelong di tenggara. Dari Geelong, kami menuju ke Torquay, sebuah kota kecil yang secara resmi menjadi awal dari Great Ocean Road. Selain mulus, jalan ini juga menawarkan pemandangan yang luar biasa indah.

Di Torquay, kami menikmati indahnya pantai biru, yang merupakan pemandangan jamak ketika melintasi jalan ini. Jalan pinggir pantai antara Torquay, Lorne hingga Apollo Bay menyajikan keindahan luar biasa. Apollo Bay merupakan sebuah kota kecil yang terletak di sebuah teluk. Tempat ini kini menjadi salah satu tujuan wisata, walau mungkin masih kalah dengan kota tetangganya, Lorne.

Di Apollo Bay, kami berhenti sejenak untuk melepas lelah dan menikmati santap siang. Saat itu adalah bulan Februari, masih musim panas di Australia. Matahari bersinar terik dan saya melihat banyak orang berselancar. Ada juga jajaran toko yang menjual peralatan selancar serta menyediakan kursus.

Perjalanan dilanjutkan, dan kali ini jalanan tidak melintasi pinggir pantai. Justru bagian ini yang membuat saya sangat terkesan. Teriknya matahari hilang digantikan oleh mendung yang menggelayut, saat itu kami tengah melewati hutan hujan dengan berbagai macam tumbuhannya. Langit tertutup rimbunnya dedaunan dari pohon-pohon besar di sisi kanan dan kiri jalan.

Bila Anda ingin lebih banyak mengeksplorasi alam di Australia, di Cape Otways, tidak jauh dari Apollo Bay Anda dapat bergabung untuk melakukan bushwalking — berjalan melintas hutan.

Hujan lebat mengguyur sehingga kami harus menghentikan mobil sejenak di pinggir hutan. Cuaca yang tadinya panas disiram air hujan, menggugurkan dedaunan pohon. Seperti musim gugur yang datang terlalu cepat.


Aktivitas bushwalking di sepanjang Great Ocean Road, Australia. Foto: Olenka Priyadarsani

Karena guyuran hujan hanya sebentar, ketika kami melintasi padang-padang rumput, tinggal titik gerimis yang menyapa. Bau tanah basah dan rerumputan menciptakan suasana yang mirip dengan musim semi. Kami berhenti sebentar untuk melihat sapi-sapi yang dibiarkan begitu saja di padang rumput yang luas. Pemandangan ini tentu sulit didapati di Indonesia yang sebagian besar hewan ternaknya dibiarkan di dalam kandang dan hanya digembalakan sesekali saja.

Setelah melalui Princetown, kami kembali menyusuri pantai hingga tiba di tujuan utama, yaitu Twelve Apostles di Taman Nasional Port Campbell.

Twelve Apostles

Karang tinggi yang terbuat dari batu kapur berjajar membentuk formasi yang luar biasa indah. Walaupun disebut Twelve Apostles – atau 12 rasul – sebenarnya jumlah karang yang masih berdiri saat ini hanya  delapan. Twelve Apostles  merupakan pemandangan alam di Australia yang paling sering difoto. Karang-karang ini terbentuk dari erosi hantaman ombak samudera. Awalnya karang besar tergerus sedikit-sedikit  membentuk gua dan tebing yang lama-kelamaan terkikis hingga membentuk pilar-pilar kapur yang sangat tinggi hingga mencapai 45 m.

Akibat hantaman air laut yang keras, beberapa pilar runtuh. Namun akibat erosi yang kuat, ada kemungkinan tebing-tebing yang menghadap ke samudera akan membentuk pilar-pilar baru di masa datang.

Waktu yang terbaik melintasi Great Ocean Road

Musim semi pada bulan Agustus-Oktober mungkin merupakan saat yang paling tepat untuk berkunjung ke Australia di bagian selatan, termasuk melintasi Great Ocean Road. Iklim di sini adalah subtropis. Pada musim dingin, walau suhu relatif tidak terlalu dingin (hanya mencapai sekitar 4 derajat Celcius), angin dari arah kutub akan merasuk hingga ke tulang.

Sementara itu pada musim panas di Victoria, suhu dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celcius di siang hari. Anda mungkin akan merasa tidak nyaman dengan suhu yang terlalu tinggi. Di musim semi, selain suhu udara yang sesuai, panorama sekitar akan lebih indah. Anda akan dapat melihat rumput-rumput yang mulai menghijau di perjalanan.

Jarak tempuh antara Melbourne hingga Twelve Apostles yang sering menjadi perhentian terakhir cukup lama, hingga mencapai 5 jam perjalanan. Ada baiknya Anda menginap paling tidak semalam demi kenyamanan menikmati panorama Victoria di Australia. Mari berlibur ke Negeri Kanguru!

Terpikat Kemegahan Harbour Bridge di Sydney


Oleh Olenka Priyadarsani

Bila San Francisco terkenal dengan Golden Gate Bridge, Sydney punya Harbour Bridge. Jembatan ini membentang antara pusat bisnis Sydney dengan North Shore. Jembatan yang dibuka tahun 1932 ini menjadi ikon kota terbesar di Australia dan selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Pemandangan Harbour Bridge dari sisi barat Opera House. Foto: Olenka Priyadarsani

Sudah beberapa kali saya mengunjungi Harbour Bridge dan tak pernah bosan. Ratusan foto pun saya ambil dari berbagai sudut. Salah satu tempat paling bagus untuk memotret jembatan ini adalah dari Sydney Opera House–yang juga merupakan ikon penting kota ini.

Jembatan ini mampu mengakomodasi enam jalur kendaraan bermotor dan satu jalan setapak. Jalan utamanya bernama Bradfield Highway. Dengan jarak 2,4 kilometer, Bradfield Highway merupakan salah satu jalan raya terpendek di dunia.

Anda dapat menyusuri jembatan ini melalui jalan setapak yang ada di sisi timur. Bila Anda datang dari sisi utara jembatan (North Shore), akan terlihat tangga naik di Burton St. Milsons Point. Kebanyakan wisatawan akan datang dari sisi selatan, yang dekat dengan kawasan hotel, baik yang berbintang maupun yang murah.

Dari kawasan The Rocks, banyak petunjuk yang menunjukkan arah para pejalan kaki menuju tangga. Tangga-tangga ini terletak di dekat Gloucester St. dan Cumberland St. Anak tangga ini akan membawa Anda ke ujung selatan jembatan.

Selain akses dari The Rocks, akses jalan setapak lain yang menjadi favorit para wisatawan adalah Cahill Walk. Jalan setapak ini bisa dicapai dari ujung timur Circular Quay–dermaga yang menjadi akses menuju Opera House. Ujung dari Cahill Walk adalah Sydney Botanic Gardens.

Dari jalan setapak ini pemandangannya luar biasa. Anda dapat memotret Harbour Bridge atau Opera House, dan bahkan keduanya sekaligus dalam satu bingkai. Karena letaknya di atas, seringkali angin cukup kencang. Gunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh Anda dari angin, terutama bila datang pada saat temperatur udara rendah.

Pemandangan Sydney Harbour Bridge di kala senja. Foto: Olenka Priyadarsani

Anda seorang petualang? Tentu Anda takkan melewatkan kesempatan untuk memanjat Harbour Bridge hingga ke puncaknya. Sejak tahun 1998, pengunjung dapat menaiki busur baja jembatan ini hingga ketinggian 134 meter. Tur ini dilaksanakan setiap hari dari pagi hingga malam, biasanya hanya dibatalkan bila ada badai listrik atau angin terlalu kencang.

Kelompok pemanjat diberi pakaian pelindung yang sesuai dengan cuaca pada saat itu. Mereka juga diberi orientasi sebelum mulai memanjat. Setiap orang dilindungi dengan tali keselamatan. Pendakian dimulai dari sisi timur jembatan hingga ke puncaknya. Di puncak mereka akan turn lewat sisi barat. Lama pendakian adalah sekitar 3,5 jam. Jadi, pastikan kondisi kesehatan Anda dalam keadaan baik.

Harga tur untuk memanjat Harbor Bridge ini berkisar antara 200 hingga 300 dolar Australia untuk setiap orang dewasa. Selain petualangan yang tak terlupakan, peserta tur juga akan mendapatkan sertifikat.

Banyak dari Anda mungkin tidak ingin membuang banyak uang untuk memanjat jembatan. Jangan khawatir, jembatan baja raksasa ini dapat dinikmati dari kejauhan. Beberapa titik pemotretan yang bagus adalah Opera House, Botanic Gardens, Circular Quay, Cahill Walk, dan salah satu titik yang jarang didatangi adalah Walsh Bay di sebelah barat dan Kirribilli di North Shore.

Kafe-kafe di dekat Opera House adalah tempat yang sempurna untuk menyaksikan Harbour Bridge. Foto: Olenka Priyadarsani

Pemandangan Sydney Harbour Bridge dapat dinikmati kapanpun, baik di siang hari maupun di malam hari. Anda pun dapat menikmatinya sembari menikmati jamuan di salah satu kafe yang berderet di kawasan Opera House. Tentu, harga di kafe-kafe itu sangat mahal. Bila ingin hemat–seperti saya–bawa bekal sendiri dan duduk di salah satu bangku yang banyak tersedia di Circular Quay. Pemandangan indah, angin sejuk, dan kopi panas adalah paduan yang luar biasa!

Pantai Siung, Pesona Baru Yogyakarta


Oleh Olenka Priyadarsani

Pantai Siung adalah salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meski termasuk yang paling baru dikenal, pantai ini telah menjadi andalan wilayah tersebut. Belum lama ini, saya mengunjungi pantai itu dan menyadari potensi wisata yang dimilikinya.

Siung terletak di Kecamatan Tepus, sekitar 70 km dari Yogya. Berbeda dengan pantai-pantai yang telah lebih dahulu dikenal seperti Parangtritis, Siung termasuk pendek. Pantai ini terletak di cekungan yang panjangnya hanya sekitar 300-400 m. Namun justru di sinilah letak keistimewaannya.

Pantai pendek ini dikelilingi oleh karang-karang besar berwarna kehitaman, yang sebagian besar ditumbuhi vegetasi dan lumut hijau. Paduan laut biru jernih dan karang kehijauan menambah keindahan panorama tempat ini.


Pantai Siung. Foto: Puput Aryanto

Siung bukanlah pantai yang paling ideal untuk berenang karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Topografi pantai yang berkarang dan berbatu serta ombak yang besar pun menyulitkan Anda untuk berenang. Tak heran pemerintah setempat memasang tanda larangan berenang. Namun, tentu Anda masih bisa bermain-main air di pinggir pantai.

Keistimewaan lain dari pantai ini adalah masih banyaknya pepohonan di pinggir pantai. Anda tinggal menyewa tikar dari penduduk sekitar dan berteduh di bawah pohon-pohon itu.

Selain cocok sebagai tempat melarikan diri dari kesibukan sehari-hari, Siung sangat sesuai bagi Anda yang memiliki hobi fotografi. Pantai yang pendek dan dibatasi karang-karang justru merupakan objek foto yang sangat menarik.

Bila tidak keberatan mengeluarkan keringat, Anda dapat mengikuti jalan setapak di sisi kiri pantai untuk mencapai puncak tebing. Sekitar 10-15 menit dibutuhkan hingga sampai ke puncak. Dari sana, akan terlihat keseluruhan pantai dan karang-karang besar di sisi kiri dan kanan. Juga terlihat Pantai Wediombo yang berada di sisi sebelah timur Siung.

Selain menjadi objek wisata dan foto yang menarik, daerah di sekeliling Pantai Siung juga sering dijadikan tempat latihan panjat tebing. Mahasiswa pencinta alam di Yogya — dan bahkan luar kota — sering berlatih di sini, memanfaatkan tebing-tebing dengan ukuran bervariasi dan jalur yang beragam.

Karena baru dikenal beberapa tahun belakangan ini, Siung belum banyak dikunjungi wisatawan. Air lautnya masih jernih, karang-karangnya pun masih bebas dari tangan-tangan jahil manusia.

Penduduk setempat telah membangun warung, toilet dan mushola di pantai ini. Berbeda dengan tempat wisata kebanyakan, harga-harga di pantai ini masih tergolong normal sehingga pantai ini dapat menjadi opsi jalan-jalan murah bagi Anda.

Bila perut mulai melilit, Anda dapat mendatangi salah satu warung yang berjajar di pinggir pantai. Biasanya mereka menyediakan mi instan, nasi dan lauk, serta es kelapa muda. Anda juga dapat meminta penjaga warung untuk memasakkan ikan yang baru ditangkap nelayan.

Sayangnya, di daerah ini banyak nelayan menangkapi bayi hiu padahal hewan itu adalah salah satu spesies yang dilindungi.

Menuju Siung

Dengan kendaraan pribadi dari Yogya, Anda tinggal menuju ke Jalan Wonosari. Dari Yogya hingga ke Wonosari, ibukota Gunungkidul, dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Hati-hati terhadap jalan yang menanjak dan berliku.

Sampai di Wonosari, Anda tinggal mengikuti jalan ke arah Pantai Baron hingga persimpangan yang menuju ke Pantai Siung. Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Siung sekitar 2-2,5 jam tergantung moda transportasi dan kecepatan kendaraan Anda.

Bila Anda memilih kendaraan umum, Anda harus naik bis ke terminal Wonosari. Di sana Anda harus berganti dengan minibus arah Tepus atau Jepitu. Di perhentian terakhir Anda harus menyewa ojek.

Karena jalur transportasi umum masih kurang memadai, cara ini tidak disarankan. Anda yang berasal dari luar kota lebih baik menyewa motor/mobil di Yogya, dan menempuh perjalanan sendiri hingga lokasi yang dituju.

Jangan khawatir, seperti hampir keseluruhan wilayah Yogyakarta, akses jalan hingga ke tempat-tempat terpencil – termasuk Siung dan pantai-pantai di sekitarnya – adalah jalan aspal halus.

Dengan kendaraan pribadi, Anda juga akan lebih mudah untuk mengunjungi pantai-pantai lain di wilayah itu, antara lain Sundak, Krakal, Wediombo dan Sadeng. Mari kita ke Yogya!

Harga tiket (pungutan resmi)
Orang   Rp 1000
Mobil    Rp 1500
Motor   Rp 1000

Parkir
Mobil    Rp 5000
Motor   Rp 2000

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of Simply Homy Condong Catur Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.