Terpikat Kemegahan Harbour Bridge di Sydney


Oleh Olenka Priyadarsani

Bila San Francisco terkenal dengan Golden Gate Bridge, Sydney punya Harbour Bridge. Jembatan ini membentang antara pusat bisnis Sydney dengan North Shore. Jembatan yang dibuka tahun 1932 ini menjadi ikon kota terbesar di Australia dan selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Pemandangan Harbour Bridge dari sisi barat Opera House. Foto: Olenka Priyadarsani

Sudah beberapa kali saya mengunjungi Harbour Bridge dan tak pernah bosan. Ratusan foto pun saya ambil dari berbagai sudut. Salah satu tempat paling bagus untuk memotret jembatan ini adalah dari Sydney Opera House–yang juga merupakan ikon penting kota ini.

Jembatan ini mampu mengakomodasi enam jalur kendaraan bermotor dan satu jalan setapak. Jalan utamanya bernama Bradfield Highway. Dengan jarak 2,4 kilometer, Bradfield Highway merupakan salah satu jalan raya terpendek di dunia.

Anda dapat menyusuri jembatan ini melalui jalan setapak yang ada di sisi timur. Bila Anda datang dari sisi utara jembatan (North Shore), akan terlihat tangga naik di Burton St. Milsons Point. Kebanyakan wisatawan akan datang dari sisi selatan, yang dekat dengan kawasan hotel, baik yang berbintang maupun yang murah.

Dari kawasan The Rocks, banyak petunjuk yang menunjukkan arah para pejalan kaki menuju tangga. Tangga-tangga ini terletak di dekat Gloucester St. dan Cumberland St. Anak tangga ini akan membawa Anda ke ujung selatan jembatan.

Selain akses dari The Rocks, akses jalan setapak lain yang menjadi favorit para wisatawan adalah Cahill Walk. Jalan setapak ini bisa dicapai dari ujung timur Circular Quay–dermaga yang menjadi akses menuju Opera House. Ujung dari Cahill Walk adalah Sydney Botanic Gardens.

Dari jalan setapak ini pemandangannya luar biasa. Anda dapat memotret Harbour Bridge atau Opera House, dan bahkan keduanya sekaligus dalam satu bingkai. Karena letaknya di atas, seringkali angin cukup kencang. Gunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh Anda dari angin, terutama bila datang pada saat temperatur udara rendah.

Pemandangan Sydney Harbour Bridge di kala senja. Foto: Olenka Priyadarsani

Anda seorang petualang? Tentu Anda takkan melewatkan kesempatan untuk memanjat Harbour Bridge hingga ke puncaknya. Sejak tahun 1998, pengunjung dapat menaiki busur baja jembatan ini hingga ketinggian 134 meter. Tur ini dilaksanakan setiap hari dari pagi hingga malam, biasanya hanya dibatalkan bila ada badai listrik atau angin terlalu kencang.

Kelompok pemanjat diberi pakaian pelindung yang sesuai dengan cuaca pada saat itu. Mereka juga diberi orientasi sebelum mulai memanjat. Setiap orang dilindungi dengan tali keselamatan. Pendakian dimulai dari sisi timur jembatan hingga ke puncaknya. Di puncak mereka akan turn lewat sisi barat. Lama pendakian adalah sekitar 3,5 jam. Jadi, pastikan kondisi kesehatan Anda dalam keadaan baik.

Harga tur untuk memanjat Harbor Bridge ini berkisar antara 200 hingga 300 dolar Australia untuk setiap orang dewasa. Selain petualangan yang tak terlupakan, peserta tur juga akan mendapatkan sertifikat.

Banyak dari Anda mungkin tidak ingin membuang banyak uang untuk memanjat jembatan. Jangan khawatir, jembatan baja raksasa ini dapat dinikmati dari kejauhan. Beberapa titik pemotretan yang bagus adalah Opera House, Botanic Gardens, Circular Quay, Cahill Walk, dan salah satu titik yang jarang didatangi adalah Walsh Bay di sebelah barat dan Kirribilli di North Shore.

Kafe-kafe di dekat Opera House adalah tempat yang sempurna untuk menyaksikan Harbour Bridge. Foto: Olenka Priyadarsani

Pemandangan Sydney Harbour Bridge dapat dinikmati kapanpun, baik di siang hari maupun di malam hari. Anda pun dapat menikmatinya sembari menikmati jamuan di salah satu kafe yang berderet di kawasan Opera House. Tentu, harga di kafe-kafe itu sangat mahal. Bila ingin hemat–seperti saya–bawa bekal sendiri dan duduk di salah satu bangku yang banyak tersedia di Circular Quay. Pemandangan indah, angin sejuk, dan kopi panas adalah paduan yang luar biasa!

Pantai Siung, Pesona Baru Yogyakarta


Oleh Olenka Priyadarsani

Pantai Siung adalah salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meski termasuk yang paling baru dikenal, pantai ini telah menjadi andalan wilayah tersebut. Belum lama ini, saya mengunjungi pantai itu dan menyadari potensi wisata yang dimilikinya.

Siung terletak di Kecamatan Tepus, sekitar 70 km dari Yogya. Berbeda dengan pantai-pantai yang telah lebih dahulu dikenal seperti Parangtritis, Siung termasuk pendek. Pantai ini terletak di cekungan yang panjangnya hanya sekitar 300-400 m. Namun justru di sinilah letak keistimewaannya.

Pantai pendek ini dikelilingi oleh karang-karang besar berwarna kehitaman, yang sebagian besar ditumbuhi vegetasi dan lumut hijau. Paduan laut biru jernih dan karang kehijauan menambah keindahan panorama tempat ini.


Pantai Siung. Foto: Puput Aryanto

Siung bukanlah pantai yang paling ideal untuk berenang karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Topografi pantai yang berkarang dan berbatu serta ombak yang besar pun menyulitkan Anda untuk berenang. Tak heran pemerintah setempat memasang tanda larangan berenang. Namun, tentu Anda masih bisa bermain-main air di pinggir pantai.

Keistimewaan lain dari pantai ini adalah masih banyaknya pepohonan di pinggir pantai. Anda tinggal menyewa tikar dari penduduk sekitar dan berteduh di bawah pohon-pohon itu.

Selain cocok sebagai tempat melarikan diri dari kesibukan sehari-hari, Siung sangat sesuai bagi Anda yang memiliki hobi fotografi. Pantai yang pendek dan dibatasi karang-karang justru merupakan objek foto yang sangat menarik.

Bila tidak keberatan mengeluarkan keringat, Anda dapat mengikuti jalan setapak di sisi kiri pantai untuk mencapai puncak tebing. Sekitar 10-15 menit dibutuhkan hingga sampai ke puncak. Dari sana, akan terlihat keseluruhan pantai dan karang-karang besar di sisi kiri dan kanan. Juga terlihat Pantai Wediombo yang berada di sisi sebelah timur Siung.

Selain menjadi objek wisata dan foto yang menarik, daerah di sekeliling Pantai Siung juga sering dijadikan tempat latihan panjat tebing. Mahasiswa pencinta alam di Yogya — dan bahkan luar kota — sering berlatih di sini, memanfaatkan tebing-tebing dengan ukuran bervariasi dan jalur yang beragam.

Karena baru dikenal beberapa tahun belakangan ini, Siung belum banyak dikunjungi wisatawan. Air lautnya masih jernih, karang-karangnya pun masih bebas dari tangan-tangan jahil manusia.

Penduduk setempat telah membangun warung, toilet dan mushola di pantai ini. Berbeda dengan tempat wisata kebanyakan, harga-harga di pantai ini masih tergolong normal sehingga pantai ini dapat menjadi opsi jalan-jalan murah bagi Anda.

Bila perut mulai melilit, Anda dapat mendatangi salah satu warung yang berjajar di pinggir pantai. Biasanya mereka menyediakan mi instan, nasi dan lauk, serta es kelapa muda. Anda juga dapat meminta penjaga warung untuk memasakkan ikan yang baru ditangkap nelayan.

Sayangnya, di daerah ini banyak nelayan menangkapi bayi hiu padahal hewan itu adalah salah satu spesies yang dilindungi.

Menuju Siung

Dengan kendaraan pribadi dari Yogya, Anda tinggal menuju ke Jalan Wonosari. Dari Yogya hingga ke Wonosari, ibukota Gunungkidul, dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Hati-hati terhadap jalan yang menanjak dan berliku.

Sampai di Wonosari, Anda tinggal mengikuti jalan ke arah Pantai Baron hingga persimpangan yang menuju ke Pantai Siung. Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Siung sekitar 2-2,5 jam tergantung moda transportasi dan kecepatan kendaraan Anda.

Bila Anda memilih kendaraan umum, Anda harus naik bis ke terminal Wonosari. Di sana Anda harus berganti dengan minibus arah Tepus atau Jepitu. Di perhentian terakhir Anda harus menyewa ojek.

Karena jalur transportasi umum masih kurang memadai, cara ini tidak disarankan. Anda yang berasal dari luar kota lebih baik menyewa motor/mobil di Yogya, dan menempuh perjalanan sendiri hingga lokasi yang dituju.

Jangan khawatir, seperti hampir keseluruhan wilayah Yogyakarta, akses jalan hingga ke tempat-tempat terpencil – termasuk Siung dan pantai-pantai di sekitarnya – adalah jalan aspal halus.

Dengan kendaraan pribadi, Anda juga akan lebih mudah untuk mengunjungi pantai-pantai lain di wilayah itu, antara lain Sundak, Krakal, Wediombo dan Sadeng. Mari kita ke Yogya!

Harga tiket (pungutan resmi)
Orang   Rp 1000
Mobil    Rp 1500
Motor   Rp 1000

Parkir
Mobil    Rp 5000
Motor   Rp 2000

Suatu Minggu Pagi di Kota Yogya


Oleh Olenka Priyadarsani

Sejak sekitar 10 tahun belakangan ini, setiap hari Minggu pagi, orang Yogyakarta mendapat hiburan baru. Pasar kaget yang ada di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjadi lokasi tujuan baik bagi kaum muda maupun bagi keluarga.

Dulu kawasan sekitar lembah UGM itu hanya menjadi kumpulan pedagang makanan. Kini, istilah “Sunmor” atau Sunday Morning sudah lekat dalam keseharian kaum muda Yogya.

Umumnya para pengunjung berjalan ataupun bersepeda dari rumah maupun rumah kos, dilanjutkan dengan berolahraga pagi di kompleks kampus. Setelah selesai, mereka melepas lelah di salah satu warung tenda di pinggir jalan. Dahulu hanya lontong opor dan bubur ayam yang menjadi menu khas, namun kini makanan yang dijual pun semakin beragam. Tidak hanya makanan, berbagai barang mulai dari yang kecil hingga besar pun tersedia di pasar kaget ini.

Sementara menu lontong opor masih menjadi favorit, kini ada berbagai warung lain yang menyediakan soto ayam, nasi rames, serta makanan khas Jogja, nasi gudeg. Untuk cemilannya, jauh lebih beragam mulai dari lumpia, otak-otak, jamur goreng, tahu petis, dan sebagainya. Butuh sesuatu untuk oleh-oleh? Anda bisa mendapatkan belut goreng khas Godean di sini!

Tahu petis menjadi salah satu camilan favorit pengunjung. Foto: Olenka Priyadarsani

Selain makanan, ada beragam barang lain yang dijual misalnya perabotan, meja, pakaian, kerudung, buku, dan sandal serta sepatu. Pernak-pernik seperti kerajinan tangan, boneka kertas, stiker, kalung dan gelang pun tersedia di tempat ini. Para ibu pun senang pergi ke sini karena banyak pedagang yang menawarkan barang rumah tangga seperti piring dan gelas.

Mencari oleh-oleh? Yang satu ini bisa jadi pilihan. Foto: Olenka Priyadarsani

Pasar tumpah ini juga menjual hamster, ikan, kura-kura maupun burung.

Seorang pedagang hamster sedang menawarkan dagangannya. Foto: Olenka Priyadarsani

Promosi yang dilakukan oleh para pedagang pun sangat menarik — ada seorang pedagang yang sibuk mencuci, untuk menawarkan dagangannya berupa deterjen ajaib penghilang noda!

Kaos santai bertemu Yogya dijual dengan harga terjangkau. Foto: Olenka Priyadarsani

Selain menikmati makanan dan cemilan yang murah meriah, pertunjukkan kesenian pun sering dilakukan di sekitar lokasi pasar kaget in, misalnya dengan menabuh kendang ataupun kesenian pantomim. Banyak di antaranya adalah kelompok mahasiswa yang sedang menggalang dana untuk kegiatan sosial.

Pantomim di tengah-tengah suasana belanja. Foto: Olenka Priyadarsani

Terkadang mereka menjual barang-barang sumbangan dengan keuntungan dipakai untuk kegiatan amal.  Kadang mereka juga menjadi “pengamen” dadakan untuk mengumpulkan sumbangan dari khalayak ramai. Jadi, selain menikmati segarnya pagi di Yogya, Anda dapat sekalian beramal.

Nah, Anda akan berkunjung ke Kota Jogja? Jangan lewatkan berkunjung ke sini. Anda dapat berolahraga, melakukan wisata kuliner, berbelanja oleh-oleh, sekaligus bersosialisasi dengan masyarakat Jogja secara langsung!

Pertolongan Pertama Saat Bepergian


Oleh Olenka Priyadarsani

Benda yang satu ini jangan sampai terlupa bila berangkat bepergian: Obat. Mungkin kita termasuk orang yang jarang sekali sakit, namun sebaiknya tetap membawa obat-obatan sebagai langkah pencegahan serta pertolongan pertama.

Sedia payung sebelum hujan. Foto: Thinkstock

Saya bukan dokter, jadi saya hanya akan memberikan kiat berdasarkan pengalaman pribadi. Beberapa jenis obat dan peralatan pengobatan yang selalu saya bawa:

Obat luka

Dulu sering disebut dengan istilah “obat merah”. Obat ini penting saat Anda mengalami luka ringan. Misalnya, ketika Anda melakukan snorkeling dan kaki terkena karang.

Plester luka

Luka terbuka yang mungkin perih saat terkena air? Benda kecil ini membuat Anda dapat melanjutkan berbagai aktivitas saat liburan.

Obat masuk angin

Biasanya ini merupakan jenis obat herbal yang dapat membantu mencegah masuk angin terutama bila Anda sedang dalam perjalanan.

Obat antimabuk

Mungkin Anda termasuk orang yang jarang mabuk. Namun, ada kalanya obat ini diperlukan saat stamina Anda kurang maksimal atau dalam kondisi-kondisi tertentu, misalnya Anda menumpang kapal saat cuaca buruk dan ombak besar.

Obat diare

Nah, yang ini penting sekali terutama bila Anda suka melakukan petualangan kuliner. Mungkin saja makanan yang Anda makan tidak cocok dengan perut. Ada istilah “Delhi belly” yang diartikan penyakit diare yang dialami oleh pelancong.

Obat flu

Anda mulai bersin-bersin padahal rencana liburan masih panjang. Yang ini mungkin bisa jadi penyelamat Anda!

Obat sakit kepala

Sakit kepala bisa disebabkan bermacam-macam hal. Mungkin karena Anda terlalu lelah berjalan-jalan, terlalu lama di bawah terik matahari, sakit kepala dapat menyerang Anda. Jadi, sebaiknya yang ini harus selalu berada di dalam tas Anda.

Minyak gosok

Orang Indonesia sangat umum menggunakan minyak gosok untuk mengobati gejala sakit, seperti sakit kepala, masuk angin, dan sebagainya. Anda bisa membawa minyak kayu putih, balsem, minyak angin, minyak tawon, atau bahkan minyak telon bayi, sesuai selera Anda. Satu hal yang harus diingat, Anda harus mempertimbangkan orang lain bila menggunakan obat jenis ini. Jangan sampai orang-orang di sekitar Anda merasa terganggu dengan bau minyak gosok Anda!

Perlengkapan kesehatan yang dibawa tentu tergantung kondisi seseorang. Selain jenis obat di atas mungkin ada lagi yang harus Anda bawa seperti obat maag, obat asma dll.

Semoga selalu sehat dalam perjalanan!

Candi Cangkuang, Candi Mungil di Tengah Danau


Oleh Olenka Priyadarsani

Garut mungkin lebih dikenal sebagai produsen dodol. Tetapi sebenarnya kota kecil ini memiliki pemandangan alam yang indah. Kabarnya, aktor Inggris Charlie Chaplin pernah berkunjung ke Garut dan menjulukinya “Switzerland of Java”.

Salah satu objek wisata yang terdapat di Garut adalah Candi Cangkuang di Kecamatan Leles. Tidak seperti Prambanan atau Borobudur, Cangkuang hanya terdiri dari satu candi mungil yang terletak di tengah danau bernama sama — Situ Cangkuang.

Ketika tiba di tepi danau, yang pertama kali terlihat adalah jajaran rakit bambu aneka warna. Jauh lebih cantik dari rakit yang pernah saya lihat. Penumpang dapat duduk di dua bangku panjang berhadapan di bagian tengah.

Situ Cangkuang dikelilingi beberapa gunung dengan pemandangan indah. Foto: Olenka Priyadarsani

Sementara itu bagian dasar rakit terbuat dari bambu-bambu panjang yang disatukan, dengan bagian depan runcing. Rakit-rakit inilah yang dapat disewa untuk menyeberangkan wisatawan ke lokasi candi.

Tarif sewa rakit cukup murah yaitu Rp 4 ribu per orang bolak-balik. Namun dengan catatan penumpang berjumlah 20 orang. Anda harus menunggu penumpang lainnya sampai rakit penuh. Bila tidak mau membuang waktu, Anda dapat menyewa satu rakit seharga Rp 80 ribu, bisa ditawar hingga 60 ribu.

Pulau di tengah danau tidak jauh. Rakit berjalan pelan menyusuri danau yang berwarna kehijauan. Di kejauhan terlihat sisi danau yang dipenuhi bunga-bunga teratai berwarna merah muda. Sementara itu, gunung dan bukit menjadi latar belakang pemandangan.

Gunung yang mengelilingi antara lain Haruman, Malang, Kaledong, dan Guntur. Semakin dekat dengan bibir pulau, bangunan candi kecil makin terlihat jelas.

Cangkuang adalah satu-satunya candi Hindu yang berada di Jawa Barat. Candi yang ditemukan pada tahun 1966 (dan telah direstorasi) ini berada di tengah kompleks makam. Satu makam yang sering dijadikan fokus ziarah kubur adalah makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, seorang penyebar agama Islam di wilayah tersebut.

Candi Cangkuang, candi mungil di tengah danau. Foto: Olenka Priyadarsani

Bila Anda ingin melihat beberapa artefak sejarah yang ditemukan di lokasi candi dan makam, silakan berkunjung ke museum di lokasi tersebut. Di sana juga terdapat denah, foto, serta sejarah tentang candi ini. Masih belum puas? Anda dapat bertanya pada petugas museum tentang sejarah cagar budaya di Desa Cangkuang ini.

Satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah mengunjungi Kampung Pulo, kampung adat peninggalan Arif Muhammad. Kampung Pulo terletak di sebelah candi. Di sana terdapat tujuh bangunan yang didiami oleh enam keluarga.

Kampung Pulo di Cangkuang masih menjaga tradisi turun temurun. Foto: Olenka Priyadarsani

Menurut sejarah, Arif Muhammad memiliki seorang anak laki-laki dan enam anak perempuan. Ia membangun masjid sebagai lambang bagi anak laki-lakinya, dan enam buah rumah untuk anak perempuannya. Secara turun-temurun kampung ini dihuni enam keluarga. Bila ada anggota keluarga yang menikah, ia harus meninggalkan Kampung Pulo. Ada berbagai larangan di kampung ini, salah satunya adalah memelihara hewan berkaki empat.

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .