Category Archives: Yahoo! Travel

All articles here are written by me and have been published by Yahoo! Indonesia Travel

Mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran


Gunungkidul tidak hanya memiliki wisata pantai. Salah satu yang sedang naik daun sekarang ini adalah Nglanggeran, terletak di Patuk, tidak terlalu jauh dari Kota Yogyakarta. Penelitian mengungkapkan bahwa Nglanggeran dulunya adalah gunung berapi aktif. Kini, kombinasi antara susunan material vulkanik purba dengan bentang alam hijau menjadikannya primadona pariwisata.
Petunjuk arah jalur pendakian di Nglanggeran. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyadarsani)
Saya berangkat pagi hari dari Yogyakarta menuju ke Jalan Wonosari, sebuah jalan mendaki dan berliku yang kian hari kian ramai, terutama karena wisata di kawasan ini semakin berkembang. Walaupun berliku dan ramai – terutama saat akhir pekan dan liburan – akses ke arah Wonosari lancar karena jalan yang mulus dan senantiasa diperbaiki oleh pemerintah daerah.

Tidak seperti pantai-pantai Gunungkidul yang rata-rata berjarak 60-70 km dari Yogya, Nglanggeran paling hanya separuhnya. Tidak jauh dari perbatasan antara Bantul dan Gunungkidul, saya membelok ke kiri sesuai dengan petunjuk arah yang terdapat di tepi jalan. Dari jalan utama ini, jaraknya sekitar 7 km. Saya melewati desa-desa yang masih asri di tengah sawah dan kebun.

Begitu tiba di dekat tujuan, terbentang panorama yang menakjubkan. Gunung Api Nglanggeran dari jauh terlihat seperti susunan batu-batu raksasa berwarna keabu-abuan. Di kanan kirinya sawah menghijau – dan tentu saja menara-menara operator telepon seluler.

Tiket masuk ke kawasan wisata ini sangat murah, saat itu hanya Rp3.000 untuk siang hari dan Rp5.000 untuk malam hari. Di bagian depan terdapat pendopo yang sering digunakan sebagai tempat istirahat dan makan siang.
Tangga kayu dan bambu disediakan pengelola untuk mempermudah langkah wisatawan. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyad …
Jangan bandingkan Nglanggeran dengan gunung-gunung berapi yang masih aktif. Gunung api purba ini hanya memiliki puncak setinggi 700 meter di atas permukaan laut. Sementara di bagian dasarnya pun sudah 200 mdpl, jadi saya hanya mendaki 500 meter hingga ke puncak. Tergantung stamina kita berapa lama sampai ke puncak. Apabila tidak sanggup pun masih ada beberapa titik pendakian di mana wisatawan bisa berhenti dan menikmati pemandangan.

Untuk sebagian jalur pendakian, terutama di bagian bawah, sudah dibangun tangga oleh pihak pengelola. Asyiknya, saya harus melewati jalan di bawah batu yang berbentuk seperti gua. Ada juga titik-titik di mana saya harus mendaki menggunakan tali yang sudah disediakan oleh pengelola. Ada juga lokasi di mana kita harus melompati celah sempit.
Bentang alam Gunungkidul terlihat dari atas. (Yahoo Indonesia/Olenka Priyadarsani)
Kebanyakan pengunjung berhenti di puncak pertama atau ke dua karena makin ke atas medannya memang makin berat. Saya juga sempat berhenti beberapa kali untuk mengatur napas dan meluruskan kaki yang pegal. Dari puncak pemandangan memang menakjubkan. Gunungkidul yang dulunya dikenal sebagai daerah kering kini tambak subur dan ijo royo-royo.

Gunung terbesar yang ada di Nglanggeran adalah Gunung Gede. Di sinilah terdapat puncak tertinggi. Selain itu ada pula Gunung Tlogo Mardidho yang dihuni oleh tujuh keluarga. Menurut kepercayaan, di dusun ini memang hanya boleh ditinggali oleh tujuh keluarga, tak kurang dan tak lebih. Bila ada yang menikah dan membentuk keluarga baru, harus meninggalkan dusun untuk tinggal di tempat lain bila tidak ingin ada bencana terjadi.

Seperti halnya banyak tempat di Jawa, Gunung Api Purba Nglanggeran pun menyimpang banyak misteri dan mitos yang masih dipercayai oleh penduduk setempat. Mitos-mitos ini banyak berkaitan dengan tokoh-tokoh pewayangan.

Nglanggeran sebenarnya paling cocok dikunjungi saat matahari terbit, sayangnya saya kesiangan. Walaupun masih cukup pagi, namun matahari sudah terik membakar tubuh. Ketika turun dari gunung, saya sempat bercakap-cakap dengan petugas jaga.

“Ini sudah terlalu terang, Mbak. Kalau mau foto, paling bagus harus dari embung,” katanya.

Ternyata ada sebuah embung (waduk) yang berada 1,5 km arah tenggara kawasan wisata Nglanggeran. Jalannya kadang-kadang berlubang namun mudah untuk dilalui oleh kendaraan roda empat. Di sekitar embung ini sudah mulai ditanami kebun beragam buah-buahan. Idenya adalah mengubah kawasan ini menjadi seperti Taman Buah Mekarsari. Memang masih butuh beberapa tahun agar pohon-pohon di lahan seluas 20 hektar itu besar dan berbuah lebat.

Dari sekitar embung ini jajaran Gunung Api Nglanggeran memang terlihat jelas secara keseluruhan. Matahari yang kebetulan saat itu sangat terik justru mengaburkan pandangan karena terlalu menyilaukan. Di kawasan embung sudah terdapat lapangan parkir yang besar dengan beberapa warung yang menjual makanan ringan dan minuman botol.

Saya memilih untuk duduk berteduh di salah satu warung, menyaksikan pemandangan Nglanggeran sambil menikmati segelas manisnya es dawet.

Baca juga cerita perjalanan Olenka lainnya di backpackology.me

Menculik Anak Gadis di Desa Sade


“Di sini, kalau pemuda melamar anak gadis secara baik-baik justru keluarga si gadis akan merasa diremehkan,” ucap Pak Seman, salah seorang penduduk Desa Sade Rambitan, di Lombok Tengah. “Terus gimana dong, Pak?” saya jadi makin penasaran.

Pak Seman menjelaskan bahwa sudah tradisi masyarakat Suku Sasak bahwa seorang gadis harus diculik terlebih dahulu sebelum dinikahkan. Jadi di masa kini, apabila seorang pemuda dan gadis sudah saling tertarik, mereka akan merencanakan penculikan. Di malam hari, si pemuda akan menculik si gadis dari rumahnya. Esoknya, ketika keluarga mengetahui anak gadisnya diculik, kemudian akan merencanakan pernikahan mereka berdua. Unik, bukan?

Desa Sade Rambitan adalah satu dari sedikit desa Sasak asli yang masih bertahan. Saat ini masih ada 150 keluarga yang menghuni desa ini. Menurut Pak Seman, desa ini sudah berdiri sejak tahun 1097 dan sudah ditinggali oleh 15 generasi.

Lumbung padi dengan bale-bale di bawahnya. (Olenka Priyadarsani)

Dari jalan raya, terlihat rumah-rumah tradisional suku Sasak yang beratapkan ijuk – terbuat dari jerami yang dikeringkan. Ada juga bangunan beratap melengkung, serupa dengan bentuk gedung Bandara Internasional Lombok. Ternyata, kata Pak Seman, itu adalah bentuk khas Pulau Lombok. Bangunan tambahan tersebut merupakan tempat untuk menyimpan padi yang sudah dipanen. Di bawahnya terdapat bale-bale untuk bercengkerama selain juga menjaga padi agar tidak dicuri.

Penduduk Desa Sade sebagian besar memang bertani padi, namun padi hasil panen tidak untuk dijual, melainkan untuk konsumsi pribadi. Mereka juga beternak kambing, sapi, dan kerbau.

Saya semakin tertarik untuk mendengar sejarah desa ini. Walaupun bersentuhan dengan dunia modern – listrik sudah ada sejak tahun 2001 – kehidupan masyarakat masih tradisional. Para lelaki mengenakan sarung dan perempuan memakai kain.

Penduduk juga menjual kerajinan tangan untuk para wisatawan. (Olenka Priyadarsani)

Untuk menambah penghasilan, mereka menenun kain dan membuat kerajinan tangan yang dijual pada wisatawan yang berkunjung. Kebetulan Sade Rambitan sudah menjadi desa wisata sejak tahun 1980-an.

Kain tenun yang dijual di Desa Sade. (Olenka Priyadarsani)

Proses membuat kain tenun sangat menarik karena dilakukan dari awal sampai akhir secara manual. Pewarnaan kain menggunakan tanaman, tidak ada bahan pewarna kimiawi. Hanya benang emas yang mereka beli.

Nenek pemintal benang. (Olenka Priyadarsani)
Seorang nenek terlihat sedang memintal kapas menjadi benang. Di sisi lain, seorang gadis muda berusia awal belasan tahun sedang menenun benang menjadi selendang. Di desa ini, anak gadis berusia 9-10 tahun sudah mulai diajari menenun kain.

Rumah tertua di desa ini, dengan lantai dilapisi kotoran kerbau. (Olenka Priyadarsani)

Kami tiba di rumah tertua yang ada di desa tersebut. Rumah tradisional suku Sasak terbagi menjadi dua ruangan. Ruangan bagian dalam adalah tempat untuk tidur anak-anak mereka yang masih gadis, merangkap sebagai dapur. Dapur terdiri dari tungku yang menyatu dengan tanah. Ruangan tersebut tertutup rapat hingga gelap gulita karena sinar matahari tidak dapat masuk. Ternyata itu dimaksudkan agar anak gadis mereka tidak mudah diculik. Dinding-dinding rumah terbuat dari anyaman bambu.

Yang paling unik dari rumah-rumah tradisional di sini adalah lantainya. Sudah umum apabila rumah tradisional berlantaikan tanah. Tapi berapa banyak yang dilapisi oleh kotoran kerbau? Rumah-rumah di Desa Sade ini secara berkala dipel menggunakan kotoran kerbau. Yang dahulu hanya berlantai tanah, karena kotoran kerbau tersebut, kini lantainya keras seperti disemen. Hingga kini, lantai rumah masih dipel dengan kotoran kerbau untuk menjaga agar tetap keras.

Dahulu kita sering mendengar bahwa Suku Sasak menganut agama Islam, namun menjalankan salat wajib 3 kali sehari – disebut Wektu Telu. Agama Islam yang demikian dahulu banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu Bali. Menurut Pak Seman, di Desa Sade saat ini ajaran tersebut sudah tidak dilaksanakan karena masyarakatnya sudah menjalankan shalat wajib lima kali sehari.

Desa Sade Rambitan ini hanya berjarak 5 km dari Bandara Internasional Lombok, hanya sekitar 30 menit dari Mataram. Walaupun pendidikan sudah merambah generasi muda di desa ini dan desa-desa sekitarnya, pernikahan pada usia muda masih sering ditemui. Sangat umum seorang gadis berusia 14-15 tahun dinikahkan.

Indonesia memiliki ratusan desa tradisional seperti Sade ini, yang layak untuk dilestarikan. Saya mengucapkan selamat tinggal pada Pak Seman dan melanjutkan perjalanan untuk melihat pantai-pantai baru di Lombok Selatan yang luar biasa cantik.

Baca juga cerita perjalanan Olenka yang lain di http://backpackology.me.

Sawarna, Mutiara Banten Selatan


Ketika para pejalan sudah cukup lama menggembar-gemborkan tentang tujuan wisata yang satu ini, ternyata masih banyak juga orang yang sama sekali belum pernah mendengarnya. Sawarna berada di Provinsi Banten, pesisir Laut Selatan. Dari Jakarta ada dua pilihan akses; melalui Rangkasbitung dan Sukabumi. Kebanyakan lebih memilih jalur yang kedua karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Saya pun demikian.

Baru minggu lalu saya akhirnya melakukan perjalanan darat melalui Pelabuhan Ratu dengan tujuan akhir Sawarna. Bagi orang yang masih bertanya-tanya apa istimewanya Sawarna, jujur saya akan bingung menjawab. Masalahnya, di sini ada banyak hal yang sangat menarik perhatian saya. Lokasi wisatanya pun tidak hanya satu, dengan beragam keunikan masing-masing.

Mari kita telusuri cantiknya Sawarna satu demi satu.

Pantai Pasir Putih Ciantir, tujuan utama wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Tujuan utama pelancong adalah Pantai Pasir Putih Ciantir, yang memang merupakan objek utama di sini. Untuk mencapai pantai ini, wisatawan harus meninggalkan kendaraan roda empatnya di tepi jalan atau di halaman rumah-rumah penduduk yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat parkir darurat. Saya memilih untuk meninggalkan mobil di penginapan dan berjalan kaki menuju ke pantai ini.

Dari jalan raya, saya melewati jembatan gantung yang menjadi ikon daerah ini. Di depan jembatan tertulis bahwa Desa Sawarna adalah desa ramah lingkungan. Sayangnya saya malah agak bingung membaca hal ini karena kenyataannya sepeda motor lalu lalang melalui jembatan menuju ke desa, baik motor-motor ojek maupun milik wisatawan yang membawa kendaraan roda dua. Bagaimana tidak? Di seberang jembatan ini, terdapat puluhan penginapan yang penuh sesak pengunjung.

Saya harus berjalan sekitar 10 menit, melewati desa, penginapan beraneka rupa, beberapa petak sawah, untuk sampai di pantai. Di Pantai Pasir Putih sendiri warung-warung sudah banyak bermunculan, banyak di antaranya yang menawarkan bale-bale yang bisa diinapi pelancong dengan dana terbatas.

Saya bisa mengerti mengapa pantai ini menjadi tujuan utama pelancong. Pantainya panjang dengan pasir yang luas enak untuk bermain. Ombaknya kencang sehingga ada larangan untuk berenang walaupun banyak yang tak mengindahkannya. Selain lokasi yang dekat dengan pusat akomodasi, keberadaan warung dan toilet umum memudahkan wisatawan. Pengunjung kala itu membludak. Terus terang, Pantai Pasir Putih bukan pantai favorit saya di Sawarna.

Tebing karang Tanjung Layar yang menjadi favorit fotografer. (Olenka Priyadarsani)

Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari Pantai Pasir Putih, terdapat pantai lain yang bisa dikatakan selalu menjadi objek foto untuk mempromosikan Sawarna. Tanjung Layar memilih dua buah karang besar tinggi. Di kanan kirinya terdapat terdapat tebing karang yang selalu jadi incaran para fotografer. Seringkali ombak besar tiba-tiba datang melapisi tebing karang bagaikan tirai putih.

Batu-batu karang menjulang di Tanjung Layar. (Olenka Priyadarsani)

Kita dapat menyeberang dari bibir pantai ke karang-karang besar di tengah. Tentunya harus berbasah-basah, karena tinggi air laut yang diseberangi berkisar antara selutut hingga setinggi dada, tergantung pasang surutnya laut saat itu. Tanjung Layar juga jadi favorit para pemburu matahari terbenam.

Berkebalikan dengan Tanjung Layar untuk melihat matahari terbenam, Legon Pari (Laguna Pari) adalah lokasi untuk melihat matahari terbit. Letaknya sekitar 6 km dari Desa Sawarna, hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang masih berbatu.

Tebing karang membatasi Pantai Gua Langir dengan dunia luar. (Olenka Priyadarsani)

Pantai favorit saya adalah pantai di Gua Langir, berada sekitar 2 km dari Pantai Pasir Putih. Bahkan ketika akhir pekan panjang, pantai ini sepi pengunjung. Ketika itu hanya ada keluarga kecil kami di sana, bagaikan pantai pribadi. Sesuai namanya, kawasan ini memiliki beberapa gua, yaitu Gua Langir, Gua Kanekes, Gua Seribu Candi, dan Gua Harta Karun. Kabarnya, gua-gua di sini dulunya dipakai oleh penjajah Jepang untuk bersembunyi.

Pantai Gua Langir terlihat dari balik hutan. (Olenka Priyadarsani)

Pantai di Gua Langir sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang seolah-olah membatasi area ini dengan dunia luar. Pasirnya lembut, suasananya agak mistis karena selain dikepung tebing, juga dikelilingi hutan yang masih lebat. Ah, mungkin juga suasana terasa mistis karena di pantai itu hanya ada saya, suami, dan anak kami yang masih kecil. Anak saya malah dengan santainya tidur-tiduran di atas pasir yang lembut.

Telusur Gua Lalay menjadi aktivitas alternatif selain pantai. (Olenka Priyadarsani)
Di Sawarna ada juga Gua Lalay yang kini ramai dikunjungi untuk melakukan caving (telusur gua). Berbeda dengan Gua Langir yang kering, pelancong harus mau berbasah-basahan bila masuk ke Gua Lalay. Namun, airnya pun tidak terlalu tinggi, hanya sebatas mata kaki dan betis. Jadi, Gua Lalay tidak berbahaya untuk dimasuki oleh mereka yang mungkin belum berpengalaman melakukan telusur gua.

Perahu-perahu nelayan menghiasi Pantai Pulo Manuk. (Olenka Priyadarsani)

Ada beberapa pantai lain yang berada di sekitar Sawarna. Salah satunya adalah Pantai Pulo Manuk, sebuah nelayan yang berkarang. Di sini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulo Manuk. Saya sangat menikmati perjalanan dari Desa Sawarna menuju ke Gua Langir dan Pulo Manuk karena di kanan kiri jalan adalah hutan lebat hijau yang dikelola Perhutani. “Andai saja semua hutan di Indonesia lestari seperti ini,” kata suami saya saat itu.

Pantai yang lebih jauh lagi berada di Bayah, bernama Karang Teraje. Tampaknya ini adalah lokasi wisata yang tidak baru lagi, sayangnya kurang terawat. Kami melihat banyak pekerja menggunakan overall berwarna oranye di sekitar sini. Ternyata sedang dibangun sebuah pabrik semen besar. Kami hanya bisa berharap pembangunan besar-besaran ini tidak akan merusak alam Sawarna.

Jangan kotori Sawarna
Satu hal yang sangat mengganggu saya ketika berwisata di dalam negeri adalah sampah. Mungkin faktor ini juga yang mengganggu pandangan objektif saya terhadap Pantai Pasir Putih Ciantir. Di Indonesia, semakin banyak orang yang berkunjung sama artinya dengan semakin banyak sampah berserakan. Kenapa yang cantik seperti ini kita kotori?

Yang paling banyak ditemui adalah botol air mineral berserakan. Banyak pula bungkus-bungkus makanan ringan, wadah mi instan, bahkan popok sekali pakai kotor. Padahal, biasanya warung-warung yang hanya beberapa langkah dari bibir pantai menyediakan tempat sampah. Herannya, di Pantai Gua Langir yang sepi pun masih terlihat tumpukan botol air mineral. Apa susahnya sih membawa tas plastik untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah?

Di Pantai Pasir Putih, kami melihat seorang laki-laki bolak-balik memunguti sampah di pasir. Suami saya langsung mengajaknya mengobrol. Namanya Egi, ia adalah salah satu dari tiga penjaga pantai di Ciantir ini. “Saya nggak tega lihat pantainya kotor, Mas!” saya menguping dari tempat saya duduk. Bayangkan saja, ada ratusan pengunjung pantai yang beramai-ramai membuang sampah sembarangan, sementara hanya ada beberapa orang seperti Egi yang memiliki hati besar untuk membersihkannya. Mau jadi apa pariwisata negara kita?

Baca juga cerita perjalanan Olenka di http://backpackology.me

Memanjakan Perut Dengan Sate Klatak, Sambal Belut, dan Bakmi Jowo


Jika Anda ingin merasakan makanan khas Yogya selain gudeg, Bantul mungkin punya apa yang Anda cari.

Akhir pekan lalu saya sengaja menjelajahi Bantul demi mendapatkan hidangan kuliner favorit. Saya sudah bisa membayangkan pada musim libur pasti warung-warung tradisional yang sudah terkenal seperti itu akan menjadi sasaran para wisatawan domestik.

Sebenarnya ada sangat banyak ragam kuliner di wilayah Bantul, salah satu yang menjadi favorit adalah sate klatak (ada juga yang menuliskan “klathak”). Sate klatak adalah sate kambing yang ditusuk menggunakan ruji sepeda, bukan tusuk sate biasa dari kayu. Dinamakan sate klatak karena ketika dibakar akan berbunyi klatak-klatak, sembari memercikkan api. Read more

Gunung Padang dan Misteri yang Belum Tersibak


Walaupun situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur sebenarnya ditemukan pada tahun 1914, tempat ini baru ramai dikunjungi sejak awal 2011. Saat itu sebuah survei menyatakan, bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang lebih tua daripada piramida Giza di Mesir.

Perjalanan 2,5 jam dari Puncak, Jawa Barat, cukup nyaman. Akses ke Gunung Padang yang berada di Desa Karyamukti, Cianjur, sebagian besar buruk dengan jalanan berbatu. Namun, di sepanjang perjalanan saya disuguhi hijaunya bukit, sawah yang bertingkat rapi, serta kebun teh. Justru di sekitar perkebunan ini jalan lumayan bagus dibandingkan dengan ketika berada di permukiman penduduk. Read more