Asyik, Wisata ke Phuket Bisa Lebih Murah


JAKARTA, KOMPAS.com – Thailand terkenal di dunia sebagai tujuan wisata murah, termasuk bagi orang Indonesia. Nah, Olenka, seorang traveler dan penulis buku “Wisata Hemat Phuket” berbagi trik-trik wisata murah di Phuket. “Pertama harus mencari tiket promo. Sekarang sudah ada direct flight langsung dari Jakarta. Jadi bisa dapat murah,” katanya saat talkshow “Explore Phuket” di pameran pariwisata Kompas Travel Mart, di Mal Grand Indonesia Jakarta, Minggu (15/4/2012).

Sementara itu, untuk penginapan, menurut Olenka, paling murah adalah dorm atau penginapan dengan model seperti asrama. “Dorm ada yang khusus cewek atau khusus cowok atau ada juga yang campur,” katanya.

Olenka memberi saran untuk melakukan pemesanan hotel murah bisa dilakukan via online. Serta sebaiknya dipesan saat masih di Jakarta. “Direct flight-nya itu sampai malam. Jadi kalau sudah booking hotel, bisa langsung, nggak perlu cari-cari lagi,” ungkapnya.

Sedangkan makanan, menurut pengalaman Olenka, sehari ia hanya menghabiskan makanan paling mahal Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu sekali makan. Ia sengaja memilih makan di warung-warung pinggir jalan agar lebih hemat. “Di Phuket juga banyak pedagang yang menjual nasi dengan bungkus nasi,” katanya.

Hanya saja, untuk suvenir, Olenka mengakui suvenir-suvenir di Phuket lebih mahal daripada di Bangkok. Selain itu, biasanya turis juga melakukan one day trip (perjalanan satu hari) ke kepulauan Phi Phi dan Krabbi. “Day trip harganya secara umum ada dua pilihan, pilihan pertama naik speed boat atau naik feri yang lebih murah,” ungkap Olenka.

Dengan uang sekitar Rp 300.000, tambah Olenka, turis bisa melakukan perjalanan ke beberapa pulau di kepulauan Phi Phi. Ia menyarankan ke Phi Phi pada bulan Juni atau Juli atau di saat musim kemarau. “Ke Phi Phi naik speed boat yang lebih mahal tapi ke banyak pulau, ombaknya memang terasa lebih kencang. Kalau mudah mabuk, bisa naik feri yang lebih murah,” jelasnya.

Kompas Travel Mart berlangsung sejak Jumat (13/4/2012) sampai hari ini dan bertempat di Mal Grand Indonesia Jakarta. Anda masih berkesempatan hadir di pameran tersebut hingga malam ini. Kompas Travel Mart merupakan pameran wisata yang diikuti oleh 6 maskapai penerbangan, 15 biro perjalanan wisata, 2 taman wisata, dan 20 hotel serta resor dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta pameran menawarkan harga spesial dan harga diskon selama pameran berlangsung

Originally published in Kompas.com Sunday, April 15 2012

Advertisements

Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (2)


Pada pertengahan 1970-an, Kamboja dikuasai rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot, yang memiliki cita-cita mengubah Kamboja menjadi negara agraris dengan menganut paham ultra-Maoisme. Dia memindahkan orang dari kota ke desa untuk bekerja di ladang dan membunuh siapa saja yang menentang. Banyak orang tak bersalah, termasuk wanita, anak-anak, dan orang tua yang menjadi korban kekejaman rezim Khmer Merah.

Cheoung Ek

Terletak sekitar 14 km dari Phnom Penh, ibukota Kamboja, Cheoung Ek adalah salah satu tempat rezim Khmer Merah membunuhi dan mengubur orang yang dianggap menentang kekuasaan rezim tersebut. Para tahanan yang dipenjara di Tuol Sleng (baca tulisan Bagian 1), akan dibawa ke Cheoung Ek untuk dibunuh.

Saya pergi ke Cheoung Ek menggunakan tuk-tuk selama satu jam, dengan ongkos $ 7. Jalanan ke arah luar kota ini sangat berdebu, sehingga saya harus menutup muka dengan syal.  Sekilas, tempat ini terlihat seperti taman dengan pepohonan rindang. Banyak kupu-kupu yang juga beterbangan. Para pedagang suvenir menawarkan dagangan mereka.

Continue reading Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (2)

Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (1)


Obyek wisata di Kamboja tidak semata terbatas pada Angkor Wat, sebuah candi Buddha yang megah, tetapi juga obyek wisata dengan sejarah kelam yang terletak di sebelah timur negara itu.

Kekejaman kelompok Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada 1970-an meninggalkan luka mendalam bagi warga Kamboja hingga hari ini. Tetapi peninggalannya justru menjadi objek wisata, terutama bagi mereka yang menyukai sejarah.

Museum Genosida Tuol Sleng

Saya mengawali perjalanan saya dengan berkunjung ke museum ini, yang berjarak kira-kira satu jam perjalanan dari Bandara Internasional Phnom Penh. Saya tiba di tempat tujuan sekitar pukul tiga, sehingga masih memiliki sekitar dua jam untuk mengeksplorasi tempat tersebut.

Awalnya saya mengira Tuol Seng hanya sebuah museum biasa, yang banyak juga dijumpai di negara lain, tetapi ternyata tidak. Tempat ini menyajikan sesuatu yang sangat berbeda.

Continue reading Mengintip Sejarah Kelam Kamboja (1)

Sehari Berkeliling Phnom Penh


Dalam hal wisata, Kamboja mungkin tidak setenar negara tetangganya yaitu Vietnam. Angkor Wat di sebelah timur menjadi ikon wisata terbesar negara tersebut.

Namun, Phnom Penh, ibukota negaranya pun menyimpan banyak potensi wisata yang sangat menarik. Bagi penggemar wisata sejarah, kota ini wajib dikunjungi. Apalagi sekarang ketika Kamboja sudah membebaskan biaya visa bagi wisatawan dari Indonesia.

Banyak orang yang menjadikan Phnom Penh sebagai tempat transit bagi mereka yang sedang dalam perjalanan dari Siem Reap ke Ho Chi Minh City di Vietnam atau sebaliknya. Bila Anda memang hanya berada di kota ini selama satu hari saja, apa saja yang wajib dikunjungi?

Continue reading Sehari Berkeliling Phnom Penh

Menikmati Danau Toba dari Pulau Samosir


Keindahan Danau Toba tak akan pernah habis diperbincangkan orang. Dipandang dari sudut mana pun — baik dari Parapat, Tongging, maupun dari Pulau Samosir — danau ini sama indahnya. Kali ini saya akan mengajak Anda menyusuri Danau Toba dari dalam, yaitu dari Pulau Samosir.


Pemandangan Danau Toba dari udara. Kredit foto: Tempo/Arie Basuki

Continue reading Menikmati Danau Toba dari Pulau Samosir

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .